CoffeeMilk 30 It’s Not ‘bout Friendship

CoffeeMilk 30 It’s Not ‘bout Friendship

“Ada satu masa dimana kita merasa sangat lemah dan membutuhkan orang lain untuk bersandar.”

Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah. Sepi. Tidak ada suara music yang mengalun, tidak ada dialog yang di putar di televisi, tidak ada suara teriakan. Seperti tidak ada siapapun dirumah itu padahal ada dua orang yang sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Ketika dua orang dalam ruangan yang sama, dengan pikiran yang sama, dengan hati masih dengan tujuan yang sama. Hanya saja EGO yang membungkus keduanya sangat tebal hingga mengalahkan semua rasa yang ada.

Ketika ego itu masih melekat di hati keduanya. Mereka berdua sama-sama bertanya kenapa, tapi karena tidak ada yang bertanya atau menjawab mereka hanya diam dan perlahan sakit menyerang mereka. mereka terluka. Tapi karena ego, mereka tetap berdiri dengan tegap seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka bersikap biasa-biasa saja padahal hati mereka menangis.

Seseorang yang hatinya sudah termakan oleh ego. Seberapa besar kesalahannya, ia akan merasa ia adalah orang yang tersakiti. Meski luka yang ia dapatkan tidak seberapa dibandingkan dengan luka yang ia berikan untuk orang lain.

Ia juga sadar oleh hal itu. Ia menangis tapi tangis itu tidak berguna. Seandainya air mata bisa mengobati sebuah luka maka ia butuh jutaan litter air mata untuk mengobati luka itu.

Lagi dan lagi ego menguasai hatinya. Ia tau telah melukai seseorang, ia sadar itu. Ia ingin meminta maaf dan dia memaafkan dan mereka akan kembali seperti dulu lagi. kemudian sebuah pemikiran melintas. Bagaimana jika dia tidak memaafkan karena luka yang ia berikan sangat besar. Mungkin dia akan membencinya.

Dia urungkan niatnya karena sebuah pikirannya yang belum tentu kebenarannya. Sebuah pemikran sepihak dan terlalu menjugde. Bagaimana tidak dikatakan menjugde. Niat yang belum di jalankan hmm… mungkin hanya di jalankan selangkah tapi kemudian dia berpikiran buruk.

Jika aku bertanya padamu, apa yang kau akan lakukan untuk mereka??

Maka aku akan menjawab aku tidak bisa berbuat apa-apa. Karena yang bisa mengubah mereka hanya diri mereka sendiri. Keduanya harus meredam ego mereka. Keduanya. Tidak ada gunanya jika hanya salah satu dari mereka yang meredam. Karena ego bukan perasaan yang terus berkembang di dalam hati.

Ego adalah persaan untuk satu peristiwa tertentu. Tidak untuk semua hal. Ego akan hilang dengan bicara tapi ia akan kembali tumbuh semakin besar saat kau membuka luka itu kembali dengan alasan yang tidak bisa di terima akal. Misalnya… pemikiran buruk itu.

Kau tau betapa jahatnya sebuah pikiran.

Pikiran bisa membuat sebuah niat. Niat bisa di lakukan. pikiran buruk bisa menutupi hati kita. Pemikiran bisa membuat suggestmen sendiri dan membuat pandangan berbeda.

Betapa jahatnya pemikiran itu. Padahal pemikiran belum tentu di laksanakan.

>>deson<<

Yeosin meringis membaca cerita itu. Babo~ bagaimana ia bisa memilih bacaan yang menggambarkan perasaannya dan Heechul saat ini. Mereka kini seperti orang asing yang duduk di dalam kerata. Mereka sama-sama tersesat tapi tidak ada yang mau bertanya.

Ia menunggu Heechul. Ia menunggu Heechul. Meski butuh lama untuk mendapatkan hal itu.

Yeosin akan menunggu meski menunggu adalah hal yang sangat di bencinya tapi ia mencoba untuk bersabar.

Bersabar

Meski ia juga jengkel dengantingkah Childhis Heechul.

Tapi Yeosin tidak punya pilihan. Seandainya Yeosin bisa. Mungkin Yeosin akan menampar Heechul di depan orang dan memakinya untuk mengeluarkan semua amarahnya. Tapi itu bukan dirinya, dan itu bukan pilihan yang tepat. Ia bisa melakukan itu tapi ia yakin itu bukan solusi yang baik. Heechul tidak akan mempercayainya Heechul tidak akan mendengarkannya.

Oleh karena itu ia menunggu Heechul dan padanya. Suatu saat saat pria itu sudah bisa membuka hatinya, meski hanya sedikit. Pria itu sudah bisa meredakan egonya.

Yeosin membuka akun twitter Heechul ia tersenyum. Entah sudah berapa lama ia tidak membuka akun itu. Ada twiit untuknya, tentang Heechul yang mengkhawatirkan keadaannya. Dan sisannya twit Heechul bersama wanita-wanita lain.

Ia tau Heechul melakukan hal itu untuk membuatnya cemburu. Tapi itu sama sekali tidak membuatnya cemburu. Tidak sama sekali.

Yang ia pikirkan adalah sampai kapan Heechul akan melakukan hal itu.

>>deson<<

“Kalian bukan anak kecil lagi. Kalian dewasa, sama-sama sudah tau mana yang baik tidak baik. Mana yang benar dan mana yang salah.”  Heechul menghembuskan nafas panjang saat ia mendengar nasihat ibunya.

“Kita perlu bicara.” Itulah yang diucapkan Heechul dua jam yang lalu. Tapi sampai sekarang pria itu masih dia diam sambil menunduk dan memainkan cincin nikahnya

Yeosin sendiri memeilih diam dan melihat Heechul. Ia tidak tau apa yang harus dilakukan apa yang harus pertama kali di bicarakan.

Huffft… Heechul menghembuskan nafasnya untuk kesekian kali. Ia kemudian menatap Yeosin.

“Tidurlah… besok kau ujian Kompre…” Heechul bangkit lalu meninggalkan Yeosin yang masih menatapnya penuh tanya.

Yeosin mendengus kesal ia beranjak ke kamar mandi kemudian membanting pintunya dengan kencang.

Heechul kaget mendengar pintu yang di banting itu. Tapi ia tidak tau apa yang harus dilakukan.

Heechul mengambil ponselnya dan menekan sebuah tombol.

“Eottokhae, Hyung kau berhasil??” ucap Hyukjae di sebrang sana.

Heechul menggeleng, bodoh bagaimana Hyukjae bisa melihat jawabannya, “Sepertinya tidak. Dia benar-benar marah.”

“Memangnya apa yang kau katakan?” tanya Sungmin

“Aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Selama dua jam kau tidak berkata apa-apa.” Suara Donghae.

Heechul menggangguk lagi

“Hyung… kau Hyung terbodoh yang ku punya.” Ucap Kyuhyun.

“Apa kau yakin ingin bercerai darinya??” tanya Leeteuk

Heechul merasa dadanya sesak. Selama mereka pacaran ia tidak pernah mengungkit kata putus tapi sekarang sepertinya ini memang jalan yang terbaik, “Jika yang meminta.”

Heechul kemudian menutup teleponnya tepat saat Yeosin keluar dari kamar mandi.  Ia mendecak saat melihat rambut Yeosin basah.

“Tch… ia pikir ini jam berapa???”

Heechul masuk ke kamar saat melihat Yeosin melepar hairdryer-nya. Hairdry itu memang sudah rusak.

Yeosin menatap Heechul dengan tajam.

“Bodoh kau pikir ini jam berapa?? Ini tengah malam Han Yeosin-ssi dan kau beraninya keramas saat besok pagi kau ada ujian.”

Yeosin menatap Heechul lekat. Seribu pertanyaan melekat di kepalanya tapi tak sanggup ia keluarkan.

Htshhhh…

Yeosin menutup hidungnya. Ia tau cairan bening itu sudah keluar dari tempatnya.

Heechul menatap wajah Yeosin yang memerah. Ia mendekati Yeosin dan memengang keningnya.

Hangat.

“Babo” ucap Heechul ia lalu menarik Yeosin kedalam pelukannya, “babo… baboo…”

Hiks…. Yeosin terisak di dipelukan Heechul.

>>deson<<

Yeosin menatap Heechul yang sudah terlelap tapi ia tidak terlelap sama sekali. Rambutnya masih basah tapi bukan karena keramas tapi karena keringat. Ia menarik selimut dan menutupi tubuh Heechul.

Ingin sekali ia menendang Heechul atas ucapannya beberapa menit yang lalu saat mereka hendak bercinta.

Heechul menatapnya seolah tidak ingin kehilangan dirinya dan berkata, “bolehkan aku melakukan hal ini untuk terakhir kalinya. Mungkin aku hanya akan mengenang ini saat kau bersamanya.”

Yeosin bisa melihat keraguan dalam hati Heechul.

Apa yang di pikirkan oleh pria itu? dia ingin bercerai? Kenapa??

Yeosin menggeleng cepat. Air matanya menetes di pipinya begitu saja. Heechul menggangguk

Apapun yang mereka lakukan sebelumnya terasa sangat menyenangkan tapi seolah menguap begitu saja. Heechul menginginkan yang terakhir. Lalu apa yang harus dia perbuat.

Heechul menarik selimutnya lalu pindah ke kamar tamu dan saat itu Yeosin ingin menangis tapi ia tidak bisa menangis.

Ia kemudian masuk kedalam kamar Heechul dan menatap pria itu saat tertidur. Wajah yang sangat ia sukai adalah wajah Heechul saat tertidur.

>>deson<<

Ujian komprehensip terdiri dari 5 matakuliah ini dengan waktu 3 jam dan 3 kuliah pembekalan. Masing-masing mata kuliah hanya di beri waktu 40 menit untuk menjawab semua soal.

Ujian diadakan 3 kali. Mereka yang belum lulus akan mengulang pada ujian ke dua dan jika tidak lulus juga mereka harus mengulang ujian ke tiga dan itu LISAN. Jika tidak lulus juga mereka tidak boleh ikut PKL. Itu artinya mereka harus mengulang satu semester lagi.

Yeosin sudah mengsms kedua orang tuanya meminta maaf dan restu, kakak dan adiknya juga pada oppadeul suju kecuali pada Heechul.

Yeosin langsung berlari masuk keruangan saat pintu terbuka. Ia langsung duduk di barisan paling depan. disebelah Jira yang duduk di pojok.

“Jaena mana?” tanya Yeosin pada Jira.

Yeosin melirik ke sebelah kirinya yang masih kosong dan sebelah sananya sudah diisi oleh anak laki-laki.

Yeosin melihat Jaena masih mencari tempat duduk. Lalu matanya beralih pada pada Jihyun yang mengicar tempat di sebelah Yeosin. Yeosin langsung merentangkan tangannya sambil menggeleng.

“Tidak boleh ini buat Jaena.” Ia sambil memeluk kursi kosong itu tak peduli dengan pendapat Jihyun. Ia tidak belajar semalam dan Jaena harus membantunya.

Jaena akhirnya duduk disebelah Yeosin. Yeosin tersenyum cerah. Ini kesempatannya. Mumpung mereka bisa duduk secara bebas dan tidak mungkin pengawas mengawasi mereka yang duduk di depan. Biasanya pengawas mengawasi mereka yang di belakang.

Ujian pertama auditing. Yeosin dan Jira melonggo saat mereka mendapatkan soal auditing masalahnya mereka sama sekali tidak membaca buku audit tercinta.

Ujian ke dua Sistem akuntansi, teori dan seperti biasa, Yeosin malas memengang buku yang sangat tebal. Apalagi membaca bukunya.

Ujian ke tiga Akuntansi Pemerintah… Yeosin sempat membaca Handout saat jalan bersama Haneul Eonni dan meski ia tidak yakin ia bisa lulus tapi ia tidak ingin berhadapan dengan Ms Moon jika saat ujian remedial.

Ujian ke 4 perpajakan. Ini yang membuat Yeosin tersenyum menghitung pajak. Entah karena jiwa matrenya kumat atau ia senang menghitung ia benar-menikmati soal demi soal hingga pada saat ia hendak menjawab soal ke 14 dosen pengawas berkata “lima menit lagi.” Yeosin meneguk ludahnya.

Untuk mendapatkan nilai standar mereka harus menjawab benar 17 pertanyaaan baru bisa lulus. Yeosin panik lalu menyilang asal jawabannya

“23 apa?” Jira bertanya pada Seohyun

“C” Yeosin mendengar langsung mengganti jawabnnya

“22??”

Yeosin tersenyum licik kemudian mencoret lembar jawabannya dengan buru-buru.

Ia mengecek jawabannya lagi. Ia lupa mengisi no satu. Yeosin memicingkan matanya lalu milirik Jaena.

“1” ucapnya pelan.

“B”

Huffft….

Ujian berikutnya adalah akuntansi keuangan. Hanya terdiri dari dua soal essay…

Good

Tapi Yeosin sama sekali tidak mengerti. Ia hanya nyengir dan berharap dosennya salah periksa dan ia bisa lulus.

Dari dua soal itu ia hanya bisa mengerjakan separuhnya. Ia sudah tidak bisa berbuat apa lagi saat ia dosen pengawas mengambil kertasnya.

Apa yang ia pikirkan padahal ia rencananya akan mengambil Akuntasi keuangan untuk TA-nya.

>>deson<<

Istirahat.

Yeosin mengecek ponselnya dan tidak ada pesan dari Heechul.

Jira dan Jaena mendiskusikan tentang topik yang akan mereka ambil. Semenatara Yeosin pergi dengan pikirannya sendiri.

“Katanya nomor Heechul bocor.” Ucap Chaesun

Apa? Kenapa? Bagaimana bisa? Sejak kapan? Siapa yang membocorkannya? Untuk apa? Apa yang terjadi?

Pertanyaan itu sepertinya menguap begitu saja dari otaknya. Tidak berbekas.

Yeosin kembali menekuni makannya. Masih ada banyak hal yang perlu dia pikirkan termasuk ujian pembekalan PKL.

>>deson<<

‘Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif’

Yeosin tidak tau sejak kapan nomor Heechul tidak aktif.

Yeosin memasukan ponselnya ke dalam tas.

>>deson<<

Heechul masuk kerumah dan mendapati hal yang sama. Sepi. Biasnya Yeosin menyalakan musik atau televisi. Yeosin selalu takut berada dirumah sendirian. Maka ia selalu membuat rumah dalam keadaan bersuara.

Heechul melihat Yeosin sudah tertidur di kamarnya. Gadis itu sepertinya kelelahan. Dia bahkan tidak mengganti bajunya.

Heechul membenarkan letak tidur Yeosin lalu meninggalkan gadis itu.

>>deson<<

“Ada yang ingin aku bicarakan.”

Yeosin menoleh dan menggangguk.

“Mianhae…”

Yeosin menatap kedua mata hitam itu.

“Junsu…”

“Junsu???” Yeosin mengerutkan keningnya. Ia marah pada Heechul karena membatalkan acara makan malam mereka. Yeosin menunggu di restoran dan Heechul tidak datang dan akhirnya ia makan bersama Junsu di tempat lain.

“Kau berduaan dengannya…” Heechul terlihat getir, “kalian tampak serasi.”

Yeosin menyunggingkan bibirnya.

“Kau terlalu berlebihan Kim Heechul-ssi. Kau begitu pencemburu. Aku makan dengan Junsu karena kau tidak datang.”

“Itu karena ponselku…”

“Aku tau…”

“Aku juga minta maaf karena sebelumnya aku marah padamu karena cemburu pada hal yang tidak beralasan. Tapi sungguh Kim Heechul-ssi aki juga marah padamu kenapa kau menginginkan aku untuk yang terakhir kalinya.”

“Karena ku pikir kau akan lebih bahagia dengan Junsu.”

Deg…

Yeosin merasa hatinya sangat sakit, “Kau…”

“Aku pikir kau akan meninggalkanku.”

“Kau tau… aku memang marah padamu tapi pikiranmu itu lebih menyakitkan dari apapun. Kau jahat Kim Heechul. Kau tidak mempercayaiku.”

“Han Yeosin-ssi.”

“Kau salah Kim Heechul-ssi… Aku memang dekat dengan Junsu tapi hanya kau yang mengenalku dengan baik. Itulah alasan kenapa aku memilihmu.”

>>deson<<

“Yeosin-ah kau tidak lulus.” Ucap Jaena saat Yeosin datang.

Yeosin membulatkan matanya, “Mwol???”

“Auditingmu tidak lulus.” Lanjut Jaena

Yeosin melihat penguman hasil ujian Auditing. Ia Jira dan Jaena dan puluhan mahasiswa lain yang tidak lulus.

“Mana yang lainnya?” tanya Yeosin penasaran.

“Belum ada.”

Yeosin semakin tidak tenang. Bagimana auditing ia bisa tidak lulus. Padahal ia sendiri bisa menjawab pertanyaan. Apa semua jawabannya salah karena ia sama sekali tidak membaca buku.

Yeosin kemudian meminjam buku Rosa. Iseng membuka halaman demi halaman.

“Ah~ ternyata jawabannya memang salah.” Guman Yeosin

“No 1 saja sudah salah.”

“Mwol??” tanya Jira dan Jaena berbarengan.

“Wae??”

“Aku melihat jawaban mu no satu.” Ucap Jaena diikuti anggukan Jira.

Yeosin memiringkan kepalanya, “Aku juga melihat jawaban kalian, karena jawaban kalian sama dengan ku makanya aku pikir jawabanku benar.”

Plaak… Jaena menjitak kepala Yeosin, “itu karena kami melihat jawabanmu duluan.”

“Jadi kita tidak lulus gara gara aku” ucap Yeosin frustasi.

>>deson<<

Pengumuan datang. Dosen menempel kertas di papan pengumunan dan seluruh mahasiswa mengerubutinya seperti semut menemukan gula.

“Yeosin-ah Sistem kau tidak lulus.” Jira

Yeosin semakin frustasi.

Yeosin mengintif ke bagian pajak, “Jaehyun… liatkan namaku.” Ucap Yeosin pada Jaehyun yang lebih tinggi.

“LuluS.”

Yeosin membulatkan matanya. LULUS… bagiamana bisa…padahal ia mengarang jawabannya.

Akuntansi pemerintah Lulus

Yeosin sebenarnya malas melihat pagian akuntansi keuangan toh dari 63 orang di kelasnya cuma 7 yang lulus dan hanya dua puluh persen dari 223 teman seangkatannya yang lulus.

Setidaknya ia tidak mengulang Akuntansi pemerintah – ia tidak akan bertemu dengan Ms Moon dan ia tidak akan ujian pajak karena ujiannya akan esaay dan jauh lebih susah dari yang pertama.

Untuk Audit dan sistem… rasanya masih berat membuka dua buku yang dibuat oleh profesor jenius yang tujuannya terakhirnya adalah membuat botak mahasiswanya.

>>deson<<

Yeosin membuka pintu apartemennya yang gelap. Harusnya Heechul sudah pulang. hffft… mungkin pria itu masih marah.

Teng…

Yeosin hendak menyalakan lampu ketika ia mendengar suara dentingan piano. Yeosin menoleh dan mendapati heechul duduk membelakanginya sambil memainkan piano. Hanya lilin-lilin kecil yang menjadi penerangan mereka.

Baro nae iyagi (my story)

Yeah~… this is a stupid song for naui babo yeojachingu

Because this is stupid love from babo namjachingu

Cause she keep smile even I hurt her…

She keep loving me, the way I am…

Da geuryeongeoji (It’s always like this)

Dangsineun naege miso (kau tersenyum di depanku)

Dangsineun naege useossda (kau tertawa di depanku)

Amugeotdo molla haneun jeopyeong jombwayo (look at you acting like you don’t know anything)

I know you hurt, wae jaguman utgimanhaeyo? (why do you keep smilling?)

Nan baboraso guron gabwa…(Maybe this is because I am a fool)

No have time to spend with you

Nan bappa, neomu bappa and you got it

Mianhae amugeotteo haejunge eomneun narajeo (I’m sorry because thre’s nothing I can do)

Nan nappeun, neomu nappeun and you know it

Igeot bakke halge Eopta, Nan eoddeokhalkka(There’s nothing else for me to do, What should I do)

Hajiman Saranghanda miina… (but I love you, beautiful girl)

Naega jinjja nege jalhalge… (I really will be good to you)

Baby Don’t lie…

(Stupid song by 6-Nies)

Heechul tidak meneruskan lagunya. Ia tau bahwa Yeosin sudah menangis. Heechul kemudian mendekati Yeosin dan memeluknya.

“Mianhae… mianhae… mianhae…”

Yeosin membalas pelukan Heechul, “berjanjilah kau akan selalu mempercayaiku.”

Heechul menggangguk… “Yakso”

“Satu lagi…”

“Aku remed”

Heechul terkekeh kemudian mencubit pipi Yeosin, “tch… kau berkata seakan kau tidak pernah mengalaminya saja.”

“Ya~ Kim Heechul-ssi… kalau aku gagal dalam ujian ini maka aku tidak bisa ikut PKl dan kau harus menunggu satu tahun untuk wisuda.”

Heechul memanyunkan bibirnya, “kalau begitu kau harus belajar.”

“Shirooo… buku-buku itu menyeramkan~~~”

Fin~~~

Okeh ini dari cerita ini adalah PERCAYA… percaya sama pasangan harus tapi percaya saat ujian hmmm… I so stupid… saya senang menertawakan kebodohan saya sendiri dan semoga di lain hari saya tidak terjebak dalam lubang yang sama.

Leave a comment

12 Comments

  1. hansungind(parkhyunchan)

     /  February 11, 2012

    semangat desoooooonnnn

    Like

    Reply
  2. ahh mereka pasangan seru kayaknya~
    mana cowoknya labiiil hahaha
    aku suka gaya penulisannya, diksinya oke xD
    semangat~

    Like

    Reply
  3. utit

     /  February 12, 2012

    aigoo…semangat ya !

    Like

    Reply
  4. vanny

     /  February 13, 2012

    cie…..yg mau PKL smangat yuuuu……
    step awal pemloncoan di dunia kerja hehehehe…
    ohia,jgn brantem mulu ama icul ntar yg ada smua kukunya dia dikasi stiker hehehe

    Like

    Reply
    • Aku ga tau… tp tiap denger tiga kata itu aku jd takut sendiri hehe… kena sindrom pkl kayaknya hohooo…
      Hmmm… gmana yah berantem ma heechul udh jd kebiasaan deh

      Like

      Reply
      • vanny

         /  February 14, 2012

        aku mah pas PKL ga ada takut2nya cos yg diotak cuma kepikiran bayarannya doang.
        maklum jurusanku PKl rata2 dibayar hehehe..

        paling ga enaknya ya yang disuruh2 itu….lum kelar yg satu dah disuruh yg lain.
        ampe kita lupa tujuan awal kita mau ngapain PKL. bulan ketiga baru rempong ngurusnya hehehe

        banyakin doa aja biar ntar nemu orang2 yg ga rempong ^^

        Like

        Reply
        • Aku juga ada yg di bayar ada yang enggak…
          biasanya klo di Kantor Akuntan Publik itu di bayar… sayangnya aku ga disitu kkk…
          Makasi buat doanya^^

          Like

  5. abdulheenim~

     /  February 14, 2012

    ck ini pasangan jalan pikirannya pada rumit bgt, apalagi si heechul nya haha==v itu saya shock sekali ya tiba2 heechul minta cerai dan sok-sokan mao pisah jauh gitu padahal msalah nya sepele aja.

    suka sama kata2nya yeosin yg , “aku memang dkat dgn junsu, tapi hanya kau yg mengenal ku dgn baik. itu lah alasanku memilihmu”😀

    Like

    Reply
  6. kimbyen

     /  March 4, 2012

    udah lama gak baca ff heechul.. aku baca ff heechul buat aku gmn gitu… hahahahahaha😄 /plak

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: