S W E E T M I S T A K E

Sebenernya FF ini buat ultahnya Sungmin-Oppa n Kangin-Oppa, tapi karena bikinnya kelamaan jadi kebablasan heheee

FF ini juga pernah di publis disini, tapi karena beberapa alasan endingnya diganti tapi tetep yang nulis masi saya hehee…

Kau sebut dirimu baik? Kau pergi setelah mencuri hatiku.

Kau bahkan membuat hatiku terluka

Kau bilang dirimu pintar? kau bahkan tidak cukup cakap untuk melihat kedalam perasaaanku

Kau tidak tau hatiku menangis saat mengingatmu

Kau membuatku menunggu terlalu lama

Apakah ini yang kau sebut dengan cinta??

Dan aku tidak bisa membencimu karena ini

Lee Sungmin memetik gitarnya yang berwarna pink secara perlahan. Ia mengumamkan sebuah lirik yang sedih. Lirik yang berisi tentang penyesalan.

Ia menyesal, sangat menyesal. Ia bahkan tidak memaafkan dirinya sendiri. Karena telah membiarkan seseorang yang sangat berarti di dalam hidupnya pergi.

Sungmin memandang langit dari celah jendela kamarnya, “bukankah ia sangat menyukai langit saat matahari tenggelam.”

Selama beberapa saat Sungmin terus menandangi langit hingga matahari benar-benar tergantikan oleh bulan. Sungmin menghela nafasnya yang berat ketika ia melihat kalender yang terpampang di kamarnya.

Sungmin meletakkan gitarnya yang selama ini setia menemaninya saat merindukan gadis itu. Ia membuka laci mejanya dan mengambil sebuah buku yang lumayan tebal. Buku itu berisi foto-foto dan tulisan-tulisan sebagai keterangannya, semacam Photo Diary-lah.

Sungmin bahkan tidak pernah tau kapan gadis itu pergi. Mungkin ia tidak sadar bila Heechul tidak menanyakan keberadaan gadis itu. Ia mungkin tidak akan pernah tau, karena yang ia tau gadis itu selalu ada disampingnya.

Yesung- pemilik café tempat biasa mereka tempati yang memberikan foto diary itu pada nya. Hal terakhir yang Sungmin tau dari diri seorang gadis yang selalu menemaninya. Isi dari hati yang selama ini dipendam oleh gadis itu.

Sungmin menatap foto diary itu dengan tatapan nanar. Ia membuka halaman pertama yang terpampang sebuah foto seorang gadis dengan senyum lebar.

“Kim Hyeosun.”

__________d_e_s_o_n___________

Sungmin berjalan di trackwall area sungai Han sambil membawa foto Diary Hyeosun. Ia berjalan sambil membaca. Tidak peduli berapa orang yang ia tabrak dan mengomel padanya, ia tetap memilih membaca mengingat kejadian bersama Hyeosun dulu.

Augst 24th,  2008 –sungai Han–

Kami berjanji untuk lari pagi bersama, tapi sialnya aku kesiangan. Aku takut dia marah dan meninggalkanku padahal kami mulai dekat.

Aku panik. Aku langsung lari keluar rumah.

Aku menghela nafas lega saat melihat dia masih menungguku. Tapi kemudian aku sadar bahwa aku masih menggunakan piamaku dan aku belum cuci muka. Pantas saja orang-orang melihat ke arahku dengan tatapan aneh.

Aku hendak pergi tapi dia keburu melihat kearahku.

“Ya~ kau itu niat lari pagi denganku tidak.”

Aku menutup wajahku dengan tangan. Aku malu.

Dia mendesis saat melihat keadaanku. Dia lalu menarik tanganku lalu membawaku ke motornya. Ia menyuruhku untuk duduk di belakangnya dan berpegang erat padanya.

Aku tidak berani bertanya. Aku takut dia pingsan saat mencium aroma nafasku.

Aku tidak mengeratkan tubuhku. Bukan karena aku merasa bau tapi karena aku tidak ingin dia merasakan detak jantungku. Jantungku yang berdebar saat bersamanya.

Dia menghentikan motornya di depan rumahku. Aku menatapnya tidak mengerti.

“kita tidak mungkin berjalan kalau kau seperti ini.” dia memperhatikanku dari ujung kaki ke ujung kepala, “mandilah dan aku akan menunggu disini.”

Aku memandangnya tidak percaya. Kurasa didalam tubuhku ada mesin membuat popcorn karena aku merasa banyak popcorn meledak di dalam tubuhku.

Aku segera berlari kedalam rumah dan mandi lalu berdandan yang cantik. Aku tidak ingin mengecewakannya.

Dia tersenyum saat melihatku sudah dalam keadaan yang bersih.

Kami akhirnya tidak jadi lari pagi karena sudah kesiangan. Dan akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi kota Seoul.

Sungmin tersenyum saat melihat fotonya sedang duduk diatas motor kesayangannya  Dia sedang menunggu Hyeosun dengan wajah di tekuk.

Berkali-kali Sungmin menoleh ke arah tempat ia dulu menemukan Hyeosun sedang menatapnya dengan piyama pinknya. Tidak ada Hyeosun lagi di sana. Tidak ada sesosok yang sedang memandang sendu pada dirinya.

Sungmin membawa motornya membelah kota Seoul. Berkali-kali ia menoleh ke belakang mencoba menangkap bayangan Hyeosun yang sedang memeluk tubuhnya.

Sungmin berdiri menatap sebuah rumah besar yang sudah tidak berpenghuni. Sudah setahun lebih penghuni rumah itu pindah. Dan sialnya ia tidak pernah tau kemana semua penghuninya pergi.

Sungmin memandang bekas kamar Hyeosun. Dari sanalah Hyeosun sering memfoto dirinya secara sembunyi-sembunyi. Andai dia tau jika Hyeosun sering memfoto dirinya secara sembunyi-sembunyi, ia pasti akan tersenyum.

__________d_e_s_o_n___________

September 28th, 2008 –Pameran fotografi Seoul–

Dia tampak bosan saat aku mengajaknya ke pameran fotografi. Aku sempat memfotonya saat dia sedang menguap. Aku masih ingin melihat pameran tapi kurasa dia sudah kebosanan.

Mungkin aku akan mengajak kakakku untuk melihat pameran ini, bukan dia. Karena aku tidak ingin dia mati kebosanan karena menungguku.

October 15th, 2008 -pesta Ulang tahun Lee Donghae-

Kesalahan terbesarku adalah datang ke pesta ulang tahun hanya dengan memakai kaus dan jins biasa. Apalagi ulang tahun seorang Lee Donghae, musisi terkenal yang juga saudara sepupunya.

Aku seperti kurcaci kecil yang terus memperhatikannya dari jauh. melihatnya menyapa dan mengobrol dengan tamu Donghae yang lain.

Untungnya aku membawa kameraku dan mulai memfotonya dari bermacam sudut. Tapi karena banyak memfoto aku malah disangka tukang foto. Benar-benar sial.

Aku mengarahkan kameraku saat aku melihat dia dan seorang perempuan sedang asik mengobrol. Aku mengambil fokus jarak jauh dan melihat senyumnya begitu manis. Dia tidak pernah tersenyum semanis itu padaku.

“Lihat Sungmin dan MinYoon sangat serasi. Aku sangat menyesal saat mereka putus.” Aku menoleh saat mendengar tamu pesta yang sedang bergosip di sebelahku

“aku dengar katanya MinYoon sudah di jodohkan dengan seorang dokter kalau tidak salah, dokter Park.”

“Sepertinya mereka masih saling suka.” Ucap gadis yang pertama, “Kudengar Sungmin juga masih sendiri.”

Aku menatapnya sedih. Benarkah perempuan itu yang sering dia ceritakan. Perempuan itu cinta pertamanya.

Perempuan yang anggun dengan gaun biru safir. Ia tampak elegan dan cantik berbeda denganku. Aku tidak sebanding dengannya.

Tanpa aku sadari aku melangkah menjauhi mereka.

Sungmin menatap langit-langit kamarnya. Ia ingat hari itu, hari saat melihat MinYoon tersenyum bahagia dan ia juga bahagia karena MinYoon bahagia. Awalnya ia pikir tidak akan sanggup melepaskan MinYoon tapi ia memang telah lupa karena gadis lain. Gadis yang tiba-tiba menghilang dan menolak untuk bertemu setelah pesta.

Setelah tiga hari gadis itu mau menemuinya dengan wajah yang masih suntuk. Setelah tidak melihatnya selama tiga hari ia merasa rindu pada gadis itu dan entah dari mana ia dapat inspirasi untuk memainkan gitarnya. Tentang gadis itu, tapi sepertinya gadis itu memikirkan hal lain.

October 18th, 2008

Aku tidak punya alasan utuk tidak bertemu dengannya. Dia terus memaksa untuk pergi hingga aku luluh. Meski saat aku melihatnya aku teringat kejadian di pesta ulang tahun Lee Donghae. Hatiku sakit.

Dia mengajakku makan di Byul Soul Café. Kami duduk di tempat biasa kami makan. Café ini sepi hingga dia bisa dengan bebasnya bermain gitar.

Dia memainkan lagu yang indah. Lagu tentang seorang gadis yang amat cantik dan ia menyukainya.

Aku hanya mengutuki diriku yang bodoh. Kesalahan terbesarku adalah menjadi seorang sahabat dari orang yang kusuka. Lucu tapi menyedihkan.

__________d_e_s_o_n___________

January 1st, 2009 –Mini’s House–

Aku berlari kerumahnya pada tengah malam. Aku memanjat tembok rumahnya. Untung dia pernah memberi tau jalan masuk-keluar kamarnya jika keadaan darurat. Darurat maksudnya jika ayahnya melarangnya keluar dan dia ingin keluar.

Aku memanjat tembok menuju kamarnya. Sial jendelanya terkunci.

Aku menunggu sekitar lima belas menit. Ketika jam menunjukan pukul dua belas tepat aku mengedor-gedor jendela kamarnya.

Semua orang menyalakan kembang api sebagai tanda perayaan tahun baru, aku tidak peduli. Aku ingin merayakan ulang tahunnya. Berdua.

Sudah berkali-kali aku mengetuk jendela kamarnya namun tidak ada jawaban.

Saat jam menunjukan pukul 2. aku melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah. Ia dan keluarganya keluar dari mobil itu.

Aku hanya melongo melihat kejadian itu. pantas saja rumahnya terlihat sepi. Ternyata mereka pergi merayakan tahun baru dan ulang tahunnya diluar.

Kesalahanku: aku keluar tanpa jaket dan aku tidak memastikan dia ada di dalam rumah. Bodoh.

__________d_e_s_o_n___________

Sungmin menghela nafasnya dalam. Hari ini dia tidak mempunyai kegiatan lain. Sungmin memandang fotonya dengan Hyeosun saat di Sekolah Mengengah dulu. Ia sangat merindukan gadis itu.

Sungmin lalu mengambil foto diary dan kunci motornya. Sungmin menjalankan motornya. Ia menyusuri kota Seoul sama seperti saat ia membonceng Hyeosun. Semuanya masih terlihat sama namun tidak ada sosok cerewet di belakangnya. Sosok yang selalu bercerita riang mengenai segala sesuatu.

Sungmin berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Ia membuka foto diary itu sekali lagi. Ia menyusuri setiap tempat yang pernah ia datangi bersama Hyeosun dulu.

February 3rd, 2009 –pusat perbelanjaan Seoul–

Dia tampak lelah seharian menemaniku keliling kota Seoul. Suruh siapa dia ingin ikut.

Sebenarnya aku ingin memberinya kejutan saat Valentine nanti. Apa boleh buat aku harus menyiapkan kado yang lain untuknya.

Kami membeli sebuah gantungan Hello kitty berwarna Pink. Dia keberatan tapi aku memaksanya. Dia pun luluh.

Sungmin melihat gantungan Hp-nya. Gantungan itu sudah putus beberapa kali namun ia tetap memakainya. Ia ingin mengingat gadis itu sampai kapanpun. Gadis yang selalu ada di sisinya.

Sungmin berhenti sebuah toko yang menjual berbagai jenis kamere. Ia ingat saat melihat Hyeosun berbinar binar menatap sebuah kamera berwarna pink.

Ya, Hyeosun sangat menyukai warna pink dan Hello Kitty. Ia akan memburu barang apapun jika berwarna Pink dan Hello Kitty. Dan sekarang Sungminlah yang selalu memburu barang berwarna Pink dan Hello Kitty.

Sungmin tersenyum puas saat kamera itu ada di tangannya. Ia kemudian melanjutkan perjalannya dengan pernuh senyum. Padahal dulu setiap ia diajak ke tempat ini ia selalu mengeluh dan cemberut.

__________d_e_s_o_n___________

February 9th, 2009 –63 building-

Kami tidak jadi merayakan Valentine bersama. Dia bilang akan pergi ke jepang salama dua bulan.

Aku sangat sedih mendengar itu. bukan karena kami tidak akan merayakan valentine tapi aku tidak bisa melihatnya untuk dua bulan kedepan.

Dia mengajakku ke 63 building. Dia bilang ingin mencari inspirasi untuk menulis lagu.

Dia mulai sibuk dengan nada-nada dan gitarnya. Ku pikir dia ingin melihat mata hari terbenam atau menyatakan cinta padaku tapi ternyata dia hanya bermesraan dengan gitar kesayangannya.

Aku merasa menjadi orang ketiga saat dia memegang gitarnya >.<’

Sungmin memetik gitarnya. Mencoba mencari nada yang pas untuk lagunya.

Sungmin mendengus kesal saat ia tidak mendapatkan lagu yang dia inginkan. Ia menghempaskan tubuhnya lalu mengambil foto yang terpajang di sisi ranjangnya.

Sungmin memandang fotonya bersama Hyeosun. Mereka saling berpegangan tangan di bawah Namsan tower. Sungmin tertawa bahagia tapi Hyeosun malah tersenyum hambar.

Sungmin mendesis perlahan, seandainya ia bisa memutar waktu. Dia ingin kembali ke masa satu tahun yang lalu.

April 4th, 2009 –Byul Soul Café–

“kenapa kau terus memperhatikan aku seperti itu?”

Tanpa sadari aku memandangnya. Aku menundukan wajahku yang merah. Aku malu.

“apa kau tidak punya kerjaan lain selain memandangku? Atau aku terlihat begitu tampan bagimu.” Dia masih menulis lirik-lirik untuk lagunya. Huft… untung dia tidak melihat wajahku yang merah.

“Cih, kau terlalu percaya diri.” Ucapku dengan gugup

Dia melepaskan pandangannya dan memandangku dengan tatapan dinginnya. Matanya yang hitam jernih selalu sukses membuatku sesak nafas. Senyum separo nya membuatku lupa jika dia sahabatku. Aku ingin lebih dari sekedar sahabat.

“Kalau begitu BERHENTILAH MEMANDANGKU SEPERTI ITU.” ucapnya dengan sedikit bentakan yang entah mengapa membuat seluruh saraf diotakku lumpuh.

Aku mengalihkan wajahku. Aku tidak ingin dia melihat mataku yang sedang berlinang.

Aku memilih memutuskan untuk pergi dari hadapannya. Membiarkan dia sendiri.

April 7th, 2009 –Byul Soul Café–

Dia bilang akan mengatakan rahasia kecilnya. Membuatku semakin penasaran.

Aku menyesal mengetahui rahasianya. Dia menyukai gadis lain.

Aku harap ini April mop atau semacamnya. Bukan. Ini kenyataan.

Apa yang harus aku lakukan??? Aku tidak bisa lagi menganggap dia sebagai sahabatku. Perasaan ini sudah terlanjur ada untuk dia.

June 21st, 2009 –Byul Soul Café–

Entah sudah keberapa kalinya aku menghindar. Dan dia terus mencariku.

Dia bilang sudah punya kekasih tapi kenapa dia masih mencariku. Aku tidak bisa terus melihat kau berdua dengan kekasihmu, Lee Sungmin. Kenapa kau tidak bisa menghargai perasaanku.

Kau membuat hatiku tidak bisa melepaskanmu dan aku juga tidak bisa menahan rasa benciku padamu. aku kecewa padamu.

Kesalahanku adalah: membiarkan aku terlalu jauh mencintaimu dan kau tidak tau apa-apa.

__________d_e_s_o_n___________

Sungmin melanjutkan membaca Photo Diary Hyoesun. Ia membuka halaman-halaman dari buku tersebut. Harusnya di akhir cerita berakhir bahagia tapi di buku tersebut malah membuat hati Sungmin semakin meringis.

Dia tidak pernah berlaga sebagai playboy dengan dua wanita disisinya. Dia hanya ingin sahabat dan cinta. Dua kata yang berbeda dengan dua arti berbeda. Sahabat adalah sahabat dan kekasih dalah kekasih.

Namun akhirnya ia malah menyukai sahabatnya dan melukai kekasihnya. Oa benar-benar bodoh.

“Kau bodoh Lee Sungmin.” Gerutunya dalam hati.

July 1st, 2009 –tepi sungai Han–

Aku tau aku salah. Menjadi sahabat dari orang yang paling kusayangi. Bahkan setelah bertahun-tahun aku bersahabat dengannya, perasaan itu tidak pernah hilang.

Kesalahan keduaku adalah menunggunya. Menunggu dia membalas semua perasaanku. Ku bilang salah karena dia tidak pernah melihatku sebagai seorang gadis. Aku hanya seeorang sahabat.

Kesalahan yang paling fatalku adalah aku masih mencintainya walaupun dia melukaiku.

Ku pikir aku akan bahagia jika melihat dia bahagia. Sesederhana itu. tapi kenyataannya tidak demikian. Aku malah terjerumus ke dalam lubang yang sangat hitam.

Chaesun, kekasihnya memintaku untik menjauhinya.

Aku sadar siapa dia dan apa statusku padanya aku mengalah. Perlahan-lahan aku akan melepasnya pergi.

July 10th, 2009 –didunia yang hanya ada aku dan dia/seandainya–

Aku kembali menghindarinya. Dia bersikukuh dengan tetap menemuiku.

Chaesun memintanya untuk memilih. Pacar atau sahabat. Chaesun tidak rela bila ia di duakan seperti ini.

Aku memandang heran Chaesun. Harusnya aku yang lebih tersakiti. Kenapa dia yang uring uringan.

Tanpa diminta juga aku sudah mulai menjauhi dia.

Ambil saja sepuasnya. AKU TIDAK PEDULIII… Y.Y

Augst 21st, 2009 –didepan rumah–

Sungmin menarik tanganku. Aku sudah menghindarinya. Aku sudah mengganti nomor ponselku. Aku sudah menghindarinya baik dia kampus maupun di berbagai kegiatan yang kami lakukan berdua.

Dia menungguku di depan rumah. Aku tidak bisa menghindari lagi. Dia menungguku dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.

“KEMANA SAJA KAU? KAU TAU AKU MENCARIMU??”

Aku menatapnya tajam seolah tidak mempedulikan dia. Aku takut menyakiti dirimu. Lebih baik aku pergi dari hidupmu.

Malamnya Chaesun menghubungiku. Dia bilang ia sangat mencintai Sungmin. Ia menangis di dalam telepon. Ia sangat tidak ingin kehilangan Sungmin. Dia bilang dia tersiksa dengan statusku sebagai sahabatnya Sungmin.

Ia merasa cemburu padaku.

Aku menyerah.

Kenapa rasa cinta ini lebih besar dari rasa benciku. Aku tidak bisa terus-terusan di dekatnya, aku juga tidak bisa menghidarinya terus menerus. Aku harus pergi. Pergi dari sisinya selamanya.

Sungmin menatap lembar terakhir dari diary itu. Tidak ada tulisan lainnya lagi. Ia memandang sendu foto-fotonya bersama Chaesun. Foto itu diambil secara diam-diam dan fokus hanya padanya dan bagian Chaesun kebanyakan blur.

Sungmin ingat jelas hari itu saat Hyeosun mulai menjauhinya tanpa sebab. Kini dia tau penyebabnya.

Sungmin ingat saat ia terakhir kali bertemu. Mereka duduk di Byul café saling berhadapan. Sungmin yang memaksa gadis itu untuk datang. Gadis itu menolak awalnya kemudian ia setuju.

~Flashback~

“Ku mohon untuk yang terakhir kalinya jika kau yang menginginkanya.” Ucap Sungmin sambil memohon

“kali ini saja dan jangan pernah menghubungiku lagi.”

Sungmin mengangguk. Mereka berdua duduk saling berhadapan. Sungmin mengambil gitarnya lalu memetiknya dengan perlahan. Kemudian menuliskan nada-nadanya pada kertas yang ada dihadapnya.

Sungmin bisa merasakan Hyeosun menatapnya dengan tatapan tidak biasa.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” ucap Sungmin tanpa melihat Hyeosun yang sudah hampir menitikan air mata, “kau mencintaiku?”

Hyeosun tidak menjawab, ia tetap melihat wajah Sungmin. Memperhatikan dengan selekat mungkin.

“Kenapa hari ini kau tidak banyak bicara?” Sungmin masih sibuk dengan gitar dan lirik-liriknya.

Hyeosun tidak menjawab. Tatapannya berubah menjadi tatapan sendu.

“kau ini kenapa sih?” Sungmin yang merasa di cuekin menatap tajam Hyeosun, “kau tidak suka menemaniku, katakan saja. Tidak perlu datang kemari dan hanya melihatku dengan tatapan begitu.”

Sungmin membereskan kertas-kertasnya. Ia mengambil gitarnya lalu meninggalkan Hyeosun yang masih diam karena kata-kata yang dilontarkan oleh Sungmin.

Satu minggu berlalu, Sungmin merasa sanksi menghubungi Hyeosun. Ia memilih untuk menunggu gadis itu menghubunginya.

Ia sadar ketika Heechul mencarinya dan menanyakan keadaan gadis itu. Sungmin pun menghubungi ponsel gadis itu namaun nihil. Ia mencoba menghubungi telepon rumahnya juga nihil. Akhirnya ia memutuskan untuk kerumah gadis itu dan ternyata rumahnya sudah kosong.

Sungmin menatap hampa rumah kosong dihadapannya. Dia terlalu egois untuk mempertahankan dua wanita di sisinya.

Ia kehilangan Hyeosun sahabatnya dan sebulan kemudian ia kehilangan Chaesun.

~flashback End~

__________d_e_s_o_n__________

Sungmin duduk di bangku yang biasa mereka tempati. Ia memandang lurus ke depan mencoba melihat bayangan Hyeosun yang sedang tersenyum ke arahnya dan berceloteh riang.

Ia merindukan Hyeosun yang senang warna Pink. Ia merindukan Hyeosun yang menyukai lagu ballad. Ia menyukai Hyeosun yang selalu memaninya kemanapun ia mau.

“Sedang menunggu dia?” tanya Yesung sambil menyerahkan daftar menu kepada Sungmin.

“Ya dan tidak.”

Yesung hanya mencibir melihat kelakuan Sungmin

“Aku pesan seperti biasa. Jus strawberry, Blue Ocean, dan dua porsi ddokboki.”

Yesung mengangguk kemudian pergi.

Café ini adalah tempat mereka pertama kali bertemu dan mengobrol tiga tahun yang lalu dan satu tahun yang lalu ia meninggalkan gadis itu sendiri.

Sungmin mulai mengutuki dirinya sendiri.

Jika ia bisa memutar waktu. Ia ingin kembali ke satu tahun yang lalu. Ia tidak akan meninggalakn Hyeosun sendiri. Ia tidak akan menyakiti keduanya. Ia tidak akan menyakiti dirinya sendiri.

Sungmin menghela nafasnya. Ia mencoba memainkan gitarnya namun selalu saja salah. Ia tidak mempunyai kekuatan. Kekuatan yang selama ini mendorong untuk menciptakan, sumber inspirasinya. Tanpa ia sadari. Hyeosun adalah hidupnya.

“kau tidak pergi dengan teman-temanmu sekedar merayakan tahun baru.” Yesung memecah lamunan Sungmin

Sungmin melirik ke arah kalender yang berada di dekat kasir. January 1, 2011. sudah satu tahun lebih Hyeosun pergi daari hidupnya.

“Hari ini ulang tahunku.” Ucap Sungmin lirih, “Aku ingin merayakannya sendiri.”

“Aku tau, Hyeosun sering menceritakannya padaku.” Yesung mengambil nampannya lalu beranjak pergi.

Setelah berjalan beberapa langkah ia berbalik, “kalian itu… entahlah datang sendiri mau pun berdua pasti menunya sama.”

Sungmin menatap Yesung tidak percaya, “apa maksudmu, Hyung.”

“heh?? Kemaren Hyeosun kemari dan memesan yang sama denganmu.” Yesung mendelik kearah makanan yang ada di meja, “Jus strawberi untuk Hyeosun dan blue Ocean untuk Sungmin. Serta dua ddokbokki makanan kesukaan kalian.”

­­__________d_e_s_o_n__________

Sungmin menjalankan motornya dengan kecepatan yang ekstrim. Ia tidak ingin kesempatannya terbuang sia-sia.

Yesung bilang bahwa Hyeosun akan menghadiri pameran fotografi.

Sungmin tidak ingin kehilangan gadisnya lagi. Kepergiaanya selama lebih dari satu tahun merubah statusnya di hati Sungmin.

Sungmin masuk ke dalam gallery yang pernah ia masuki bersama Hyeosun. Gallery itu kebanyakan memajang hasil lukisan bukan foto. Persetan dengan isi gallery itu, yang ia inginkan hanya Hyeosun. Tidak lebih.

Sungmin melihat seorang gadis dengan gaun pink selutut sedang tersenyum ramah pada pengunjung lainnya. Gadis itu, Hyeosun-nya.

Gadis itu tidak berubah selama setahun.

Sungmin hendak mendekati gadis itu namun pandangannya tertarik pada sosok pria yang di gandengnya. Pria itu tersenyum manis di sebelah Hyeosun.

Sungmin menfokuskan pandangannya ke jari Hyeosun. Jari yang semula kosong kini telah terisi. Sebuah cincin manis melekat di jarinya begitu juga dengan lelaki di sebelahnya.

Sungmin merasa langit runtuh. Tidak ada lagi tiang yang menopang langit. Kini ia tau rasa yang dirasakan oleh Hyeosun. Sakit.

Sungmin berbalik meninggalkan gallery itu.

Bodoh. Kenapa ia menyadari hal yang sudah terlambat.

Tanpa Sungmin sadari seseorang memperhatikannya dari jauh. Ia merasa tidak asing dengan sosok Sungmin.

“siapa nama orang yang baru saja pergi?” ucap pria itu pada petugas penjaga pintu.

“disini tertulis Lee Sungmin.” Petugas itu menyerahkan daftar nama tamu yang masuk.

Pria itu bergumam sambil memperhatikan Sungmin sebelum masuk kembali ke gallery.

__________d_e_s_o_n__________

Sungmin masuk kedalam byul café, sudah beberapa bulan ini dia kerja part time sebagai menyanyi. Sungmin biasanya membawakan lagu yang ia ciptakan, tapi jika ada request dari penonton dengan senang hati ia akan membawakannya.

Sungmin menatap membawa gitarnya yang berwarna Pink. Entah kenapa hatinya gundah gulana.

Tanpa sengaja Sungmin melirik ke tempannya dan Hyeosun dulu sering duduk bersama.

Ia melihat gadis itu sedang tersenyum pada pria yang ada dihadapannya. Tangan gadis itu menggenggam tangan si pria. Ia melihat gadis itu memakai cincin yang sama dengan si pria. Gadis itu. Kim Hyeosun.

“kau terlambat ayo kita mulai.” Ucap Heechul yang sudah siap dengan stik drumnya.

Sungmin menatap Heechul dengan tatapan penuh tanya. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan.

Heechul menepuk pundak Sungmin seolah tau apa yang dipikirkan oleh Sungmin, “bersikaplah seperti biasa.”

Sungmin mengambil nafasnya dalam. Ia mulai memetik gitarnya. Ia tidak melihat ke arah penonton ia hanya terus menunduk seolah takut matanya dan gadis itu bertemu.

Adakah alasan untuk mencintamu, bahkan aku tidak sanggup membencimu

Adakah alasan untuk tidak menunggumu, aku tidak sanggup untuk berpaling

Jika mencintaimu adalah kekuranganku, akan kuterima segala kekuranganku

Jika mencintaimu adalah hal bodoh, mungkin aku manusia paling bodoh didunia

Segala rasa cinta ini bukan kesalahan

Cinta ini anugrah meski kau sakiti berulang kali

Dan aku tidak bisa berhenti mencintaimu.

Hyeosun mendongkak saat ia mendengar lirik yang sangat familiar di otaknya.

Ia melihat seorang pria memetik gitarnya dan memainkan liriknya dengan segenap jiwa. Hyeosun merasa familiar dengan suara pria itu. Suara pria itu seperti suara Sungmin. Namun segera ia tepis saat melihat gitar yang dipakai oleh pria itu. Tidak mungkin itu Sungmin, Sungmin tidak menyukai warna pink.

Hyeosun menyimak dengan seksama lirik yang dinyanyikan oleh pria itu. Ia merasa tidak asing dengan kata-kata yang di ucap oleh pria itu. Lebih tepatnya ia merasa tersindir.

“kau menyukainya?” tanya pria di hadapan Hyeosun

Hyeosun mengangguk, “aku seperti pernah mendengar suaranya.”

“suaranya memang bagus,”

Hyeosun masih menunggu pria itu mengangkat kepalanya. Ia sangat amat penasaran.

“bagaimana kalau kita undang dia untuk mengisi diacara di acara kita.”

Hyoesunmasih menimbang perkataan pria yang ada dihadpannya. Hyeosun terhenyak saat pria yang bermain gitar itu mengangkat kepalanya, “Lee Sungmin.” Deliknya.

Tapi terlambat pria yang dihadapnya sudah berjalan menghampiri Sungmin.

“Perkenalkan namaku Youngwon, Kim Youngwon” ucap pria itu tanpa basa-basi, “aku tertarik dengan permainan musik kalian.” Youngwon mengedarkan pandangannya ke teman-teman Sungmin.

Sungmin tersentak kaget pria itu memperkenalkan diri. Ia mencoba untuk tidak melirik kearah Hyeosun.

“aku harap kalian bisa memainkan beberapa lagu diacara pertunanganku.” Youngwoon menyerahkan undangannya.

Sungmin menatap pria dihadapannya tidak percaya. Dunianya seakan mau kiamat.

“dengan senang hati kami akan datang.” Heechul mengambil undangan yang di berikan oleh Youngwon.

“Kurasa tunanganku juga akan senang mendengar lagu kalian.”

Sleeeep…

Untuk kali ini Sungmin tidak bisa menahan matanya untuk tidak melihat ke arah Hyeosun. Sungmin melihat Hyeosun yang sedang menatapnya. Kemudian keduanya membuang pandangan masing-masing.

__________d_e_s_o_n__________

Sungmin memandang langit dengan tatapan sendu. Ia mencoba untuk tidak melihat foto diary Hyeosun. Tapi lagi lagi matanya tertarik untuk membuka isi diary itu.

“kau yakin tidak ingin menghadiri pesta pertunangannya?” Heechul melirik ke undangan yang masih di segel. Ia yakin bahwa Sungmin belum membacanya.

Sungmin menggeleng, “Tidak Hyung. Aku tidak sanggup.”

“Bodoh,” Cibir Heechul, “kau ini sahabat macam apa hah?”

Sungmin mengerutkan keningnya tidak mengerti, “maksudnya?”

“Apa kau lupa? dia selalu ada di hari bahagiamu meski hatinya teriris perih. Mungkin setelah satu tahun berlalu ia mendapatkan penggantimu dihatinya. Apa kau masih berdiam disini? Dia masih sahabatmu kan?”

Sungmin terdiam merenungkan perkataan Heechul. Heechul benar, ia tidak bisa diam saat sahabatnya bahagia. Sahabat bukan orang yang harus ada saat kita bersedih tapi juga saat kita sedang bahagia.

Disudut lain kota Seoul seorang gadis memandang dirinya didalam cermin. Ia tampak gelisah. Berkali-kali ia meneguk air putih untuk menghilangkan rasa gelisahnya.

“Kau belum tidur?”

Gadis itu tersentak saat melihat Youngwon yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

“Oppa~” ucap Hyeosun lirih

Youngwon mendekati Hyeosun kemudian memeluknya, “Jangan menangis. aku ada disini.”

“Aku… aku… tidak tau Oppa~, hatiku merasa sakit.” Hyeosun mendekap erat tubuh Youngwon

“Sudah satu tahun berlalu, kau pasti akan baik-baik saja.” Youngwon tau gadis itu masih menyukai pria bernama Lee Sungmin. Youngwon tau jika gadis itu sangat merindukan Lee Sungmin. Ia bisa melihat dari mata gadis itu saat melihat pemuda itu di café.

Youngwon tau ia tidak berhak mencampuri urusan adiknya. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali membuka mata adiknya. Cinta itu bukan untuk dihindari.

“tidurlah, aku menemanimu disini.” Youngwon menarik Hyeosun ke kasurnya. Ia menyelimuti adiknya lalu menarik sebuah kursi dan menunggu adiknya hingga terlelap.

__________d_e_s_o_n__________

January 17th, 2011

Sungmin melihat rumah di hadapnya ragu. Selama setahun rumah itu tidak berpenghuni dan sekarang, rumah itu sangat ramai. Para tamu yang kebanyakan dari orang berada dan hampir semuanya membawa hadiah yang mahal.

Sungmin melihat kado yang ia bawa. Kado itu tidak sebanding dengan kado-kado yang lain.

“jangan pesimis. Hadiahmu lebih berarti dari kado-kado yang lain.” Heechul menepuk pundak Sungmin

Sungmin berjalan di belakang Heechul. Baru kali ini Sungmin masuk ke rumah Hyeosun. Padahal mereka sudah bersahabat lebih dari tiga tahun.

“lihat itu!” Heechul menunjuk sebuah foto keluarga yang sangat besar.

Sungmin terhenyak saat melihat Hyeosun dan Youngwon dalam foto itu. mereka saling memperhatikan cincin yang mereka pakai. Ia dapat melihat cincin itu dengan jelas. Cincin dengan ukiran Kim. Cincin keluarga Kim.

“Adikku cantikkan?”

Sungmin menoleh dan mendapati Youngwon sedang tersenyum kearahnya.

“Tamu yang lain sudah menunggu. Ayo nyanyikan lagu yang romantis untuk tunanganku.” Youngwon menarik tangan Sungmin ke panggung kecil di taman belakang yang sudah di perpersiapkan untuknya.

Sungmin menatap Heechul dan teman-temannya sesaat sebelum mulai mainkan gitarnya. Ia menarik nafasnya dalam kemudia mulai memetik gitarnya perlahan. Saat ia melihat ke mata penonton tanpa sengaja matanya bertemu dengan sepasang mata yang sangat ia rindukan.

Gadis itu memalingkan wajahnya. Sungmin hanya tersenyum saat melihat rona merah di wajah gadis itu. Ia mengutuki dirinya yang bodoh, karena ia tidak menyadari perasaan gadis. Ia bodoh karena menyembunyikan rasa sayangnya terhadap gadis itu dan hanya menganggap gadis itu sebagi sahabat. Ia bodoh karena telah menyangka gadis itu telah meninggalkanya dan memilih lain. Bodoh tapi ia tidak menyesal telah menjadi orang bodoh.

Acara sudah selesai. Sungmin masih melihat Hyeosun dari jauh. Setiap mendekati gadis itu. Gadis itu menjauhinya. Sungmin tidak mengerti kenapa gadis itu terus menerus menjauhinya.

Sungmin menyerah. Ia tau jika gadis itu masih marah padanya. Ia akhirnya berpamitan dengan Youngwon dan tunangannya. Ia sempat melirik ke arah Hyeosun sebelum pergi dari pesta.

__________d_e_s_o_n__________

Hyeosun melihat Sungmin dan kakaknya berbicara. Youngwon memandangnya dengan tatapan tajamnya. Hyeosu memalingkan wajahnya pura-pura tidak melihat. Ia takut-takut sekali. Ia takut kembali mencintai Lee Sungmin.

Matanya tidak lepas dari sosok Sungmin tapi tubuhnya selalu menolak saat Sungmin mendekatinya.

Ia melihat Sungmin berjalan keluar dari pesta.

Tanpa disadari Hyeosun melangkahkan kakinya ke luar pesta. Ia ingin melihat Sungmin sekali saja. Meski hanya punggungnya.

Hyeosun mengerutkan kening saat ia melihat Heechul dan kawan-kawannya semakin menjauh. Ia menyipitkan matanya untuk melihat Sungmin. Tapi nihil. Sungmin sudah tidak terlihat.

“butuh dari sekedar mata untuk melihat cintaku untukmu.”

Hyeosun terhenyak saat mendengar suara yang sangat familiar di belakang telinganya.

Sungmin membalikan tubuh Hyeorin. Ia mengangkat dagu Hyeorin mensejajarkan mata mereka.

Sungmin mendekatkan wajahnya. Ia mengecup sekilas bibir Hyeosun.

Hyeosun masih menatap Sungmin tidak percaya, “kau…”

“jangan pernah pergi dariku lagi.” Ucap Sungmin sambil memeluk Hyeosun, “Jangan pernah tinggalkan aku lagi.”

Hyeosun masih tidak mengerti.

Sungmin melepas pelukannya lalu memandang Hyeosun lembut.

“Meski in terlambat, maafkan aku. Maafkan segala kesalahkanku. Maafkan aku karena menyayangimu, bukan sebagai sahabat. Aku mencintaimu seperi pria kepada wanita.”

Hyeosun memandang Sungmin tidak percaya. Ia lalu tersenyum, “tidak pernah ada kata terlambat untuk mencintai.”

“saranghae.”

“nado.”

__________d_e_s_o_n__________

Seseorang melihat mereka dari kejauhan. Ia tersenyum saat melihat keduanya saling mengucapkan cinta. Sahabat jadi cinta itu bukan hal yang tabu. Terkadang karena terbiasa kita menjadi cinta.

Cinta bukan kesalahan tapi anugrah. Terkadang kita seperti orang bodoh saat berhadapan dengan cinta, bukan karena kita bodoh tapi karena kita tidak cukup pintar untuk mengungkapkannya, tidak cukup cakap untuk menyadarinya.

~End~

Leave your comment please

_deson_

Previous Post
Leave a comment

14 Comments

  1. ikANDonghae

     /  January 21, 2011

    Masih bnyak typo chingu..

    Knp nama gw g dganti??
    Te”p aza jdi pcar umin..

    U kan tau gw it yeojachinguny c ikan..

    Gw suka endingny..
    Plus kta” trakhirny..

    Like

    Reply
    • Typo??? heheeee padahal udah diedit tapi masih d aja typo

      biar Umin sekali-kali jadi Playboy heheeee
      sejak kapan u jd ceweknya Ikan??? #plaak

      kata2 itu khusus buat U, sahabat jadi Cinta wkwkwkkkk

      Like

      Reply
  2. ikANDonghae

     /  January 24, 2011

    Gw jd yeojachingu ikan sjak gw mulai bkoar” ttg dy..

    Maksud u dgn it kata” buat gw aph??

    Like

    Reply
  3. vanny

     /  January 25, 2011

    keknya langka bgt ya gitar berwarna pink kekekekekek

    td ku pikir hye yg tunangan, ternyata kekekekekek…

    keren euy…… ^^

    Like

    Reply
  4. Kyaaaa… yang jadi main castnya My pumpkin prince… jadi semangat bacanya,, ahahahaMIN…🙂

    ceritanya panjang kali lebar sama dengan luas dan tentunya puas bacanya.. kkk XDD

    aku kira Youngwon tunangannya Hyeosun,, eh ternyata Oppanya toh..
    finally.. happy ending yaaa..🙂

    Like

    Reply
    • 15 halaman, Times New Romans, 1.5 spasi ckckkkk
      Tadinya mau di dibikin sad ending kak… tapi kata Ikan bagusan Happy Ending…
      gak rela juga ngeliat Umin menderita disini… klo Umin ngambek bisa-bisa Chullie gak ada temen buat Curhat kkkkk
      gomawo dan haca n komen ^^

      Like

      Reply
  5. Aigoooo~~~
    Keren endingnya….
    Apalagi kata2 terakhirnya… Weeeeeh.. Dahsyat!! Bermakna bangeeeet… Hahahahay…

    Mo lanjut baca ff yang laen ah~~~ Hehehehe

    Like

    Reply
  6. kyuhyunnafi

     /  March 10, 2011

    Wouw,suka kalo critanya happy ending gni.^^

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: