Because I am a Fool (바보라서) Part 4

Because I am a Fool (바보라서)

Apa itu pengorbanan? Berdiri dengan hati terluka, sementara dia memikirkan gadis lainnya.

Apa itu kesetiaan? Tetap bertahan menunggunya meski dia tidak pernah datang meski hanya untuk sekedar berterimakasih.

Lalu… Apa itu cinta?

>>deson<<

-Prev-

“Apa kau harus berpegangan tangan dengan pria lain di hadapan tunanganmu nyonya Kim.”

Aku terkejut saat mendengar suara itu. Aku mendongkah dan mendapati dia tatapan marah pada tanganku yang sedang bertautan dengan tangan Junsu.

“Kim Heechul-ssi…”

Chapter 4

Heechul menarik tanganku yang satunya lagi membuatku melepaskan genggaman tangan Junsu. Aku bisa melihat tatapan mata Junsu yang mengarah padaku. Tatapan tidak mengerti.

Aku menatap pria dihadapanku. Dia masih memakai baju yang sama dengan yang terakhir kali aku melihatnya kecuali dengan rambut yang lebih acak-acakan.

“Apa yang kau inginkan dariku?” tanyaku saat kekesalan memuncak di kepalaku.

Dia menarikku menjauh dari Junsu dan mendiamkanku tanpa melihatku sedikitpun. Dia membuatku semakin bertanya-tanya, padahal pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah dia jelaskan.

“Aku hanya ingin bertanya padamu.”

Aku menggelengkan kepalaku. Dia menarikku sejauh ini hanya untuk bertanya. Ini gila.

“Apa? Cepat katakan?” kekesalanku sudah mencapai ubun-ubun.

Dia tampak berfikir kemudian menghembuskan nafasnya, “Apa yang akan kau lakukan saat mengetahui waktumu tinggal sebentar?”

Aku mengerutkan keningku tidak mengerti.

“Tentu kau ingin membuat momen berharga.” Dia menjawab sendiri pertanyaannya.

Dia menoleh kemudian menatapku. Aku bisa melihat mata hitam berkaca-kaca.

“Aku ingin membuat momen itu, bukan untukku tapi untuk Halmeoni, please.” Dia berlutut lalu menggenggam kedua tangganku, “menikahlah denganku.”

Lututku bergetar hebat. Aku bisa merasakan gaya gravitasi bumi yang berputar-putar. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi. Semua ini seperti mimpi indah bagiku tapi itu DULU. Sekarang, entahlah aku sudah pusing dengan kelakuannya akhir-akhir ini. Dia membuat diriku ragu. Dia melamarku kemudian menyuruhku untuk tidak menemuinya kemudian dia mendatangiku dan membawaku ke pada neneknya.

“Maaf membuatku bingung, dengan sikapku.” Dia berdiri kemudian menatapku, “saat itu nenek menyuruhku menikah dan aku membentaknya dengan keras. Aku baru saja patah hati karena pacarku lebih memilih pria lain. Aku kabur dan dia masuk rumah sakit.”

Dia menangkupkan tangannya di pipiku. Membimbingku melihat matanya.

“Semua itu sudah lama sekali dan kejadian kemarin, terlihat oleh nenek. Nenek begitu menginginkanmu. Oleh karena itu aku membawamu ke tempatnya.”

Aku tidak tahan mendengar suara lirihnya. Aku melepaskan tangannya dari wajahku lalu memalingkan wajahku. Aku tidak ingin ikut menangis.

“Ku pikir dengan begitu nenek akan baik-baik saja. Tapi aku salah nenek dan keluargaku menginginkanmu sebagai menantunya.”

Aku membelakanginya, “aku tidak bisa. Pernikahan itu bukan main-main.”

“Aku tau, aku tidak punya pilihan. Aku hanya ingin membuat nenek bahagia di akhir hidupnya.”

Aku bisa merasakan dia menatapku dan para pengunjung lain mulai memperhatikan kami. Aku membalikan tubuhku dan mendapati dia memang tidak topi, masker atau alat penyamaran lainnya. Mereka pasti bisa melihatnya dengan mudah.

Aku mendecak kesal. Untung aku memakai syal, aku terpaksa mencopot syalku dan membiarkan bagian dadaku sedikit terbuka dan aku benci. Aku benci dengan keadaan ini.

“Aku tidak akan menyakitimu, aku tidak akan memaksamu bercinta denganku. Kau bisa pergi meninggalkanku jika nenek sudah pergi, kau juga boleh mencintaiku. Aku berjanji tidak akan menyakitimu.” Aku bisa mendengar dia berbisik padaku saat aku memakaikan syal padanya.

“Aku tau kau makhluk pintar Kim Heechul-ssi, tapi aku tidak bisa. Tidak semudah yang kau bayangkan. Cari saja wanita yang bisa kau ajak menikah dengan mudah. Ahn Sohee misalnya… bukankah kau menyukainya sejak lama?”

Dia mengeluarkan smirknya, “gosip diantara kita sudah menyebar nona. Apa kau tidak sadar. Banyak orang yang diam-diam mengambil poto kita. Dan jika kau buka internet kau akan melihat kita sebagai hotnews.”

Aku mendengus kesal padanya, “jadi kau memanfaatkan situasi ini, huh?”

“Aku melakukan ini demi nenekku.” Ucapnya dingin.

Aku menghembuskan nafas kesal. Dia benar-benar memanfaatkanku.

“Berdoalah agar nenekku mati sebelum pesta pernikahan kita.”

Aku menatapnya. Kejam. Sorot matanya seperti pembunuh berdarah dingin. Bulu kudukku merinding saat mendengar kata-katanya. Dia benar-benar…

“Kau… ini cucu durhaka.” Ucapku kesal, “bagaimana jika kau berada diposisinya dan cucumu mendoakanmu agar cepat mati.”

“Tidak ada cara lain nona. Keinginan terakhirnya adalah aku menikah dan aku tidak bisa mengabulkannya.” Kini dia menatapku dengan mata dinginnya, “Aku tidak bisa melihat penderitaan nenek bertambah.”

Orang-orang mulai mengamati kami. Mereka menyadari kehadiran kami. Aku merasa risih di perhatikan seperti itu. Kepalaku berdenyut kencang dan aku tidak mau pingsan di tempat ini. Jika aku pingsan mungkin berita kami akan semakin menjadi jadi.

“Kita bicara di tempat lain.” Aku meninggalkannya menuju Junsu yang masih menungguku. Disana sudah ada Jaena yang juga menungguku. Mereka menatapku dengan tatapan penuh tanya.

Aku sedikit menunduk untuk mengambil tasku. Aku menutup dadaku yang sedikit terbuka. Aku tidak nyaman.

Heechul menarik tubuhku kemudian memakaikan syalku di tempatnya semula.

“Sebaiknya kau tidak memakai baju ini lagi.” Heechul menggengam tanganku lalu menarikku.

“oppa, Jaena-ya aku pergi duluan. Annyeong.” Ucapku sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Heechul.

Tapi pria itu malah berjalan dengan santainya dan melewati ribuan pengunjung yang mengambil poto dengan membabi buta.

Kurasa pria ini mulai gila.

>>deson<<

“Terserah kau mau mengatakan aku gila atau apapun. Aku melakukan ini untuk nenekku.” Ucapan Heechul masih terngiang di kepalaku.

Aku menatap nenek Lee sedang berbaring di ruang ICU dengan feltilator yang menghubungkan hidungnya dengan tabung oksigen. Jarum sebesar jari telunjuk menusuk kulit keriputnya, menyalurkan infusan dari botol ke tubuhnya.

“Mungkin hidup nenek tidak akan lama lagi. Kita akan berpisah jika dia sudah pergi.”

Aku bisa melihat jari tangannya bergerak dan seorang suster datang menghampirinya. Suster itu mengganggukan kepalanya lalu keluar.

Aku masih memperhatikan nenek Lee dengan seksama saat suster itu bicara pada anggota keluarga yang lain.

“Dia ingin bertemu denganmu.” Heechul berbisik tepat di telingaku

Aku menatapnya sesaat, “tidak aku tidak mau. Aku saja, kau kan cucunya.”

Heechul menatapku dengan tatapan memohon. Aku benci itu. Aku benci saat aku tidak bisa menolak keinginannya.

Aku mendecak, “Mungkin aku tidak mempunyai kesabaran untuk tidak membunuhnya saat ini juga.” Bisikku pada Heechul sebelum aku pergi.

Aku bisa mendengar suara kekehan Heechul sebelum masuk. Benar-benar menjengkalkan.

Aku memakai baju khusus lalu mencuci tanganku sebelum masuk. Aku bisa mencium bau obat yang begitu menusuk.

Nenek melihatku. Ia mengulurkan tanganku membuatku bergerak cepat untuk mendekatinya. Aku tau rasanya ditusuk oleh infusan. Sakit.

“Nyonya…” ucapku sambil menaruh lengannya di kasur.

“Panggil aku nenek saja… kau juga cucuku.” Ucapnya terbata-bata.

Hatiku teriris saat mendengar suara nenek. Air mataku menetes begitu saja. Aku tidak tega membayangkan rasanya berada diposisi nenek. Apa yang terjadi jika dia mengetahui kebohongan cucunya.

“Cepatlah sembuh…” ucapku sambil membelai lengan nenek, “bukankah nenek ingin melihat pernikahan kami.”

Nenek menggagguk, “aku ingin melihat cicitku.”

Aku menghapus air mataku, “apapun itu, sembuhlah.”

Kami tidak mengobrol banyak karena nenek harus beristirahat. Dokter tidak mau mengambil resiko seperti tadi siang.

Aku keluar dari ruangan dan langsung menghindari Heechul. Dia mengejarku dan aku masuk ke toilet wanita. Aku menangis sejadi-jadinya.

Aku benar-benar bingung. Disatu sisi aku senang karena toh aku menyukainya tapi disisi lain aku ketakutan. Aku takut jika Heechul hanya menggangapku sebagai pelarian dan cermin untuk melihat Choi Eunhee. Aku takut menerima kenyataan.

Setelah puas menangis aku mengelap wajahku yang sudah membengkak. Aku menatap wajahku di cermin. Aku benci pada diriku yang tidak pernah bisa melawan pada keadaan.

Aku mendapati Heechul masih menungguku di depan toilet. Dia menghampiriku saat melihatku keluar. Aku mengangkat tanganku memberitahukan padanya bahwa aku tidak ingin diganggu.

Aku mengulurkan ponselnya padaku. Menyuruhnya memasukan nomor ponselnya.

Dia mengetikan nomornya di ponselnya lalu memberikan padaku. Aku mengambil ponselku lalu meninggalkan dia sendirian.

Aku mengetikan sesuatu di ponselku. Sebuah pesan untuknya. Aku terlalu malas untuk berbicara padanya.

To: Mr Kim

Aku menunggumu di rumah orang tuaku. Jangan bertanya kenapa dan bagaimana jika kau tidak ingin aku merubah pikiranku.

>>deson<<

Aku bola-balik di kamarku. Dirumah kedua orangtuaku. Aku tidak tau cara berbicara pada mereka. Dua hari, tapi aku tetap tidak bisa mengatakan apapun. Apa yang harus aku katakan pada mereka jika seminggu yang lalu aku berkata bahwa kami tidak memiliki hubungan apapun dan sekarang aku meminta mereka untuk menikahkan aku dengan pemuda itu. Aku pasti gila.

Aku menghempaskan tubuhku ke kasur.

Ttokk… ttok… ttokk…

“Nuna… ada seseorang yang ingin menemuimu.” Suara Hyoshin terdengar jelas.

Aku mendecak kesal, aku malas turun kebawah, “Katakan pada mereka, jika aku tidak ada dirumah.”

“Tapi mereka tau kau ada disini.”

“Katakan saja aku sedang tidur.”

“Tapi mereka… Appa dan Eomma menyuruhmu turun juga atau kau akan mati di tangan Hyojoo nuna.”

Aku bangkit dengan kesal. Aku membuka pintu dan mendapati Hyoshin sudah tumbuh beberapa senti diatasku.

“Sebaiknya kau cucimuka dan memakai baju yang bagus dulu.” Ucap Hyoshin tapi aku tidak menggubrisnya.

Aku berjalan menuruni tangga dan…

Aku melihat semua mata tertuju padaku. Aku membalikan tubuh lalu berlari ke kamarku. Aku hampir menabrak Hyoshin saat berlari ke kamar.

“Sudah ku bilang kau seharusnya berdandan…” Ucapan Hyoshin terhenti saat aku menutup pintu kamar mandi.

Aku membasuh wajahku. Aku melihat berkali-kali wajahku dan mulai memolesnya dengan peralatan kosmetik Hyojoo. Meskipun aku seorang Miss Korea (mantan) aku tidak pernah membeli kosmetik sendiri. Toh aku jarang memakainya. Aku tidak suka bahan kimia itu menempel terlalu lama di wajahku.

Aku menempelkan bedak bayi dan memoles sedikit lipgloss di bibirku. Terlalu sederhana tapi cukup untuk tidak terlihat memalukan.

Aku mengambil gaun hijau toska. Aku tidak tau kenapa aku memilih warna itu. Tapi gaun itu tidak terlihat begitu feminim dan tidak terlihat maskulin

Setelah merasa aku sudah siap. Aku segera turun kebawah.

Aku merasa seperti Miss Univers yang baru menang. Tapi sayangnya aku tidak memakai mahkota.

“Dia sangat cantik.” Aku melihat seorang pria paruh baya duduk di sebalah Heechul.

Heechul menatapku sesaat lalu memalingkan wajahnya. Entah kenapa aku merasa wajahku merona merah. Aku bisa melihat Nenek Lee duduk diantara pria dan seorang wanita yang kurasa itu anaknya. Dia mirip dengan Adjuma yang bertemu denganku di rumah sakit.

Ada juga seorang gadis yang sepertinya lebih tua dari Heechul. Gadis itu tersenyum padaku saat aku menatapnya.

Aku duduk di sebelah Eomma. Hyoshin duduk di sebelahku. Kadang-kadang anak itu menimpali perkataan ayah. Dia benar-benar seperti ayah.

Aku tidak terlalu memperhatikan arah pembicaraan mereka. Ayah berkata panjang lebar begitu juga dengan Tuan Kim, ayah Heechul. Mereka seperti mempertahankan argumen masing-masing dengan cara yang halus.

Ayahku punya alasan yang kuat untuk menolak lamaran ini. Well, kami memang tidak mempunyai hunungan yang khusus. Tapi Nenek Lee mempertahankannya, nenek bersikukuh pada keyakinannya.

Heechul tidak bicara sama sekali. Ia membiarkan neneknya beradu argumen dengan ayahku. Miris padahal Nenek Lee baru keluar rumah sakit kemarin.

Aku tidak tau kapan perdebatan kolot ini akan berakhir. Aku lelah, aku ingin mengakhiri semua ini. Tiba-tiba ide konyol merasuk di otakku.

“Ayah aku…” Semua mata memandang ke arahku, Aku menjadi gugup, aku tidak berani menadang mereka satu-persatu, “Aku hamil.”

Aku menunduk sambil memejamkan mata. Aku menggigit bibirku agar tidak mengucapkan hal lainnya.

Hening.

“Dengan siapa kau melakukannya?” Hyoshin lah yang pertamakali angkat bicara

Aku melirik Hyoshin. Jika ini sebuah lelucon mungkin aku akan berkata ‘kena’. Tapi tidak aku menahan diriku untuk tidak tertawa ataupun sejenisnya. Aku berusaha untuk memasang wajah biasa-biasa saja meskipun susah.

“Maafkan aku…” Aku bisa mendengar suara Heechul dengan nada yang kaget, bukan bergetar.

“Kalian???” Aku yakin itu suara nyonya Kim.

Aku meremas buku-buku jariku. Aku menambah lagi kebohonganku dengan kebohongan lain. Apa yang mereka laukakn jika tau aku tidak hamil. Argh…

“Dia bilang akan menggugurkan bayinya dan aku mencegahnya. Bayi itu anakku.”

Aku membuka mataku dan menatapnya tajam.

Dia menatapku dengan tatapan biasa. Dengan tatapan normalnya seakan semua yang dia katakan itu bukan kebohongan. Kim Heechul, dia memang aktor yang hebat.

Aku menatapnya penuh kebencian. Dia tidak merspon. Semua orang yang hadir menanyakan kehamilanku dan aku benar-benar muak padanya.

Aku bangkit dari dudukku lalu meninggalkan mereka semua begitu saja.

>>deson<<

Heechul dan keluarganya pulang setelah ayahku menyetujui pernikahan kami. Tidak mengantarkan mereka sampai luar. Aku mengurung diriku dikamar. Aku melihat Heechul tersenyum kearahku sebelum menaiki mobilnya.

Aku hampir kehilangan pendengaranku karena diceramahi terus terusan. Okey ini agak berlebihan tapi aku benar-benar tidak tahan. Aku mendapat ceramah untuk perbuatan yang tidak aku lakukan.

Hyoshin hanya bilang, “kau bukan pembohong yang pintar, nuna.” Mungkin hanya Hyoshin yang tau bahwa aku berbohong. Aku tidak tau bagaimana bisa tapi dia benar. Aku berbohong.

Nenek Lee menyuruhku tinggal di rumah keluarga Kim bahkan ia sempat menyuruhku tinggal bersamanya.

Aku menolaknya. Tentu saja. Aku tidak ingin kebohonganku terbongkar.

Aku melirik ke jam. Heechul kini sedang melakukan konfrensi pers. Dia sudah berhasil membuat Lee SoMan menyetujui pernikahannya. Hebat. Dia menyuruhku untuk ikut tapi aku tidak ingin. Aku malas menghadapi berjuta pertanyaan yang aku tidak tau bagaimana menjawabnya. Aku tidak ingin memperluas kebohonganku.

Aku memlih untuk fitness… gila… tapi aku tidak bisa berolah raga di tempat terbuka saat semua orang tau bahwa kau punya skandal dengan seorang super star. Aku butuh peregangan otot.

Semua orang melihatku, membuatku risih. Aku tidak suka cara mereka melihatku. Para SPG menawarkanku beberapa paket prawedding. Aku menggerutkan keningku. Lalu menolaknya secara halus.

Aku memasang earphone dan mencoba untuk mengacuhkan orang-orang disekitar. Ku merasa aku tidak tinggal di tubuhku. Aku seperti orang asing.

Baby don’t cry baby don’t cry baby don’t cry

Eonjenga deo bitnalgeoya give me your smile

Aku melihat nama Mr Kim di layar. Aku menggakatnya dengan berteriak kencang.

“Ya…” Aku membuka handukku dan tinggal memakai pakai olahraga yang sukup minim.

“Kau dimana?”  tanyanya begitu tenang. Kurasa dia sedang senang atau bahagia karena berhasil mendapatkan yang dia mau.

“Aku Sedang fitness di…”

“KAU GILA…” refleks aku menjauhkan ponselku dari telinga. Suaranya benar-benar membuat telingaku sakit, “kau bisa membunuh bayi kita.” Ucapnya sambil terkekeh.

Aku memajukan bibirku,  dia membuat jantungku hampir jatuh dari tempatnya, “Jadi kau meneleponku hanya untuk menertawakanku, hah?”

“Kau di daerah mana, biar kujemput.”

“ehmm… di star fitness, di daerah gangnam.” Ucapku tidak bersemangat

“Baiklah Princess, jangan pergi kemana-mana lagi karena sebentar lagi pangeran akan datang.” Dia kemudian menutup teleponnya.

Aku merasakan wajahku memerah. >.<’

>>deson<<

“Sudah lama?” Tanyaku pada Junsu. Aku mengelap keringatku yang sudah berjatuhan. Kurasa olahraga merupakan cara yang jitu untuk mengkhilangkan stress.

“Ehmmm… tidak begitu lama.” Junsu menurunkan marbelnya, “kau berhutang penjelasan padaku.”

Aku mengerutkan keningku, “penjelasan apa?”

Junsu duduk dan melipat tangannya, “antara kau dan Heechul hyung.”

Aku membulatkan bibiku lalu berjalan menuju treadmill. Junsu mengikutiku lalu memainkan treadmill di sebelahku.

“Kau tidak bisa berbohong padaku. Aku dan Jaena bisa mencium ketidakberesan diantara kalian.”

Aku menandang Junsu dengan tatapan dingin, “jadi kalian membicarakanku dari belakang.”

“Kami tidak membicarakanmu. Kami hanya…”

“Hanya apa? Hanya menceritakan kejelekkanku?” semprotku.

“Aku tidak bermaksud bergitu.” Ucapnya penuh sesal

“Setiap orang punya pripasi sendiri Oppa dan aku ingin kau menghargai privasiku.”

Dia terdiam lalu bergumam, “senandainya privasimu itu aku.”

Aku mengerutkan kening, belum sempat aku menanyakan maksudnya. Seseorang menarikku.

Aku terjatuh dan melihat segerombolan gadis berdiri di hadapanku.

“Kau tidak pantas dengan Heechul Oppa…” ucap salah satu dari gadis itu kemudian dia iya kan oleh gadis lainnya.

Mereka memakai baju biru dengan pernak-pernik kipas bertulisan E.L.F dan Petals.  Aku mencoba bangkit tapi kemudian mereka menjambak rambutku lalu menghempaskanku begitu saja.

Mereka mencoba menarik tanganku tapi aku menepisnya hingga membuat kulitku tergores kuku mereka.

“Yak~ Apa yang kalian lakukan?” tanya Junsu yang langsung menghalangiku dari serangan tiba-tiba itu.

Para petugas keamanan datang tapi mereka terlalu banyak. Mereka bahkan berani melawan petugas keamanan. Mereka terlalu banyak dan terlalu buas.

Kepalaku berdenyut. Tidak. Aku tidak boleh pingsan. Jika aku pingsan mereka bisa mengoyak-oyakkan tubuhku.

“Apa yang kalian lakukan? Apa begini cara kalian memperlakukan seorang YeojaChingu dari idola kalian?”

Tepat sebelum aku jatuh Heechul memelukku.

“Yeosin-ah, gwenchana?” Heechul menepuk pipiku.

Aku menggeleng pelan, “aku baik-baik saja.”

“Yeosin-ah…” Junsu mencoba menyentuhku tapi kemudian ditepis oleh Heechul

“Aku tidak akan mengampuni kalian jika terjadi sesuatu padanya.” Heechul membentak para fansnya. Ia membuka jaketnya lalu memakaikannya padaku

“Sudah ku bilang aku tidak apa-apa.” Aku mencoba menolak perlakukannya dan terlebih aku tidak suka cara dia memperlakukan fansnya, “kau tidak perlu membentak mereka.”

Heechul mengerutkan keningnya. Aku mengambil tasku lalu memakai jaketku, “aku ingin mandi di rumah.” Ucapku sambil meninggalkannya begitu saja.

>>deson<<

“Mereka sudah keterlaluan. Mereka menyakitimu.” Ucap Heechul saat kami melanjutkan perdebatan kami didalam mobil, “lihat tanganmu berdarah.”

“Luka ini memang sudah lama, kau tidak ingat saat kita berjalan di namsan? Mereka juga mencakarku. Luka ini seperti luka lama yang kembali terbuka.”

Heechul terdiam, “Aku menghakhawatirkanmu Han Yeosin, tidak kah kau takut pada fansku. Mereka sangat banyak. Aku takut mereka menyakitimu”

“Aku tidak akan mati karena hal seperti ini. Lebih baik pikirkan saja kebohonganmu yang akan mempuatmu mati lebih cepat.” Aku membentaknya dengan sangat keras.

Kami terdiam…

“Lusa kita akan menikah. Hanya keluargamu dan keluargaku serta orang dekat.” Ucapnya tanpa memandang sedikitpun

“Aku tau…” Aku tau, aku tau, aku tau… tidak usah diingatkan aku sudah tau.

“Resepsinya akan diadakan satu minggu lagi.”

“Arraso…” Aku ingin kabur dari keadaan ini. Dia terus mengingatkanku tentang hal ini. Hal yang tidak ingin aku dengar.

Dia memandangku, “apa kau yakin dengan keputusan ini?”

“Apa kau memberiku pilihan?” Aku balik bertanya “kau hanya memberiku dua opsi, mencintaimu atau meninggalkanmu setelah nenek pergi. Dan dua-duanya tidak menguntungkanku.”

Aku bisa melihat wajah penyesalan diwajahnya. Wajah yang tidak ingin aku lihat.

“Kau tau… kau harus membayar mahal atas semua ini.”

Dia tersentak, “be.. berapa, apa yang kau inginkan?”

Aku berpikir sejenak, sejujurnya aku tidak tau. Aku hanya mengarang. Kusungingkan bibirku, “nanti kuberitahu.”

Heechul mengantarku sampai apartermen. Bahkan ia ikut turun dan mengantarkanku. Dia bilang dia risih melihatku dengan pakaian terbuka meski aku sudah memakai jaketku dan jaketnya.

Aku juga merasa takut keluar basment sendirian dengan baju seperti para cheereders sekolah menengah. Lagi pula tidak masalah jika ketahuan orang lain, toh lusa kami akan menikah.

Heechul berjalan di sampingku. Ia mempertahanku untuk berjalan disampingnya. Ia tidak mendahuluiku atau berjalan di belakangku, meski kami tidak berpegangan tangan. Ia sibuk dengan ponselnya.

“Kau sedang sibuk?” tanyaku saat melihat wajahnya sedikit tegang

“Teman-temanku menanyakan tentang pernikahan kita. Mereka sangat terkejut.” Ucapnya lalu memasukan ponselnya ke kantong.

“Aku juga terkejut. Siapa yang akan menyangka.”

Kami berjalan sampai lobi ketika sebuah suara menghentikan kami.

“Heechul Oppa…”

Kami menoleh dan mendapati seorang gadis lebih tua beberapa tahun dariku berdiri tidak jauh dari kami. Aku merapatkan jaket Heechul yang menepel di tubuhku.

“Eunhee-ya…” Aku melihat mata Heechul berbinar saat melihat gadis itu, “Apa yang kau lakukan disini?”

Gadis itu-Choi Eunhee tersenyum, “ini rumahku.”

Aku bisa melihat bibir Heechul tertarik ke belakang. Dia tersenyum, “sejak kapan?”

Aku meregangkan jaket Heechul. Aku kepanasan. Aku menatap tajam ke arah Eunhee yang berjalan mendekati kami.

“Dua hari yang lalu, aku baru pindah.” Gadis itu tersenyum lagi, “Dia kah tunanganmu?

Dia berdiri tepat di sebelah Heechul dan membuatku tidak nyaman. Aku merapatkan diriku pada Heechul. Aku meraih tangan Heechul lalu melingkarkan tangan Heechul di pinggangku. Aku tidak peduli dengan dia yang benci bau keringat. Aku lebih membencinya.

Heechul memandangku, “iya dia Han Yeosin.”

Gadis itu mengulurkan tanganya tepat saat lift berdenting dan terbuka.

Aku menatap Heechul, “Aku sangat lapar itu artinya bayimu juga kelaparan dan sangat butuh asupan gizi dari ibunya.” Aku menekankan kata bayimu dan ibunya dengan jelas.

Aku menarik Heechul kedalam lift sebelum pemuda itu mengeluarkan penolakan dan membiarkan gadis itu sendirian dengan tangan yang masih terulur. Aku tidak ingin melihatnya lagi.

Heechul menarik tangannya saat pintu lift tertutup. Ia mentapaku dengan tatapan membunuh sementara aku bersiul tidak peduli. Kami memang hanya menyebar isu kehamilanku pada keluarga kami saja selebihnya kami diam.

“Kenapa kau bersiap tidak sopan pada Eunhee.” Ucapnya keras, “Apa maksudmu dengan mengatakan hal itu?”

Aku membalas menatapnya. Apa dia tidak sadar bila lusa dia akan menikah dan dia masih sempat-sempatnya dia mencuri-curi pandang dengan sang mantan.

“Aku tidak suka padanya.” Ucapku jujur

“Yak~ kau tidak boleh seperti itu. Kau harus baik padanya. Dia orang yang baik. Dan kau harus seperti dia.” Ucap memekakan telinga.

“Kau begitu membelanya apa karena dia mantanmu?” ucapku tidak kalah memekakan telinga.

“Kau~”

Air mataku sudah diujung tanduk, “jangan menyuruhku untuk menjadi dia, karena itu tidak akan pernah terjadi.”

TBC

Mianhae… karena kemaren postingannya di protect. kemaren pas di post postingannya cuma setengah jadi di protect, gak tau kenapa mugkin karena ngepost di hape…

mianhae…

Leave your Comment Please

_deson_

Leave a comment

20 Comments

  1. Sungielover

     /  July 6, 2011

    daebak…
    Itu si ichul ngapain masih mikirin mantannya..adyoo lihatlah han yeosin seorang…an yeosin seorang…

    Like

    Reply
  2. ayooo nikah nikah buruan nikah… xD
    heechul udah deh, lupakan mantan buruan nikah sama si yeosin xD

    seneng banget waktu tau ternyata udah ga di protect😀
    bagus onn.. nggak sabar nunggu part 5nya😀

    Like

    Reply
    • seneng banget ngeliat Yeonim mau married…
      tapi gak bakal ngundang2 nih cz kawinannya tertutup😛

      kemaren di protect emang ada kesalahan teksnis ^^

      Like

      Reply
  3. vanny

     /  July 7, 2011

    astaga bang ichul, sadis amat ya?? egois jg seh..lbh mentingin diri sendiri daripada perasaan orang lain…

    tytapi ada untungnya jg seh buat yeosin, at least dah diajak nikah hehehe
    kawin…kawin….kekekeke…jgn lupa ngundang kita ya hehehe
    btw kok aku ngetik komen ga kliatan ya??
    item smua..
    aku ngetik ini kek orang buta. moga aja ga ada yang po hehehe

    Like

    Reply
    • hahahaaa
      itu namanya musibah membawa berkah

      gak ada pesta kak…
      pestanya tertutup, limited edition😀

      kok item semua kenapa?????

      Like

      Reply
  4. wkwkwkwkwk
    gokil part ini bikin ngakak apalagi pas Yeosin ngaku hamil terus dengan santainya Heechul ngaku itu anaknya wkwwkwkw
    sama
    yg bagian terakhir yg ketemu sama eunhee
    Yeosin bilang “Aku sangat lapar itu artinya bayimu juga kelaparan dan sangat butuh asupan gizi dari ibunya” terus pergi gitu aja

    gokil dapet ide gila dari mana teh????
    sumpah aku ketawa kayak orang gila padahal ge magrib mpe diteriakin ma mamah
    hehehehhehe*curcol

    ini part favorit karakter Yeosinnya keluar bgt apalagi part akhirnya
    hihihihi

    Like

    Reply
  5. elaineJH

     /  July 7, 2011

    Annyeong aku reader baru. rika imnida. salam kenal🙂
    maaf 3 part sebelumnya aku gak comment, soalnya ngebut bacanya.

    author, ff-nya daebak. aku suka karakter Yeosin disini. Chullie masih suka sama mantannya yah?

    Like

    Reply
    • Anyeong deson imnida ^^
      gak apa-apa kan di part ini udh komen😀

      Hmmm…
      kayaknya sih begitu, tapi gak tau deh
      Ntar aku tanya dulu ma orangnya😉

      Like

      Reply
  6. vanny

     /  July 8, 2011

    musibah buat ichul en berkah buat yeosin, betul ga?? hehehe
    kalau limited edition berarti pesta esklusif dunk hehehehe…

    nah.. sekarang dah OK, mungkin kmrn pengaruh wallpaper blogmu yg dominan warna itam…

    btw aku liat roman2nya ntar ichul di 5jib rambutnya gondrong ya??
    cos skrg aku liat dah mulai dipanjangin…
    padahal aku lebih suka rambut dia pendek, lbh manly en cakep hehehe

    Like

    Reply
    • hah??? jahatnya…
      limited edition kan udh bikin aib, masa acara meriah ntar ketauan dong kkkkk

      iyaa aku lagi berhitam-hitam kemaren #plaaak

      itu mah udh biasa kak…
      setiap bikin album baru pasti rambutnya di panjangin…
      dari mulai Miracle, Don’t don, Sorry2, trus bonamana
      abis itu baru di potong pendek kaya yg d no other, it’s u, trus yg pas d EHB gituuu…
      jadi klo mau nunggu ganteng ya nunggu album repackednya aja kkkkk

      Like

      Reply
  7. i like it,,
    tp gw lebih suka yeosin hamil beneran.. #evillaugh
    Wkwkwk

    klo nikah jgn lupa undang gw iah..
    Awas klo ga *todong pisau

    keliatan bgt klo yeosin suka ma heechul..
    Tp kyaknya c heechul ga peka tuh..atan bgt klo yeosin suka ma heechul..
    Tp kyaknya c heechul ga peka tuh..

    Like

    Reply
    • Hah??? *tendang*
      siapa u minta di undang….
      pernikahan kami itu ekslkusiffff

      kok akhir2 ini u sering banget ngulang komen *geleng2*

      Like

      Reply
  8. sagittaliez

     /  May 18, 2013

    ya ampuunn ngakak saiia pas heenim bilang “Berdoalah agar nenekku mati sebelum pesta pernikahan kita.” Abanggg kau memang cucu durhaka >.< *digetok sandal* huwaaa knpa scene akhirnya nyesek bgttt😦

    Like

    Reply
  9. Aishh heechul masih terbayang2 eunhee… Ck

    Apa nanti ada cinta segitiga antara heechun yeosin dan junsu? Heheh

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: