Twoshot: Behind the Lens

Bagian Pertama:  The photograph

“Aku benci saat menuliskan cerita tentang cinta segitiga. Kenapa? Karena tidak hanya ada bahagia tapi juga ada luka diantaranya.” -deson-

 

Jpret…

Sungmin memutar lensa memfokuskan pada objek di hadapannya. Ia mengatur berbagai angel agar bisa menghasilkan gambar yang bagus.

Hyori gadis mungil di hadapannya bergerak sesuai dengan perintah Sungmin. Senyumnya tidak pernah lepas dari wajahnya meski tak sekalipun Sungmin tidak pernah memfokuskan lensanya ke wajah Hyori. Ia hanya menggambil kaki Hyori.

Sungmin memberi kode pada Hyori untuk berhenti. Ia lalu pergi ke belakang untuk menatap ke layar komputer yang sudah terhubung dengan kameranya. Setiap gambar yang dia ambil sudah langsung tersimpan pada komputer itu, kini dia hanya tinggal memilih yang terbaik.

“Oppa Eotteokhae???” Hyori mendekati Sungmin. Ia mencondongkan badannya ke arah Sungmin bukan hanya untuk melihat tapi juga untuk mencium bau Sungmin khas.

“Lihat…” Sungmin mengarahkan layar ke hadapan Hyori, “bagus kan??” Sungmin menggeserkan pointernya memperlihatkan foto-fotonya.

Hyori menatap kagum pada gambar hasil Sungmin. Gambarnya begitu sempurna dan hidup. Sudut yang diambil selalu tepat dan memperlihatkan sisi yang berbeda tapi tidak menghilangkan gambaran aslinya.

“Kyeopta…” ucap Hyori penuh kagum, Sungmin memang Hebat. Ia tidak hanya bisa membuat sepatu itu tampak elegan dan indah di kakinya, “seharusnya kau juga mempotret wajahku.”

Sungmin tersenyum kemudian mengacak-acak rambut Hyori, “Ya~ kau lupa… inikan foto untuk baju dan sepatu bukan alat make-up yang harus memperlihatkan wajah cantik.”

Hyori memanyunkan bibirnya, “Arraseoyo~”

Sungmin kemudian memfokuskan diri pada layar 10 inchi itu. Ia memilah foto yang paling bagus. Foto itu kemudian di pisahkan ke dalam folder khusus dan akan dikirimkan ke salah satu majalah fashion.

Hyori menatap Sungmin lekat. Bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman saat ia menyusuri lekuk wajah Sungmin. Jantungnya berdetak saat ia melihat sorot mata Sungmin yang tajam menatap layar komputer.

“Kapan-kapan kau harus memotret wajahku.” Ucap Hyori.

Sungmin menggulum senyumnya, “Kenapa kau ingin sekali di foto?”

“Karena aku cantik.” Ucapan Hyori membuat Sungmin menatapnya, “Jika kau memotretku dan orang-orang banyak memujiku. Impianku untuk menjadi model terkenal pasti akan terwujud.”

“Jadi kau ingin di potret agar bisa di puja setiap orang?”

Hyori menggangguk polos. Matanya menatap Sungmin dengan binar, “Aku ingin menjadi model internasional yang memakai baju dari perancang terkenal. Baju yang belum pernah di pakai siapapun. Aku akan berkeliling dunia. Memamerkan baju-baju itu dan difoto dan dikagumi oleh banyak orang. Berjalan dengan elegan dan menjadi trend senter bagi seluruh wanita di dunia.”

Sungmin menatap Hyori, “Kau tau berapa umurmu sekarang??”

“Tanggal 10 nanti aku sembilanbelas tahun atau duapuluh tahun umur korea.” Ucap Hyori bangga.

Sungmin mendorong kening Hyori dengan jari telunjuknya, “Ya~ kau itu sudah besar tapi masih berpikir seperti anak-anak.”

“Oppa~” Hyori mengelus keningnya.

“Kau tau aku tidak suka memotret wajah. Apalagi wajah wanita” Sungmin mengalihkan pandangannya ke layar komputer, “Karena ekspresi wajah hanya ada senyum ketika bahagia dan menangis ketika bersedih. Semua itu terasa monoton.”

Hyori mengembungkan pipinya.

“Kehidupan model yang elegan itu hanya di depan kamera. Kau tidak pernah melihat di baliknya. Jika kau melangkah lebih jauh. kau akan mendapat banyak saingan dan terlebih kau harus bisa mengalahkan waktu.”

“Waktu??”

“Kau tidak bisa memaksakan seseorang untuk tetap menyukaimu. Orang-orang mulai bosan dan kau akan semakin bertambah umur. Saat itu kau harus turun dari panggung dan digantikan oleh yang lebih muda.”

“Oppa~”

Sungmin mengambil sebuah majalah yang menampilkan sosok model cantik, “Mereka tersenyum didepan kamera, tanpa mereka sadari bahwa mereka tersenyum untuk semua orang yang melihatnya. Tubuhnya terekspose. Semua orang bisa melihatnya.”

Hyori menunduk.

“Oppa tidak melarangmu untuk menjadi model. Tapi Oppa tidak ingin kau di buang setelah mereka bosan padamu.”

>>deson<<

 

Seorang gadis melangkahkan kakinya dengan gontai. Matanya tidak terfokus, memandang luas langit jingga diujung batas sungai Han. Ia menghela nafas panjang tanpa menghentikan langkah kakinya. Ia seperti terhipnotis oleh warna jingga langit, terus menatap dan melangkah tanpa memperlihatkan sekitarnya.

Rambut panjangnya berayun di tiup angin. Bibir kecilnya bergetar menggumam tidak jelas. Dadanya begitu sesak. Seperti ada sesuatu yang menghimpitnya. Sesuatu yang sangat mengganggunya dan membuat pikirannya pergi entah kemana.

“Hei…”

Gadis itu menghentikan langkahkahnya. Ia mengigit bibir bawahnya.

“Nona bisakah kau menyingkir. Kau menghalangi objek-ku.”

Satu, dua, tiga. Gadis itu merespon dengan sangat lambat. Ia menoleh pada sumber suara itu. Ia memfokuskan pengelihatannya dan mendapati seseorang sedang beridri di balik kameranya.

Tik…. Tikkk…

Entah apa yang membuat air matanya terjatuh. Air mata yang selama ini tdak pernah bisa keluar. Keluar begitu saja dengan mudahnya.

Jprettt… jprettt…

Kilatan blizt mengenai wajahnya, membuatnya tersadar. Ia segera mengalihkan pandangannya kemudian berlari sejauh mungkin dari orang itu.

 

>>deson<<

 

Sungmin mengamati layar kameranya. Wajah seorang gadis yang sedang menangis. gadis itu tampak tidak fokus dan terlihat sedih. Gadis itu seperti menahan rasa sakit yang begitu lama, tapi setelah tetesan air matanya jatuh ia seperti bisa lebih lega.

Ia tidak tau kenapa ia bisa mengambil wajah gadis itu. Ekspresi gadis itu sangat mengganggunya.

“Hyung…” Hyukjae menghempaskan tubuhnya di sebelah Sungmin.

“Mwo??” Sungmin tanpa menoleh pada Hyukjae, “aku mencium sesuatu yang tidak beres.”

“Ya~ hyung…” rajuk Hyukjae

Sungmin menatap Hyukjae, “Apa yang kau inginkan?”

Hyukjae mengeluarkan smile gummynya, “pinjam ponselmu?”

Sungmin mengerutkan keningnya, “Andwae???”

“Hyung… aku cuma ingin meminta nomor teman-teman modelmu bukan ingin merampok pulsamu seperti ikan itu.” Hyukjae melirik pada Donghae yang sedang mengetikan sesuatu di ponselnya

Plukkk… sebuah bantal mendarat di kepala Hyukjae.

“Ya~”

Musunsuriya??” Donghae menatap Hyukjae dingin.

“Aku hanya ingin meminta nomor temanmu bukan meminta pulsa untuk menelepon pacarku.” Ucap Hyukjae lantang.

“Ya~ bukankah kemarin kau sudah meminta no model-model Sungmin kenapa kau memintanya lagi.” tanya Donghae

“Bukan urusanmu.” Jawab Hyukjae ketus.

“Dan apa maksudmu aku merampok pulsa Sungmin?”

“Sungmin-i kau mau memberikan ponselmu tidak?” tanya Hyukjae yang kesal melihat Sungmin yang terus menerus membolak-balikan terfokus pada kameranya.

“Bagaimana jika aku tidak mau memberikannya???” ucap Sungmin datar.

“Ya~ bagaimana kau bisa melakukan hal itu pada saudaramu sendiri?? Kau harusnya membantuku. Bukannya malah….” Hyukjae semakin kesal gara-gara Sungmin tidak menatapnya, “Aissshhhh…”

“Apa yang sedang kalian ributkan?” Nyonya Lee masuk dengan membawa 3 gelas Jus jeruk untuk putra-putranya.

“Eomma~” Hyukjae langsung menghampiri ibunya, “Sungmin tidak mau memberikanku no temannya.”

“Aigooo…” Nyonya Lee menatap wajah putra-putranya, “kalian itu sudah besar tapi masih saja kekanak-kanakan.  Masih saja bertengkar untuk hal yang sepele.”

“Bukan aku yang memulainya, semua itu gara-gara Hyukjae.” Ucap Donghae.

“Ya~ kau yang memulai pertengkaran ini.” sahut Hyukjae.

“Kau yang membawa-bawa aku.”

“Aku tidak membawamu, kau saja yang merasa tersindir.”

“Kau yang…”

“Stoppp…” Nyonya Lee memijat keningnya, “Hentikan pertengkaran konyol ini… kepalaku rasanya mau pecah.”

“Eomma…” Rajuk Hyukjae.

Nyonya Lee menepuk pipi Hyukjae, “Berhentilah bersikap manja dan temukan seseorang yang pantas untukmu. Dan kau Donghae-ah… berhentilah bermain di belakangku dan bawa kekasihmu ke hadapanku.” Nyonya Lee mengedarkan pandangannya kemudian berhenti pada Sungmin, “Kau juga Sungmin-ah… carilah seseorang yang pantas untukmu.”

Nyonya Lee mengambil nampannya kemudian meninggalkan kamar putranya sambil menggerutu, “kalian itu sudah besar tapi masih saja kekanakan.”

 

>>deson<<

 

“Haneul-ssi apa kau sudah baikan?”

Gadis bernama Haneul itu menggangguk. Ia kemudian mengambil segelas jus jeruk kemudian meminumnya hingga habis.

“Sudah jangan terlalu dipikirkan.”

“Yeosin-ssi… bisakah kau merahasiakan ini.”

Gadis bernama Yeosin itu menggaguk, “tentu saja.”

Haneul tersenyum.

“Aku sudah melihat hasil rancanganmu. Bagus. Apakah kau mau menjadi membuatkan rancangan untukku?” ucap Yeosin, “Aku punya sebuah galeri dan lumayan sering di liput. Kau bisa mempromosikan rancanganmu disana.”

Haneul berpikir sejenak kemudian menggangguk, “Kau sudah terlalu banyak membantu. Gomapta.”

“Mulailah meyibukan diri. Kau terlihat sangat menyeramkan akhir-akhir ini.” Yeosin membelai rambut Haneul, “Masa depanmu cerah. Jangan hanya bergantung pada seseorang yang sudah menyakitimu.”

Haneul menggagguk.

 

>>deson<<

 

Sungmin menatap tidak percaya pada gadis di hadapannya. Gadis itu memakai kaos putih sepaha dengan ikat pinggang putih besar yang ditutupi cardigan jingga. Rambutnya dikuncir kuda memperlihatkan lehernya yang putih. Bibirnya di lapisi lipgloss berwarna peach dan kakinya yang langsing terbalut dalam boot panjang hitam. Gadis itu

Gadis itu terlihart seperti sepotong jeruk segar yang di taruh dalam piring buah. Begitu menggoda. Ia tampak segar di tengah cuaca dingin ini.

“Sungmin-ssi, perkenalkan ini Jung Haneul. Yang akan merancang beberapa busana untuk musim semi depan. Dia baru saja lulus dari sekolah design Paris dan kuharap kalian bisa saling berkerja sama.” Ucap Yeosin

Sungmin menggangguk kaku.

“Haneul-ssi… Ini adalah fotografer kami, Lee Sungmin.”

Haneul membungkuk ramah.

“Eonni~~~~” Hyori yang baru datang langsung memeluk Yeosin, “Eonnii… bogosipta…”

Yeosin tersenyum, “Hyori-ah… kenalkan ini Haneul.”

“Ini Hyori… model kecil yang baru belajar, ku harap kau bersabar karena setan kecil ini agak manja.” Ucap Yeosin pada Haneul yang langsung di sambut oleh cibiran Hyori.

Haneul tersenyum melihat pemandangan yang baru baginya. Ia berharap semoga ia bisa diterima oleh keluarga baru ini.

Sungmin melihar kedua ujung Haneul yang tertarik keatas, membentuk senyuman. Senyum merekah seperti pelangi. Ia bisa melihat pelangi itu… pelangi yang di biaskan oleh kedua mata cantik itu.

Haneul. Seperti langit di Sore hari, selain berwarna jingga, ada satu kisah yang membuatnya penasaran. Kisah apa yang terjadi pada hari. Saat ia menangis di awal pertemuan dan tertawa di pertemuan berikutnya. Seperti sebuah cerita, Haneul mampu melukiskannya dalam sebuah ekspresi.

“Langit yang penuh ekspresi.”

 

>>deson<<

 

Sungmin tidak pernah bisa berhenti mengambil gambar di depannya. Ia selalu kecanduan untuk mengabadikan gambar yang menurutnya unik. Itulah yang membuatnya betah di bidang fotografi.

Seperti sekarang matanya tertuju pada langit kecil tak jauh darinya. Gadis itu sedang termenung sambil menopang dagunya dengan tangan. Seperti langit kelabu, langit kecilnya seolah tenggelam dalam warna kelam langit.

Sungmin mengambil melihat beberapa gambar saat salju jatuh di belakangnya. Ia memfokuskan lesanya pada lilin kecil di belakang gadis itu. Gadis yang termenung di tengah salju. Langit kecilnya.

>>deson<<

 

“Sungmin-ssi…”

Sungmin menoleh dan mendapati Haneul mendekatinya.

“Apa kau sudah melihat rancanganku?” Tanya Haneul

Sungmin menggangguk, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Aku sudah melihatnya.”

Haneul menggangguk, ia lalu menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga.

“Haneul-ssi…”

Haneul menatap Sungmin.

“Bagaimana jika kita makan siang sambil membicarakan project kita.”

Haneul menatap Sungmin sejenak kemudian menggagguk.

Mereka duduk berdua di sebuah kafe tidak jauh dari studio mereka duduk berhadapan dan saling bertukar cerita. Haneul yang periang dengan mudah bercerita kepada Sungmin. Sungmin pun dengan senang hati mendengarkannya.

Langit di hadapannya tersenyum cerah. Binar matanya bersinar dan pelanginya merekah.

“Aku dengar kau tidak suka memotret wajah perempuan?” ucap Haneul.

“Ya aku memang tidak suka. Karena ekpresi wajah itu sangat monoton.”

“Monoton?”

“Aku mengambil sebuah sudut lain ketika memotret selalu mengambil gambar dari sudut pandang yang berbeda. Tapi ketika mengambil gambar wajah seseorang. semuanya terlihat sama. Tertawa dan menangis.”

“Bukankah selalu ada alasan untuk tertawa dan menangsis?” Haneul menghisap jus jeruknya, “Bukanklah foto itu juga tempat untuk menyimpan kenangan? Aku selalu ingin memotret orang yang aku sayang. Selalu ingin mengingat wajahnya dan selalu ingin melihat senyumnya. Jika kita kemudian nanti bersedih. Aku akan membuka foto itu dan melihatnya tersenyum.”

Sungmin menatap gadis di hadapannya. Kenangan. Ia tidak pernah memotret apapun kecuali benda mati. Menghidupkan benda-benda itu dalam sebuah kertas.

“Aku mempunyai dua orang adik dan kami kadang berfoto bersama. saat bermain. Saat bosan dan yah… kami menjadikannya sebagai kenangan.”

“Kau mempunyai dua orang adik?” tanya Sungmin diikuti anggukan Haneul, “Aku juga… tapi kurasa mereka tidak bisa dikatakan adik.”

Haneul mengerutkan keningnya, “Wae??”

Sungmin menghela nafasnya, “Hyukjae lahir 3 menit setelah aku dan Donghae 9 menit setelah aku. Aku merasa mereka seperti teman dari pada adik.”

Haneul membulatkan matanya, “jinjja??? Jadi kau kembar 3?”

Sungmin menggangguk, “tapi kami benar-benar tidak mirip.”

“Aku jadi ingin melihat saudaramu.”

Sungmin menggangkat sebelah alisnya, kemudian menggulum senyumnya, “nanti kau akan kukenalakan pada mereka dan kedua orang tuaku.” Sungmin lalu meneguk kopinya dengan gugup.

“Jinjja?? Wah pasti ramai sekali rumahmu.” Haneul menyuapkan makanannya kemulutnya lalu mengunyahnya perlahan, “Apa aku harus membawakan makanan?”

Wajah Sungmin memerah. Ia seperti sedang mengajak gadisnya ke rumah orangtuanya. Sungmin menatap lekat wajah Haneul. Ia ingin membuat Haneul jadi langit yang menghiasi hidupnya. Satu-satunya gadis yang tidak akan membuatnya sedih.

>>deson<<

 

Sungmin menatap jauh ke seorang gadis. Entah apa yang ada di pikirannya ia ingin penasaran dengan gadis itu. satu-satunya gadis yang telah mengubah pikirannya terhadap fotografi yang di cintainya.

Donghae sering meledeknya karena ia lebih senang berkencan dengan kamera dari pada seorang gadis. Tapi ia rasa Donghae salah, sekarang ia lebih menginginkan gadis itu dari pada fotografi.

Bukanklah foto itu juga tempat untuk menyimpan kenangan? Aku selalu ingin memotret orang yang aku sayang. Selalu ingin mengingat wajahnya dan selalu ingin melihat senyumnya. Jika kita kemudian nanti bersedih. Aku akan membuka foto itu dan melihatnya tersenyum.

Sungmin segera mengatur lensa kameranya. Ia sengaja tidak mengunakan blizt dan mengatur autofokus seadanya. Ia ingin mengambil gambar dengan sederhana. Sesederhana gadis itu.

Gadis itu tersenyum saat bercanda dengan teman-temannya, gadis itu tertawa. Ia mengerutkan keningnya saat ia merasa tidak suka dengan idenya sendiri. Ia akan termenung dan melihat buturan salju jatuh.

Sungmin beranjak ketika gadis itu pergi dari butiknya. Dengan perlahan Sungmin mengikuti gadis itu. bodoh. Ia seperti seorang penguntit.

Tapi ia benar-benar ingin mengabadikan hari ini. Hari yang tidak pernah ia lupakan. Hari dimana ia menyadari. Bahwa ia menyukai gadis itu.

The day when I loved you.

 

>>deson<<

 

“Sungmin-i…” tepukan Hyukjae membuat Sungmin tersadar. Sungmin mengalihkan tatapan Donghae yang sedang tidak sadarkan diri di kamar. Ibu mereka menangis di samping Donghae.

Sungmin bisa melihat mata Hyukjae yang merah. Hyukjae pasti menangis. Sungmin menepuk bahu Hyukjae sesaat kemudian pergi dari kamar Donghae. Ia tidak sanggup melihat ibunya dan Hyukjae menangis.

Sungmin mengambil kunci mobilnya. Ia memukul stir mobil sebelum menjalankannya. Ia menggenggam tangannya dengan erat. Ia kemudian mengemudikan mobilnya kesuatu tempat. Ia butuh penyegaran. Ia butuh seseorang untuk bersandar.

>>deson<<

 

Haneul baru saja mengunci butiknya ketika ia melihat Sungmin di depan butiknya. Sungmin terlihat kacau. Ia terlihat pucat.

Haneul membawa Sungmin masuk kedalam butiknya dan membawakan segelas kopi panas. Dengan penuh perhatian ia melihat Sungmin. Ia menunggu pria itu bicara.

“Apa kau ingin kopinya lagi??” tanya Haneul saat melihat gelas Sungmin yang sudah kosong.

Sungmin menggeleng.

Haneul menggangguk, “hmmm… Aku tidak menyangka jika Hyori belum genap dua puluh tahun.”

Sungmin menggangguk, “Gadis itu hanya badannya yang besar tapi pikirannya masih kanak-kanak.”

“Sama sepertimu. Seorang anak yang terkurung dalam tubuh dewasa.” Ucap Haneul yang membuat Sungmin membelakakan matanya, “Seorang anak yang tidak tau apa yang harus dilakukan oleh nya… seorang anak yang tersesat dalam tubuh dewasa.”

Sungmin tersenyum miris, “Karena aku lahir terlebih dahulu. Aku selalu yang paling didewasakan.”

“Aku Hyukjae dan Donghae…,” Sungmin menatap langit-langit ia berusaha untuk menahan tangisnya, “Donghae mudah sakit, ia sakit sejak lahir, ia selalu mendapat perlakuan Khusus dari Eomma dan Appa… saat Donghae sakit maka Hyukjae yang menangis. Hyukjae dia yang manja selalu mendapat perhatian Eomma… dia sangat kekanakan dan mudah menangis. dan saat Donghae sakit maka aku yang akan menenangkan Hyukjae.”

“Donghae mempunyai kekasih sejak di bangku sekolah menengah. Shim Chaesun. Tapi hubungan itu tidak di setujui oleh keluarga Chaesun. Mereka tidak menerima Donghae karena ia sakit.”

“Tadi kami menerima telepon dari kantor polisi, bahwa Donghae ditemukan pingsan di dekat rumah Chaesun. Keluarga itu mengusir Donghae dan penyakit Donghae kambuh. Dia tidak sadarkan diri selama 4 jam.”

Haneul menggenggam tangan Sungmin, “Semuanya akan baik-baik saja.”

Sungmin merasa baikan setelah melihat senyum Haneul.

>>deson<<

 

“Bagaimana keadaan Donghae?” tanya Haneul sambil menyerahkan segelas jus jeruk.

“Dia sudah sadar. Eomma ingin membawanya ke New York.”

Haneul tersenyum, “Donghae pasti sembuh dan menemukan gadis lain yang lebih baik.”

Sungmin menggangguk, “terimaksih sudah menghiburku.”

“Oppaa~~~” Hyori berlari ke arah Sungmin, “Mianhae telat.”

“Kau dari mana? kami sudah menunggumu lama sekali.”

Hyori memamerkan deretan gigi putihnya, “Mianhae Oppa~… sulit sekali meminta Kyuhyun untuk mengantarku. Dia sangat perhitungan.”

“Kyuhyun? Neoneun Oppa??” tanya Haneul penasaran.

Hyori bergidik, “Ani… dia cuma anak tetangga.”

Sungmin tersenyum, “Kyuhyun adalah teman dekat Hyori sejak lahir. Mereka memang akrab, dan selalu saja bertengkar.” Jelas Sungmin pada Haneul.

Haneul menjawabnya dengan menggangguk.

“Ayo mulai pemotretannya…” Hyori menarik-narik tangan Sungmin

>>deson<<

 

Senyum cerah Haneul tidak memudar. Bicara dengan Sungmin membuatnya nyaman. Meski mereka baru beberapa bulan kenal tapi mereka sudah seperti kenal sejak lama. Bersama Sungmin juga bisa mengobati rasa sakitnya. Bahkan Sungmin mengajaknya untuk menjenguk Donghae.

Haneul menatap pria yang sedang bermain gitar di hadapannya. Gitar berwarna pink itu tampak mencolok dimatanya tapi jika di pakai oleh Sungmin malah terlihat sweet.

Meskipun mereka berkata tidak

Akan kututup telingaku…

Meskipun mereka menggodaku

Akan kututup mataku…

Karena bagiku… cukup hanya kau seorang

Penguasa hatiku…

 

Dan di bawah langit ini aku bersumpah

Bahwa kau makhluk terindah yang kulihat

Takkan pernah ku lepaskan genggamanmu

Takkan pernah ku ingkari janjiku

 

(Promise by: 6-Nies)

Suara Sungmin mengalun indah dengan petikan gitar yang begitu sempurna. Belum lagi lirik yang menyentuh, membuat Haneul melayang ke langit tujuh. Haneul menggengam tangannya erat. Ia menatap Sungmin ragu.

“Kenapa?” tanya Sungmin saat melihat ekspresi Haneul yang menjadi murung.

“Aniyo…” ucap Haneul gugup.

“LEE HYUKJAE…” sebuah teriakan terdengar dari bawah.

“Eomma~” Ucap Sungmin lalu meletakkan gitarnya.

“Kau tau siapa dia? Dia masih kecil. Kau mau berpacaran dengan anak ingusan seperti dia. Aigooo Hyukjae-ah ditaruh dimana otakmu itu huh??” teriak Nyonya Lee

Sungmin dan Haneul bertukar pandang.

“Sungmin-i…” Hyukjae masuk kedalam kamar Sungmin, “kenapa kau tidak mengatakan padaku jika Jiyoo itu belum genap dua puluh tahun huh?”

Sungmin mengedikan kepalanya, “kau tidak bertanya.”

“Lee Hyukjae…” Nyonya Lee berhasil mengejar Hyukjae ke kamar Sungmin. Ia hendak mengeluarkan sumpah serpah dan ribuan mantra untuk mengomeli Hyukjae. Tapi sebelum itu keluar ia sudah melihat Haneul.

Haneul tersenyum manis lalu membungkuk hormat pada Nyonya Lee.

Nyonya Lee lalu mengambil sikap ia membalas senyuman Haneul, “berapa umurmu??”

“23 tahun.”

Nyonya Lee tersenyum, “Cantik sering-seringlah main kemari.”

Haneul tersenyum begitu juga dengan Sungmin.

“Hyukjae-ah pergi kau dari sana jangan ganggu Hyungmu.”

Hyukjae mencibir, “kau beruntung ming.”

Sungmin menggaruk kepala yang tidak gatal. Ia merasa salah tinggah.

Sungmin mendekati Haneul, “Jung Haneul-ssi, bagaimana jika kita menikah saja.”

 

>>deson<<

 

Haneul menatap sketsbooknya tanpa minat. Pikirannya meracau kemana-mana. Ia bahkan tidak bisa menciptakan satu design pun.

“Kau kenapa??? Akhir-akhir ini kau lebih ceria tapi kenapa murung lagi?” tanya Yeosin.

“Sungmin menyatakan cintanya padaku.” Ucap Haneul datar.

“Itu bagus.”

“Apanya yang bagus. Aku baru saja patah hati dan…”

“Bukankan obat patah hati itu dengan cinta??? Lupakan kau patah pernah patah hati dan lihatlah Sungmin itu pria baik. Pria yang tidak mungkin meninggalkan mu dan menikah dengan orang lain.”

Haneul menatap Yeosin sesaat.

“Lupakan Park Jungsoo… lupakan pria yang sudah menghianati dirimu dan menikah dengan sahabatmu sendiri.”

Haneul menggeleng, “tidak… semua itu salahku… aku yang salah mengartikan perasaan Jungsoo Oppa.”

“Kau tidak salah.” Ucap Yeosin tegas, “Jungsoo yang keterlaluan dia mempermainkanmu dan menghamili sahabatmu. Dia hanya ingin bermain main dan lihat Sungmin. Dia serius.”

Haneul menggeleng.

“Lihat matanya saat dia menatap matamu. Semua orang pasti bilang jika dia menyukaimu. Dia tulus.”

Haneul menunduk dan memainkan jari-jarinya, “tapi bagaimana jika…”

Yeosin menggeleng, “dia serius.”

 

>>deson<<

 

Haneul masuk kedalam studio Sungmin ketika ia melihat Hyori berteriak ke arah Sungmin. Gadis itu menatap Sungmin dengan tajam dan mengerluarkan kata-kata tinggi. Gadis itu terlihat sangat buas lebih dari yang dibayangkan Haneul.

“Kau pembohong. Kau tidak pernah mau memotret wajahku. Kau bilang itu hanya manipulasi. Kau bilang ini itu tapi sekarang…” Hyori memelemparkan tumpukan foto ke arah Sungmin.

Haneul melihat foto wajahnya secara jelas. Wajahnya yang sedang sedih. Wajahnya ketika tersenyum. Semua foto itu seperti nyata seperti benar-benar hidup. Belum lagi fokus dan perpaduan warna yang mencolok. Gadis dalam foto itu seperti putri dalam cerita dongeng.

“Kenapa harus dia Oppa… kenapa??? Padahal aku yang lebih dulu masuk kedalam hidupmu. Aku yang selalu ada disampingmu. Tapi kau tidak pernah melihatku. Aku bahkan menolak semua pria agar bisa berjalan denganmu.”

“Hyori-ah…”

Haneul merasa dunianya berputar. Ia merasa pernah mengalami kejadian seperti itu. saat ia melempar testpack ke wajah Jungsoo dan memakinya dengan seribu kata dan sisi lain Sanni menangis tersedu-sedu. Ia merasa terkhianati. Tidak hanya oleh sahabat tapi oleh kekasihnya juga.

Saat itu ia berjalan mengikuti angin. Ia tidak peluduli jika harus mati tenggelam di sungai Han.

Haneul membalikan badannya. Ia benci. Kenapa ia harus berada di tempat yang salah lagi. Dulu diantara Jungsoo dan Sanni dan sekarang diantara Hyori dan Sungmin.

Bruk…

Hyori menyenggolnya saat mereka berpapasan di pintu. Hyori berlari meninggalkan Haneul. Dia berlari tanpa melihat keadaan jalan.

“Hyoriiii-ah…”

Ttiiinnnnn….

Sungmin mengejar Hyori tapi sayang sebuah mobil hyundai hitam sudah menabrak Hyori. Gadis itu terpental cukup jauh.

Haneul membekap mulutnya tidak percaya. Ia segera mengejar Sungmin yang berlari kearah Hyori.

 

>>deson<<

 

Haneul membekap lututnya dengan erat.  Salju yang turun menumpuk membuat tanah dan pohon memutih. Ia mengacungkan telunjuknya dan membuat sebuah tulisan dari embun di kaca. Sungmin. Lee Sungmin.

Haneul menghembuskan nafas kemudian mengambil ponsel dan mengetikan sesuatu untuk Yeosin.

To: Han Yeosin-ssi

Aku akan melanjutkan studiku di Paris. Sampai jumpa.

Haneul tersenyum saat melihat pesan itu terkirim.

Keputusannya sudah bulat. Jika ia terus berada Korea, Ia takut akan menghancurkan hubungan Jungsoo dan Sanni dan juga hubungan Hyori dan Sungmin. Ia akan ke Paris dan mengakhiri semua segitiga ini.

>>deson<<

 

Hyori sama sekali tidak berniat menatap wajah Sungmin. Ia bahkan tidak bicara sama sekali. Kakinya yang retak di balut gips dan mungkin ia tidak bisa menjadi model lagi.

Sungmin menundukan wajahnya menyesal. Yeosin baru saja meneleponnya dan mengatakan bahwa Haneul akan pergi ke Paris.

Haneul atau Hyori.

Keduanya sangat berarti baginya.

Sungmin menarik nafasnya. Ia harus memilih dan harus.

“Hyori-ah… mianhae…” ucap Sungmin perlahan, “Kau sudah seperti adik bagiku.”

Hyori menoleh pada Sungmin, “Wae Oppa… kenapa? Kenapa kau tega melakukan ini padaku? Apa karena aku tidak sempurna lagi?”

Sungmin menggeleng, “Bukan… Tapi karena ada alasan lain.”

“Apa??”

“Karena Aku tidak ingin kehilangannya. Sama seperti bumi yang memerlukan langit. Aku memerlukan dia untuk berlindung dan dia memerlukan aku untuk berpijak.”

Hyori meneteskan air matanya.

“Jika kau jatuh cinta nanti, kau akan mengerti.”

“Aku mencintaimu, Oppa~”

Sungmin menatap Hyori sesaat, “Hyori maafkan Oppa… tapi oppa benar-benar tidak bisa melepaskannya.”

Sungmin mengambil jaketnya kemudian meninggalkan ruang rawat Hyori. Saat di pintu ia berpapasan dengan seorang pria. Pria itu menatapnya tajam. Kyuhyun. Ia tau pria itu Kyuhyun.

>>deson<<

 

Haneul meniup jeruk panas di tanggannya. Ia tersenyum miris saat mendapati dirinya hanya menghabiskan waktu beberapa bulan di Korea. Ia masih ingin di Korea tapi juga ingin pergi jauh dari Korea.

“Haneul-ssi… Kenapa kau pergi?”

Haneul membatu. Ia menoleh dan mendapati Sungmin setengah berlari kehadapannya.

“Apa kau akan membiarkan aku begitu saja?? Kau bahkan belum menjawab lamaranku?”

Haneul mengalihkan pandangannya, “Bagaimana Hyori?”

“Dia baik-baik saja.”

“Harusnya kau ada disampingnya.”

Sungmin memiringkan kepalanya, “Kau cemburu?”

Haneul membulatkan matanya.

“Jika kau tidak cemburu. Kenapa kau pergi?”

Haneul menghirup udara sebanyak mungkin, “Aku hanya ingin meninggalkan kenangan buruk.”

“Kenapa ingin meninggalkan kenangan buruk jika kita bisa membuat kenangan yang manis.”

Haneul terdiam. Ia tidak mampu membalas tatapan Sungmin.

Sungmin mendekati Haneul, “Aku sering mengatakan Donghae bodoh. Bodoh karena mempertahankan gadis yang hanya membuatnya sakit. Sekarang aku tau rasa sakit itu tidak sebanding dengan sakit yang akan dirasa saat kita kehilangan gadis itu.” Sungmin menarik Haneul kedalam pelukannya, “Jangan tinggalkan aku, Jung Haneul-ssi.”

“Sungmin-ssi…” Haneul menitikan air matanya.

Saat ia melihat Jungsoo dan Sanni.. ia tidak bisa menangis. Ia bisa menangis saat melihat Sungmin. Saat dengan Sungmin ia bisa tertawa dan dengan Sungmin ia bisa melupakan Jungsoo.

“saranghandago hanboman marjuseyo…” ucap Sungmin pelan.

“Saranghaeyo Sungmin-ssi.”

Finn~~~~

 

 

That’s why I don’t like triangle love story. Karena ga adil pasti ada yang g enaknya… /emang authornya g bakat bikin cinta segitiga/

semoga Sungmin kaka dan kak Dina menyukainya kekekekeeeee….

HAPPY BIRHTDAY SUNGMIN OPPA~~~

Dan untuk Hyori tralala trilili~… masih ada lanjutannya kok…

Aku kan g jahat jahat amat… kkkk mau di pasangin sama siapa??? /Yoo jaesuk/Lee Gwang soo/Shin Hyung Rae/David backham/David Coperfil/atau amithabacan???/

^^v

Previous Post
Next Post
Leave a comment

19 Comments

  1. first at all… happy sungmin day ^^

    hmm.. bingung mau komen aph disini..
    yg jelas smua member 6-Niez da dlm ff ini..
    ah lupa.. happy hyori day^^
    kapan pesta ultah nya drayain..
    dtunggu makan”nya dr ming oppa n hyo..

    Like

    Reply
  2. Heymey

     /  January 1, 2012

    Ninggalin jejak dulu…….
    *)€a
    oh iya,,
    “Happy New Year”
    moga di tahun bru ini, karya eonnie makin bagus,..,,,

    Like

    Reply
  3. Bwahahahaha~ maap yoo ngakak teh, apalagi bagian Donge yang katanya sakit2an. xD
    somehow, it was funny.. xDD

    Nah~ hyo jadi orang ketiga. -__-
    syuda nah sana sama bebekyu ajah, jangan ganggu pasangan adem ayem papapanda ama bundajumma. xD

    Happy birthday, Ming~~~ :*

    Like

    Reply
  4. HAHHAHAHHAHAHAHAHAHAHA…………………..
    terima kasih banyak sebelumnya, tapi………………
    TETEH… PILIHANNYA =_________________=
    kurang puas ya bikin aku gagal jadi model ? /kibasbulumata
    song joongki atau yoo seungho aja gimana ? /tendangkyu..
    atau kim heechul ?😀 /dibunuh

    HAPPY MINEUL DAY😄
    AW AW AW AW~~~~~~
    keromantisan couple ini emg ga ada tandingannya :3
    btw itu lagu 6-NIES asyik bener dah😄

    dan LEE brothers~ kembar 3 /ngakak/
    anyway, hyori’s day~ bagi yang menanti traktiran, harap ditunggu..
    kak ika(n) nanti aku traktir ikan nemo bakar aja ya ? :3

    Like

    Reply
    • Song Joongki atau Yoo sengho??? boleh ntar tth pikirin kalo Heechul??? hmmmm kasian dia lagi wamil kkkk
      mau ikan memo bakar zzzz

      Like

      Reply
  5. utit

     /  January 3, 2012

    b^^d

    Like

    Reply
  6. Neng…. ~~ jadi ini hasil dari what’s app malem itu, hebat euy!! langsung jadi karyanya..😉 paling suka yang pas kata2 ini.. Haneul. Seperti langit di Sore hari, selain berwarna jingga, ada satu kisah yang membuatnya penasaran. Kisah apa yang terjadi pada hari. Saat ia menangis di awal pertemuan dan tertawa di pertemuan berikutnya. Seperti sebuah cerita, Haneul mampu melukiskannya dalam sebuah ekspresi.
    “Langit yang penuh ekspresi.” Kyaaaa, suka bangeeet!! •(>̯┌┐<)•°
    Sungmin menatap lekat wajah Haneul. Ia ingin membuat Haneul jadi langit yang menghiasi hidupnya. Satu-satunya gadis yang tidak akan membuatnya sedih. AAAAAAAAA~ ~ melting…😉
    Seorang anak yang terkurung dalam tubuh dewasa, kkkk, itu kata-kata yang sering Haneul ucapkan buat Sungmin, hwhwhwh XDD
    Makasiih neng sudah dibuatkan cerita yang aku suka sekaliii.. *peyuuuuuk*

    Like

    Reply
    • Iya kemaren tuh ngetik sambil whats-up an eh malah keasikan what up-an ketikannya di tinggal kkkk…
      sama-sama kak /cium umin (?)/

      Like

      Reply
  7. Reblogged this on orangepumpkingirl and commented:
    fufufu.. dibuatin cerita syupesial birthdaynya Lee Sungmin… ^-^ Gamsahaeyo Han Yeosin-ssi.. *hughug* for All reader, happy reading…😀

    Like

    Reply
  8. tivaclouds

     /  January 4, 2012

    Lho…twoshoot tapi kok udah fin?kirain ada lanjutannya.jadi next story itu critanya hyori ya??

    Haha…itu sungmin,hyuk,hae kembar 3? Aigo…pasti emaknya stres mikirin mereka, kekeke

    Like

    Reply
  9. vanny

     /  January 4, 2012

    suka……suka……..suka hahahahha
    kasian amat ya hyori, cintanya ditolak mentah2 hahahaha
    mau bilang apa lagi ya?? dari awal ampe akhir onnie suka
    pakagi yg pas sungmin moto haneul diam2..ntah knapa berasa romantis buatku wakakakakaka

    Like

    Reply
  10. Ommo.. Daebak.. #miris

    Triangle story,,terkadang,,memang cinta harus ada yg berkorban.. Ckckcjj #tipatkay

    Sangeil chuka hamnida..^^ uminn brow..

    Like

    Reply
  11. woaahhhh…ceritanya bagus
    gaya bahasanya jg enak, g kaku
    hyori sma kyu!!! yg setuju ngacung! haha

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: