Because I am a Fool (바보라서) Heechul Side 2/2

Because I am a Fool (바보라서)

Heechul POV

Aku tidak pernah melepas ponselku sedetikpun. Tidak peduli dengan Leeteuk yang terus menerus mengomel. Aku sedang tidak berkomsentrasi. Berkali-kali aku menelepon Ayah dan ibu mertuaku berpura-pura menanyakan apakah Yeosin menghubungi mereka atau belum. Aku berakting seolah Yeosin sedang berada bersamaku.

Aku juga memberitahukan kehamilan Yeosin yang sudah menginjak 7 bulan. Mereka bertanya kenapa Yeosin tidak menghubungi mereka dan memberitahukan kabar gembira ini. Lagi- lagi aku berbohong jika Yeosin masih terkena syndrom calon ibu dan masih sangat rentan. Ia juga sedang dirumah ibuku.

“Kau memang aktor sejati.” Donghae menepuk bahuku.

Aku tersenyum lirih, “aku berharap jika Yeosin menghubungi keluarganya dan mengatakan keberadaannya. Tapi sepertinya gadis itu tidak berniat untuk menunjukan batang hidungnya.”

Aku menyandarkan tubuhnya di sofa. Lelah. Aku lelah berkeliling Seoul untuk mencari Yeosin. Aku lelah berkata pada wartawan tentang kehidupan rumah tanggaku yang baik-baik saja. Aku lelah.

Aku menatap 2 foto hasil USG Yeosin. Hasil USG pertama saat kandungannya 1 bulan setengah dan USG terakhir sebelum Yeosin kabur saat usia kandungannya 3 setengah bulan. Aku menatap dua foto yang tidak jelas itu.

“Dokter Jang bilang bayiku kembar.” Ucapku. Aku merindukan bayi-bayiku. Mereka terasa nyata meski aku sama sekali tidak pernah menyadari keberadaan mereka sebelumnya.

“Mereka akan baik-baik saja.”

“Aku ingin melihat perkembangan mereka. Aku ingin berada di samping Yeosin di saat terberatnya. Aku ingin menjadi saksi kelahiran bayi-bayi kami.”

“Kau akan menemukannya segera Hyung.” Ucap Donghae tulus.

Kami terdiam dalam pikiran masing-masing. Aku masih menatap dua foto USG Yeosin dengan dalam. Aku sering membayangkan bagaimana rupa anakku kelak. Apakah akan secantik ibunya atau setampan ayahnya. Aku yakin bila anakku kelak akan mirip denganku.

“Hyojoo-ah… stop…” teriak Ryeowook sambil masuk keruangan.

Aku menoleh dan mendapati Hyojoo sedang menatapku dalam. Artis yang di juluki smilling angel itu menatapku tajam. Di belakangnya Ryeowook mencoba menahan gadis itu tapi sepertinya gadis itu tidak peduli.

“Dimana adikku?” tanyanya dingin

Aku terdiam.

“Katakan padaku dimana adikku?”

Aku menyunggingkan senyum separoku, “Jaejong tidak ada disini.”

Wajah Hyojoo memerah, “Aku bertanya dimana adikku.”

“Dia dirumah.” Ucapku asal. Mata Hyojoo membulat, “dirumah. Tapi aku tidak tau dirumah yang mana.”

Donghae, Ryeowook dan member yang ada di ruangan pergi keluar meninggalkan ku dengan sang ‘kakak Ipar’. Aku mengulurkan tanganku menyerahkan hasil USG Yeosin padanya. Ia tercekat saat melihat foto itu.

“Itu anak-anakku. Mereka kembar.” Ucapku bangga.

“tapi dimana Yeosin?” tanya pelan.

Aku menggeleng, “Dia marah padaku dan meninggalkanku tanpa kabar. Apa kau tau dimana dia berada.”

Hyojoo menggeleng.

“Aku ingin sekali meminta maaf padanya.”

Hyojoo menyerahkan hasil USG Yeosin padaku, “Yeosin bukan tipe orang yang gampang marah atau pendendam. Mungkin dia sedang mencari suasana untuk meredamkan emosinya.”

“Tapi ini sudah lewat 3 bulan dan di sama sekali tidak menghubungiku.”

Hyojoo terdiam, “mungkin aku tau dimana dia.” Ucap Hyojoo sambil berdiri.

“Dimana?” tanyaku refleks

Hyojoo tersenyum, “Kau mengenal Yeosin. Dia akan menolakmu jika kau masih seperti ini. Dia menginginkanmu, hanya kau dan masa depanmu bahkan dia tidak peduli dengan masa lalumu. Saranku, sebaiknya kau meninggalkan masa lalumu.”

>>deson<<

Aku menghubungi Eunhee dan meminta maaf padanya. Aku memutuskan kontrak dengan Eunhee. Manajemen Eunhee marah dengan keputusan itu tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin Yeosin kembali.

“Kau yakin dengan ini Oppa??” tanyanya

Aku menggaguk.

“Jika drama kita kau tolak aku mengerti tapi… masalah CF dan pemotretan lainnya.”

“Aku tau… dulu aku selalu menginkan saat satu frame bersamamu tapi sekarang aku malah menolaknya.”

“Aku mengerti oppa…”

“Aku punya beberapa kabar penting untukmu…” Ucap Eunhee

Drrt… drtt…

Aku mengankat tanganku menyuruh Eunhee diam.

Eomma meneleponku.

“Aku ke toilet dulu.” Aku mengambil ponselku.

Begitu mendapat tempat yang pas untuk menelepon aku langsung menganggakt telepon dari Eomma.

“Yeoboseyo…”

“Chul-ah…” ucap Eomma disebrang sana, “Eomma kemarin bertemu dengan istrimu dan calon cucu Eomma.” Aku tercekat mendengar ucapan Eomma.

“Eommaa~”

“Eomma kemarin membujuknya untuk pulang. Kandungannya juga sudah membesar. Kurasa anak-anakmu cukup sehat. Dia juga sudah baikkan. Kurasa ini saat yang tepat untuk menemuinya. Temui dia Chul-ah, ajak dia kerumah.”

“Dimana dia Eomma.” Ucapku penuh binar. Aku akan bertemu dengan istri dan anak-anakku.

>>deson<<

Hyosin memberitakuku bagaimana cara menemui Yeosin. Ternyata anak itu tau dimana nunanya berada. Aku mengutuki diriku kenapa aku tidak bertanya langsung pada anak itu. Aku malah bertanya macam-macam.

Yeosin masih tertidur saat aku datang. Aku mengusap perutnya yang membesar. Aku tersenyum saat melihat Yeosin baik-baik saja. Aku melirik ke jam. Terbesit satu keinginan untuk membuat sarapan untuk Yeosin saat terbangun nanti.

Aku memakai celemek dan mulai memasak nasi goreng ajaran Hankyung. Aku harap masakanku tidak meracuni bayi kami nanti.

Aku mendengar pintu terbuka dan mendapati Yeosin sedang menatapku heran. Ia berjalan perlahan padaku. Dia pasti keberatan membawa bayi-bayi kami.

“Duduklah… aku sebentar lagi akan matang.”

Dia menurut dan duduk di meja makan sambil terus memperhatikanku. Aku senang dia tidak mengusirku dan tidak berteriak padaku. Aku berharap masih ada satu kesempatan untuk kami.

“Ini dia…” Aku memebawa nasi goreng buatanku ke hadapannya “Hangeng yang mengajariku, ku rasa hasilnya pun tidak jauh berbeda.”

Dia memandangku dengan lekat. Aku tersenyum, aku membalas pandanganya. Aku merindukan sosok itu. aku merindukan tatapan teduhnya saat menatap wajahku. Aku merindukan semuanya.

“Makanlah… Aaaa~~” Aku menyodorkan sedok kedapannya

Dia mengalihkan pandangannya kemudian melahap nasi gorengku. Ia mengunyahnya pelahan

“Enak?” tanyaku padanya sambil berharap bayi kami tidak keracunan saat memakannya.

Dia menggagguk dan berhasil membuat senyumku mengembang. Aku rasa ini sedikit terlambat tapi aku senang saat melihat mereka baik-baik saja. Seandainya Yeosin tidak pergi mungkin aku yang akan membuatkan makanan untuknya setiap hari. Aku yang menyuapinya makan dan menjaga agar bayi-bayi kami sehat,  “Mianhae… aku tidak menjaga kalian dengan baik. Aku bukan seorang ayah yang baik.”

“Aku tidak apa-apa…” ucapnya pelan

Aku menggeleng, “Bagaimana kau bisa berkata tidak apa-apa. Kau pergi tanpa membawa apapun. Kau pergi dengan kondisi yang mengkhawatirkan. Aku tau marah padaku… tapi kau jangan membiarkannya terluka. Aku tidak bisa memaafkan diriku jika sesuatu yang buruk menimpa kalian.”

Yeosin terdiam membuatku ingin memeluknya. Dia tampak murung, jangan menangis beib…

“Berhentilah lari dariku, karena aku tidak akan membiarkan kau pergi dariku. Aku tidak akan melepasmu.” Ucapku tulus.

“Tunggu, aku punya sesuatu…” Aku teringat bahwa aku membawa sebuag hadiah. Hadiah yang tidak sempat ku berikan dulu.

Aku berlari ke ruang depan tepat aku menaruh barang-barangku. Aku selalu membawa gelang kaki itu berharap jika satu hari nanti aku bertemu dengan Yeosin aku bisa langsung memberikannya. Dan kini saat itu tiba.

“Yeosin-ah… lihatlah…” Aku memamerkan gelang kaki itu padanya tapi Yeosin tidak menoleh, ia malah memegang ujung meja dan tangan yang satu lagi memegang perut besarnya,  “Yeosin-ah?”

Aku memegangnya dan dia menepisku. Dia melemparkan ponselku begitu saja. Aku bisa menlihat foto Eunhee di layar sebelum layar itu mati. Aku lupa jika aku meninggalkan Eunhee seorang diri di kafe karena terlalu senang saat tau Yeosin sudah di temukan.

“Yeosin-ah gwenchana???” tanyaku saat melihat wajahnya menjadi pucat.

“Shiruuuh… aku membencimu Kim Heechul-ssi… aku membencimu…” teriaknya sebelum ia jatuh pingsan.

Aku berhasil menangkap tubuhnya. Aku menggendongnya sambil bergumam tidak jelas. Aku langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.

>>deson<<

Aku takut sesuatu terjadi pada anak dan istriku. Apa ini akibat nasi goreng yang ku buat. Sepertinya aku memang tidak berbakat membuat nasi goreng. Kuingatkan pada diriku sendiri untuk tidak membuatkan nasi goreng untuk Yeosin lagi.

Setelah tiba di Incheon hospital aku menghubungi seluruh keluarga dan member suju tentang keadaan Yeosin. Aku tidak peduli mereka akan marah atau lain-lain. Aku hanya ingin mereka tau bahwa aku sudah menemukan istriku dan tidak ingin diganggu.

Yeosin tidak juga sadar sampai tengah hari. Aku benar-benar panik. Sesuai saran dokter Jang dan Dokter Kwon, Yeosin akhirnya di bawa ke Seoul international Hospital. Mereka langsung melakukan tes menyeluruh pada Yeosin.

“Bicaralah padanya. Dia pasti mendengarmu.” Ucap Dokter Jang, “bayi kalian juga pasti akan mendengarnya.”

Aku mendekati Yeosin kemudian mencium keningnya. Aku menggenggam tangannya yang bebas. Dia mendengarku tapi kenapa dia tidak membuka matanya.

“Bagunlah… Yeosin-ah… apa kau tidak ingin melihatku lagi?” Aku beralih pada perutnya yang besar, “nak, apa kau marah pada Appa??”

Aku mengelus perut Yeosin pelan.

Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, “setiap hari kau bersama Eomma… kau merasakan apa yang Eomma rasakan. Apa kau mau mendengar apa yang appa rasakan?”

Aku memandang wajah Yeosin sesaat lalu beralih kembali ke perutnya.

“Appa tidak tau apa yang membuat Appa selalu tertarik pada Eomma-mu. Saat pertama kali Appa melihat Eomma… Appa merasa ada sesuatu yang membuat diri Appa untuk selalu dekat dengan Eomma. Pertemuan pertama di bandara. Appa merasa itu bukan pertemua pertama. Appa merasa sudah dekat dengan Eommamu sebelumnya. Mungkin ini yang namanya takdir.”

Aku mengelus pertut Yeosin sekali lagi, “pertemuan kedua. Kurasa ini bukan pertemuan kedua karena appa yang melihat Eomma-mu. Appa melihatnya dari jauh sedangkan Eommamu tidak pernah menyadari kehadiran Appa. Itu berlanjut beberapa kali. Appa selalu tidak sengaja melihat Eommamu. Kalian tau, senyum Eommamu sangat manis. Kurasa Hyojoo Immo kalah manis.”

“Hingga saat Appa melihat Eommamu terjatuh di depan apartermen Appa. Eomma kalian sangat ceroboh. Ia senang meninggalakan barang-barang penting. Ia sering jatuh dan terluka.”

“Appa tau kami menikah bukan karena saling mencintai. Eomma kalian terlalu baik untuk menolong appa dan appa memanfaatkannya. Dulu saat Eomma bertanya apa appa mencintainya. Appa hanya diam dan sekarang jika kalian bertanya apa appa mencintainya, maka appa akan menjawab. Bahwa eomma adalah satu-satunya cinta appa, dan kalian adalah buktinya.”

“Eomma yang membuat appa percaya pada cinta pada pandangan pertama. Meski sulit sekali untuk appa mengatakannya. Appa mencintai Eomma dan kalian.”

Aku menghapus air mata yang menetes di pipiku, “Aku mencintai kalian.”

>>deson<<

Aku tidak pernah jauh dari Yeosin. Kegiatanku juga tidak banyak. Aku hanya akan menghadiri kegiatan yang penting dan memilah yang tidak penting. Aku senang saat meceritakan apapun pada anak-anakku. Ada kebahagian tersendiri saat aku berbagi dengan anak-anakku.

Aku juga sering berbicara pada Yeosin dan berharap dia bisa membuka matanya.

Tidak hanya aku tapi orang-orang terdekat Yeosin juga sering mengunjunginya. Eomma, appa dan nuna bergantian menemaniku juga kedua mertuaku berserta Hyojoo dan Hyoshin.

Member lain juga sering kemari terutama Ryeowook. Junsu dan Jaena dan juga Eunhee. Wartawan mulai tau dan berita tentang kami mulai terdengar. Agensi menutup rapat-rapat penyebab Yeosin di rumah sakit. Rumor yang berkembang adalah Yeosin sangat lemah dan kehilangan kesadaran. Tidak ada pemberitaan tentang perceraian kami.

“Apa kau baik-baik saja? wajahmu terlihat berantakan sekali.” Jaena meletakan lily putih di samping meja.

“Aku baik-baik saja.”

“Aku tau apa yang kau rasakan.” Dia duduk di hadapanku.

Aku terkekeh, “Aku salah. Sejak awal aku sudah salah. Sejak pertama kali aku mengajaknya menikah dan dia mengeluarkan ide gilanya. Aku fikir dia baik-baik saja. Karena dia selalu tersenyum saat aku datang. Tapi ternyata aku salah, dia sangat terketekan dengan statusnya. Dia di cap perempuan nakal oleh keluargaku karena hamil diluar nikah, dia tidak disukai oleh ibuku. Dia tersiksa. Tapi dia tetap tersenyum.”

“Aku benci saat melihat raut wajahnya, ekspresinya selalu mudah dibaca namun dia selalu menyembunyikan hal itu dariku. Aku seperti bajingan yang terus mempermainkannya.” Ucapku lagi

“Apa kau mencintainya?” tanya Jaena

Aku menggangguk sambil tersenyum, “Sangat. Aku menyukainya lebih dulu sebelum dia menyukaiku. Aku terlalu pengecut untuk mendekatinya. Aku terlalu takut.”

Jaena terkekeh, “Yeosin-ah… kau dengar. Dia mencintaimu. Sangat. Bangunlah dan lihat dia sedang menatapmu penuh cinta.”

“Kim Heechul-ssi… dia tersenyum.” Jaena membelai wajah Yeosin yang sedang tersenyum, “dia ingin mengatakah bahwa dia juga mencintaimu. Sangat. kau tau… dia selalu menyebut namamu saat dia tertidur. Jauh di lubuk hatinya dia pun mencintaimu. Bahkan saat dia tidak bisa tidur dia akan mendengarkan suaramu atau melihat fotomu dulu.”

Aku menggenggam tanganya erat, aku tidak percaya bila Yeosin benar-benar mendengarkan kami,  “Terimakasih Jaena… Terimakasih sudah menjaga Yeosin.”

>>deson<<

Aku bercerita pada Eomma jika Yeosin kemarin tersenyum padaku. Dia bisa mendengar suaraku. Eomma juga senang mendengar hal itu. Semoga ini merupakan hal yang baik untuk kami.

“Selamat pagi… Kim Heechul-ssi… Selamat pagi Nyonya Kim…” Dokter Jang mulai rutinitas pagginya yaitu memeriksa Yeosin.

“Selamat pagi Dokter Jang…”

“Kim Heechul-ssi ada yang ingin aku bicarakan tentang istri anda.” Ucap dokter Jang datar.

“Ada apa dengannya Dok… kemarin dia tersenyum, aku pikir itu hal yang bagus.” Ucapku bangga.

“Ehmmm… Hasil memeriksaan kami tim dokter bahwa istri anda mengandung anak kembar.” Dokter Jang menyerahkan hasil pemeriksaannya padaku.

“Bukankah dokter sudah memberitahuku sebelumnya. Saat pertama kali dia masuk rumah sakit.” Aku mengerutkan keningku tidak percaya.

“Kami melakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai anak dan istri anda dan kami menemukan sebuah kendala.” Dia menunjukan tiga buah foto USG yang berbeda. Ada dua gumapalan yang hampir sempurna dalam foto itu dan

“Apa itu Dok…” tanyaku penasaran

“Salah satu anak anda sangat lemah dan harus dikeluarkan secepatnya.” Dokter Jang menunjukan salah satu bayiku yang lebih kecil. Bayi itu tidak berkembang. Ukurannya tetap sama dari waktu kewaktu tidak seperti bayi yang satu lagi yang memperlihatkan perkembangan yang signifikan.

“Apa???”

“Kondisi sang ibu yang lemah membuat bayinya ikut melemah. Kita tidak bisa membiarkan semua ini begini terus. Bila bayi itu mati didalam kandungan maka akan berisiko pada ibunya dan anak anda yang satu lagi.”

Aku melemas saat mendengar penjelasan Dokter Jang, “Tidak ada cara lain… dengan obat-obatan?”

“Terlalu banyak obat juga tidak baik untuk ketiganya.”

“Tapi mereka masih terlalu kecil, mereka baru tujuh bulan.” Aku menatap perut Yeosin. Aku tidak tega melihat bayi-bayiku yang masih kecil di keluarkan dari perut ibunya.

“Mereka sudah terbentuk dengan sempurna, sudah seperti manusia. Aku melihat tubuhnya sudah sempurna. Bahkan salah satu bayi anda sangat sehat.”

Aku menatap Dokter Jang, “Apa dokter Jang tidak bisa mengambil yang lemah dan membiarkan yang satunya tetap didalam.”

“Tuan Kim kau pikir mereka anak ikan? Itu akan sangat berisiko. Kami akan mengusahan menyelamatkan ketiganya.” Ucap Dokter Jang dingin.

Aku mengacak-acak rabutku frustasi. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi.

“Berdoalah… tuan Kim kami akan melakukan operasi cesar jika istri anda mengalami kemajuan… jika kondisi tubuh istri anda melemah terpaksa… kita harus menggugurkan kandungannya.”

“Digugurkan?” aku menatap tajam Dokter Jang

“Jika kondisi ibunya melemah maka kami akan menyelamatkan ibunya. Karena jika kita menyelamatkan bayinya. Belum tentu bayinya selamat.”

“Tapi kandungannya sudah terlalu besar untuk digugurkan. Apa tidak akan berbahaya.” Aku menggengam tanganku mencoba untuk menahan emosi.

“Hmmm… mungkin dia tidak akan mempunyai anak selamanya.”

Aku menatap Yeosin. Aku berharap dia tidak mendengar perkataan dokter Jang.

“Yeosin-ah… apa kau mencintai anak-anakmu? Bertahanlah dan buka kedua matamu. Bukan untukmu tapi untuk anak-anak kita.” Aku menggenggam tangannya erat.

>>deson<<

Aku menatap surat pernyataan yang di sodorkan dokter Jang. Berat bagiku untuk mendandatangi surat pernyataan itu. Aku ingin anak dan istriku selamat.

“Aku tau kau menyayangi anak-anakmu tapi…” Eomma membelai punggungku, “selamatkanlah istrimu.”

“Kemungkinannya tipis…” ucapku.

“Aku percaya bahwa akan datang keajaiban.” Ucap Ayah Yeosin, “Tuhan pasti punya rencana untuk semua ini.”

Aku menatap Yeosin yang masih terbaring lemah. Aku kemudian mendatangani surat pernyataan itu sambil berharap semuanya akan baik-baik saja.

Dokter jang terus mengamati perkembangan Yeosin. Jika Yeosin sudah mencapai dirasa cukup kuat Dokter Jang akan langsung mengoprasinya dan mengeluarkan bayi-bayi kami. Aku tidak pernah meninggalkan Yeosin. Aku bahkan tidak bisa tidur dan terus menatap Yeosin.

Dokter Jang memeriksa Yeosin lalu menyuruh Susternya untuk membawa yeosin ke ruang Operasi, “Ini saat nya untuk mengambil anakmu jika tidak sekarang kemungkinan dia akan melemah lagi dan akan sulit untuk mengambilnya.” Ucap Dokter Jang sebelum aku sempat bertanya.

“Aku mengirimkan pesan pada Eomma dan ayah Yeosin. Tidak peduli bahwa ini sudah tengah malam. Aku juga mengabari Leeteuk dan Jaena.

Aku melihat prosesi kelahiran putra pertamaku. Dia lebih kecil dari pada putriku. Aku tersenyum saat mereka hadir ke dunia. Aku tidak bisa berkata apa-apa saat dokter Jang menyerahkan bayiku kedalam gendonganku. Putraku menggeliat di pangkuannku.

Putraku sama sekali tidak menangis, ia menangis perlahan saat putriku menangis. Ia tampak lemah. Dokter Jang lalu memasukan mereka kedalam inkubator.

Aku tersenyum saat mereka tertidur pulas di dalam inkubator.

Yeosin di pindahkan ke ruanganya lagi. Ia masih teridur. Aku tidak sabar untuk memberitahukan keadaan anak-anak kami padanya.

>>deson<<

Kesehatan putraku menurun Dokter Jang dan dokter lainnya mengawasi perkembangan putraku tapi sayangnya mereka gagal. Aku kehilangan putraku. Aku menghembuskan nafas panjang. Aku memeluk putraku.

“Maafkan appa, nak.” Ucapku sebelu menutup wajahnya dengan kain.

Aku membawanya keluar untuk dimandikan dan di kubur. Aku baru saja ingin mengatakan sesuatu pada dokter Jang. Aku ingin merahasiakan kematian putraku dari Yeosin aku tidak ingin dia terluka.

Tapi sialnya. Yeosin datang disaat yang tidak tepat.

Ia datang dengan didorong oleh nuna bersama appa dan Eomma.

“Yeosin-ah…kau harusnya beristirahat.” Ucapku sambil menatapnya lurus

“Dimana anakku?” tanya dingin sambil melihat tangganku yang sedang menggendong putraku.

“Katakan padaku dimana anakku?” tanyanya lagi saat aku tidak menjawab.

“mianhae…” Aku berlutut dan memperlihatkan putra kami yang sudah membujur beku.

Dia membekap mulutnya tidak percaya. Aku melihat dia menangis.

Aku menyuruh Nuna untuk membawanya kekamar. Aku yang akan mengurusi putraku sendirian. Aku tidak ingin Yeosin melihat ini.

>>deson<<

Aku yang meminta Dokter Jang untuk membawa putriku pada Yeosin. Dia pasti akan senang melihat putrinya. Putri kami sangat cantik dan menggemaskan.

Aku tersenyum cerah saat memperhatikan putriku pada Yeosin. Yeosin menatapku menyuruhku untuk mendekat

“Hoeee… oeee…” putriku menggeliat maja di tanganku.

“Kau mau bertemu dengan Eomma? Tapi kau jangan manja, ya. Eomma masih sakit.” Aku bicara pada putriku sambil mendekatkan diri pada Yeosin.

Aku memperlihatkan putriku padaku. Yeosin tersenyum lalu menyentuh pipi mungil putri kami.

“Dokter badannya hangat.” Yeosin menatap Ku lalu menatap Dokter Jang, “Dok, apakah semua anak prematur berwarna kuning??”

Aku menatap bayiku yang ternyata memang benar. Bayi kami kuning. Aku lalu memperlihatkan bayi kami pada Dokter Jang.

Dokter Jang kemudian menyuruh susternya membawa putri kami.

“Dokter apa yang terjadi?” tanyaku penasaran.

“Aku harus memeriksanya lebih lanjut.” Dokter Jang pergi meninggalkan ruangan.

Aku menatap Yeosin sesaat lalu pergi menemui dokter Jang. Aku baru saja kehilangan putraku dan aku tidak akan memaafkan diriku jika aku kehilangan putri kami.”

>>deson<<

Aku tidak bisa berhenti bolak-balik sebelum dokter Jang menjelaskan apa yang terjadi. Aku benar-benar Khawatir. Tidak hanya aku Yeosin juga tidak mau menutup matanya padahal suster sudah memperingatinya untuk segera beristirahat.

“Tenanglah, Heechul-ah… kau membuat kepala Eomma sakit.” Ucapan Eomma sama sekali tidak aku turuuti.

“Bagaimana aku bisa tenang Eomma… Aku baru saja kehilangan putraku dan aku tidak ingin kehilangan putriku juga.” Ucapku semakin panik.

Dokter Jang datang lewat tengah malam dengan membawa amplop Coklat. Ia membuka Coklat itu dihadapanku. Ia lalu menjelaskan secara terperinci hasil pemeriksaannya.

“Dia mengidap penyakit Hemolitik.” Dokter Jang memandang Yeosin, “hal ini disebabkan karena golongan darahmu A, dan putrimu AB…  saat dia didalam kandunganmu dia masih menggunakan darahmu dan ketika dia lahir dan menghirup oksigen dia sudah mulai memproduksi darahnya sendiri. Darahmu masih mengalir ditubuhnya dan darahnya saling berperang. Itulah yang menyebabkan dia menjadi kuning.”

Aku syok mendengar pernyataan dokter Jang, “Apa dia akan baik-baik saja?”

“Kita harus mengeluarkan darah Yeosin dari tubuh putrimu secepatnya, tapi sayangnya kami kehabisan stock darah AB.”

“Darahku AB dok, kau bisa mengambil darahku.” Tawarku tanpa pikir panjang lagi.

“Kita periksa dulu.”

Aku mengikuti Dokter Jang untuk menjalani tes. Aku berharap jika aku bisa memberikan darahku pada Putriku. Aku ingin dia hidup, aku ingin dia sehat.

>>deson<<

Dokter Jang menggeleng saat melihat hasil tesku.

“kau tidak bisa melakukannya.” Ucap Dokter Jang.

“Kenapa??? Kau bisa mengambil semua darahku aku rela.” Rututku pada dokter Jang.

“kau hanya akan membahayakan nyawa putrimu sendiri. Jika tetap bersikeras seperti ini. Pikirkan nyawamu dan kesehatan putrimu sebaiknya kau mencari darah yang sehat untuk putrimu.”

Aku melangkah pergi. aku tidak tega melihat putriku dan tidak mampu melihat air mata Yeosin.

Tanganku bergerak diatas ponselku. Aku tidak tau apayang ku lakukan. Aku hanya ingin mencari darah AB untuk putriku. Satu hal yang terbesit di otakku adalah chocoball. Kuharap mereka mau menyumbangkan darahnya untuk putriku.

>>deson<<

Aku tersenyum saat mengatakan bahwa darah Hongki cocok untuk putriku. Aku langsung menghubungi Hongki untuk meminta darahnya. Aku berhutang banyak padanya dan aku tidak melupakan jasanya untuk putriku.

“Ku mohon Hongki-ya… aku butuh darah AB… demi putriku… aku berjanji ini tidak akan membuatmu sakit… please… Terimakasih Hongki-ya… Dongsaengku yang baik.” Aku menatap Yeosin yang sedang menatapku. Dia tidak banyak bicara. Dia hanya menatapku dengan tatapan lemahnya.

Ia sering sekali pingsan. Ada sedikit yang membuatnya kaget dia langsung pingsan. Bahkan untuk mengangkat gelas saja dia tidak mampu. Untung saja Eomma, Eommonim, nuna dan Hyojoo selalu menemaninya saat aku sedang tidak ada.

“Tenanglah… Putri kita akan selamat… aku sudah meminta teman-temanku untuk mendonorkan darahnya…” Aku memeluknya lalu mengecup keningnya, aku melihat senyum di bibirnya, “Yesung dan Jungmo malah sudah di periksa oleh Dokter. Semoga darah mereka cocok untuk putri kita.”

Aku membelai wajahnya, dia terlihat sangat pucat. Matanya terlihat sayu.

“Apa kau menyayangi mereka?” gumanya

“Siapa?? Anak-anakku?? Tentu saja… aku sangat menyayangi mereka… sangat…” Aku memeluknya dengan erat. Dia membalas pelukanku hingga akhirnya dia tertidur dalam dekapanku.

Semuanya akan baik-baik saja, Yeosin-ah

>>deson<<

Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku pada Yeosin. Aku memeluk Yeosin erat  hingga dia kesulitan bernapas.

“Dia sudah sehat.” Aku melonggarkan pelukanku lalu memandangnya, “Dia menghabiskan banyak darah Hongki.”

Dia tersenyum,  “lalu dimana Hongki??”

“Dia masih beristirahat diruang sebelah.” Aku merindukan senyum itu. aku senang bisa melihat dia tersenyum lagi.

“Ingatkan aku untuk berterimakasih padanya.”

Aku menggangguk

“Kau juga harus bertrimakasih pada kami, Yeosin-ah… kami juga menyumbang darah kami untuk putrimu, walau sedikit.” Aku menoleh, aku lupa jika aku datang bersama Yesung dan Jungmo.

“Terimakasih Oppaddeul… kalian penyelamatku.” Yeosin lalu menyuruhku untuk minggir. Ia tidak mau pamer kemesraan padahal aku masih ingin memeluknya.

“Kau tau, dia sangat cantik. Aku bahkan sampai terpesona melihatnya. Kurasa aku jatuh cinta padanya.” Jungmo mendekati Yeosin

“Yak~~~” ucapku kaget saat mendengar ucap Jungmo

“Aku hanya bercanda Hyung…” Jungmo memamerkan senyum 3 jarinya. Ia lalu memarkan foto yang baru diambilnya.

Foto putri kecilku. Aku sudah memperingatinya untuk tidak memakai blizt saat memotret karena aku takut akan menyakiti putriku. Ia masih sangat sensitif.

“Dia cantik karena mewarisi kecantikanku.” Ucapku saat melihat Yeosin meraba foto Jungmo

“Dia cantik karena didalam tubuhnya mengalir darahku.” Hongki masuk lalu duduk di sofa. Ia terlihat sangat pucat, ia menyedot isapan terakhir susu penambah darahnya, “aku yakin jika dewasa nanti, dia akan mempunyai suara yang bagus sepertiku.”

“Jika suaranya bagus maka itu karena darahku yang mengalir di tubuhnya.” Ralat Yesung tapi kemudian di bantah oleh Hongki, “Tapikan aku menyumbang sekitar 75% darah yang ia butuhkan.”

Mereka berdebat hingga akhirnya Hongki melirik susu yang ada di tangan Yeosin, “Yeosin-ah bolehkan aku minta susu yang dibotol itu.”

“Andwaeeee…. ini untuk putriku.”

Aku melempar bantal ke arah Hongki. Huh, seenaknya saja dia meminta susu putriku.

>>deson<<

“Kau kesempitan?” tanyaku saat merasakan tatapan Yeosin terarah padaku.

Yeosin memaksaku untuk tidur bersamanya. Dia mengancam tidak akan tidur jika aku tidak tidur bersamanya, aku mengalah lalu memeluknya dengan erat. Tapi bukannya tidur Yeosin malah menyusuri wajahku dengan jarinya.

“Tidak. Aku senang melihatmu saat sedang tidur.”

“Apa aku begitu tampan saat sedang tidur.” Godaku sambil mencoba mengigit jarinya.

Yeosin tertawa sambil menarik tangannya, “apakah jika putraku hidup dia akan seperti ayahnya??”

“Tentu saja.” Aku membuka mataku dan menatapnya lembut, “Dia akan setampan ayahnya dan sehebat ibunya. Kau tau… putri kita sudah semakin sehat dan dia terlihat sepertimu, cantik seperti ibunya.”

Yeosin mengembungkan pipinya, “kapan aku bisa menggendong dan memeluknya.”

“Sabarlah sayang~~, kau masih lemah dan dia masih harus di inkubator.” Aku mencubit hidungnya. Aku selau ingin mencubitnya saat dia kesal dan mengembungkan pipinya.

“Tapi… Sungmin Oppa, Leeteuk Oppa, Eunhyuk Oppa sudah menggendongnya.”

“Itu karena dia harus di beri makan.”

Yeosin mendecak kesal membuatku semakin gemas lalu mengecup bibirnya singkat.

“Arra~… besok aku akan meminta suster membawakannya padamu. Jadi sekarang kau tidurlah.”

Aku membekapnya lalu menyanyikan sebuah lulabi untuknya.

>>deson<<

Aku membawa Boks bayi ke ruangan Yeosin. Dokter Jang sudah memperbolehkan putriku keluar dari inkubator. Sebenarnya tidak di masukan ke inkubator juga tidak apa-apa karena putriku sudah cukup berat hanya saja untuk berjaga-jaga dan agar bisa terkontrol kesehatannya.

Yeosin selalu meminta untuk menggendong putri kami tapi aku melarangnya aku tidak ingin dia menjatuhkan putrikami. Dia masih sangat lemah.

“Dia masih lapar.” Ucap Yeosin saat melihat botol susu putri kami habis.

Aku menatapnya lalu menyerahkan botol kosong itu padanya, “Masukkan lagi susunya…”

Dia mendengus, “sini biar aku yang beberikan susunya langsung.”

“Tapi…”

“Kim Heechul-ssi,” dia menataku tajam, “aku tidak akan mencelakakan putriku sendiri.”

Aku menatap Yeosin tatapan tegasnya sulit ku tolak dan…

“Oeee… hoeee….” putriku menggeliat di pangkuanku. Dia masih lapar.

“Dia masih lapar Oppa~…” teriak Yeosin tidak sabar membuatku mendongkak. Ini pertama kalinya aku mendengar dia memanggilku oppa. Aku lalu menyerahkan putriku pada nya tapi aku sama sekali tidak melepaskan tanganku. Aku bergerak kebelakang Yeosin dan membantunya menyanggah putri kami.

Aku melihat sinar bahagia Yeosin saat menyusui putri kami. Ia tampak bahagia saat putri kami menggeliat manja di tangan ibunya.

>>deson<<

Banyak yang datang untuk melihat putri kecil kami. Aku merasa senang dan tampaknya Yeohee… itu adalah nama yang diberikan oleh Yeosin untuk putri cantik kami- juga tidak keberatan dan tampak senang bertemu dengan bintang-bintang terkenal.

Aku juga mengajak Yeohee dan Yeosin untuk mengahadiri konfrensi pers. Aku meluruskan berita yang beredar karena kelakukanku saat membutuhkan darah untuk Yeohee.

Aku meminta maaf pada fans dan publik tentang kecerobohan diriku. Aku juga memperlihatkan Yeohee kecil pada umum.

Aku mendapat banyak repon positif dari fans. Mereka sangat senang melihat Yeohee bahkan tidak sedikit dari mereka yang menginginkan Yeohee debut sebagai anggota girlband.

Fansku yang dulu menyerang Yeosin juga sudah meminta maaf dan memberikan dukungan pada Yeosin.

Aku melihat Yeohee sebagai malaikat kecilku. Dia membawa banyak kebahagiaan bagiku dan Yeosin. Yeohee akan menjadi malaikatku sepanjang masa. Malaikat yang menjadi pengikat cinta ku dan Yeosin. Malaikat yang mengubah dunia kami. Malaikat yang memberi kebahagiaan bukan hanya padaku tapi pada semua orang.

>>deson<<

3 month later

Aku membenarkan kerah kemajuku yang terasa menghimpit. Berkali-kali aku menarik nafas karena gugup. Aku tidak menyangka hari ini akan datang. Hari dimana kami melangsungkan resepsi yang sempat tertunda.

Aku mengundang semua teman-temanku dan hampir 2.000 orang yang datang. Itu belum termasuk fans rekan kerja dan keluarga.

Begitu banyak orang membuatku benar-benar gugup.

“Hyung…” aku menoleh dan mendapati Junsu masuk kedalam kamar riasku.

“Junsu-ya…”

Junsu memelukku, “aku baru saja dari kamar Yeosin.”

Aku mengerutkan keningku, “kau tidak berniat menculiknya lagi kan???”

Junsu menggeleng, “dia cantik. Sangat cantik. Kau beruntung.”

Aku bersemu, “kau juga. Kau harus menemukan gadis lain yang hanya di matamu.”

“Aku sudah menemukannya Hyung.” Ucap Junsu membuatku kaget.

“Jinjja??”

“Aku tidak mau terus-terusan menjadi orang bodoh diantara kalian. Aku juga ingin mendapatkan perhatian penuh dari seorang gadis yang mencintaiku. Aku sadar. Aku tidak akan mendapatkan cinta itu jika aku tidak melepaskan Yeosin dan mencintai gadis itu.”

Aku memeluk Junsu erat, “Aku tidak tau harus berkata apa lagi. Junsu-ya terimakasih sudah menjaga istriku. Terimakasih sudah mau melepasnya.”

Junsu melonggarkan pelukankku, “jika aku tidak melepaskannya juga dia akan tetap mencintaimu Hyung….”

Aku merasa wajahku memerah.

“….Dan meski aku tidak ada akan ada orang ke tiga diantara kalian.

Aku mengerutkan keningku, “Maksudmu.”

“Aku tau kau mencintai Yeosin tapi kau juga mencintai Yeohee bukan??” Junsu memamerkan senyum tiga jarinya.

“Ya… kau gila Yeohee itu anakku…”

>>deson<<

Aku memperhatikan Yeosin yang sedang memperhatikan tamu undangan. Para member dengan pacar-pacarnya dan Eunhee dan Junho serta Junsu dan kekasih barunya berkeliling merebut perhatian Yeohee. Anak itu semakin lama semakin menggemaskan. Ia bahkan sudah bisa tersenyum saat hendak di foto. Aku tidak tau bakat siapa yang mengalir di darah anak itu.

Aku medekati Yeosin lalu melingkarkan tanganku di perutnya, “Kau cantik sekali.” Ucapku di dekat telinganya.

Wajah Yeosin memerah kemudian menoleh padaku. Mata kecoklatannya menatapku seolah hanya ada aku di dunianya. Dia memamerkan senyum simpulnya kemudian mendekatkan wajahnya padaku.

“Aku tidak mendengarnya.”

Aku tersipu mendengarnya. Dia tau aku sangat susah berkata manis tapi dia selalu menguji kesabaranku. “Nyonya Kim…” aku meneguk ludahku, “Kau sangat cantik.”

Dia tersipu malu membuatku ingin mencubitnya.

“Ehemmmm. Ayo cepat lemparkan bunganya.” Aku lupa jika kami belum melemparkan bunga.

Aku menggenggam tangannya sedangkan para undangan bersiap diri untuk mengambil bunga ditangan Yeosin.

Kami melemparkan bunga itu terlalu jauh. Bunga itu mendarat di tangan Junsu. Junsu langsung membawa bunga itu ke hadapan gadisnya. Sepertinya Junsu benar-benar membuka hatinya untuk gadis itu.

Aku memandang Yeosin yang masih memperhatikan Junsu yang sedang mencoba melamar gadisnya. Matanya berbinar seperti sedang melihat pertunjukan yang sangat romantis. Aku tau itu. aku bukan Junsu yang bisa mengungkapkan perasannya secara blak-blakan. Aku bukan Junsu yang bisa melepasankan seorang Han Yeosin.

Aku adalah Kim Heechul, dengan segenap hati mencintai Han Yeosin yang tidak pernah bisa membayangkan betapa hancurnya hidupnya bila gadis itu tidak ada disisinya.

“Jangan pernah pergi dariku lagi.” Aku melingkarkan tanganku di perutnya lagi. Memeluknya seperti ini membuat perasaanku nyaman. Aku selalu ingin melindunginya dengan segenap ragaku.

“Kau hanya memberiku dua opsi, ingat itu?” dia menyandarkan kepalanya di bahuku, “mencintaimu atau meninggalkanmu. Dan setiap aku meninggalkanmu aku selalu kembali padamu. Maka sekarang aku memilih untuk mencintaimu.” Dia membalikan tubuhnya kemudian menatapku.

“Aku juga mencintaimu…” Aku menatap mata kecoklatannya, sepasang mata yang juga mirip dengan Yeohee, “tapi sepertinya aku juga mencintai Yeohee.”

Yeosin memukul dadaku pelan, “Dia anakmu, Kim Heechul-ssi.”

“kau tidak boleh cemburu pada anakmu.” Aku melihat raut cemburu di mata Yeosin. Sejak kelahiran Yeohee, maka mereka berdua sangat berharga dimataku. Aku tidak akan melepaskan mereka begitu saja. Karena Yeosin adalah bidadariku dan Yeohee adalah malaikat kecilku.

“Bagaimana aku tidak cemburu, kau terus bersama Yeohee sementara aku kau tinggalkan.” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku senang sekali bermain dengan Yeohee. Karena Yeohee sangat lucu dan menggemaskan.  Apa Yeosin tidak bisa melihat, ada diriku dan dirinya dalam diri Yeohee. Yeohee merupakan perpaduan yang sangat sempurna.

“Pokoknya, malam ini Yeohee tidur bersama Eommonin dan abeoji.” Ucap Yeosin lagi membuatku membulatkan mata.

“Nyonya Kim… masa kau tega membiarkan anakmu tidur dengan neneknya.”

Dia menutup telinga tidak peduli.

Aku menarik nafas yang panjang kemudian menurunkan tangannya. Aku menggengam tangannya lalu menatap sepasang mata itu.

“Aku tau… tapi aku tidak bisa membiarkan Yeohee sendirian.”

Yeosin hendak membantah tapi segera ku potong ucapannya, “oleh karena itu…” Aku menatap dua mata coklat itu, “kita akan membuat adik yang lucu untuk teman bermainnya.”

Yeosin membulatkan mata tidak percaya. Wajahnya merona merah malu. Dia tampak cantik saat malu-malu begitu. Aku menariknya kedalam pelukanku kemudian ku raih bibirnya dengan bibirku.

Aku tidak peduli ribuan orang memandang kami.

Aku tau aku bukan seorang yang mudah mengatakan cinta tapi aku bisa menunjukannya jika aku mencintai dia.

Kekasihku, aku mencintaimu…

TAMAT

bagaimana??? cukup memuaskan??? hhhhh… /cipok Junsu/cipok heechul/

Next Post
Leave a comment

24 Comments

  1. utit

     /  November 26, 2011

    hiks…hiks
    kangen bang cinderela

    Like

    Reply
  2. utit

     /  November 26, 2011

    aku suka…aku suka
    lanjutkan menumpahkan kegalauanmu

    Like

    Reply
  3. tivaclouds

     /  November 26, 2011

    Ngebut langsung baca 2 part, jadi komennya digabung disini aja ya dewi.

    Br tau kalo trnyata dr awal heechul udah cinta sama yeosin. Ya tuhan, judulnya bener2 pas. Heechul adalah bukti nyata sebuah kebodohan!!

    Daebak deh…

    Itu mereka mau bikin adek bwt yeohee ya *tunjuk2 scene terakhir*

    Aduuuhh…yeohee pasti lucu bgt kayak heechul versi bayi yeoja,keke

    Like

    Reply
  4. eonni~ ini side.y chull oppa ttng yeosin eonni dri pertama yah???
    ternyata si master evil oppa udh cinta duluan sma eonni yah?? wahwahwah,, terharu saya baca.y eonn. kerenn~~ loh eonn

    Like

    Reply
  5. tinggalin jejak dlu ah.
    Komen menyusul stelah matkul kalkulus berakhir. Haha

    Like

    Reply
  6. lizzeaa

     /  November 27, 2011

    T_________3………!!!

    kangen ma chullpa?????

    oh….ternyata chulpa tu ska/knal ma yeosin duluan ya…….
    miris waktu ank lakinya meninggal….
    jd d sini g da namhae donk????
    suka bgt ma karaktr cinderella,klw biasanya keliatan gmulai kaya cewe d sini keliatan bgt jd laki yg tanggung jwb n gantle……..

    ngakak waktu hongki minta susunya yonhae,itkan susu murni dr yosinkan??hehehe

    Like

    Reply
    • nado…
      aq g bisa bikin karakter ichul yg kayak cinderlella hehheeee…
      dimata aq ya heechul itu yak kayak gitu…
      iya itu ASI buat Yeohee

      Like

      Reply
  7. uwoow heenim brani cium yeosin dpan umum? Kereen.
    Btw yg jd cwe.a junsu siapa e0n?
    “Duduklah… aku sebentar lagi akan matang.”
    typo yg ini bkin sya ngakak e0nie.
    heenim-mu akan matang?
    hahaha
    always daebak. tp hee side trlalu melompat2 crt’a. tp n0 matter.

    Like

    Reply
  8. kimbyen

     /  November 27, 2011

    daebak dah… aku suka banget background WP author, bagus banget, anak kecil nya lucu banget….

    Like

    Reply
  9. vanny

     /  November 28, 2011

    komen pertama: eh..eh…rumahny a baru di perbaharui ya?? ada foto baby lagi. si kembar ya?? hehehehe choa..choa ^^

    ternyata judul neh FF ga cuma buat yeosin doang, ichul jg layak menyandang predikat judul FF ini hehehehe..
    untung yeosin milih ga kabuur slamanya dari ichul *kan yeosin pabo, ga bisa lepas dari ichul* wakakakakakaak *di tendang deson*

    Like

    Reply
    • iyaaa, dong kita lagi merovasi rumah… n bikin kamar tambahan buat namhee n yeohee (?)
      Emang susah klo dua orang babo saling jatuh cinta /cipok Junsu/

      Like

      Reply
  10. hansungind(parkhyunchan)

     /  November 28, 2011

    ngefans ama yeohee aja deeehhh,,,

    itu ati2 saeng ma darah AB yg mengalir di badan yeohee,,
    ntar aneh kya chocoball,,

    ceritanya keren,,,jdi kangen chuli oppa,,
    oppa,,bogoshipo*peluk yesung*

    Like

    Reply
  11. minrakyu

     /  December 2, 2011

    duh jadi kangen bang icul deh..
    ah aku suka ni cerita..

    Like

    Reply
  12. LC_21

     /  May 28, 2012

    MEMUASKAN !!!
    I LOVE HAPPY ENDING :*
    ga yangka critanya bakal seru kyk gini😀
    yeohee FIGHTING ^^

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: