CoffeeMilk: Naui Babo Yeojachingu

CoffeeMilk 21 Naui Babo Yeojachingu
Leeteuk menghembuskan nafas panjang. Ia tau jika Heechul sedang membolak-balikan ponselnya itu berarti ia sedang menunggu telepon atau pesan dari Yeosin. Jika gadis itu tidak segera menelepon Heechul maka latihan untuk album ke lima ini terancam akan batal.

Leeteuk tidak bisa mengganggu Heechul, jika mood Heechul terganggu maka berpotensi untuk menghancurkan latihan.

“Kita berdoa saja Hyung, semoga Yeosin cepat menelepon.” Bisik Siwon

Leeteuk menggangguk, baru saja ia akan menutup matanya. Bahunya di tepuk oleh Hyukjae, “berdoa saja tidak cukup. Kita harus berusaha.”

Leeteuk mengeryitkan alisnya, “kau mau mencobanya?”

“Terimaksih hyung… aku tidak ingin mati muda.” Hyukjae menggelengkan kepalanya.

Leeteuk memandang Siwon. Siwon pun menggelengkan kepalanya lalu berjalan mundur menghindari sorotan tajam Leeteuk.

Ia tidak punya pilihan. Ia harus mendekati macan yang siap memangsa itu. Sebelum mendekati Heechul, ia mengirim pesan dulu pada Sanni. Ia meminta restu pada gadis itu sebelum menyerahkan nyawanya.

“Chul-ah…” ucap Leeteuk ragu-ragu

Heechul menoleh dan menatap Leeteuk sebentar. Setelah itu ia memfokuskan lagi pada ponselnya.

“Semua akunnya offline…” lirih Heechul, “aku tidak tau bagaimana kabarnya.”

Leeteuk menghembuskan nafasnya, ia merasa lega karena tidak mendapat sinyal bahwa Heechul akan marah, ngamuk, ngambek atau sejenisnya.

“Dia masih di Himalaya… bukankah dia bilang dia ada kegiatan sosial di Himalaya.”

Heechul terdiam, ia malah membuka ponselnya, membuka akun akun rahasianya.

“Dia pasti akan baik-baik saja. Dia itu gadis yang hebat, pintar, pemberani dan … ehmmm… sedikit cengeng.”

Heechul menatap Leeteuk, “dia itu gadis yang tidak bisa berbuat apa-apa, bodoh, penakut dan tidak akan menangis. Dia hanya akan menangis jika dia marah pada dirinya sendiri. Dia tidak akan menangis, meski menangis bisa meringankan bebannya, dia itu gadis bodoh.”

Leeteuk terdiam mendengar ucapan Heechul, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat sorot mata Heechul yang dalam. Otaknya terasa lumpuh. Ia hanya bisa merasa bahwa ada tatapan khawatir didalam mata dongsaeng-nya itu.

>>deson<<

Yeosin memandang anak dua tahun di hadapannya. Anak itu terlelap di pangkuannya, berat hatinya saat ingin meninggalkan anak perempuan itu. Ia tidak tega meninggalkan anak itu.

“Saat ditanya? Mana Yuri Eomma… tidak akan menjawab.” Ucap Park ahjjusi, “dia tidak mengenal Yuri sebagai ibunya. Dia tidak mengakui Yuri.”

Yeosin membelai rambut anak yang ada di pangkuannya. Anak itu sangat polos, tidak tau apa yang terjadi pada dirinya. Jika ia tau apa yang menimpa dirinya mungkin dia tidak memilih untuk dilahirkan.

“Jika ada yang bertanya… anak siapa ini? maka dia akan menjawab… Hyojoo Eonni dan Yeosin Eonni. Tidak sekalipun dia berkata Yuri.”

“Mungkin dia tau rasanya telah dibuang.”

“Mungkin… dia tidak pernah mau tidur sendiri. Saat bangun dan tidak melihat siapapun disekatnya dia akan menangis. Dia paling takut sendirian.”

“Kasian dia…” lirih Yeosin, “lalu bagaimana dengan ayahnya.”

Park Ahjussi tersenyum sinis, “dia tau… tapi dia diam… dia bilang dia akan memberikan uang bulanan sebesar 600.000 won setiap bulan tapi sampai sekarang uang itu tidak pernah datang. Saya tidak mengharapkan uang itu, toh Chunsa sudah saya anggap anak sendiri. Tapi kasihan Chunsa, setidaknya dia juga butuh pengakuan.”

Ya~ Chunsa nama anak perempuan yang sedang tertidur itu. Anak itu hasil hubungan terlarang salah satu teman dari pamannya. Anak itu dititipkan ke pamannya sejak berumur satu bulan. Ibunya pergi kuliah lagi dan ayahnya hidup bersama istri mudanya.

“Bukannya ingin menyebarkan aib atau sebagainya. Ini sebagai contoh bagi kita untuk tidak melakukakan hal itu. Selain bisa mencoreng nama baik, hal itu juga bisa membuat orang yang tidak bersalah tersakiti.”

Yeosin menggaguk pelan.

Kasian dan pelajaran bagi kita semua.

>>deson<<

“Chaesun masih di gwangju… katanya terakhir kali mereka berkomunikasi, saat Yeosin turun dari Himalaya.” Ucap Donghae sambil menganti chanel tivi, “Sanni masih ada urusan di Ilsan. Entah kapan dia akan kembali ke Seoul.”

Heechul mendecak kesal. Ia mengomel panjang lebar sambil menelusuri akun-aku Yeosin. Ia bahkan tidak tau apa yang dia ucapkan. Hanya sebuah gerutuan yang tidak jelas.

Heechul menepuk keningnya, “bukannya tanggal 23 Juli itu hari anak internasional?”

Donghae menatap kalender yang terpasang, “iya… kenapa?”

“Hmm… biasanya Yeosin dan teman-temannya terlibat dalam kegiatan seperti itu. Yeosin bilang dia akan syuting iklan untuk kementrian. Mungkin untuk acara besok.”

Heechul membuka Youtube. Ia memasukan beberapa keyword dan selalu salah. Ia tidak menemukan iklan yang dimaksud.

“Coba kata kuncinya ‘Han Yeosin’” ucap Donghae yang terus merapat pada Heechul. Gagal, “coba hari anak! Video untuk anak! Han Yeosin bersama anak! Bla… bla… bla…

Heechul menggerutu saat ia tidak mendapati video yang ia maksud. Ia mendecak kesal kemudian mencari video itu.

Yeorobeun….!!!!

Heechul dan Donghae mendongkak. Mereka sama-sama bisa melihat suara Yeosin terdengar dari layar kaca. Hanya suara sementara layar menampilkan gambar anak-anak kecil secara acak dari berbagai negara di dunia.

Terakhir Yeosin sedang duduk di atas pegunungan membelakangi langit biru yang luas. Gadis itu duduk di sebelah seorang pemuda dan dikelilingi oleh puluhan anak kecil yang berlarian kesana-kemari. Yeosin berbicara dengan bahasa inggris dengan cepat. Pemuda di sebelahnya juga berbicara dengan bahasa inggris yang sempurna.

Donghae dan Heechul mengerjapkan matanya tidak percaya. Belum selesai mereka mencerna kata-kata Yeosin iklan itu sudah berganti.

“Apa yang dia katakan, hyung.” Tanya Donghae masih tidak percaya.

“Nan Molla…” ucap Heechul berusaha untuk mengendalikan raut wajahnya

“Bukankah kau mengambil mata kuliah inggris translator, masa kau tidak mengerti.”

“yak… yang tidak aku mengerti adalah kenapa pria itu yang ada di sebelah Yeosin… kenapa bukan aku yang jelas-jelas lebih tampan darinya.”

“nan Molla…” ucap Donghae sambil mengganti chane tivinya.

“Yak~~ kenapa kau ganti…”

“Iklannya sudah habis, hyung.”

“Tapi nanti ada lagi.”

“Itu satu banding seribu hyung…”

“Biarkan saja aku ingin melihat…”

“Hyung… aku ingin nonton drama kesukaanku.”

“Kau berani menentangku, huh?”

“Jika kau merindukannya, pergilah kerumahnya dan kencanlah disana. Jangan menggangguku.” Donghae berhasil merebut remot TV lalu memindahkan Chanel tivinya.

“YAK~~~”

Dari jauh sepasang mata memperhatikannya. Ia tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya. Leeteuk melihat kedua Dongsaengnya itu. Ia memperhatikan, ia selalu memperhatikan semua dongsaengnya.

>>deson<<

Yeosin mendecak saat melihat kotak suratnya kosong. Itu artinya seseorang telah menggambil suratnya. Maka akan ada dua kemungkinan, pertama… surat itu sudah dibuka dan kedua surat itu masih terbungkus rapih. Ia berdoa agar surat itu masih tersegel dengan rapih.

Ia memandang pintu apartermennya dengan frustasi. Ia ingin masuk, tapi hatinya takut untuk memasuki apartermen itu. Ia takut melihat kenyataan, tapi ia sangat penasaran.

Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya kemudian memutar knop pintu yang terasa berat. Ia mendorong pintu kemudian masuk kedalam. ia melihat kamar Hyojoo tertutup rapat. Itu artinya Hyojoo sedang pergi.

Huffttt… Yeosin menghembuskan nafas lega.

“Kenapa bertindak seperti maling?”

Yeosin terpaku. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya. Ia menoleh dan mendapati Heechul sedang duduk di sofa dengan manisnya.

Ia senang melihat Heechul berada disana. Ia bahagia terlalu bahagia. Ingin memeluk Heechul mengatakan bahwa dia membawa oleh-oleh dari Himalaya untuknya, dia punya cerita tentang Chunsa dan punya cerita di balik perjalananan dan banyak lagi.

Yeosin menyipitkan matanya kemudian bertolak pinggang sambil menatap Heechul, “Kau? Kenapa kau bisa masuk rumahku? Hyojoo Eonni sedang pergi bukan???” kata-kata itu keluar begitu saja, melenceng jauh dari susuan pertanyaan yang ada diotaknya.

Ia menyunggingkan senyum separonya, “Kau mau mengatakan aku penjahat yang akan merampokku dan memperkosamu, begitu??? Maaf nona Han… aku bukan pria rendahan.”

“Lalu apa yang lakukan disana?”

“Bodoh, aku menunggumu, memangnya apa lagi yang ku lalukan. Apa kau lupa jika kau itu pacaku.”

Yeosin membuka mulutnya kemudian menutupnya, “ha iya… aku lupa…” Yeosin mengetuk kepalanya.

Heechul menghentakan kakinya kemudian berjalan mendekati Yeosin, “Ada apa denganmu?”

“Aku tidak apa-apa.” Yeosin memamerkan deretan gigi putihnya. Matanya kemudian tertarik pada amplop coklat di meja, “suratku…”

Heechul mengerutkan keningnya saat Yeosin melewati dirinya begitu saja. Biasanya gadis itu akan memeluknya akan bercerita panjang lebar tapi kali ini gadis itu mengacuhkannya begitu saja, sesuatu yang sangat ia tidak suka.

“Kau membukanya?” Yeosin menatap Heechul tajam saat ia mendapati suratnya sudah terbuka.

“Bukan aku.” Ucap Heechul tenang lalu kembali mendekati Yeosin.

“Siapa lagi jika bukan kau. Kau satu-satunya orang yang ada dirumah ini.” Ucap Yeosin jutek.

Heechul membalas tatapan tajam Yeosin, “Tapi aku bukan satu-satu orang yang pernah keluar masuk rumahmu, Han Yeosin-ssi.”

“Jadi kau mau…”

“Kita sudah dua belas hari tidak bertemu dan kau ingin berdebat denganku, begitu?”

Yeosin mengedipkan matanya perlahan. Ia sudah membanggunkan singa dari kandangnya. Ia bisa melihat sorot mata Heechul yang marah padanya.

“Kau ini kenapa, huh? Kau ini polos, bodoh atau naif???”

Yeosin menatap Heechul dengan mata berkaca-kaca, “Aku memang bodoh Mr. Kim.” Yeosin membalikkan tubuhnya kemudian pergi kekamarnya. Ia tidak peduli dengan Heechul. Ia membutuhkan waktu untuk menjernihkan pikirannya.

Heechul memandang amplop milik Yeosin. Ia penasaran lalu membuka amplop tersebut. Matanya hampir keluar saat melihat isi amplop itu. Ia benar-benar hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

>>deson<<

“Hyung… bagaimana rasanya mempunyai pacar yang bukan seorang mahasiswa?” tanya Heechul seusai latihan.

Leeteuk menatap Heechul yang sedang menatapnya, “rasanya… sama saja. Ada kalanya merasa dekat dan jika sedang berkerja berjauhan.”

“Kenapa kau menanyakan itu Hyung?” tanya Donghae yang ikut-ikutan nimbrung, “bukannya Yeosin masih lama di wisuda… apa kau sudah tidak sabar ingin melamarnya?”

Heechul tersenyum miris. Wisuda. Itu adalah syarat yang di ajukan oleh orang tua Yeosin. Ia bisa melamar Yeosin setelah gadis itu diwisuda. Tapi sepertinya harapan untuk itu terasa sangat jauh. Enah kenapa ia pesimis menikah sebelum wamil.

“Aku ingin hadir dalam wisuda Yeosin, bukankah setiap gadis ingin pacarnya datang di acara itu.” Ucap Heechul sambil menunduk, “tapi mustahil bagiku itu bisa terjadi.”

Leeteuk menepuk pundak Heechul, “Aku juga tidak datang waktu Sanni wisuda, tapi kami merayakannya berdua. Aku menebus segalanya dengan menemaninya seharian.”

“Aku juga tidak bisa datang ke acara wisuda Chaesun, kata Chaesun ia ingin hidup lama dari pada harus dikejar-kejar oleh fansku.”

Heechul melirik tajam Donghae, “Kau tau sea~~” Heechul mengcopy gaya Chaesun memanggil Donghae, “Jika wanita bilang tidak itu artinya ia ingin iya.”

Donghae mengerutkan keningnya, “maksudnya?”

Heechul merolotkan tubuhnya di kursi, “Aku mempunyai segala hal, karir, uang, teman, semuanya… kecuali kekasih. Aku memang punya kekasih, tapi aku ingin seperti pasangan lainnya, saling berbagi.”

“Dia terlalu mandiri sehingga tidak memerlukan aku. Dia terlalu sibuk untuk mengurusi hal-hal kecil diantara kami. Atau aku yang tidak bisa disampingnya saat dia bersedih. Aku yang tidak bisa mengabulkan keinginan-keinginan kecilnya.”

Donghae dan Leeteuk menatap Heechul khawatir.

“Aku sering mengatakan bahwa dia bodoh, padahal aku yang bodoh, bodoh karena tidak tau cara membuatnya senang.”

“Setiap pasangan mempunyai caranya sendiri untuk bertahan. Mungkin Chaesun dan Donghae cukup dengan saling SMS-an dan telepon-teleponan, atau aku dan Sanni yang butuh waktu satu jam untuk melepas rasa rindu.” Leeteuk menepuk bahu Heechul, “Jadilah diri sendiri.”

>>deson<<

Yeosin mendecak saat melihat Heechul di depan rumahnya. Ia tidak ingin bertemu dengan Heechul dalam waktu dekat ini. Ia butuh ketenangan.

“Aku sudah melihat Indeks Prestasimu.” Ucap Heechul membuat Yeosin memandangnya.

“Kau…”

“Bolehkah aku masuk?”

Yeosin membiarkan Heechul masuk tanpa berkata apa-apa lagi.

Mereka duduk berhadapan dengan amplop coklat itu di tengah-tengah. Heechul menatapnya tajam sementara Yeosin menatap Heechul menunggunya bicara.

“Nilai pas-pasan dengan daftar absensi yang berderet dan daftar cekal tidak boleh mengikuti ujian karena melanggar tata tertib. Kenapa tidak kau penuhi sekalian daftar pelanggaran disiplinnya?” kata-kata itu mengalun indah dari bibir Heechul membuat Yeosin tersenyum sinis.

“Apa kau kemari hanya untuk menceramahiku?” tanya Yeosin.

Heechul menatap Yeosin, memberinya peringatan agar tidak membantah.

“Aku tau kau kecewa padaku. Dua kali aku mengecewakanmu, o… tidak ribuan kali aku mengecewakanmu. Aku tidak memenuhi janjiku padamu untuk meningkatkan prestasiku, aku malah semakin menghancurkannya.” Yeosin menahan air matanya agar tidak menetes.

“Dengarlah…”

“Aku marah pada diriku sendiri, aku malu pada diriku sendiri. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Huruf mati itu sudah tertera di kertas IP-ku sekeras apapun aku berusaha memperbaikinya. Itu tidak akan berubah.”

“Apa kau menyesal?”

“Menyesal karena tidak belajar??? Iya, aku telah menyia-nyiakan waktu untuk belajar. Seharusnya aku tidak terlalu memaksakan diri, toh nilai itu yang pasti aku dapat.”

“Dia dan dengarkanlah aku…” Heechul menaikan volume nadanya.

Yeosin memalingkan wajahnya. Matanya sudah sangat berkaca-kaca tapi gadis itu tetap menahan air matanya agar tidak keluar.

“Aku tau kau marah pada dirimu sendiri. Aku tau kau sedih. Aku tau kau menyesal, menyesal karena datang terlambat ke ujian dan mendapat nilai 0. Kau menyesal karena tidak mengecek ke bagian akademik soal ujian susulanmu. Kau menyesal karena tidak mempunyai waktu untuk mengecek nilaimu ke akademik. Aku tau kau kecewa mendapatkan nilai itu.” Heechul menatap Yeosin dalam, “Nilai terjelek untuk mata kuliah inti.”

Yeosin meremas ujung bajunya. Ia menahan diri untuk tidak jatuh didepan Heechul.

“Kau salah Mr. Kim…” Yeosin tanpa melihat Heechul, “Sejak awal aku memang salah. Tidak seharusnya aku memilih jurusan ini, ini bukan pasion-ku. Ini bukan keinginanku. Aku hanya memperburuk keadaan.”

Heechul menggeser duduknya mendekati Yeosin, “Han Yeosin adalah gadis yang hebat, kau tau. Dia seorang perkerja keras dan mempunyai kemauan. Dia pintar dan mampu bergaul. Dia pernah di New York dan menjadi peserta Miss Univers.”

“Aku adalah orang gagal.” Yeosin menatap Heechul tajam, “Aku tidak berhasil menjadi pemenang Miss Univers dan mendapat sambutan kekecewaan dari berbagai orang. Aku bukan orang yang pintar, aku tidak pernah benar-benar menguasai sesuatu dengan benar. Aku hanya seorang gadis yang berharap dicintai oleh seorang bintang terkenal.”

Heechul menggenggam tangan Yeosin, “kau bisa… kau hanya butuh dukungan dari orang-orang sekitar.”

Yeosin melepaskan tangan Heechul, “tidak… aku terlalu banyak omong dan terlalu banyak mengecewakan orang lain. Kata-kataku terlalu tinggi dan aku malah terjebak dengan kesombonganku sendiri. Aku gadis egois yang tidak pernah mendengarkan kata-kata teman-temannya.”

Heechul menghembuskan nafas panjang. Susah memecahkan kekerasan kepala Yeosin. Gadis itu selalu menutup diri dari semua orang. Jika tidak mengenalnya secara dalam mungkin Heechul sudah pergi meninggalkan gadis itu. Tapi ia tau, gadis itu sedang terluka lebih terluka dari yang kelihatannya.

“Kau hanya perlu berpikir jernih.” Ucap Heechul, “kau selalu bilang padaku, melangkah itu kedepan bukan kebelakang.”

Heechul membelai rambut Yeosin, “Aku tau kita akan jatuh seberapa seringnya kita bangkit. Karena itu saat kau terjatuh lagi lihatlah aku. Aku sebagai masa depanmu, aku yang ada disampingmu untuk membantumu dan aku yang ada dibelakangmu untuk memberimu semangat.”

Yeosin menatap Heechul air matanya jatuh begitu saja. Heechul mengelap pipi Yeosin.

“Aku hanya gadis bodoh, keras kepala dan egois. Aku selalu mementingkan perasaanku sendiri.”

“Tetaplah seperti itu girl, tetaplah begitu. Tetaplah menjadi gadis yang bodoh, tetaplah menjadi gadis keras kepala, tetaplah menjadi gadis yang egois, tetaplah mementingkan perasaanmu sendiri.”

Yeosin menatap Heechul tidak percaya. Sudah lama ia tidak mendengar panggilan kesayangan Heechul untuknya. Girl. Mungkin biasa untuk orang lain tapi, bagi seorang Kim Heechul kata itu sangat keramat dan akan dikeluarkan saat-saat tertentu.

“Tetaplah seperti itu terhadapku,” Heechul menarik Yeosin kedalam pelukkannya, “Tapi jangan lakukan hal itu pada orang lain, karena Han Yeosin, hanya boleh begitu pada Kim Heechul seorang.”

Yeosin membalas pelukan Heechul. Ia meneteskan air mata sebanyak-banyaknya, luapan emosi yang selama ini di pendamnya sendiri.

“Kau harus belajar lebih giat lagi. Aku ingin melihatmu memakai toga dan baju wisuda.”

Yeosin terkekeh, “Yakin kau ingin melihat aku memakai baju wisuda? Kupikir kau ingin melihatku pakai baju pengatin.” Yeosin bisa merasakan tubuh Heechul terkejut. Namun Yeosin tetap memeluk Heechul, ia tidak mau Heechul melihat wajahnya yang memerah.

Fin~~~~

dduk… dduk… ddukkk… ada banyak Ide buat bikin CoffeeMilk… tapi berbubung ada sesuatu yang lebih mendominasi otak… akhirnya malah gaje lagi hikss… hiksss…

Semoga ini bisa jadi pelajaran bagi kita semua… Selamat hari Anak Nasional… hidup anak Indonesia

Leave a comment

16 Comments

  1. kimbyen

     /  July 23, 2011

    daebak… Heechul dwasa bgt… Hahaha ak sk🙂

    Like

    Reply
  2. tivaclouds

     /  July 23, 2011

    Waaahh….heechul keren bgt….

    Like

    Reply
  3. Chunsa it cerita ttg kisah nyata kah??
    Kasian nasibnya T_T

    Hah??
    Kapan Chaesun wisuda??
    Dia kan seangkatan sama Yeosin..

    It beneran nilai u??
    masa ceh??

    Ayo chingu semangat..
    Semester depan pasti bisa lebih bagus lagi..

    Bikin CM buat nyemangatin diri sendiri neh ^^

    Like

    Reply
    • Chunsa itu anak gw kkkk
      emang gw bilang chaesun diwisuda???
      Sanni tau yg udh di wisuda
      kan gw udh bilang nilai gw berwarna warni kkkk
      itu tulisan lengkap sudah hhh
      gw udh ngedrop
      cape chingu…
      kesel ma akademik

      Like

      Reply
  4. kyaaaaaa………….. !! akang ichul tumben ga ngedumel en maah2?? hhahahaha
    mungkin yeosin sunguh sangat desperado kali ya jadi ichul ga tega buat ngomel2 hehehehe…..

    thanks buat nasehatnya ya..
    seperti kata dmassip “jangan menyerah” hehehehe

    Like

    Reply
    • Ichul takut Yeosin marah…
      Yeosin kalo marah 1000x lebih sadis dari pada Heechul hhh
      lagu itu theme song aku waktu awal kuliah
      mau nyanyin berapa kali lagi pun g bakal ngefek hhhh

      Like

      Reply
  5. Yeosin~ah.. Cemuuuunguuudh..!! ~(˘▾˘~) ~(˘▾˘)~ (~˘▾˘)~ IPK bukan segala-galanya koq.. Sukses tidaknya seseorang bkn ditentukan dari nilainya.. *lirik ipku yg dibawah standar* kekeke~ XDD Buat Bang Chul.. Ayee suka gayamu bang..!! Daebaklah..😀 disini chul pengertian & perhatian sekalii.. Walopun dicuekin plus dijutekin sama Yeosin.. Hwhwhwhw ~ XDD

    Like

    Reply
    • Ne, Eonni… I try it…
      tapi aku merasa sudah mengecewakan banyak orang huffft…
      Aku juga suka Heechul disini…
      hhhh…
      Tapi Ichul manis klo yeosin lagi galau…
      Eottokhae??? /frustasi lagi/

      Like

      Reply
  6. “Yakin kau ingin melihat aku memakai baju wisuda? Kupikir kau ingin melihatku pakai baju pengatin.” <<— lol, ngakak baca ini onn xDD

    Hyaaa yeosin fighting!! ayokk lulus pake toga sama wisuda trus ntar icul dateng =)) :*

    Like

    Reply
  7. rinaaays

     /  July 26, 2011

    aku udah comment blm ya ?

    ihiiiiiiir heechul dewasa banget yak ! yg ngajarin siapa ?

    yeosin hwaiting !!

    Like

    Reply
  8. sweebee

     /  July 30, 2011

    Wow.. Abang saya dsini keren bgt yah.. *siapa dulu adknya, Plak!!!*
    Teteh… Fighting…

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: