Because I’m Fool (바보라서) Heechul side 1/2

Because I am a Fool (바보라서)

 

Heechul POV

Aku menatapnya dengan lekat, dia satu-satunya bidadari dalam hidupku, satu-satu wanita yang mampu bertahan didalam keegoisanku. Entah kenapa aku bisa begitu egois kepadanya, ingin memilikinya seutuhnya tanpa berpikir bahwa aku melukainya.

Aku menyayanginya, aku mencintainya. Aku ingin dia juga mencintaiku. Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku juga mencintainya, tapi setiap aku ingin mengatakannya yang keluar ada kata, jangan pergi, tetaplah di sampingku, ku mohon demi nenekku dan sebagainya. Bodoh… tapi itulah yang terjadi.

Aku memandang wajahnya yang ada di pelukanku, wajah polosnya sepolos tubuhnya saat ini. Dia bergerak dalam pelukanku, aku menarik selimut yang merosot di tubuhnya, kututupi tubuhnya yang penuh dengan tanda dariku.

Beribu pertanyaan memenuhi pertanyaanku, apa dia merasa sakit, apa dia bahagia, apa dia senang, apa dia mencintaiku.

Dia selalu mendominiasi pikiranku. Mendominasi hatiku. Aku tidak tau kenapa aku bisa melakukan hal ini. Aku tidak ingin melihat dia menangis, aku juga ingin merasakan hal yang sama dengannya.

Ku tatap wajahnya yang masih terlelap. Dia pasti lelah, lelah hati dan raga. Dia telah banyak berkorban untukku bahkan dia menyerahkan hartanya yang paling berharga. Dia segalanya bagiku. Kini dia adalah hidupku.

Aku tidak bisa memejamkan mataku barang sedetikpun. Bagaimana aku bisa terlelap jika dihadapanku ada makhluk paling indah di jagat raya ini. Makhluk yang tidak pernah ada duanya. Makhluk yang sangat aku cintai. Bahkan aku tidak percaya pada diriku bahwa aku telah bercinta dengannya, menyerahkan semua yang aku punya dan mengambil yang berharga darinya.

Aku menyayanginya sangat. Aku sangat mencintainya.

Ddrrttt… drttt…

Dia bergeliat di pelukanku. Aku mendecak untung saja aku menseyapkan ponselku. Aku tidak ingin dia bangun karena panggilan bodoh itu.

Aku mengalihkan kepalanya yang bersandar di lenganku. Dengan hati-hati agar dia tidak terbangun. Aku menarik selimutnya dan menutupi tubuhnya. Aku tidak ingin melihat tubuhnya. Karena jika aku melihat aku pasti ingin melakukannya lagi.

From: Teuk-i

Kau dimana??? Kita masih ada latihan dan harus konser ke beberapa kota.

Aku mendecak kesal. Aku tidak mau kembali ke Seoul. Aku ingin di sini bersama istriku, karena aku tidak bisa membawanya pergi. Dia masih sakit karena serangan fansku dan jika dia di Seoul pasti ia akan kena serangan itu lagi. Aku tidak ingin kehilangan nyawanya. Tidak ingin.

Aku menghembuskan nafas panjang kemudian mengetikan balasan Leeteuk hyung.

To: Teuk-i

Aku akan kesana dalam waktu satu jam

Aku memandangnya sekali lagi. Aku mencium keningnya sebelum beranjak pergi. Aku membereskan sisa pertempuran kami. Aku juga menyiapkan makanan untuknya. Aku harap dia akan mengerti dan tidak marah lagi padaku.

>>deson<<

Senyum ku tidak berhenti mengembang di wajahku saat aku melihat jadwal yang kosong. Tadinya aku ingin berkumpul dengan anggota chocoball tapi kuurungkan saat bayangan Yeosin melintas di kepalaku. Aku merindukannya sangat.

Setiap detik aku selalu merindukannya. Aku selalu menelepon dan mengirimi pesan singkat, tapi itu belum cukup aku ingin memeluknya dan menciumnya.

“Oppa kau mau pulang ke gangwon??” tanya Eunhee yang saat itu sedang membaca naskah drama. Kami akan membintangi salah satu drama baru, aku memang belum menceritakannya pada Yeosin. Aku ingin memberikan kejutan padanya bukankah dia juga menyukai Choi Eunhee.

“Iya kenapa?”

“Boleh aku ikut, aku ada urusan di gangwon dan juga aku belum menjenguk istrimu.”

Aku menggangguk kemudian membawa Eunhee ke dalam mobilku.

Kami tidak menemukan topik yang bagus selain, membicarakan Yeosin. Dulu aku sering sekali mengorek keterangan dari Ryeowook tentang apa yang disukai dan tidak disukai oleh Yeosin. Bagaimana cara menggambil hatinya dan tentu saja tentang phobianya pada ruangan sempit. Semua hal kecuali hatinya.

“Kau lebih lama mengenalku tapi kau mengenal dia lebih dalam.” Ucap Eunhee

Aku tersipu malu.

“Hei kau tidak pernah menunjukan ekspresi seperti itu saat bersamaku dulu.” Eunhee mencoba menggodaku, “Aku lega jika kau sudah menemukan penggantiku, aku khawatir saat melihatmu putus asa.”

Aku tersenyum, “Aku sangat berterimakasih padamu Eunhee-ya… tanpamu mungkin aku tidak akan menemukan Yeosin.”

“Aku lega mendengarnya.”

“Kuharap kau akan lebih bahagia bersama Junsu dari pada denganku.” Ucapku tulus.

>>deson<<

Aku menemukannya sedang memberekskan kamar kami. Aku memeluknya kemudian mengecup keningnya. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, ada baunya disana. Bau yang selalu aku rindukan.

“Aku membawa tamu untukmu.” Ucapku tepat di telinganya. Aku tidak tau kenapa aku senang sekali berbisik di telinganya dan melakukan hal-hal yang intes.

Dia mengerutkan keningnya, “Siapa?”

“Lihatlah sendiri, aku mau mandi dulu.” Aku mencoba menjadi pria misterius. Aku mencium keningnya lagi sebelum aku pergi kekamar mandi.

Aku melihat Eomma, Yeosin dan Eunhee dalam meja yang sama. Aku tersenyum melihat ke akraban mereka. Mereka adalah wanita-wanita yang berharga dalam hidupku, ibuku, istriku dan teman terbaikku.

“Cobalah ini Eunhee sendiri yang membuatnya.” Eomma menyendokkan makanan kedalam piringku.

“jinjja-yo~” ucapku tidak percaya, aku mengambil sumpitku dan memakannya, “wa~~ mashita.” Meski dalam hati aku lebih menyukai masakan Yeosin.

Aku melihat binar bahagia di mata Eunhee. Eomma juga tersenyum bahagia. Kulirik Yeosin ia tersenyum tapi diam. Apakah dia sakit?

“Menurutku jauh lebih enak teh buatan Yeosin.” Ucap nenek ketus ia melangkahkan kakinya menuju kamar, “Kakiku sakit aku ingin makan di kamar.”

Aku mengerutkan kening, apa hubungannya sakit kaki dengan makan??

“Hmm… Aku juga harus ada perkerjaan yang harus ku selesaikan.” Appa juga ikut-ikutan nenek pergi kekamar kerjanya.

Aku melihat raut kekecewaan di wajah Eunhee. Suasana menjadi canggung. Aku tidak tau apa yang terjadi dengan appa dan nenek.

“Sayang sekali padahal makanannya enak.” Aku menyendoki makananku lagi, Aku melirik Yeosin yang hanya diam.

“Kau juga harus makan yang banyak Nyonya Kim. Ayo… Aaaa…” Aku mengacungkan sendokku kearahnya, “Makanlah kau harus banyak makan.”

Aku tersenyum saat dia mulai mengunyah makanannya.

Makanlah yang banyak sweetheart, aku tidak akan memaafkandiriku sendiri jika kau sakit lagi.

>>deson<<

Aku pergi pagi-pagi sekali dan mengatakan pada Yeosin jika aku ada acara. Ya, aku ada acara untuk memberinya sebuah hadiah. Aku belum pernah memberikan dia hadiah, sesuatu yang ku berikan padanya hanyalah sebuah cincin pernikahan itupun tidak pernah aku pakai. Satu karena perkerjaanku dan satu lagi karena aku takut menghilangkannya.

Aku membeli sebuah gelang kaki yang indah. Kurasa gelang kaki itu sangat cocok dikakinya. Aku tersenyum saat membayangkan Yeosin memakai gelang kaki itu.

Aku menyembunyikan hadiah itu di belakang punggungggu. Aku ingin memberinya kejutan. Aku mencarinya keseluruh rumah dan ternyata dia ada di kamar sedang berbenah. Ia memasukan semua bajunya

“Kau mau kemana?”

“Aku tidak sanggup lagi.” Ucapnya tanpa menatapku.

Aku mengerutkan keningku, Aku menariknya hingga dia menatapku, “Apa maksudmu?”

Dia menepis tanganku dan kembali berbenah, “Aku sudah tidak sanggup lagi berakting menjadi istrimu, Kim Heechul-ssi. Sesuatu yang dimulai dengan kebohongan tidak akan berlangsung lama.”

Aku merasa… patah hati… aku lupa jika kami menikah karena kontrak dan sebagainya. Aku bahkan melupakan sesuatu yang sangat penting, yaitu perasaannya, “Jelaskan apa yang terjadi.”

“Tidak ada yang terjadi. Aku hanya ingin keluar dari hidupmu. Seharusnya kau bersyukur aku pergi dari hidupmu, karena tidak akan ada lagi yang memberimu aib.”

Aib???

Aku mengerutkan keningku, pasti ini ada hubungannya dengan keluargaku.

“Kau tau, aku yang mencoreng nama baik keluargamu. Aku yang menurunkan citra keluargamu dengan menggoda anak laki-lakinya. Aku gadis yang dihamili anak lelakinya sebelum nikah. Aku gadis yang hamil di luar nikah yang menjadi menantu keluarga ini.” Ia mencoba menahan airmatanya

“Stop Yeosin-ah… Apa yang ada di kepalamu itu, hah?” aku menggeleng kepalaku tidak habis pikir. Dia berbohong, aku tau dia terluka tapi dia masih membela keluargaku. Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya saat ini.

“Yang ada dikepalaku adalah satu kenyataan yang tak pernah terungkap, kenyataan yang tertimbun oleh keegoisan sang cucu untuk melihat neneknya tersenyum.” Ucapnya setengah berteriak. Aku tidak pernah melihat dia sekacau ini.

“Jadi apa maumu?” ucapku melunak, aku tidak ingin dia terluka lagi. Aku melonggakan kekanganku padanya.

“Aku ingin kenyataan itu. Aku ingin permainan ini berakhir.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Aku tau jika pernikahan kami menuai banyak kontrofersi, baik dari pihak keluarga juga fans. Keluarganya bahkan keluargaku banyak yang tidak setuju tapi kami tutup mata. Seolah ini hanya permainan. Demi nenekku dan keegoisanku.

Aku dapat bertahan karena ku pikir Yeosin bisa bertahan disampingku. Aku hanya butuh dia. Tapi kini aku salah, dia terluka karena keegoisanku. Badannya terluka karena serangan fansku dan hatinya terluka karena keluargaku.

Aku bajingan… benar… aku sangat brengsek…

“Baiklah jika itu yang kau inginkan. Tunggu disini dan aku akan menjelaskan itu pada mereka. Kau tidak boleh pergi dari rumah ini. Tidak.”

Aku akan mengakhiri kebohongan ini tapi tidak akan melepasnya pergi. Tidak akan.

Aku terlalu mencintainya.

>>deson<<

Aku menatapnya yang berdiri di depan kamarku. Aku bisa merasakan kemarahan yang sangat besar padaku. Semuanya salah aku tau.

Aku berdiri ditengah keluargaku. Kutatap mereka satu persatu, ada perasaan tidak tega saat melihat  nenek, tapi aku juga tidak bisa membiarkan Yeosin seperti ini terus, “Halmoni, Appa, Eomma, Nuna… mianhae….”

“Ada apa kenapa kau tiba-tiba meminta maaf?” tanya Eomma penasaran

Aku menunduk, “Aku telah mencoreng nama kalian dengan ulahku.”

Mereka semua terdiam

“Kami sudah memaafkanmu sejak dulu.” Ucap Halmeoni

“Bukan hanya itu saja, ada satu kebohongan lagi yang ingin aku katakan.” Suaraku seperti mengambang.

“Apa itu?” tanya Abeoji

Aku menghela nafas panjang, “Saat Aku menikah dengan Yeosin. Yeosin tidak sedang mengandung anakku.”

Aku melihat nenek sudah memegang dadanya. Aku ingin melihatmu gembira nek, tapi kenapa aku malah menyiram lukamu dengan cuka.

“Apa maksudmu? lalu anak siapa yang dia kandung?” Aku mengerutkan kening mendengar pernyataan nunaku tersayang itu…

“Dia tidak hamil. Tidak anak siapapun. Hal itu dia lakukan agar orang tuanya mau menerima lamaranku.” Jelasku dengan singkat padat dan menyakitkan.

“Kim Heechul…”

Aku menatap Appa, “Mianhae, Appa… Aku tau aku salah. Tapi saat itu aku kalut, kalut saat nenek bilang aku harus menikah. Aku tidak punya apapun kecuali sekandal kecilku bersama Yeosin. Aku hanya ingin melihat nenek tersenyum bahagia.”

Heejin mendekati nenek yang mulai merasakan sesak. Hatiku perih saat melihat kejadian itu. aku hanya menggumamkan kata maaf dalam hatiku. Maaf untukmu nenek dan maaf untukmu Yeosin-ah.

“Yeosin tidak bersalah, akulah yang memulai semua ini. Aku menyuruhnya untuk menjadi kekasihku agar nenek percaya. Tidak kusangka nenek ingin aku menikah dengannya. Jika kalian berpikir Yeosin mencoreng nama baik keluarga ini. Maka kalian salah karena akulah yang melakukannya. Yeosin hanyalah korban keegoisanku. Aku yang memaksanya untuk masuk kedalam keluarga ini.”

“Aku sungguh keterlaluan Kim Heechul.”

Plaaakk…

Aku merasakan perih di pipiku. Aku memang pantas di pukul.

Aku melihat Yeosin menyeret kopernya meninggalkan kami. Aku menatapnya berharap dia tidak pergi meninggalkanku… tapi sia-sia dia berjalan seolah aku tidak ada disini. Dia terus melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun menoleh padaku.

Aku memang brengsek.

>>deson<<

Aku merasa ada yang hilang saat aku membuka mataku. Aku tidak bisa melihatnya setiap pagi dan yang paling aku benci aku tidak bisa menyentuhnya.

Aku hanya bisa melihat dia dari kejauhan. Ini saran Jaena yang menyuruhku untuk menjauhi Yeosin beberapa saat. Membiarkan kami berpikir tenang. Tapi aku tidak bisa… aku merindukannya… selalu…

“Wajahnya tampak pucat…” ucap Jaena sambil membuka pintu kamar Yeosin, “dia selalu mengigaukan namamu… tapi saat sadar dia selalu menghindarimu…”

Aku mendekati Yeosin yang sudah tertidur dengan pulas. Aku membelai wajahnya. Ia bergumam dalam tidurnya. Tidak jelas apa yang dikatakannya tapi dia seperti mimpi buruk.

Aku memeluknya dan menyandarkan kepalanya di dalam dekapanku. Ia sudah tidak segelisah sebelumnya. Aku menyanyikan sebuah lulabi hingga akhirnya aku tertidur sambil memeluknya.

Aku tidak tau sudah berapa kali aku melakukan ini. Memeluknya dan meredakan mimpi buruk Yeosin sampai aku benar-benar terlelap. Aku ingin berada disampingnya sampai pagi. Tapi jadwalku memaksaku untuk pergi sebelum subuh. Mengingat apartermen Jaena cukup jauh dari tempat latihanku.

>>deson<<

“Eomma sudah kukatakan… kami tidak melakukan hal itu.” ucapku pada Eomma, “jangan paksa aku untuk menceraikannya.”

“Siapa yang percaya dengan ceritamu itu, huh??? Jika kau tidak mau di paksa biar Eomma yang memaksanya untuk menceraikanmu.”

“Eomma Jebal…” pinta ku sangat, “Kenapa Eomma tidak menyukainya. Apa salahnya.”

Eomma terdiam.

“Harusnya aku yang Eomma benci. Karena aku yang menipu kalian… aku yang membuat kekacauan ini. Dan Yeosin hanyalah korban.”

Aku menatap Eomma dengan intens, “Jika Eomma tidak percaya, Eomma bisa menanyakan hal itu pada dokter Jang.”

>>deson<<

“Sepertinya dia betah disini. Dia tampak gemuk.” Godaku saat berkunjung ke apartermen Jaena.

Aku baru saja menyelesaikan wawancara terakhir film yang ku tolak. Mungkin jika aku belum bertemu dengan Yeosin dengan senang hati. Tapi kesibukanku di super Junior dan kesehatan nenek yang semakin menurun membuatku memutuskan untuk menolak film itu.

Dan… aku juga baru tau dari Eunhee jika Yeosin sangat cemburu padanya. Aku baru sadar jika saja Eunhee tidak menceritakannya padaku. Aku heran apa yang bisa Yeosin cemburui dari Eunhee, padahal aku dan Eunhee tidak mempunyai hubungan apapun. Aku hanya mencintai Yeosin.

“Huft… dia memakan semua yang dia temukan. Aku heran kenapa akhir-akhir ini dia senang sekali makan. Padahal dulu dia sangat menjaga berat badannya.”

“Tidak apa-apa biarkan dia makan sesukanya. Aku tidak ingin dia sakit lagi.”

Jaena mencibir, “Kau tidak takut dia menjadi Adjuma-adjuma gemuk???”

Heechul menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Asalkan dia bahagia. Aku akan ikut bahagia.”

Jaena mencibir.

“Apa saja yang dia lakukan akhir-akhir ini.”

Jaena memutar bola matanya, “makan… makan… mengurus project dengan Junsu, membuat janji dengan Junsu dan mengurus perceraian kalian.”

Heechul menundukan kepalanya. Ia sudah panas saat mendengat kata kata JUNSU. Ia tau Junsu pernah menyukai Yeosin. Bahkan sampai saat ini, pria itu masih menyukai Yeosin. Tapi ucapan terakhir Jaena lebih menyakitkannya. Perceraian. Ia bahkan tidak pernah berniat untuk mengurus perceraian. Ia malah mati-matian mengungkapkan ke publik bahwa pernikahannya baik-baik saja.

“Kau harus tau jika Yeosin itu orang yang sangat sederhana. Ia mudah memaafkan tapi jika ia sudah sangat tersakiti, ia tidak akan membenci orang itu tapi langsung menghapus orang itu dari memorinya.”

“Apa tidak ada kesempatan kedua untukku??”

Jaena mengedikkan bahunya, “Kurasa dia juga masih bimbang.”

>>deson<<

“Heechul-ah…” Aku sedang menjaga nenek karena Heejin Nuna sedang ada perkerjaan lain ketika aku mendengar Eomma berteriak padaku.

Aku mendapati Eomma hampir terjatuh langsung segera memeluknya, “Eomma…”

Eomma hanya menunjuk kedapan sambil bergumam, “Yeosin…”

Aku melihat Yeosin berjalan menjauhi kami. Aku tidak bisa mengerjar Yeosin. Aku mendudukan Eomma di sofa kemudia memijit bahunya.

Eomma menyerahkan sebuah ampop coklat padaku, “Apa ini??” tanyaku

“Yeosin bilang, surat cerai.”

Tanganku berhenti. Aku membuang wajahku begitu saja.

“Dia benar-benar melakukan apa yang Eomma ucapkan.”

Aku bangkit lalu kendak keluar dari rumah sakit dan mengejar Yeosin. Aku tidak ingin bercerai darinya. Aku tidak mau.

“Chul-ah… Eomma sudah pada Dokter Jang dan melihat catatan medis Yeosin secara keseluruhan.”

Aku menoleh, “Sudah terlambat. Dia pasti sudah membenciku.” Aku menutup pintu kamar nenek lalu mencari Yeosin.

>>deson<<

Aku mendapat pesan dari Jaena bahwa dia akan keluar kota utuk beberapa hari. Aku aku melihat sebuah kesempatan untuk membicarakan masalahku dengan Yeosin. Aku tidak bisa hidup seperti ini terus menerus. Aku bisa gila bila jauh dengan nya terus menerus.

“Bolehkan aku masuk.” Ucapku saat melihatnya membuka pintu tapi tidak melakukan apapun.

Dia melepaskan gagang pintu dan membiarkan pintu terbuka. Dia tidak menyuruhku untuk pergi atau masuk. Dia pergi dapur lalu minum. Aku memperhatikannya dengan teliti. Dia terlihat agak gemukan di balik jaketnya. Wajahnya agak pucat. Apa dia sakit?

Tting… ttong…

Wajah Yeosin berseri saat mendengar bel, “Masuklah.” Aku melihat Junsu masuk.

“Hyung…” Junsu sedikit kaget saat melihatku.

“Kau membawa apa?” tanya Yeosin sambil membawa piring ke hadapan Junsu.

“Sesuai dengan pesananmu, Jjinbang.” Junsu memamerkan satu kantong Jjinbang membuat Yeosin berbinar-binar.

“Waahhh Oppa kau sangat baik.” Junsu menuangkan Jjingbangnya ke piring, “bolehkah aku memakannya?” tanya Yeosin basa-basi

“Tentu saja. Semua ini untukmu.”

Jaena benar saat mengatakan yeosin semakin banyak makan. Ia melahap semua Jjinbang yang diberikan oleh Junsu hingga mulutnya benar-benar penuh. Meski demikian ia dengan senang hati memakan semua Jjinbangnya hingga ia sudah tidak kuat memakan yang terakhir.

“Ah~~ aku kenyang.” Yeosin mentap dua jinjang yang tersisa dengan tatapan sayang.

“Makanlah~” Dia menyodorka piringnya ke arahku “bukankah kau sangat menyukai jjinbang??”

Aku menggeleng, “melihatmu makan membuatku kenyang.”

“Makanlah Kim Heechul-ssi atau aku akan membunuhmu.” Dia mendecak. Ia menatapku dengan dingin seakan ingin memakannku. Ekspresinya sangat lucu seperti anak kecil. Aku suka caranya meminta seperti itu membuatku gemas.

Aku mengambil Jinbangya lalu memakannya dengan lahap sambil terus memperhatikannya. Dia tersenyum puas saat melihatku makan. Apa dia sudah tidak marah lagi padaku??

“Kau sudah minum vitaminmu?” tanya Junsu yang berhasil membuatku mengerutkan kening. Apa Yeosin sakit??

“Aku lupa. Aku akan meminumnya.” Yeosin lalu beranjak menuju kamrnya.

Aku menatap Junsu tapi pria itu malah membuang mukanya. Apa yang di sebunyikan oleh dua orang itu. Sejujurnya aku cemburu pada Junsu tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku ingin bertanya pada Junsu tapi egoku mengalahkanku. Aku mengedarkan pandanganku mencoba netralkan sesuatu ketika aku melihat sesuatu yang aneh.

Aku menembukan obat-obat yang hanya bisa di berikan oleh dokter dan sebuah foto USG. Aku yakin bahwa itu adalah foto USG. Foto dimana sang bayi masih berbentuk gumplan darah. Aku tersenyum saat melihat sebuah nama di balik foto USG itu. Han Yeosin. Yeosin hamil dan itu artinya bayi itu adalah bayiku.

“Apa kau mencari ini.” Aku mengacungkan obat yang ku pegang padanya.

Dia mendekatiku dan… Aku melihatnya wajah pucatnya, benarkah dia … “Itu punyaku.” Dia mengambil obatnya dari tanganku

“Apa itu obat untuk…” Aku melirik ke perutnya. Aku baru sadar jika ia memakai jaket longgar dan pakaian longgar lainnya akhir-akhir ini.

“Tidak ini hanya multivitamin biasa.” Ia mengalihkan pandangannya

Aku menatapnya sesaat, Aku mencoba untuk mengontrol emosiku. Aku ingin terlihta tenang di hadapannya meski dalam hatiku, aku adalah orang yang paling bahagia diatas dinia ini, “Apa ini milikmu juga?”

Yeosin menggeleng, “itu punya Jaena…”

Aku terkekeh saat melihat kebohongannya, “Jaena belum menikah, mana mungkin dia bisa hamil.”

“itu punya kakaknya Jaena… kemarin dia kesini…” Yeosin melirik Junsu. Aku menatap Junsu yang ingin mengeluarkan pembelaan untuk Yeosin. Segera ku tatap tajam dia agar tidak mencampuri urusan kami.

Aku mendekati Yeosin kemudian meraih tangannya, aku membalikan hasil USG yang memperlihatkan namanya dengan jelas, “apakah kakak Shin Jaena itu bernama Han Yeosin??”

Dia terdiam.

Aku mengepalkan tangannku untuk meredam kedua emosiku. Selalu seperti ini dan seperti ini saat aku berhadapan dengan Yeosin. Gadis itu membuatku menjadi orang yang begitu bodoh. Dia membuat otakku tidak berfungsi. Aku tidak tau harus berkata apa. Aku tidak tau harus berbuat apa. Jika aku mengatakan aku mencintainya apakah dia akan menerimaku.

Aku tidak bisa marah ataupun menangis.

Dulu saat aku ingin mengatakan aku mencintainya. Aku menahannya, aku takut dia tidak mempercayaiku. Dia di sampingkupun aku sudah merasa sedang. Dan sekarang saat aku mengetahui dia berbohong padaku. Aku juga tidak bisa marah. Karena aku memang tidak bisa marah padanya. Aku pun tidak bisa menangis saat tau bahwa dia mengandung anakku.

Luututku terasa lemas dan aku berlutut dihadapannya. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti apa yang ada di pikirannya. Aku tau bahwa aku sangat mencintainya, dan kini satu pertanyaan lagi masuk kedalam otakku. Apakah dia mencintaiku?

“Sepertinya aku harus pergi.” Junsu mengambil tasnya lalu meninggalkan kami.

Setelah Junsu pergi. Suasana menjadi hening. Aku terus menunduk sambil terus menagan diri. Apa yang akan dia jawab jika aku bertanya apakah dia mencintaiku. Aku akan hancur jika dia berkata tidak.

Karena aku tidak menginginkan dia jauh hidupku.

“Itu adalah anakku. Dia anakkukan??” akhirnya satu kalimat itu yang meluncur dari mulutku.

Yeosin terdiam. Dia mengigit bibir bawahnya tanpa melihatku. Aku meraih tangannya “Katakan iya padaku, Han Yeosin-ssi!!!”

“Dia bukan anakmu…Dia anakku.” Gumamnya pelan sambil menepis tanganku,

Dia membalikan badannya lalu meninggalakanku, “Aku sudah menyerahkan surat cerai kita pada ibumu. Kita akan bertemu lagi dipengadilan.” Ucapnya sebelum menutup pintu.

Aku berasa berat untuk bernafas. Rasanya sakit sekali.

Aku tau rasanya di campakan itu bagaimana. Eunhee meninggalkanku demi Junho dan Yeosin juga meninggalkanku. Aku memang tidak pernah mengatakan suatu komitmen yang jelas pada Yeosin karena aku takut dia akan meninggalkanku. Aku tidak ingin di campakan dan sekarang dia benar-benar mencapakanku aku disaat aku benar-benar mencintainya.

Aku bisa terima jika dia memang tidak menyukaiku tapi anak dalam kandungannya. Dia anakku kan?? Aku bisa merasakan itu. karena tidak ada yang tidur dengan Yeosin selain aku dan hanya aku yang boleh melakukan itu padanya.

“Arrggghhh… “ Aku mendengar Yeosin berteriak.

Aku bangkit lalu mengedor pintu kamarnya “Yeosin-ah…Yeosin-ah.”

“Arghh…” dia berteriak lagi dan menbuatku panik. Aku mendobrak pintu kamarnya dan menadapati dia sedang menahan sakit

“Kau kenapa?” Aku meraih tubuhnya kemudian  memeluknya, “Jawab Yeosin-ah!”

“Ssa… ssakiittt.” Ringisnya sambil memengang perut bawahnya.

Annakku…

Aku menggenggam tangan Yeosin kemudian beralih ke pahanya. Dia mengeluarkan darah. “Darah…demi Tuhan… Yeosin-ah bertahanlah.”

Aku segera menggendongnya, sambil terus berkata, “bertahanlah, Yeosin-ah… bertahanlah, sayang…bertahanlah nak… jangan tinggalkan Appa… Bertahanlah Yeobo…”

Aku memasukankkannya ke mobil. Tanganku yang kiri memengan stir dan yang kanan menghubungi dorter Jang lalu menghubungi manager.

Aku tidak bisa membiarkan istriku sekarat begitu saja.

>>deson<<

Dokter Jang langsung membaw Yeosin begitu aku sampai. Dia tidak membiarkan aku masuk kedalam. Aku hanya menunduk sambil terus berharap dia akan bangun dan memelukku. Aku merindukan sosoknya yang ceria dan dewasa. Aku merindukan candaannya dan aku merindukan semua hal darinya.

“Bagaimana keadaannya dok?” tanyaku saat Dokter Jang keluar dari ruang perawatan.

“Dia tidak apa-apa hanya stress yang berlebihan. Kandungannya masih sangat rentan hingga menyebabkan pendarahan. Untungnya kau datang tepat pada waktunya.”

“Berapa usia kandungannya?”

“Tiga setengah.”

“Dia akan baik-baik saja?”

Dokter Jang menggangguk, “Dia tidak boleh terkena stress itu akan berakibat buruk pada kahamilannya dan juga nyawanya.”

“Dok…”

“Aku akan melanjutkan pemeriksaannya lagi. Kau boleh bertanya nanti.” Potong Dokter Jang.

Aku menggangguk kemudian kembali duduk. Aku membuka ponselku dan mendapati puluhan miss-called dan puluhan SMS yang datang dari keluarga dan member suju. Aku tidak berniat membalas pesan itu. Aku tidak ingin membuang waktuku. Aku segera menuju kamar rawat Yeosin. Aku ingin menjaganya.

“Chul-ah…” Eomma masuk lalu memelukku, “Eomma sudah mendengar dari dokter Jang.”

Aku tersenyum separo, “Eomma taukan Yeosin sedang hamil dan itu adalah anakku.”

Eomma menggangguk.

“Seorang yang keguguran tidak mungkin cepat hamil lagi. Eomma tau kan?”

Eomma menggangguk lagi.

“Dan Yeosin sekarang mengandung itu artinya dia tidak pernah keguguran dan Eomma kau tau…”

“Eomma tau Chul-ah… Eomma mengerti.” Eomma memelukku, “Eomma mengerti jika kau sangat mencintainya. dan dia memang pantas kau cintai. Eomma salah. Maafkan Eomma Chul-ah.”

“Eomma jangan menyuruhku untuk pergi darinya.”

Eomma menggeleng, “tidak… Eomma tidak akan melakukan itu lagi.”

Eomma menceritakan bagaimana dulu ia sewaktu mengandung nuna dan aku. Ia memberikan tips untuk menjaga ibu hamil dan bayinya. Aku tersenyum saat Eomma sudah berubah. Aku tau Eomma selalu menginginkan yang terbaik untukku dan aku tau bahwa aku sangat mencintai Yeosin.

Saat Eomma pulang aku memandang Yeosin. Dia masih tertidur dan aku juga sangat lelah Aku menggengam tangannya kemudian tersenyum. Aku membelai wajahnya yang pucat.

“Semuanya akan baik-baik saja bukan?”

Ku elus perutnya, “Appa disini… kau juga harus baik-baik saja.”

Aku mengenggam tangannya sebelum akhirnya aku terlelap.

>>deson<<

“Tuan… tuan…” aku merasa tubuhku diguncang.

Aku membuka mataku dan mendapati seorang suster membangunkanku.

“Tuan… dimana istrii anda?”

Aku menoleh dan mendapati kasur Yeosin sudah kosong. Aku mengedarkan pandanganku yang juga tidak mendapati sosok Yeosin. Aku pergi ke balkon ke kamar mandi dan mendapati hal yang sama. Yeosin tidak ada.

Aku mengacak-acak rambutku frustasi.

Aku menghubungi ayah Yeosin. Aku berharap ayahnya membawa Yeosin pulang.

“Chul-ah kudengar Yeosin masuk rumah sakit lagi. Kenapa dia? Apa dia sakit lagi?” Aku yakin bahwa ayah Yeosin tidak tau apa-apa dengan Yeosin.

Aku mengacak-acak rambutku frustasi.

Yeosin-ah kemana lagi kau akan bersembunyi.”

TBC

Annyeong All~~~ hmmm hahhaaaa… udh lama cerita ini lapy dari pada blog ini sepi dan berhubung saya tidak punya banyak waktu untuk Onlen -padahal dulu sesibuk apapun pasti onlen buat nyari berita ttg Heechul tapi sekarang mau onlen sesering apapun Heechul kayak menghilang di telan bumi yang ada malah majagernya yang sring nongol BTW ada yg tau g umur manjarnya Suju yg ganteng itu…dia udh wamil blum c??? gomawo ~~~

Leave a comment

15 Comments

  1. wah nongol yang heechul POV ya..
    aku 1st kah yang komen..haha..(bangga) pleetaakkk!!!

    Like

    Reply
  2. ninggalin jejak dlu ya e0n.
    K0men menyusul.

    Like

    Reply
  3. lizzeaa

     /  November 14, 2011

    kangen…….
    kayaknya udh prnh d post ya eon….??
    kaya udh prh baca…..#lola

    prince manager maksudnya?????
    katanya sich 31,ada yg blng jga 24,tau dieh……biodatanya blm klwr…..
    guantengnya naudubilah……
    hehehehe

    Like

    Reply
  4. vanny

     /  November 15, 2011

    wow…ada heechul side jg..
    gud..gud…jadi kita tau ternyata yg di otaknya ichul kek gimana hehe..
    tyt dia dah suka dari dulu ama yeosin tapi gengsi buat ngaku.
    bini lari baru deh nyadar ckckckck
    untung yeosin dah cinta mati hehehehe

    Like

    Reply
  5. Ikud komenn hahhahha… annyeong.. allya imnida.. ^^

    Like

    Reply
  6. kimbyen

     /  November 19, 2011

    akhirny ad heechul side hihihi :D… heechul heechul oppa johajoha.. gomawo udah bikin heechul sideny pass bgt aku lgi kangen am heechul oppa kkkkkk😄

    Like

    Reply
  7. LC_21

     /  May 28, 2012

    Coba nc diawal nya lbh diperjelas dan diperpanjang , pasti tambah seru ._.
    *otak yadong-_-

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: