Express

Express…

Di kereta kita bertemu dan saling berbicara, seakan tidak pernah ada pemisah diantara kita sebelumnya. Ketika kereta berheti di ujung jalan, kita berjalan sendiri-sendiri tidak menoleh kebelakang, namun yang kita bicarakan menjadi jalan kedepan untuk diri kita sendiri-sendiri. –deson-

Teriakan pedagang di pinggir jalan pada setiap orang yang melintas dihadapannya membuat suasana tidak pernah jauh dari kata sepi. Panas kota Jakarta tidak pernah menyurutkan niat mereka untuk terus menjajakan dagangan mereka. Seteguk dua teguk air mampu membuat mereka bertahan untuk membuat dia yang dirumah tetap dalam keadan yang layak.

Tidak beda jauh dari jalan setapak menuju stasiun Kota. Dalam stasiun juga dipenuhi oleh puluhan manusia. Riuh suara meski tidak sebising diluar sana belum lagi dari suara toa informasi yang mengumumkan keberangkatan kereta.

“Iya kak… ini juga udah di Stasiun Kota, tadi Neng ke Asemka dulu beli kado nikahan buat kakak.” Seorang gadis berkedurung berbicara lewat telepon, “iya kak Neng tau… kereta disini beda kayak di London. Tapi Neng kangen pengen naik kereta….”

“Iya kak Neng janji hati-hati, Neng naik kereta khusus perempuan.” Gadis itu melirik ke jam besar yang ada di peron, ia mendecak sebentar kemudian menyampirkan tas nya ke bahu, “kak kereta Neng mau berangkat Neng tutup dulu ya nanti kita ketemu di Bogor aja.”

Gadis menuggu jawaban dari lawan bicaranya kemudian menutup ponselnya. Ia melangkah ke jalur 11 menunggu keretanya mendekat.

Ia melangkahkan kakinya ke gerbong khusus perempuan. Ia duduk dengan santai di pinggir, Matanya menatap jendela. Menyaksikan orang berlalu lalang hingga kereta berjalan perlahan kemudian menampilkan kilasan kilasan seperti layar yang diputar ulang.

Meski kereta Ekonomi AC itu tidak secepat TGV tapi mampu menghapuskan rasa rindunya terhadap kereta tercept didunia itu.

_deson_

Seorang gadis duduk di sebuah gerbong kereta Eurostar yang membawanya dari London menuju Paris, sesekali ia menghirup teh hangat yang mengepul dihadapnnya. Kadar kafein dalam teh itu mampu menenangkan pikirannya.

Ia menatap ke jendela melihat pantulan bayangannya. Ia membetulkan letak kerdungnya yang sedikit berantakan.

Miss, May I take sit here???” Seorang pemuda menyampingkan ponselnya dan penapat gadis itu.

Yes…” Ucap gadis itu seperti gumanam singkat membuat pemuda itu mengembangkan senyumannya dan kemudian membuatnya terlarut dalam percakapannya di ponselnya lagi.

Gadis itu meneguk tehnya lagi ia menikmati suara pemuda itu yang menurutnya seperti radio butut. Ia mencoba untuk menahan suara kekehannya agar tidak menyinggung pemuda itu.

Pemuda itu bicara dalam bahasa Jerman. Salah satu bahasa yang tidak di pahaminya sekali, padahal saat di sekolah menengah dulu gadis itu pernah mempelajari bahasa yang sekarang dicapnya sebagai bahasa ‘aneh’.

“Ah… sial banget gw.” Cerca  pemuda itu yang membuat sang gadis membelakakan matanya tidak percaya.

Pemuda itu merasa tidak nyaman dengan tatapan gadis itu, “what’s wrong???

Gadis itu mengalihkan wajahnya ke jendela. Melihat kereta yang ditumpanginya berjalan secara perlahan.

“Tidak mungkin aku yang salah dengar.” gumam gadis itu dalam bahasa Indonesia.

“Kau tidak salah dengar, aku memang menggunakan bahasa Indonesia.”

Gadis itu menoleh lagi pada pemuda dihadapannya. Pemuda itu menyunggingkan senyumannya yang membuat lesung pipi di wajahnya terlihat.

“Kau tidak seperti orang Indonesia.” Gadis itu menatap mata sipit pemuda dihadapannya.

“Kau lebih terlihat seperti orang timur tengah.” Pemuda itu menatap mata bulat, serta hidung mancung gadis itu, terlebih gadis itu memakai kerudung, “tapi kau terlalu putih untuk orang Timur tengah.”

“Aku orang Indonesia asli Tuan.” Ucap gadis itu seraya membungkuk.

Pemuda itu terkekeh, “Aku juga orang Indonesia, lebih tepatnya aku lahir di Indonesia.”

“Lalu selebihnya?”

“Ayahku Korean,” ucap pemuda itu sambil terkekeh, “Setelah menemukan ibuku dia menetap di Indonesia dan mewariskan hal diluar kepadaku.”

“ooo, jadi itu sebabnya kau menggerutu di telepon tadi.”

Pemuda itu menyembunyikan raut merah wajahnya, “Ya… Aku bosan harus terus berpidah dari satu tempat ke tempat lain. Aku ingin menetap di suatu tempat.”

“Bukankah menyenangkan selalu bisa berpergian ke semua tempat, mencoba berbagai pengalaman.”

Pemuda itu menatap mata bulat sang gadis, “Sejauh apapun kita melangkah pergi, di hati kecil kita selalu memanggil untuk kembali pulang kerumah. Rumah adalah satu-satunya tempat yang nyaman untuk beristirahat dan menyisakan hidup kita disana.”

“Ya… kau benar… kadang kala aku ingin kembali kerumah.” Lirih gadis itu.

“hei dari tadi aku yang bercerita, gantian dong…” pemuda itu menatap sang gadis membuat gadis itu memalingkan wajahnya.

“Apa yang harus aku ceritakan. Hidupku datar-datar saja.”

“Tipikal gadis Indonesia, malu-malu tapi mau.” Pemuda itu berhasil membuat sang gadis memerah, “kenapa kau ada di kereta ini? bukankah kereta ini menuju Paris?”

Gadis itu menggangguk, “Ya, aku ingin ke Paris.”

“Sendirian?”

“Seperti kelihatannya? Apakah aku terlihat berdua?”

Pemuda itu menggeleng, “ke Paris sendiran? Bukankah lebih asik jika ke Paris berdua dengan .. Ehemm… Ehemmm…”

Gadis itu mengerngitkan keningnya, “dengan???”

“Kau taulah semacam pacar atau orang yang disukai. Paris kan terkenal dengan kota romantisnya dan hal itu terwujud dengan jalan berdua.” Pemuda itu mengerlingkan matanya.

Gadis itu menggeser duduknya menjauhi pemuda itu, “Aku justru sedang menjauhi hal itu.”

“Kenapa?”

“Aku benci pada laki-laki.” Gadis itu menatap tajam pada pemuda dihadapnnya.

Pemuda itu membulatkan matanya, “Hei kau tidak boleh berkata seperti itu.”

“Tapi memang benarkan, semua pria itu brengsek”

Pemuda itu terkekeh, “Kau Salah Miss, ada dua tipe pria di muka bumi ini. Jika tidak brengsek, ya Homo.” Pemuda itu menatap bola mata sang gadis, “Seperti aku, mungkin tanpa sadar aku telah menyakiti seorang gadis. Mungkin di matanya aku sangat brengsek. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun kecuali menyaitinya atau menyakitnya lagi dan lagi.”

“Maksudmu?”

“Hidup itu seperti bisnis. Tapi hidup tidak bisa di hitung dengan rumus matematika. Dalam hidup hanya akan ada dua pilihan, melanjutkan atau menghentikan.”

Gadis itu menarik nafasnya lalu menyeruput tehnya lagi.

“Seperti aku yang memilih untuk melanjutkan karirku dan menghentikan diri untuk menyakitinya.”

“Kau tidak mencintai gadis itu, jika kau mencintainya kau pasti bisa mempertahankannya.”

“Jika hidup itu semudah yang kau katakan, aku pasti sudah menjalani nasihatmu itu. Aku membiarkannya bebas. Dia bisa memilih pria mana saja dan aku bisa memilih wanita mana saja. Jika kami bertemu lagi dan dalam keadaan masih single itu akan berbeda lagi.”

“Jadi kau menggantungkannya? Itu lebih brengsek.”

“Tidak Miss, Aku percaya pada takdir, pada sesuatu yang tidak pernah kau rencanakan. Aku percaya jika kami ditakdirkan untuk bersama. kami akan bersama. Aku merelakannya agar dia tidak menungguku dalam ketidakpastian.”

“Kuharap gadis itu bisa mengerti keadanmu.”

“Sayangnya dia tidak.”

“Lalu apa yang kau lakukan?”

“Tidak ada.”

Gadis itu mengerutkan keningnya, “kau tidak berusaha untuk meyakinkannya.”

“Jika aku meyakinkannya aku lebih brengsek, aku akan membuatnya percaya sehingga dia menaruh harapan padaku. Ia akan jatuh cinta padaku dan akhirnya aku akan menyakitinya.”

Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “hubunganmu rumit sekali.”

Pemuda itu terkekeh, “Kau ada waktu bagaimana jika kita ke Lyon? Aku belum pernah ke sana sebelumnya.”

Gadis itu berpikir sejenak, “kau tidak sibuk, bukannya kau sedang mengejar karir?”

“Klien ku membatalkan janji secara sepihak, aku pengangguran sekarang.” Pemuda itu melihat gurat kawatir di wajah sang gadis, “Tenang, aku tidak akan berbuat jahat. Aku orang baik-baik.”

“Semua orang jahat pasti berkata ‘aku orang baik-baik’…”

“Atau penjara akan penuh.” Sambung pemuda itu di lanjutkan dengan suara tawanya yang khas.

_deson_

Mereka melakukan perjalanan ke Lyon dimulai dengan menumpang kereta TGV dari Marseille. Walaupun pemandangan di luar kereta belum begitu bagus karena tidak melewati pedalaman Prancis yang terkenal dengan ladang anggur dan rumah-rumah pedesaan yang rapi, namun karena hanya menempuh waktu kurang dari 2 jam, perjalanan menjadi tidak membosankan. Ditambah lagi dengan obrolan seru sepanjang jalan.

“Jadi aku mahasiswa Akuntasi?” ucap pemuda itu takjub pada gadis dihadapannya.

“Iya, aku diterima di Oxford University dengan beasiswa full.”

“Waw… mengagumkan.”

“Ehmm… tapi kau lebih mengagumkan, kau menguasai banyak bahasa semetara aku hanya meguasai bahasa Inggris, Prancis dan bahasa Indonesia.”

“Mungkin aku lebih tertarik bergaul dengan orang asing sedangkan kau lebih tertarik bergaul dengan angka.”

“Ya.. kau benar.”

Udara dingin segera menyapa mereka ketika tiba di stasiun La Part Dieu, cukup mengejutkan karena perbedaan suhu yang kontras dengan Marseille. Untung saja persiapan dengan menggunakan jaket tebal cukup menghadapi udara dingin kota Lyon.

Udara dingin Lyon membuat opara pejan kaki berjalan terburu-buru. Mereka lebih mmilih memasuki metro atau bangunan yang lebih hangat dari pada berjalan diudara dingin.

Pemuda itu mengisyaratkan kepada sang gadis agar duduk sementara ia memesan tiket metro. Mengingat antrian tiket sangat panjang dan penuh sesak.

Gadis itu duduk sambil menggosok-gosakan tangannya. udara memang sangat dingin, untung saja ia membawa jaket yang lumayan tebal.

Pemuda itu menghampiri gadis dengan memamerkan dua tiket metro di tangannya. mereka menuju Kantor Turisme (Office de Tourisme) Lyon yang terletak di Place Bellecour, alun-alun terbesar di Lyon, bahkan mungkin di Eropa. Mereka berdua memilih menaiki tram agar bisa bisa melihat-lihat pemandangan.

“Berapa harga tiketnya?” tanya sang gadis.

“Hmmm… Aggap saja aku sedang berbaik hati.”

Gadis itu tersenyum, untuk pertama kalinya gadis itu tersenyum lepas, “berbaik hati sekali paman yang satu ini mau menraktir mahasiswa kere sepertiku.”

Pemuda itu mencubit pipi sang gadis gemas,  “gadis bodoh.”

Titik awal stasiun Part-Dieu ternyata sangat berguna karena dari sini terdapat banyak jalur transportasi, dari metro, tram, bis, hingga bis yang mirip tram (trolleybus). Mereka memilih menumpang tram C1 dari Part-Dieu, menuju Place Bellecour. Sepanjang perjalanan, mereka terpukau saat melihat jalanan bersih dan banyak orang memilih naik sepeda sehingga tidak begitu banyak mobil di jalan raya walaupun jam sudah menunjukkan hampir jam 10.

Tidak berapa lama di tram yang mereka tumpangi memutuskan berhenti untuk mengambil jalan pintas ke Place Bellecour. Mereka terpana saat trem melewati sungai Rhone dan menyaksikan pemandangan tepi sungai Rhone yang indah. Mereka mengambil beberapa poto selca dan foro berdua dengan latar belakang sungai yang hijau tenang, serta gedung-gedung antik Lyon seperti Hotel Dieu dan pepohonan yang berbaris rapi. Mereka juga mengambil foto di tengah jembatan Wilson, di sebelah kiri dan kanannya terbentang sungai Rhone hingga ke ujung pandangan mata.

Mereka kemudian menuju Place Jacobins, sebuah patung air mancur (fontaine) yang terletak di tengah perempatan yang sibuk.

“Patung air mancur seperti ini banyak terdapat di seluruh kota Lyon dan bahkan salah satu keunikan Lyon adalah banyaknya patung air mancur kecil berbentuk kran kepala singa, di mana dahulu penduduk Lyon mengambil air dari kran ini.” ucap sang pemuda diikuti tatapan kagum sang gadis.

“kau berbakat menjadi tourguide.” Canda sang gadis.

Dari Place Jacobins, mereka menuju tujuan utama Place Bellecour. Mereka memutuskan untuk berjalan kaki menuju Place Bellecour, lapangan ini semula tidak dapat terlihat karena terletak di tengah-tengah gedung-gedung besar, namun ketika sudah sampai di pinggirannya, baru terlihat betapa besarnya alun-alun ini. Di tengah-tengahnya terdapat patung Louis XIV menunggang kuda yang sangat populer bagi penduduk Lyon,

“Sudah menjadi kebiasaan bagi penduduk Lyon ketika mengadakan janji bertemu, mereka biasanya bertemu di bawah buntut kuda yang ditunggani Louis XIV ini” ucap sang pemuda

Sang gadis menatap patung singa yang besar dengan tatapan kagum.

“Maukah kau berjanji sesuatu?”tanya sang pemuda

“Apa?”

“Kita bertemu sebagai orang asing dan akan berpisah sebagai orang asing. Tapi jika kita bertemu lagi, bisakah kita menjadi lebih dari seorang orang asing.”

“Tentu saja. Jika kita ditakdirkan bertemu lagi.”

Mereka berfoto d atas patung singa yang besar mengabadikan momen yang belum tentu akan terjadi lagi.

Kantor turisme terletak di salah satu sudut alun-alun, dan betapa terkejutnya ketika menemukan antrian panjang menuju kantor turisme ini. Mereka menunggu sekitar 15 menit untuk mendapatkan peta Lyon gratis, memesan tempat atau tikey masuk tempat parawisata.

Setelah diberi peta gratis, petugas memberi petunjuk bahwa untuk menuju Basilique Notre Dame de Fourviere, salah satu tempat wisata terkenal di Lyon, mereka harus menumpang metro dan kemudian menyambung lagi menaiki metro funiculaire.

Mereka sangat puas dengan tersedianya transportasi publik di Lyon membuat perjalanan mengunjungi atraksi turisme di daerah ini sangat mudah dan terjangkau. Dengan menggunakan tiket harian seharga € 4,4, pengguna jasa transportasi publik dapat menaiki bis, tram, metro, funiculaire dan trolley bus, berulang-ulang, dari mana saja dan ke tujuan mana saja, dengan syarat cukup menggesekkan tiket tersebut ketika menaiki mode transportasi yang diinginkan. Tiket ini juga berlaku untuk metro funiculaire, salah satu bentuk transportasi tertua di kota Lyon yang masih ada hingga sekarang.

“Benarkah ini metro tertua?” tanya sang gadis tidak percaya.

“yupzz.. benar, Lyon adalah salah satu kota tua di prancis. Lyon atau Lugdunum adalah salah satu kota kekaisaran Romawi di daerah Galia. Mungkin kau pernah membaca komik Asterix? kota ini yang merupakan ibukota provinsi Gallia Lugdunensis. Selama lebih dari 300 tahun, Lugdunum merupakan salah satu kota penting di Eropa, bahkan dua kaisar Romawi lahir di kota ini.”

Gadis itu menyusuri tiap jengkal kota dengan sorot matanya yang teduh.

“Kota ini pada awalnya terletak di pertemuan antara sungai Rhone dan sungai Saone, di perbukitan yang dinamakan Fourviere, sesuai dengan namanya “Lugus” yang berarti cahaya dan “Dunon” berarti “bukit”. Inilah cikal bakal kota Lyon modern sekarang ini, dan reruntuhan kota romawi ini masih dapat ditemukan dan dijaga keasliannya di kota Lyon sekarang, sehingga Lyon memperoleh status World Heritage List dari UNESCO.”

“Sungai Rhone dan sungai Saone.” Gadis itu mengulang perkataan sang pemuda

“Kita bisa melihat Sisi antik Lugdunum dan sisi modern Lyon yang tercermin dari dua belahan kota Lyon. Yang pertama, Vieux Lyon (Old Lyon), terletak di peninsula antara Sungai Rhone dan Saone, dengan Basilique Notre Dame de Fourviere, Katedral Saint Jean dan Amphithéâtre des Trois Gaules, sangat kontras dengan Modern Lyon di sebelah timur sungai Rhone yang diwakili dengan le Tour de Credit Lyonnais yang mirip crayon dan distrik Part-Dieu dengan mall dan stasiun keretanya.”

“kupikir itu bangunan yang sengaja di bangun dengan arsitektur kuno.” Ucap sang gadis.

“Tidak bangunan itu sudah tua dan terawat sampai sekarang.”

Gadis itu menggangguk, berbeda dengan di Indonesia, bangunan tua di hancurkan dan di ganti dengan banguana baru.”

Pemuda itu mmebulatkan matanya tidak percaya pada perkataan sang gadis, “wow, kau juga pengamat lingkungan juga.”

“Tidak tapi aku pernah mendengar kata-kata itu dari beberapa orang.” Gadis itu segera mengalihkan pembicaraan, “Kerata Funiculaire ini,  seperti kereta ditaman Mini. Ucapnya sambil terkikik.

“Bisa di katakan seperti itu. Kereta funiculaire biasanya dirancang untuk membawa penumpangnya dari dataran yang lebih rendah ke puncak bukit. Prinsip kerjanya adalah dua kereta berbentuk tram berada pada ujung-ujung kabel yang melintasi lereng yang curam, sehingga ketika kereta yang satu turun dikarenakan beban penumpang, ia akan menarik kereta yang lainnya ke ujung bagian atas, sehingga tidak memerlukan energi tambahan, dan demikian seterusnya. Terkadang peralatan mekanis atau listrik membantu menarik kereta tersebut.”

Gadis itu melihat kereta yang turun tanpa ada penumpang. Ia terkekeh saat ingat karyawisatanya dulu di Taman Mini saat duduk di sekolah dasar. Hanya saja yamg ini lebih besar.

“Salah satu jalur funiculaire tertua di dunia berada di Lyon antara Rue Terme dan Croix-Russe. Seluruhnya pernah terdapat 5 jalur funiculaire di Lyon sehingga pernah tercatat sebagai rekor dunia bersamaan dengan kota Valparaiso di Chili. Dua jalur funiculaire masih dijaga keberadaannya di Lyon, yaitu funiculaire yang menuju Basilique Notre Dame de Fourviere dan satu lagi yang menuju Saint Just yang melewati Amphitheatre Galia Romawi, sementara yang lain sudah ditutup atau diubah menjadi terowongan untuk kendaraan bermotor.”

Gadis itu menatap pemandangan dengan mata berbinar, telinganya tidak hentinya mendengarkan penjelasan si pemuda.

“Funiculaire di Lyon lebih sering disebut “la ficelle” oleh para penduduk Lyon, sebutan bagi kabel-kabel yang menarik kereta-kereta tersebut. Dengan menumpang metro jalur D yang memiliki kekhususan sebagai metro otomatis yang tidak ada supirnya, dua jalur menuju funiculaire tersebut berawal di stasiun metro jalur D di Vieux Lyon, salah satunya menuju Fourviere dan yang lainnya menuju Saint Just. Seluruh jalur transportasi publik Lyon sudah dilengkapi dengan eskalator dan lift sehingga memudahkan orang-orang dengan mobilitas rendah seperti pemakai kursi roda atau yang membawa kereta bayi untuk bepergian dengan menggunakan transportasi publik.”

Mereka menunggu Funiculaire pertama yang menuju Fourviere. Funivulaire yang sudah sangat tua dan berbentuk satu kereta kotak berwarna krem di bagian atasnya dan lapisan kayu di bagian bawahnya, berisi kursi-kursi yang kecil dan sempit dengan jendela kaca dan tiga pintu geser di masing-masing sisinya. Dengan jalurnya yang hanya menanjak atau menurun, bagian dalam kereta ini bertingkat seperti tangga-tangga, layaknya ruangan dalam bioskop.

Jalur yang mereka tempuh berawal di stasiun metro, kemudian menyeberang jembatan di atas jalan Vieux Lyon yang berlapiskan batu-batu dan bukannya aspal, dan kemudian memasuki terowongan yan gelap sampai tujuan. Sebelum memasuki terowongan, kereta melewati rumah-rumah penduduk yang berada di sekitarnya dan karena dekatnya, terkadang kita dapat melihat aktivitas penghuni rumah atau mengagumi dekorasi jendela atau pintu.

Pintu keluar funiculaire berada tepat di depan Basilique sehingga halaman dan bagian depan (façade) Basilique langsung terbentang di hadapan kita, menantang untuk mencoba mengambil foto-foto indah. Gereja yang berdiri di atas bukit Fourviere ini dibangun untuk menghormati Bunda Maria yang telah melindungi kota Lyon dan bentuknya sendiri sangat tidak biasa dan unik karena terpengaruh berbagai macam gaya arsitektur terutama gaya neo-byzantin.

Pintu keluar funiculaire berada tepat di depan Basilique sehingga halaman dan bagian depan (façade) Basilique langsung terbentang di hadapan, menantang keinginan untuk mengabadiakannya dalam foto.

“Gereja yang berdiri di atas bukit Fourviere ini dibangun untuk menghormati Bunda Maria yang telah melindungi kota Lyon dan bentuknya sendiri sangat tidak biasa dan unik karena terpengaruh berbagai macam gaya arsitektur terutama gaya neo-byzantin.” Suara pemuda itu menyedarkan sang gadis dari lamunannya. Gadis itu mencoba untuk percaya bahwa bangunan di hadapannya adalah nyata.

“Empat menara berada di masing-masing ujung bangunan dengan sisi-sisi yang terdiri dari tiang-tiang penyangga. Dua menara yang menghadap kota Lyon terkadang dibuka untuk umum sehingga para turis dapat melihat pemandangan seluruh kota Lyon. Di kubah yang juga menghadap kota Lyon, patung Bunda Maria dari emas ditambahkan pada tanggal 8 Desember 1843, hampir 200 tahun setelah awal pembangunan gereja. Setiap tanggal 8 Desember ini juga menandai dimulainya “Fête des lumières” (festival of lights) selama seminggu, di mana penduduk memasang lilin atau lampu di setiap jendela rumahnya sehingga menghasilkan efek pencahayaan yang indah di jalan-jalan kota Lyon.”

Gadis itu melirik ke sang pemuda. Ia mencium sesuatu yang tidak beres.

“Ehmmm…” ucap gadis itu membuat pemuda itu terlonjak kaget.

“Apa ini?” sang gadis mengambil catatan yang ada ditangan pemuda, “pantas saja kau sangat lancar dan serbatau.”

Pemuda itu menyunggingkan senyumannya karena kedoknya ketauan.

“Aku kan sudah bilang, aku belum pernah ke sini sebelumnya.”

“Aku juga tidak pernah memintamu untuk menceritakan segala hal padaku.” Gadis itu berjalan meninggalkan sang pemuda.

Lagi-lagi gadis itu terpukau saat melihat, bagian kiri basilique. Lapangan yang cukup luas untuk menampung parkiran mobil dan beberapa kursi untuk beristirahat juga tersedia di lapangan ini. Dari pagar yang membatasi lapangan dengan lereng bukit, dapat mengambil foto seluruh kota Lyon dengan jelas.

Jembatan-jembatan yang melintasi sungai Rhone, pohon-pohon yang berbaris rapi di pinggirnya, boulevard dengan pepohonan yang rapi, puncak-puncak gereja, barisan gedung-gedung yang rapi, mall Part-dieu, dan yang paling mencolok karena tinggi dan besarnya adalah crayon Lyonnais, gedung bank Credit Lyonnais yang berbentuk silinder dan menyerupai crayon dengan ujungnya yang runcing. Menurut arsitek gedung ini, gedung di daerah bisnis Part-Dieu ini dirancang untuk menyaingi Basilique Notre Dame de Fourviere sehingga tingginya diperkirakan hampir menyamai tinggi Basilique.

_deson_

Burung-burung merpati bebas beterbangan dan berkeliaran di tempat ini, memanfaatkan rempah-rempah makanan yang dibawa turis. Anak-anak dapat bermain kejar-kejaran dengan burung-burung ini karena burung tersebut tidak takut manusia dan lebih banyak berjalan dan mematuki rempah makanan di lapangan daripada terbang. Di salah satu sudut lapangan basilique, terdapat sebuah pondok peristirahatan untuk para penziarah, dengan kursi dan meja panjang yang berjajar rapi dan dapat dipergunakan siapa saja. Toko souvenir dan warung kopi kecil juga terdapat di dalam pondok ini, namun toko ini hanya buka pada hari libur, sabtu dan minggu saja. Untuk hari lainnya, toko souvenir lain berada di sisi sebelah kanan. Di sisi ini juga terdapat restoran yang mempunyai teras yang menghadap kota Lyon. Warung kecil atau restoran, terserah pilihan anda, merupakan tempat yang tepat untuk mengakhiri wisata di Fourviere sebelum beranjak ke tempat lainnya.

Kira-kira 100 meter sebelah kiri gereja ini, terdapat menara tv Tour métallique de Fourvière yang mirip dengan menara Eiffel di Paris. Menara besi baja ini dibangun pada tahun 1892 dan didirikan sebagai monumen sekular republikan untuk menandingi Basilique yang berada di dekatnya. Menara ini dahulu terbuka untuk publik, namun sejak tahun 1954, menara ini hanya berfungsi sebagai menara televisi. Puncaknya setinggi 372 meter merupakan titik tertinggi di Lyon dan menjadi salah satu ciri kota Lyon modern.

Funiculaire kedua Lyon, funiculaire Saint Just, dipergunakan untuk menuju reruntuhan amphitheatre Romawi. Keretanya berwarna merah dengan jendela dari lantai hingga ke atap kereta dan lebih modern daripada rekannya yang menuju ke Fourviére serta lebih sedikit penumpangnya. Kereta kembali menanjak namun kali ini lebih banyak berada di terowongan hingga sampai di stasiun Minimes untuk menurunkan penumpang yang menuju amphitheatre, kereta kemudian berlanjut ke terminal Saint Just.

Reruntuhan amphitheathre romawi terletak di lereng bukit Fourviere, terdiri dua reruntuhan bangunan, odeon antik Fourviere dan teater antik Fourviere, yang merupakan satu-satunya pasangan odeon dan teater di Galia. Odean berbentuk mirip teater namun dalam ukuran yang lebih kecil, umumnya dipergunakan untuk repetisi musik atau persiapan sebelum ke teater.

“odeon dan teater ini mirip dengan colloseum di Roma, walaupun odeon dan teater tidak berdinding layaknya amphitheatre atau collaseum yang merupakan bangunan tersendiri.” Ucap sang pemuda diikuti tatapan sang gadis, “Aku tidak menyontek, aku pernah ke roma dan melihat langsung Colloseum.”

Sang gadis kemudian mendekati papan informasi yang di pajang. Lalu membacanya secara perlahan.

“Odean di Lyon dibangun sekitar abad kedua, berdiameter sekitar 75 meter dan berkapasitas 3000 orang. Sementara teater Fourviere mulai dibangun sekitar tahun 15 SM, berdiameter 105 meter dengan kapasitas 10000 orang. Dengan jarak yang berdekatan antara keduanya, reruntuhan Romawi di Fourviere merupakan salah satu ciri khas Lyon kuno.”

“Kudengar Lyon terkenal sebagai salah satu kota pusat Gastronomi di Prancis. Dari masakan bouchons lyonnais khas Lyon, masakan etnis dari berbagai macam negara hingga anggur Beaujolais yang berasal dari utara Lyon, dapat ditemukan di Lyon.” Ucap sang pemuda.

“Aku rindu masakan Indonesia, apakah ada?”

“Entahlah yang aku dengar berbagai jenis masakan, Prancis, Eropa, Amerika Latin hingga Asia dapat ditemukan di berbagai tempat di Lyon namun sayangnya aku benlum pernah mendengar restoran Indonesia di Lyon.”

Gadis itu menunjukan wajah kecewannya.

“Kau rindu rumah?”

“Gadis itu menggeleng, aku tidak akan merindukan rumah sebelum aku mendapat gelar masterku.”

Pemuda itu tersenyum, “Kau sangat berambisi sekali.”

“Aku pergi kesini dengan kepercayaan kedua orang tuaku, mereka berharap agar aku menjadi anak yang sukses. Tapi sepertinya aku mengecewakan mereka.”

Setelah selesai pandang memandang kota Lyon dari Notre Dame de Fourviere serta menyelesaikan panjat memanjat di reruntuhan Amphitheater Gallo Romawi, mereka melakukan perjalan pulang dengan menuruni funiculaire Saint Just menuju stasiun metro D Vieux Lyon, mall La Part Dieu dapat ditempuh menggunakan trem T1 melalui stasiun Guillotiére atau menyambung metro B dari stasiun Saxe-Gambetta.

Mereka berhenti saat mendapati dua pilihan, pilihan pertama yaitu melewati jalan normal, yang satu lewat bawah tanah.

“Aku ingin lewat jalan normal, aku ingin melihat pemandangan Lyon sebelum pulang ke London.”

“Baiklah Miss.” Pemuda itu menyetujui saran sang gadis.

Perjalanan mereka menaiki trem menghasilkan hasil yang tidak terduga mereka menemukan sebuah restoran Indonesia bernama di L’Archipel de Saveur di dekat mall La Part Dieu.

Tanpa babibu lagi mereka langsung menghampiri restoran itu.

Suasana Indonesia makin terasa ketika membaca daftar menu yang berdiri di luar restoran dan untuk memastikan bahwa restoran ini benar-benar restoran Indonesia. Rendang, sate ayam, nasi goreng, gado-gado, ayam goreng, rujak, terbaca dengan jelas, ditambah dengan penjelasan berbahasa Prancis. Hal ini sudah mampu membuat keduanya membayangkan lezatnya makanan Indonesia. Imaginasi semakin bertambah melayang ketika memasuki restoran, dengan perangkat meja dan kursi bambu, dekorasi lukisan pemandangan Indonesia beserta sawah dan petani, dan yang paling menarik, tempat kasir yang berbentuk pondok bambu lengkap dengan atap anyaman, semuanya diimpor dari Indonesia.

Pemilik restoran ternyata adalah pasangan Franco-Indonesia. Sang istri, seorang wanita muda berasal dari Solo dan sang suami adalah warga negara Prancis keturunan Algeria yang cukup lama bermukim di Indonesia. Keduanya menyambut kedatangan para tamu secara personal dan dengan keramahan yang tidak dibuat-buat, sehingga para tamu terlibat percakapan pembukaan yang cukup hangat dengan pemilik restoran.

“Aku ingin Soto dan sate.” Ucap sang gadis tidak tahan membayangkan deskripsi sang memilik restoran.

“Kau benar-benar lapar?”

“Kau tau tuan, kau mengajakku jalan-jalan seharian tanpa mentraktirku sesuap nasi pun.”

Pemuda itu terkekeh, “kenapa kau tidak mengatakannya.”

“Seharusnya kau tau bahwa aku ini manusia.” Gadis itu tersenyum nakal.

“kau belum menjawab pertanyaanku?” tanya sang pemuda.

“Apa? Kau bertanya apa? Tanya sang gadis polos.

“Kenapa kau pergi ke Perancis sendirian?”

Gadis itu terdiam dan menatap lukisan petani yang ada dinding.

“Tidak usah kau jawab jika tidak ingin.” Ucap pemuda itu.

Sang gadis tersenyum, “Aku ingin melupakan seseorang.”

“Seseorang? pria brengsek itu?”

Gadis itu menggangguk, “Kau benar tentang rumah itu. Aku merindukan rumah. Tapi aku merasa tidak pantas untuk pulang ke rumah.”

Pemuda itu menatap kedua bola mata sang gadis, “kenapa?”

“Kepercayaan. Mungkin itu alasannya.”

“Kepercayaan??”

“Aku bisa menginjakan kakiku ke benua Eropa karena kepercayaan orang tuaku. Mereka percaya bahwa anaknya mampu bertangung jawab dan bisa melakukan tugasnya dengan baik.” Gadis itu mengalihkan pandangannya, “tapi aku merusak kepercayaan mereka. Aku seperti tidak punya muka dihadapan kedua orang tuaku.”

“Kepercayaan memang gampang diberikan tapi sangat sulit di jaga.”

“Seperti kedua orangtuaku, aku memberikan kepercayaan padanya, pada pria itu. tapi dengan mudahnya dia menghancurkannya. Aku tidak mengerti kenapa pemuda itu bisa merusakku, memang bukan salahnya sepenuhnya, aku yang terlelu melodramatisir, hingga masalah sekecil itu bisa membuat prestasiku menurun.”

“Kau terlalu polos.”

“Aku tau, itulah sebabnya kau mengajakku jalan-jalan.” Gadis itu menarik nafas dalam, “Aku ke Prancis ke negara yang terkenal dengan kota romantis, seolah ingin melupakan pahitnya rasa sakit hati.”

“dan yang kau dapat?”

“Aku bersyukur pada Yang Maha Esa, karena pilihanku tepat, aku bertemu denganmu. Bisa melihat kota Lyon yang indah, bisa mengobati rasa rinduku pada rumah dan sejenak aku tau bahwa dia memang bajingan dan aku tidak pantas untuk memikirkannya lagi”

Percakapan mereka terhenti saat pesanan yang pesan datang.

“Tidak terasa kita sudah seharian bersama.” ucap sang pemuda sambil melahap rendangnya.

“Kita bicara seolah kita saling mengenal sebelumnya.”

Pemuda itu terkekeh, “setelah ini kau mau kemana?”

“Pulang ke London, memangnya mau kemana lagi.”

“Aku pikir kau harus bertemu dengan pria Prancis, ku dengar mereka sangat romantis.” Goda sang pemuda.

Gadis itu menatap tajam sang pemuda. “Aku sudah jera berpacaran dengan orang asing. Aku ingin dengan pria Indonesia saja.”

“Denganku? Kau lupa Miss, Aku ini pria brengsek.”

Gadis itu mengembungkan pipinya, “Aku tidak tertarik dengan pria workaholic sepertimu tuan.”

_deson_

“Perjalanannya kita berakhir sampai disini.” pemuda itu menyerahkan tiket TGV menuju London, “senang bertemu denganmu. Aku harus pergi.” Pemuda itu melambaikan tiket Paris-Frankfrut yang ada tangannya.

“Terimakasih untuk traktirannya.” Gadis itu melangkah ke gerbong kereta.

“Satu lagi… Ehmmm…” pemuda itu sejenak ragu pada ucapannya.

“Apa?”

Pemuda itu menatap gadis dihadapannya, “Cinta itu labuhan terakhir, saat kau mencintai seseorang. yang kau lakukan adalah ingin segera pulang atau menunggu dia pulang. itulah sebabnya mengapa pulang adalah hal yang paling menyenangkan. Karena kita bisa melihat orang yang kita cintai.”

Gadis itu menatap sang pemuda dengan tatapan tidak percaya.

“Jangan pernah takut untuk jatuh cinta. Kita memang pernah salah mencintai tapi kesalahan itu akhirnya menunjukan pada kita jalan yang benar.”

Gadis itu tersenyum, “Aku juga punya satu petuah untukmu.”

“Apa?”

“Perempuan itu paling tidak suka di gantungkan, di tinggalkan tanpa kejelasan dan di khiananati. Jika aku mencintai seseorang nanti, katakan padanya bahwa hantinya adalah tempat kau pulang.”

Pemuda itu tesenyum.

“Katakan juga padanya, bahwa jarak untuk dua orang yang saling mencintai adalah sebuah kata untuk sekedar menunggu.”

Mereka terdiam. Suara alarm tanda kereta akan berjalan mengakhiri pertemuan mereka.

Sang gadis masuk kedalam gerbong dan membiarkan pintu otomatis yang ada dihadapannya tertutup rapat memisahkannya dengan sang pemuda.

_deson_

Kereta berhenti di Stasiun Bogor. Para penumpang berdesakan menuju luar kerata. Gadis itu tersenyum. Tidak senyaman kereta Eurostar atau TGV tapi kereta AC ekonomi itu mampu membangus kenangan indah yang pernah terlewati.

Bukan dengan siapa, kapan, bagaimana dan berapa lama kita bertemu seseorang tapi seberapa besar perubahan yang kita dapat dari pertemuan itu.

Gadis itu meninggalkan stasiun lalu melihat hiruk pikuk keramaian disekitar stasiun. Tanpa basa-basi lagi gadis itu langsung pergi ke tempat seseorang yang sangat spesial.

Gadis itu berdiri tepat dia sebuah rumah sederhana yang didekorasi meriah. Banyak orang berlalu lalang riuh. Mata gadis itu berhenti saat melihat seorang pemuda berjalan ke hadapannya.

“Kau membuatku gila. Kenapa harus naik kereta? kau tidak tau disana banyak pencopet dan perampok.” Pria itu langsung menyambut gadis itu dengan cercaan panjang lebar.

“Tuan, aku terbiasa naik kereta.”

“Tapi ini Indonesia, buka London.”

“Buktinya aku tidak. Apa-apa hentikanlah kekhawatiran konyolmu itu.” balas sang gadis.

Gadis itu melangkah meningkalkan pria itu. Gadis itu masuk kedalam menemui mempelai pengantin.

“kak Dina…” Seru gadis itu sambil menghapiri sang pengantin perempuan, “Selamat ya.”

“Neng, kamu bikin aku gila di hari nikahan aku.” Ucap seseorang yang dipanggil Dina itu.

Gadis itu mengerutkan keningnya.

“Untunglah kamu datang dengan selamat coba klo enggak, Casey bisa bikin Kakak tuli di kawinan kakak”

Gadis itu tertawa sambil melihat pria yang bernama Casey itu.

“Mana pengantin prianya?”

“Ada sebentar kakak panggilin.” Dina masuk kedalam rumah membiarkan Casey mendekati gadis itu.

“Tega kau berbuat seperti ini padaku.” Ucap Casey.

Gadis itu menatap pacarnya, “Aku bisa menjalankannya sendiri. Kau tidak perlu khawatir, yang perlu kau lalukan adalah percaya padaku.”

“Ini dia pengantin prianya.” Suara Dina membuat gadis itu menoleh.

Gadis itu menatap pria dihadapannya tidak percaya. pria itu dengan matanya sipit yang masih sama dan lesung pipi yang sama.

“Kau??” gadis itu tersenyum saat menyadari siapa pemuda itu. Pemuda pun tersenyum.

“Lama tidak berjumpa.” Pemuda itu mengulurkan tangannya, “Kau masih sama seperti yang dulu.”

Gadis itu tersenyum, “Kau juga.”

“Kalian saling mengenal?” tanya Dina.

“Kami bertemu saat di Prancis.” Ucap pemuda itu sambil mengulurkan tangannya, “Vincent.”

“Dewi.”

_deson_

“Kau sudah sudah pulang?” tanya Vincent

“Sudah sejak setahun yang lalu dan aku juga menemukan cintaku disini.” Jawab Dewi.

“kau sudah menemukan kepercayaanmu?”

“Ya.. sudah. Aku percaya, perempuan yang baik akan mendapatkan pria yang baik. Begitu juga dengan diriku. Tuhan telah menuliskan jodoh yang terbaik untukku. Dan kau sudah berhenti menjadi pria brengsek.”

“Seperti kau lihat, aku ingin berhenti membuat pada wanita jatuh hati dan menetapkan satu pilihan yang akan ku jaga samapai akhir nanti.”

“Hidup penuh pilihan…” Dewi tersenyum saat mengingat kata-kata itu.

“Kita bertemu lagi. berarti kita sekarang lebih dari seorang orang asing.”

“Iya tuan sekarang kau kakak iparku.” Ucap Dewi di sambut oleh cubitan Vincent.

 Fin~~~~~

Hahahahaa…. Besok UAS… bukannya belajar malah jalan-jalan ke Paris. #plaaak

Bukannya ngerjain FF yang belum beres malah bikin cerita gaje…

Khusus untuk Kak Dina, inget ga dulu kita ketemu di Kereta tapi itu bukan pertemuan pertama wkwkwkwkkk *bahasagwkacau*

Kak Dina…. ^^

Bang Umin disini udah pake sarung n kopeah loh ahahhaaaa *stresss*

Bukan bermaksud buat manas2in, tapi tadinya tokohnya itu emang bukan bang Umin ma ci Dewi tapi Teuki Oppa ma temen saya… tapi pas di tengah jalan jadi keingetan perjalanan kita waktu ke Ambasador kkkkk…

Leave Your Comment, Please

_deson_

Leave a comment

22 Comments

  1. wonwonwon

     /  June 13, 2011

    Kyaaa demi apa hari ini penuh dengan perancis! err habis liat foto selcanya heenim di bawah la tour eiffel dapet ff ini, lumayanlah bikin tambah envy(?) ini ff bikin tambah semangat buat belajar b.prancis lagi \m/ authornya pernah ke paris kah?

    emm, bentar, itu katanya ceweknya pake jilbab kan? terus kok ada yg bagian si cowok mengacak rambut sicewek?? *bingung

    Like

    Reply
    • Ayo semangat belajar bahasa Prancisnya…
      ntar klo udh bisa ke Prancis, ajak-ajak yo…

      blom, tapi mudah-mudahan bisa kesana… Amiiiin

      hahhaa… Jinjja???? saya lupa klo ceweknya pake jilbab (?)
      makasii udh mengingatkan ntar d edit ^^
      Chu <33

      Like

      Reply
  2. Neng deson…🙂
    Ahhhh~ suka banget sama ceritanya… (^o^)
    Makasiih yaaa sayaaang.. *pelukcium*

    Baca Express ini berasa lagi beneran Tamasya ke Paris, penggambarannya begitu jelas dan detail.. buat niy FF berapa lama neng?..

    Awalnya kakak ga ngira loh kalo Pemuda yang blasteran Korea-Indonesia itu Umin,, tadinya kakak kira itu Heenim… apalagi pas bagian lesung pipi, coz umin khan ga punya lesung pipi,, kkkk XDD

    Tapi, pas udah baca penjelasan dibawahnya, jadi mulai paham… Ohhh~ I see.. tadinya khan castnya Teuk Oppa, pantesan ada lesung pipinya,, hwhwhwh

    Jadi ceritanya kakak nikah ma Umin?… Kyaaaa~senangnya…😀

    Kakak masiy inget banget pertemuan di kereta itu… skali lagi makasiih banyak yaaa… beneran ini terharu bisa muncul jadi cast di FFnya neng,, hehehe…😉

    Good luck yaaa buat UASnya… (^o^)

    Like

    Reply
    • Sama2 Kak…
      berapa jam yah?? kira2 setengah hari…
      ide ceritanya aja yang lama heheheee

      Heenim??? gak mungkin dia selembut itu…
      dia kan cuek
      Aku pikir Umin punya lesung pipi, berati aq salah liat heheheeee…
      awalnya Leeteuk tapi pas nyampe tengah pindah haluan ke Umin… aq males ngedit dari awal kkkk
      abis Umin lebih mengoda *dicincang kak Dina*

      hmmm…. Aq ngebayangin Bang Umin di mesjid pake Kopeah di acara akad nikahnya wkwkwkwkkkkkk

      *sodorin tisu* sama2 kak…. aq juga suka kok nulis ttg kayak gini, berasa nostagila terselubung #plaaak
      makasii doanya ^^

      Like

      Reply
      • Setengah hari bisa menghasilkan karya sepanjang ini?… *keprok-keprok* saluut neng…😀

        Iya sii, ga mungkin yaa Heenim begitu.. abis khan biasanya FFnya neng ga jauh2 dari Caseymu itu,, jadi pas baca di awal ngiranya itu Heenim,,, hwhwhwh

        Eiiitss,, umpetin Umin.. kenapa akhir2 niy banyak yg bilang umin lebih menggoda yaa?.. Padahal khan umin tambah nduuut.. >.<

        Hahahaha… kakak juga pengen liat umin pake peci plus baju koko bakalan seganteng apakah jadinya…

        *nerima tisu dari neng* kapan2 kakak juga mau buat ahh FF yg ada namanya Yeosin jadi salah satu castnya,, hehehe…😉

        Like

        Reply
        • Klo ide udh mateng biasanya gampang nulisnya
          Aq jg g bsa nulis trus d tunda, inti ceritanya ska lupa hehe

          Aq lg sbel ma tuan kim, tp selalu aja akhirnya dia nongol

          Boleh2 kok
          Aq mau mampir k blog kaka, tp selalu aj ad halangan >.<`

          Like

  3. good job..
    lokasi2 yang ada diprancisnya tergambar dengan jelas,
    walaupun gw bingung yang jadi main castnya sebenarnya umin ato eteuk??

    tapi sumpah,
    bahasa prancis itu ternyata sangat ribet…!!
    lidah gw ampe patah2 gitu ngebaca yang bagian bhsa prancisnya..
    #lebay..

    Like

    Reply
  4. Wuaaaaah…
    Keren neh penggambaran ceritanya bener-bener detail banget…
    Dan penuturan bahasanya keren neh…
    Gampang di mengerti… Hohohohohohoho

    Endingnya Happy….
    Seneng… Seneng… Seneng… Hehehehehehe

    Like

    Reply
  5. vanny

     /  June 20, 2011

    annyong……… *lambai2 ala miss korea* kekeke
    1 minggu cuti kangen euy ama blog ini hehehe
    dan setelah mampir, woallah dah byk FF ternyata ^^

    anyway, aku kira dewi jalan2 ama casey ternyata ama vincent, tapi napa pas baca ada lesung pipinya aku malah kepikiran kadir?? hehe

    aku sempet mikir, cowok yg dulu nyakitin dewi adalah casey, ternyata bukan ya?? hehehe

    Like

    Reply
    • Annyeong ka Van *Miss U Too*
      Aku mabok UAS kak tiap buka laptop bukan belajar malah nulis FF #plaaaak

      tadinya emang bang kadir tp pas ditengah di ganti kkk
      oooo Casey tidak mungkin menyakiti Dewi kkkk
      *pedegila*

      Like

      Reply
  6. autumnsnowers

     /  June 22, 2011

    Tmpt” d prancis.y dijelasin scr trperinci… Jd aq bs ikutan melanglang buana k paris dlm duniaaa hayal. . Hehe🙂

    qta ke paris yuuu!!!
    *minta duit ke heechul*

    Aq smpt ngira itu leeteuk loh. . Soal.y kn ad lesung pipi.y, eh trnyt bang umin
    Umin pke kopeah?? Wuaaaah pngen liaaaat >< *ngarep*

    nice ff🙂

    Like

    Reply
  7. Teteh…………….!!!!
    Lama g maen ksini udh byk ff yg d publish..
    Hayyo tanggung jawab krn teteh udh bikin aq pngen bgt ke paris..
    baca nih ff spt jalan2 lngsung ksana..

    Tumben si casey g trlalu exist dsini, kasian… *elus2 pundak Chuli Oppa*

    Like

    Reply
    • Jihahahahaaaa…
      minta sana tiketnya ma Bang Ichul… ntar tth nebeng kkkk

      lagi bosen sama Casey Kim hhhhhhh

      Like

      Reply
      • sweebee

         /  June 27, 2011

        Mwo????
        Bosen sama abang saya?????
        Hayyo.. tak bilangin ke abang sy lho ya..*kedip2 mata*
        Mau selingkuh sama sapa Teteh???

        Like

        Reply
  8. sambil nungguin u balik ke bogor gw keliling-keliling Paris dulu..
    kekekeee

    Aduh,, bang umin udah kayak tourguide..
    Lengkap deh penjelasannya..
    dari sejarahnya djelasin semua..
    sayang sekarang kagak ada pelajaran sejarah dkampus..
    klo ada hitung” buat nambah pengetahuan sejarah gw..
    kekekekeee

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: