오랜만이야

 

“Oraenmaniya.” *long time no see*

 

Kata-kata itu berputar-putar di otakku tapi tak kunjung meluncur dari mulutku. Lama sudah kata itu melekat di benakku, bukan sebagai pernyataan tapi sebagai pertanyaan. Pertanyaan yang sering menggangu tidurku dan berharap ketika aku membuka mata aku tidak pernah mengucapkannya tapi ketika dia dihadapanki dan kata itu berputar di kepalaku, Kata itu sirnah dan tergantikan dengan pertanyaan lainnya.

 

“Apa yang telah kau lakukan?”

 

“Selama ini kau dimana?”

 

“Apa kau baik-baik saja?”

 

dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Seperti hari-hari sebelumnya pertanyaan itu semakin membuat otakku mengerut dan membuat bibirku kelu. Aku menarik kedua ujung bibirku membentuk sebuah senyuman tipis. Aku tidak peduli dengan apa yang dia pikirkan, tapi aku perlu sesuatu untuk menguasai diriku.

 

Dia menarik tipis bibirnya dan sedikit menunduk. Wajahnya menghujam bumi setalah beberapa detik mata kami bertemu. Rasa kecewa menyelimuti diriku, entah sudah berapa lama kami tidak bertatapan dan tidak berbagi cerita. Aku ingin dia kembali kehadapanku dan berbagi tawa denganku (lagi). Aku ingin dia kembali tersenyum dan hanya aku yang dapat melihat senyumnya. Aku punya kepercayaan diri dari perempuan lainnya, karena aku pernah membuatnya tertawa lebar, aku melihat sisi lain dari dirinya. Sisi darinya yang membuatku penuh tanda tanya.

 

Tau apa aku tentang dirinya. Aku tidak tau apa-apa.

 

“Selamat ya…”

 

Aku menoleh dan melihat dia menatap dengan canggung. Aku mengedarkan pandangan kesegala arah dimana banyak orang yang tidak memperhatikan kami. Dia masih mengulum senyum sambil sesekali menatapku canggung.

 

“Terimakasih…” Aku mengigit bibirku manahan senyum yang berlebihan. Rasanya seluruh udara terhisap ke dalam tubuhku dan sebentar lagi akan meledak.

 

“Seharusnya aku yang berterimakasih, harusnya… begitu…”

 

Aku mengedarkan pandanganku, melihat teman-teman kami sibuk dengan obrolan mereka. Kami tidak akan pernah bisa bertemu sesering dulu lagi. Ini bisa menjadi akhir dari segalanya. Aku tidak pernah berharap demi kian… aku berharap sesuatu yang lain. Katakan itu, aku berharap dia mengatakannya.

 

“Maaf, Aku selalu merepotkanmu… aku selalu memintamu mengajariku hingga tidak bisa belajar dengan baik, nan jongmal baboya.” Dia kembali tertunduk, entah kenapa dia begitu pemalu. Ah~ dia memang pemalu, tapiku dia sangat polos. Aku tidak pernah melihat dia marah atau meledak-ledak, dia cenderung menyimpannya dalam hati dan mengeluarkannya secara tiba-tiba. Aku pernah melihat dia lepas kontrol dan menjadikan aku sebagai tempat kegalauannya. Aku senang dia bisa berbagi.

“Nado…” sergahku cepat, “Aku juga, tidak pintar…”

 

Dia kembali menatapku dan tersenyum tipis.

 

Perasaan ini, diawali dengan rasa penasaranku padanya. Aku yang menatapnya penuh keheranan ketika melihatnya hanya menatap lurus, bersikap dingin dan jarang berbicara. Lalu ketika melihatnya tertawa, mengumpat dan bersikap kekanakan. AKu ingin mengetahui segala tentangnya lagi. seperti candu, mataku selalu mencari keberadaannya dan telingaku refleks ketika mendengar namanya.

 

Kami berdiri berhadapan, tapi tidak ada yang yang kami lakukan. Ia terus menunduk dan aku mengedarkan pandanganku seperti orang kebingungan. ditengah pesta yang begitu gemerlap ini, mereka semua tertawa suka cita dan seakan tidak akan bertemu lagi esok hari. Nado andwae… aku tidak ingin berpisah dengan teman-temanku dan juga dia. tapi ini merupakan hukum alam dimana ada pertemuan dan perpisahaan.

 

Apakah aku dan dia memiliki pertemuan yang panjang.

 

Apakah aku dan dia akan bertemu lagi

 

“Yak, Mwoyagoni?? Apa yang kau lalukan?” Jira merangkulku dari belakang.

 

Aku memberikan sebuah senyum lebar padanya dan berpura-pura marah padanya, “Kau memenggangku saja.” Aku sedikit mendorong tubuhnya menjauh.

 

“Tch, apanya yang menggaggu, kau dari tadi melamun. Apa tidak ada orang yang memberimu selamat sampai kau melamun begitu sedih, huh?”

 

Aku membelakaan mata. Aku menolehkan kepalaku dan melihat teman-temanku bergelombol, Go Junpyo, hong Ji sung, dan teman-teman yang lain. Aku mengedarkan keseluruh pernjuru. kemana dia pergi. dia menghilang begitu saja seperti di terbak angin.

 

“Kemana dia??”

 

“Nugu?” Jira ikutan mengedarkan pandangannya, “Ah~ neon namja??”

 

Aku tidak menjawab pertanyaan Jira, Aku cukup bodoh untuk membiarkan dia mengetahui seluruh isi kepalaku.

 

“Dia tidak datang,” Ucap Jira dengan tatapan mengintimidasi, “Namanya tidak tertera di bangku manapun dan aku sama sekali tidak melihatnya. Dia tidak ada dalam daftar wisudawan… huuufttt… sayang sekali kau sudah mengajarinya siang malam tapi dia malah tidak bisa bersama kita disini, tch dasar gadis bodoh.”

 

Aku tertunduk lemas, Aku tau aku tidak akan bisa bertemu dengannya hingga aku berpikir aku bisa berdua dengannya di acara perpisahaan ini. untuk melihanya terakhir kali hingga aku bisa meninggalkan sebuah kenangan untuk masa depan.

hanya kenangan itu saja…

kini bahkan aku tidak bisa mengingat kapan terakhir aku melihatnya. Kapan terakhir aku menyapanya, tertawa dengannya dan berdebat dengannya.

 

Kenangan diantara aku dan dia begitu sedikit, bahkan untuk dikenang sekalipun…

 

“Hmm… aku hanya memikirkannya tadi, kupikir dia ada bersama kita.” elakku di sambut oleh cibiran Jira.

 

“Kata orang, jika kita tiba-tiba memikirkan seseorang maka mungkin saja orang itu sedang memikirkan kita.”

 

Aku menatap Baek Jira dengan tatapan dingin, sama seperti yang kulihat ketika ‘dia’ menatap orang-orang, “Aku tidak menginginkan seseorang yang tidak bisa memperjuangkan dirinya. Tidak bisa melawan dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa bertanggung jawab atas diriku jika dia tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.”

 

Aku merasakan dadaku sesak, berbohong… entah sudah keberapa kalinya aku membohongi diriku sendiri. Aku ingin sekali jujur pada diriku sendiri, tapi aku tidak bisa, aku tidak mampu.

 

Jika perasaan ini di awali dengan rasa penasaran, maka ini berakhir dengan rasa kasian. Aku kasihan padanya, dan juga pada diriku sendiriku.

 

Aku tidak mengharapkan kedatangannya lagi, meski aku ingin mengucapkan salam perpisahaan dengannya.

 

“Oraenmaniya.” *long time no see*

mungkin kata itu akan aku ucapkan jika aku bertemu dengannya nanti. Suatu saat ketika kami di berada dalam keadaan semula dimana kami hanyalah seorang teman satu kelas.

 

we were just Friend

Tamat

 

/heheeeeee nyengir sapi/

Leave a comment

6 Comments

  1. Another curhatan terselubung… mihihihi.. *ketawa pelangi* xD

    Like

    Reply
  2. curhattttttttttttttttttttttttttt……………….. hhahhhhahahhahahaha

    jadi……ga bisa ketemuan lagi neh?? too bad ><

    Like

    Reply
  3. Jae _na

     /  November 14, 2012

    I see who he is . . .
    ahahaha

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: