Because I am a Fool (바보라서) Part 2

Apa itu pengorbanan? Berdiri dengan hati terluka, sementara dia memikirkan gadis lainnya.

Apa itu kesetiaan? Tetap bertahan menunggunya meski dia tidak pernah datang meski hanya untuk sekedar berterimakasih.

Lalu… Apa itu cinta?

>>deson<<

-Prev-

“Kim Heechul-ssi…”

“Ayo kita menikah.” Ucapnya lembut dan tegas. Dia berbisik namun bergema di hatiku. Semuanya ini terasa mimpi bagiku. Mimpi yang sangat indah.

“Iya…” ucapku seperti kehilangan logika.

Tuhan, apa ini yang disebut sihir????

Chapter 2

Aku menyesal telah menceritakan tentang lelucon lamaran Heechul pada Jaena. Berkali-kali dia menertawakanku bahkan mengejekku. Dia bilang aku bodohlah, terlalu jaim-lah dan sebagaiannya.

“Harusnya kau bilang iya Oppa aku mau, besok kita akan menikah.” Ucap Jaena setelah bisa mengatur nafanya

“Gilaaa… bagaimana jika dia cuma bercanda. Kau taukan terkadang leluconnya itu tidak lucu.” Ucapku tidak terima.

“Tapi kau menyukainya, kan?” Jaena menatapku dalam, “Itu saja sudah cukup, kau hanya tinggal membuat dia jatuh cinta padamu.”

Aku meneduhkan tatapanku, “Kau pikir itu gampang.”

“Jika kau tulus dan benar-benar menyukainya, dia pasti akan luluh.”

Pletaak

Aku menjitak kepalanya, “Kau pikir ini dunia dongeng. Ini dunia nyata Jaena-ya.”

Jaena mendekatkan wajahnya padaku, “Aku tau ini dunia nyata. Kau juga tidak hanya ingin memilikinya di dunia mimpi saja kan.”

Aku menatap Jaena frustasi. Bicara dengan Jaena tidak akan memberikan solusi yang baik, malah semakin akan mengkusutkan pikiran.

“Kau sudah mengatakan iya, itu artinya… kau telah terikat.” Aku menatap Jaena, matanya serius, tidak ada seringan jail diwajahnya lagi.

“Tapi aku ragu. Aku terlalu me… bisa dikatakan hanya sekedar suka.”

Jaena menatapku lembut, “bicara pada dia sekali lagi. Lihat apa dia benar-benar menyukaimu dan serius dengan perkataannya atau itu hanya sebuah lelucon.”

Bagaimana jika ini adalah sebuah lelucon? Ada sebagian dari diriku yang tidak ingin itu terjadi.

“Aku takut.” lirihku

“Kau tidak perlu takut mengetahui kebenaran, harusnya kau takut jika dia hanya berniat mempermainkanmu.”

Aku menatap Jaena, gadis itu… mampu membuat pikiranmu acak-acakan tapi dia berkata bukan apa yang kau dengar tapi apa yang harus kau dengar.

>>deson<<

“Kurasa hyung bukan orang yang spontan. Dia selau berfikir lebih ke perasaannya. Yah dia tipikal orang yang sangat perasa.” Ucap Ryeowook oppa saat aku berbicara tentang Heechul yang tiba-tiba saja melamarku, “mungkin dia mempunyai pertimbangan lain.”

“Mungkin itu hanya leluconnya.” Ucapku, karena tidak mungkin seseorang yang baru kau kenal selama berberapa jam mengajakmu menikah dan kau menerima, meski kau sudah mengidolakannya seumur hidupmu. Itu kata Jaena.

“Tapi bagaimana jika dia serius? Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan ini kan??” ucapku meluncur begitu saja tanpa terkendali.

Ryeowook oppa menatapku sambil mengerutkan keningnya, “Jangan katakan padaku jika kau menyukainya.”

Aku menatap mata hitam miliknya. Matanya jauh menerobos ke otakku dan mengacak-acak pikiranku.

“Kau bukan orang yang pandai menyembunyikan sesuatu Yeosin-ah.” Katanya memaksaku menjawab pertanyaannya.

Aku mengembungkan pipiku. Mencoba merilekskan diri dari tatapan Ryeowook oppa. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling kafe. Tidak ada yang istimewa. Kafe ini hanya kafe yang mementingkan kenyamanan dari pada makanannya. Orang yang datang ke sini biasanya bukan orang yang ingin makan tapi orang yang mempunyai kepentingan lain. Seperti aku dan Ryeowook oppa yang hanya mengobrol sambil menikmati tiramisu cake yang tak kunjung habis.

Mataku terseret ke sebuah kotak berisikan majalah. Kotak itu jauh dari mataku tapi aku bisa melihat dengan jelas. Satu orang dari sepuluh orang yang menjadi penghias sampul depan. Dia. Kim Heechul.

Aku melihat foto itu tak peduli dengan pria yang dihadapannku juga ada di dalam majalah itu.

“Yeosin-ah…” Aku menatap Ryeowook yang sedang menunggu jawabanku.

“Aku hanya mengidolakannya.” Jawabku asal-asalan

“Jangan katakan kau tlah berkata IYA.”

Aku mendecak. Ryeowook terus menatapku. Dia tidak membiarkanku bernafas. Dia bahakan mengunci mataku, “sayangnya iya.”

Aku bisa melihat sirat bahagia dan sedih di matanya. Entahlah mungkin sesuatu yang aku juga tidak mengerti.

Semakin tidak kumengerti saat dia mulai menjatuhkan air matanya, “Kenapa Oppa menangis?”

“Karena kau bodoh.”

“Aku mengenalmu jauh sebelum kau mengenalku. Kau sudah menjadi bagian dari hidupku. Aku juga sudah mengenal Heechul-hyung.”

Aku mengerutkan keningku tidak mengerti, “lalu.”

“Aku akan bahagia sekali, Yeosin-ah jika kalian bersama, tapi tidak dengan cara seperti ini. Kalian seolah sedang bermain-main dengan kata MENIKAH.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“bicaralah empat mata dengannya.”

Dan aku membenci hal itu.

Aku takut, aku takut pada kenyataanya.

>>deson<<

Aku memilih diam dan tidak melakukan apapun. Aku hanya duduk dan memandang ponselku yang tidak kunjung berbunyi. Apa yang aku lakukan? Aku hanya berap Heechul meneleponku.

Bodoh.

Aku memang bodoh, karena aku tidak pernah memberikan nomornya padanya.

Baby don’t cry baby don’t cry baby don’t cry

Eonjenga deo bitnalgeoya give me your smile

Aku tersentak mendengar lagu itu lalu meraih ponselku. Kekecewaan harus ku dapat saat melihat nama Ryeowook d layar ponselku.

Baby don’t cry baby don’t cry baby don’t cry

Han beonman deo nal wihae just give me your smile

“Hallo.” Ku jawab panggilan Ryeowook dengan tidak semangat. rasa semangatku sudah menguap entah kemana.

“Kau ada waktu?” tanyanya to the point, bukan kebiasan Ryeowook sama sekali.

“Hari ini tidak ada.”

“Kalau begitu, berdandanlah yang cantik limabelas menit lagi aku akan menjemputmu. Kau akan mengantarku menghadiri pernikahan salah satu staf SM.”

Ryeowook langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dariku. Aku mendecak kesal. Aku langsung mandi dan berdandan dengan cantik.

>>deson<<

Aku duduk di tengah hingar bingar pesta. Tak banyak yang kukenal disini kecuali Ryeowook oppa dan tentu saja dia ada, bodoh jika aku mengira dia tidak akan datang. Dia pasti datang.

Ku edarkan pandanganku kesekeliling pesta. Aku bisa melihat di pojok ruangan ada Changmin dan Donghae sedang bertengkar dengan seorang gadis. Aku tidak tau siapa gadis itu, kurasa dia bukan artis juga bukan model.

Mereka berdiri tidak jauh dari ku sehingga aku bisa mendengar dan melihat pertengkaran mereka

Aku bisa melihat kemiripan wajah gadis itu dengan Changmin kurasa dia adiknya Changmin. Senyum nakal dan iblis mereka sama. Serta suara serak basah mereka.

“Terserah padamu saja. Aku tidak peduli.” Changmin meninggalkan Donghae dan gadis itu.

Aku segera mengalihkan pandanganku. Aku tidak ingin di cap sebagai penguping.

Dukkk…

Changmin duduk di sebelahku, membuatku menoleh padanya.

“Yeosin?” matanya membulat saat melihat wajahku.

“Changmin-ssi sudah lama tidak berjumpa.” Aku tersenyum padanya.

“Ya, sudah lama tidak berjumpa. Junsu Hyung bilang kau ke New York.”

Aku menggangguk, “Ya, aku sudah beberapa bulan tinggal di Korea.”

Changmin ikut menggangguk, “kau sudah terikat kontrak bukan? Kau sekarang sudah menjadi wanita bebas.”

Aku menatapnya tidak mengerti.

“Sayang Junsu Hyung tidak disini, jika tidak dia kan mengajakmu berdansa disana.” Changmin menunjuk beberapa orang yang sedang berdansa di lantai dansa.

“Kudengar dia keluar dari…” aku menggantungkan ucapanku saat melihat aura kesedihan di wajahnya, “Aku merindukan suaranya.”

“Aku juga…” Changmin menundukan wajahnya, “Kau masih bisa mendengar suaranya lewat lagu-lagunya, tapi perhatian dan kekonyolannya tidak bisa.”

Aku menggangguk mengiyakannya.

“Kau merindukannya??”

Changmin menatapku dengan senyuman iblisnya, “tentu saja.”

Changmin membulatkan matanya, “Jika dia mendengar hal ini dia pasti akan histeris dan mengeluarkan tawa anehnya itu.”

Aku tersenyum sambil membayangkan tingkah Junsu yang koyol.

“Dia tertawa sangat keras dengan wajah merah karena malu. Kau ingat saat dia tidak sengaja memegang tanganmu?”

Aku menggelengkan kepala, begitu banyak momen bersama Junsu hingga aku tidak ingat detailnya.

“Dia itu sangat suka…”

“Yeosin-ah.”

Aku mendongkak, ku lihat Heechul dengan wajah tanpa senyuman sedikitpun.

“Para gadis sedang menunggu untuk acara melempar bunga.” Heechul mengulurkan tangannya, ucapannya dingin membuatku takut untuk membantah.

Aku menatap Changmin sambil menerima uluran tangan Heechul.

Changmin mengangguk lalu membiarkanku bersama Heechul.

Heechul menggenggam tanganku dingin. Ia mengantarku ke arah mempelai pengantin tanpa bicara sedikitpun.

Aku merasa kikuk dengan sikapnya. Dia tidak menyapaku saat aku tiba di pesta ini, dia malah bersama dengan teman-temannya. Dan ketika aku mengobrol dengan Changmin dia menghampiriku dengan dingin. Aku tidak tau apa yang ada di pikirannya.

“Sedang apa kau disini…” Ucap Heechul jutek pada Donghae

Donghae dan gadis disebelahnya menoleh. Mereka kaget saat melihat tangan kami bertautan.

“Melakukan hal yang akan kau lakukan.” Donghae memamerkan senyumannya yang diikuti tonjokan mesra oleh sang gadis.

Aku terkekeh melihat tingkah laku gadis itu. Mirip dengan Changmin.

Kami bersiap saat pengantin perempuan memberikan aba-aba bahwa ia akan melemparkan buklet bunganya. Aku bisa bernafas lega saat Heechul melonggarkan tangannya.

Pengantin perempuan melemparkan bunganya ke belakang. Membuat gadis-gadis yang ada di depan bergerak ke belakang.

Heechul dan Donghae melomppat bersamaan, namun Heechul yang sedikit lebih tinggi mampu meraih bunga itu.

Aku menatapnya takjub. Saking takjubnya aku hanya diam saat para gadis itu berlari ke arah kami.

Badanku limbung tertabrak oleh beberapa gadis dan… aku tidak sanggup melihat lagi.

Seseorang memegang pinggulku. Aku bisa merasakan wangi nafasnya di kepalaku. Jarak kami sangat dekat.

“Apakah aku harus menciummu agar kau membuka matamu.”

Aku segera membuka mataku dan bisa kulihat wajah Heechul dihadapanku. Aku melihat wajahnya dari dekat. Benar-benar tanpa celah. Kurasa wajahku juga memerah, tunggu dulu. Wajahnya juga merah sangat merah. Apakah dia???

Aku membetulkan tubuhku mencoba melepaskan lingkaran tangan Heechul di pinggangku.

Aku merasa kikuk, semua orang memperhatikan kami.

Heechul mengambil tanganku kemudian menaruh buklet bunga itu di tanganku. Ia kemudian pergi dari hadapanku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku melihat bulket bunga yang sudah hancur tidak berbentuk itu lagi.

>>deson<<

Aku menatap hasil karyaku. Buklet bunga yang hancur itu kini sudah jauh lebih bagus dari sebelumnya. Bunga-bunga yang sudah patah ku buang sedangkan yang bagus ku rangkai menjadis satu. Ditambah dengan sedikit acsesoris tambahan bunga itu kini semakin cantik.

“Kau apanya Heechul-Oppa?”

Aku menoleh dan mendapati gadis itu lagi.

“Kau itu pacarnya Donghae atau adiknya Changmin?” tanyaku padanya

Dia mengerutkan keningnya, “Kenapa kau tau padahal yang lain tidak tau.”

Kini aku yang mengerutkan kening, “tidak tau apanya?”

“Dua-duanya. Adik Changmin dan pacar Donghae.” Ucapnya dengan wajah memerah.

Aku terkekeh, “terlihat jelas dari tingkahmu, senyummu dan suaramu yang mirip dengan Changmin. Dan Donghae, mana aku hanya menebak mana mungkin Donghae mau mengantarku mengambilkan buklet bunga ini.” Aku menunjukan buklet bunga yang ku pegang.

Dia membulatkan bibirnya, “jika begitu kau juga kekasih Heechul-Oppa dong??”

Aku membulatkan mataku, aku tidak tau harus menjawab apa.

“Dia bukan kekasihku.”

Aku melihat Heechul berjalan ke arah kami. Tunggu… apa yang baru saja dia katakan, aku bukan kekasihnya??

“Dia tunanganku.” Jawab Heechul kemudian duduk diantara kami, “Jadi berhentilah untuk mengganggunya. Aku tidak suka dia bicara dengan orang selain aku.”

Gadis itu berdiri kemudian duduk di sebelahku, “kau tau nona, aku pernah menonton beberapa drama romantis tapi adegan yang kalian suguhkan didepan kedua mataku sangat bagus, lebih romantis.” Dia mengeluarkan ponselnya lalu menunjukan sebuah poto padaku.

Sebuah poto dimana aku yang di topang oleh Heechul.  Heechul memegang pinggangku dan aku memegang lengannya. Mataku terpejam sementara Heechul menatapku dengan sangat dalam dan khawatir seakan aku tidak pernah membuka mataku lagi.

“Yak~” Suara Heechul memekakan telingaku, “Kau itu.”

Gadis itu tersenyum jail lalu memasukan ponselnya ke saku lalu pergi begitu saja.

Aku menunduk menutupi wajah merahku.

Kami terdiam tidak tau harus berkata apa lagi.

>>deson<<

Aku duduk di mobil Peugeot silver Heechul. Ryeowook Oppa bilang dia tidak bisa mengantarku pulang dan untung saja Heechul mau mengantarkan. Aku menyetujuinya karena aku tidak membawa uang tunai.

“Kau menyukai bunga itu?” Ucap Heechul saat aku tengah melihat buklet bunga yang dia berikan.

“Bagaimana kalau kita ke namsan tower?” tanyanya sebelum aku menjawab pertanyaanya sebelumnya

“Untuk apa? Kau tidak takut ketahuan oleh netizen?”

Aku megutuki diriku lagi. Aku tau tempat apa namsan tower itu dan tidak mungkin aku bisa melupakan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.

Aku mulai membuka hatiku untuknya.

“Sekarang hampir tengah malam, dan tidak ada yang mengenaliku.” Ucapnya semangat.

Dia lalu mengemudikan mobilnya menuju ke kawasan namsan.

Dia banyak bercerita, ku akui dia sangat pandai mencairkan suasana dan sangat talktive.

Kami tiba di namsan. Benar apa yang dia katakan bahwa namsan tower sangat sepi hanya ada beberapa pasangan.

Dia mengenggam tanganku. Jantungku serasa berhenti berdetak. Wajahku pasti sangat merah. Aku yakin Jaena pasti akan menertawaiku habis-habisan jika aku bercerita tentang hal ini.

Aku bisa melihat ribuan gembok cinta dalam pager. Aku melihat satu-persatu gembok-gembok itu.

Ku lihat Heechul berdiri di salah satu sudut sambil melihat sebuah gembok. Matanya terfokus pada gembok itu. Aku penasaran dengan gembok itu. Kulangkahkan kakiku perlahan mendekatinya.

Saking fokusnya ia tidak menyadari keberadaanku.

Aku bisa melihat dengan jelas kata-kata itu. EunHeeChul forever.

Eunhee? Apakah Choi Eunhee?

“Yeosin-ah kau mengingatkan aku pada seseorang.”

“Nugu?”

“Choi Eunhee.Aku pernah punya impian untuk bermain film dengannya.”

“Kim Heechul-ssi…”

“Ayo kita menikah.”

Kata-kata Heechul berkelebat di kepalaku. Apakah aku hanya seorang yang mirip Choi Eunhee sehingga dia mengatakan akan menikah denganku.

Aku membalikan badanku, tidak sanggup melihat dia lagi.

Baru saja aku menaruh harapan padanya. Baru saja aku ingin percaya pada kata-katanya. Dan kini aku tau jika aku hanyalah seseorang yang mirip dengan Choi Eunhee.

Tanpa sadar aku melangkahkan kakiku menjauhinya. Aku tidak ingin berdekatan dengannya. Aku tidak ingin menjadi bayang-banyang Choi Eunhee di dalam matanya.

“Yeosin-ah…”

Aku bisa mendengar… dia memanggilku. Aku tidak peduli. Aku ingin pulang,

Dia menarik tanganku. Membuatku menghentikan langkahku.

“Kau menangis?” dia menggangkat daguku lalu menghapus air mataku.

Aku menangis. Aku bahkan tidak menyadarinya, aku tidak sadar aku bisa menangis hanya karena Kim Heechul.

Heechul menarikku kedalam pelukannya. Aku menangis sejadi-jadinya didalam pelukakannya. Dia mengeratkan pelukannya sambil mengusap punggungnya. Dia menggumamkan sesuatu yang tidak ku mengerti.

Aku melepaskan pelukkannya. Aku melihat matanya. Matanya yang selalu ingin aku lihat tapi dia selalu melihat aku sebagai choi Eunhee.

Krekkkk jrettt jreeet…

Kami menoleh dan mendapati banyak sorotan kamera. Aku tidak tau sejak kapan tapi aku bisa melihat banyak orang yang terheran-heran melihat kami berdua. Mereka mempertanyakan hal yang sama, sedang apa kami disini dan apa hubungan kami. Mereka menyerukan hal yang sama dalam waktu bersamaan membuat kami kebingungan.

“Ah… ya-inma…” Aku bisa mendengar jelas gumaman Heechul kali ini. Ia membuka jaketnya lalu menudungkannya padaku.

“Jangan banyak membantah.” Ia lalu memelukku lalu menerobos kerumunan.

Mereka tidak mau menyerah banyak dari mereka yang mencoba menarikku. Membuatku meringis karena tarikan mereka. Heechul semakin membuatku masuk kedalam pelukannya.

Aku bisa mendengar detak jantungnya yang berdetak kecang. Aku merasa nyaman dalam pelukannya meski aku tau kami sekarang sedang ke susahan.

>>deson<<

“Sudah tersebar.” Ucapnya dingin, matanya tidak lepas dari I-phone silvernya, “mereka sudah menyebar foto-foto kita di internet.”

Aku melihat luka di sekitar lenganku. Bekas tarikan dan cakaran. Aku tidak menyangka akan mendapat luka seperti ini.

“Mianhae…” ucapnya lirih membuatku mengalihkan pandanganku padanya.

“Aku menyebakanmu seperti ini.”

“Bukan salahmu. Ini semua salahku, jika saja aku tidak pergi dan menangis.”

Kami sudah sampai di depan apartermenku. Dia mengajakku untuk mengobrol sebentar sambil mengobati luka di tanganku. Aku juga tidak ingin meninggalkannya sekarang. Entah kenapa aku tidak ingin meski setiap aku melihatnya aku selalu melihat Choi Eunhee.

“Aku akan minta pihak manajemen untuk menyembunyikan kasus ini. Kau akan aman. Aku juga akan meminta teman-temanku untuk melindungimu. Kau jangan khawatir. Cepat atau lambat para fans akan melupakanmu dan kau akan bebas.”

Aku menatapnya sesaat. Aku harus berkata apa. Aku ragu dengan diriku sendiri.

“Lebih baik kita tidak bertemu lagi.”

Aku memandangi luka-lukaku lagi. Pedih.

TBC

Deson mulai gilaaaaaa kkkkkkk^^

UAS bukannya belajar malah bikin FF kkkkk

Abis gimana klo buka leptop pasti langsung buka word trus bikin FF

tapi klo ga dibuka ga bisa belajar komputer akuntansi….

Argggghhhh…. pengen cepert2 libur #_#

Leave a comment

19 Comments

  1. wonwonwon

     /  June 19, 2011

    Kyaaa mianhae… jinjja jinjja mianhae baru comment disini, tadi aja bacanya part 1, terus half blood elf, terus part 2 *slap

    bagus, ceritanya bagus bnget! kyaaaa author jinjja jinjja daebak! speechless… xD

    Like

    Reply
  2. wonwonwon

     /  June 19, 2011

    hahaha, gapapa capek yg penting dapet cerita bagus xD *ambil gelasnya, minum, sodorin gelas kotor :p

    kiki imnida 17 yo, author?😀

    Like

    Reply
    • Deson imnida
      maunya sih masi 17 thn juga kkkk

      aq lebih muda 11 hari ama Thunder Mblaq…
      n 1 thn 7 hari ma henri oppa
      silahkan menghitung sendiri

      Like

      Reply
  3. Wwaahh masih uas ya?
    Asik banget ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~ mau dong uas lagi #boongabis

    Eh kasian ya yeonsin menderita -____-”

    Eh ceritanya bagus loh ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~

    Semangat UASnya.. Liburan panjang #kalogakSP menanti ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~ go go go!😀

    Like

    Reply
  4. vanny

     /  June 20, 2011

    akhirnya part 2 muncul tapi uri junsu kok tak ada ya?? hehehehe..
    masih bingung ama perasaan ichul..dia bener suka ato????
    btw eunhee itu masih idup ato dah metong seh???

    Like

    Reply
  5. annyeong…
    q new reader….
    Tatyana imnida
    keren …..
    makin penasaran aja ma lanjutannya…
    kasian bgt bang ichul ma Yeosinnya …
    lupa ma persaan masing…masing..
    hihihihi

    Like

    Reply
  6. vanny

     /  June 21, 2011

    junsu sibuk toh, kirain dia lagi sembunyi dari kejaran telitung alias telisha wkwkwkwk
    oohh….kirain dah metong makanya ichul deketin yeosin

    Like

    Reply
  7. Mian baru sempet komen skrg..

    Kasian Yeosin..
    Dsama-samain EunHee..
    tapi ga jadi kasian ding..
    Eunhee ma Yeosin jg cuma satu orang😛
    Semuanya namkor u jg kan.

    Chaesun ngeksis dsini kekekeeee
    Kayaknya keluarga Shim it cocok jadi keluarga evil deh..😀

    Like

    Reply
  8. sweebee

     /  June 29, 2011

    hmm.. knp ragu2 Teh???
    Udh trima aja lamaran Bang Ichul *manas2in Teteh sama api unggun*

    Apapun dan siapapun halangannya, takdir Kim Heechul hanyalah Han Yeosin.. *sok2 meramal sambil pegang2 bola kristal*

    Like

    Reply
  9. “Lebih baik kita tidak bertemu lagi.”
    Yang mengatakan itu heechul atau yeosin?

    Huaaa sebenernya apa yg heechul rencanakan?

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: