I’m NOT a Cinderella

I’m NOT  a Cinderella

Seorang wanita dengan gaun ungu memasuki ballroom megah milik Kim Heechul. Heechul yang sedang berdiri di sebrang pintu masuk menangkap sosok wanita itu. Wanita itu berjalan santai menuju tempat hidangan. Bakhan ia tidak menyapa Heechul yang merupakan tuan rumah di pestanya. Membuat sebuah guratan besar di kening Heechul.

Ia sama sekali tidak pernah melihat wajah gadis itu apalagi mengenal gadis itu sebelumnya tapi ia tau bahwa kedua matanya tertarik untuk mengikuti gerakan gadis itu.

Heechul bergerak menghindari kerumunan gadis-gadis yang memandangnya penuh maksud. Mereka bermaksud untuk menarik perhatian Heechul dan menjadikan Heechul sebagai suami mereka. Tentu saja Heechul menolak mereka dengan keras. Ingin sekali ia mengakhiri pesta ini, tapi ia tidak mungkin karena tujuan dari pesta ini belum terlaksana.

Mata Heechul menyapu seluruh ruangan mencari sesosok mahkluk bernama Kim Ryeowook. Pria yang membuat hidupnya gila karena membuat ide gila untuk mengadakan pesta seperti ini, tapi bukan Ryeowook yang ia dapati melainkan gadis yang dilihatnya tadi sedang duduk menyantap makan.

Gadis itu duduk di pinggir ruangan sambil melihat orang-orang berdansa dengan tatapan bosan. Ia mendecak sambil terus memasukan kue-kue yang ada di piringnya ke dalam mulut. seperti tidak ada batasan jam makan malam bagi gadis itu.

“Hyung…!”

Heechul menoleh mendapati Ryeowook yang setengah berlari ke arahnya. Ia mengusap keringat yang mengucur di keningnya dengan saputangan.

“mwo???” Heechul menatap wajah Ryeowook yang berantakan, tak pernah sekalipun Heechul melihat Ryeowook semengerikan ini, “Ada apa denganmu??”

“Aku lelah Hyung…” Ryeowook mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal, “Horror… aku tidak mau lagi.”

Heechul mengerutkan keningnya tidak mengerti, “apa maksudmu???”

Ryeowook menarik nafasnya berat, “Aku lelah di kejar oleh gadis-gadis itu. Cepatlah kau temukan gadis yang cocok lalu tutup pesta ini.”

Heechul mengeram, “kau pikir gampang menemukan gadis yang cocok .”

“seleramu terlalu tinggi Hyung….”

Heechul meninggalkan Ryeowook sebelum Ryeowook meyelesaikan kalimatnya. Ia sudah bosan mendengar ceramahan Ryeowook dan membuantnya frustaso. Heechul mengambil segelas Shoju yang lewat di depan matanya dan meneguknya hingga habis. Pikirannya sangat kacau. Ia mengambil Shoju lagi lalu meneguknya hingga habis.

>>deson<<

10 jam sebelumnya- Yeosin’s House-

“Ya~ Sangmi aku tidak mau pergi ke pesta itu.” Yeosin mencoba melepaskan gengaman tangan Sangmi tapi genggaman Sangmi terlalu keras dan membuat pergelangannya sakit.

“Tolong aku Yeosin-ah sekali saja. Aku hanya ingin membuktikan bahwa Ryeowook itu namja yang baik.” Sangmi akhirnya melepaskan tangan Yeosin dan menatap sahabatnya dengan tatapan memohon.

“Aku tidak kenal dengan Kim Heechul ataupun Kim Ryeowook jadi untuk apa aku kesana.” Yeosin duduk di tepi ranjangnya. Terlebih ia memang tidak menyukai pesta. Ia selalu pusing ketika berhadapan dengan banyak orang diruangan yang sempit.

Sangmi duduk di sebelah Yeosin, “Masa kau tidak tau Kim Heechul. Dia itu pewaris tunggal perusahaan Minyak terbesar di Korea dan Kim Ryeowook itu saudara sepupu Heechul”

Yeosin menatap Sangmi lekat, ia tau bahwa sahabatnya itu sedang menjalin api dengan pengusaha minyak bumi yang katanya tampan itu, lalu berkata, “Aku tidak perduli.”

“Aku mohon Yeosin~ah, demi sahabatmu ini. Aku membutuhkan kau disana.”

“kau membutuhkan aku?? Untuk apa? Nanti juga kau akan bertemu Ryeowook dan mengobrol dengannya sedangkan aku hanya jadi obat nyamuk.” Yeosin tetap menggeleng keras. Ia tidak suka pesta dan tentu saja ia tidak suka sendirian. Ia terlebih bila melihat sahabatnya berduaan dan dia hanya sendirian.

“Yeosin-ah aku tau kau masih sakit hati pada pria bernama Hyukjae itu.”

Yeosin menatap Sangmi tajam. Shit, gadis itu bisa membaca pikirannya atau pikirannya terlalu mudah ditebak. Tapi ia benar-benar tidak menyukai perkataan Sangmi itu.

Sangmi tidak peduli dengan tatapan Yeosin terus berkata, “masih banyak pria diluar sana yang lebih tampan dan kaya.”

“Sangmiah kalau diluar sana masih banyak pria. Carilah pria yang lebih setia dari Kim Ryeowook-mu itu.” Yeosin membalikan kata-kata Sangmi. Ya~ harusnya Sangmi yang mencari pria yang lebih baik dari Ryeowook jika ia merasa Ryeowook itu tidak baik dan kenapa harus mempertahankan seseorang yang tidak baik.

Sangmi mengeram kesal, “itu beda Yeosin~ah.”

“Apanya yang beda?”

“Ryeowook itu hidupku, milikku.”

“Aku juga sangat mencintai Hyukjae.”

“Tapi kau memutuskan Hyukjae karena tunanganmu.”

“Apa Ryeowook serius terhadapmu??”

Sangmi menatap Yeosin ragu, “Itulah sebabnya aku ingin kepesta itu. Aku ingin melihat kesetiaannya.”

“Kalau begitu pergilah sendiri…” aku tidak ingin melihatmu menangis meraung-raung karena satu pria tidak berguna. Yeosin menutup rapat mulutnya sengaja mengeluarkan kata-katanya dalam hati.

Sangmi menundukan wajahnya. Gadis itu terlihat bimbang dan depresi. Ia benar-benar ingin ke pesta itu tapi ia tidak tau bagaimana caranya. Yeosin mempunyai undangan untuk ke pesta itu karena ayahnya adalah kolega Mr. Kim tapi ia menolak mentah-mentah karena gadis itu tidak mengenal Kim Heechul.

Yeosin tidak tega melihat Sangmi hingga akhirnya dia menyerah, “baiklah aku akan ikut tapi….”

Sangmi langsung mendonggak melihat Yeosin, “Tapi…”

“Aku akan pulang sebelum jam dua belas malam.”

Sangmi mengangguk, “tenang saja aku akan mengantarmu pulang ke rumah dengan selamat.”

Yeosin mengutuki perjanjian bodohnya dengan Sangmi. Ia menyesal karena kini ia duduk sendiri sambil menikmati hidangan yang tersedia sementara sahabatnya berkeliling ruangan pesta superbesar ini dan tidak sekalipun menampakan batang hidungnya. Sangmi menghilang entah kemana dan Yeosin menatap sendu pesta itu.

Yeosin menuju meja hidangan dan menemukan wine putih. sejenak ia ragu bahwa di pesta itu menyediakan minuman yang begitu mahal tapi kemudian ia meneguk semua wine itu hingga habis. Ia menatap arena dansa dengan bosan. Ah~ ia benar benar bosan. Yeosin meneguk wine-nya sekali lagi.

Yeosin masih setengah sadar bergerak menuju kursinya tempat tadi dia duduk. Ia meraba-raba jalan agar tidak terjatuh atau menabrak orang. Ia menggelengkan kepalanya menyingkirkan kupu-kupu yang ada di kepalanya.

Langkah Yeosin terhenti ketika seseorang berdiri dihadapanya. Ia menjulurkan tangannya dan mencoba menatap pria itu. Ia memfokuskan matanya mencoba melihat siapa orang yang di tabraknya.

Seorang pria dengan dasi hitam dan setelan setelan hitam lainnya berbanding terbalik dengan wajahnya yang seputih susu. Pria itu menatap Yeosin dengan tatapan intens membuat wajah Yeosin memerah. Ia yakin wajahnya tidak akan semerah itu jika tidak meminum wine.

Ttengg… ttenng…

Yeosin terenyah ketika mendengar suara jam yang menununjukan pukul dua belas. Tapi bukan itu yang membuatnya panik. Bunyi dari jam itu mengagetkannya hingga membuat perutnya bergejolak dan ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.

Yeosin mendorong pria itu dengan sekuat tenaga. Ia menutup mulutnya dan segera berlari ke luar. Tidak lucukan jika muntah di tengah pesta. Dari pada ia melakukan hal yang memalukan seperti itu. Ia sebaiknya lari.

>>deson<<

Heechul meneguk gelas ke 4 tapi ia tidak mabuk. Satu-satunya hal yang membuatnya mabuk adalah gadis itu. Tanpa dikomado Heechul mendekati gadis itu.

Gadis itu menatap kearahnya dengan senyuman yang membuatnya mabuk. Wajah gadis itu memerah ia yakin pasti karena ia meminum salah satu alkoholnya. Seharusnya ia tidak menyajikan alhokol dengan kadar apapun. Sepertinya teh dan kopi cukup bagus untuk pestanya itu.

Tteng… tteng…

Gadis itu tersentak, wajah polosnya terliaht panik. Ia menutup wajahnya dan bergerak dengan gelisah. Ia mendorong tubuh Heechul kemudian berlari membelah arena dansa dan hilang begitu saja.

Heechul menatap kepergian gadis itu. Ia berharap gadis itu muncul kembali dan tertawa dengan lebar dihadapan Heechul tapi sampai ia menyusuri jejak gadis itu, gadis itu tidak kembali. Gadis itu menghilang seolah di telan bumi. Ia mendengus frustasi. Ia menendang apapun dihadapannya ketika ia melihat sebuah sepatu tergeletak di depan pintu masuk.

Heechul mengambil sepatu itu kemudian memeriksanya. Ia yakin bahwa itu adalah sepatu gadis itu. ia mengulum senyumnya, “Apakah dia seorang cinderlella yang menyamar kesini? Tapi sepertinya mustahil.”

Heechul tidak percaya pada apapun yang berbau mitos dan romance. Ia bahkan terkesan kaku. Sebenarnya ia tidak setuju dengan ide Ryeowook mengadakan pesta untuk mencari cinta sejati tapi ia tidak punya pilihan ketika harus menerima perjodohannya sendiri.

>>deson<<

Heechul tidak peduli dengan siapa gadis itu atau kenapa gadis itu pergi atau apapun yang berhubungan dengan gadis itu tapi semakin ia tidak peduli semakin kepalanya berdenyut dengan kencang. Gadis itu sepertinya sudah merasuki pikirannya.

Heechul mengambil sepatu gadis itu dan membawanya ke kamar Ryeowook.

Heechul mengetuk-ngetuk kamar Ryeowook dengan tidak sabaran. Ryeowook benar-benar membuat kesabarannya habis. Ia bahkan tidak menyahut sama sekali dan mematikan ponselnya begitu saja.

“Tuan Ryeowook kembali ke kamar sekitar jam 3 pagi dengan seorang gadis.” Ucap salah satu pelayan Heechul dambil menyerahkan kunci duplikat kamar Ryeowook

“Apa mereka mabuk?” tanya Heechul sambil membuka kamar Ryeowook dengan tidak sadar. Bisa-bisanya pria itu mangkir dari pekerjaannya dan kabur bersama dengan seorang gadis dan akhirnya membawa gadis itu pulang ke rumahnya.

“Saya rasa tidak, tuan. Tuan muda masih dalam keadaan sadar 99%.”

Heechul tidak mengubris ucapan pelayannya. Bagaimana bisa Ryeowook sadar jika pria itu tidak mengubris gedoran pintunya. Ryeowook pasti mabuk berat dan tidak sadarkan diri, dan perempuan itu pasti merencanakan hal yang tidak-tidak pada adik sepupunya.

Heechul mengeram ketika melihat pakaian Ryeowook, celana dalam yang pasti milik perempuan berserakan di lantai. ia hampir saja menarik selimut Ryeowook jika ia tidak ingat bahwa keduanya akan terlihat polos. Ia mengambil sebuah termos dan membuka tutupnya. Ia tersenyum getir ketika melihat keduanya masih tertidur terlelap.

Byurrr…

Heechul menyiramkan air kewajah keduanya. Ryeowook mengelap wajahnya dan membuka matanya begitu juga gadis yang ada di pelukannya. Mereka kalang-kabut ketika melihat Heechul berdiri dengan wajah marah.

“Hyung~” Ryeowook menatap Heechul dengan ketakutan, “Hyung ini tidak…”

“Ne, aku tau. Gadis ini menggodamu dan kau mabuk. Dia memanfaatkanmu dan kalian akhirnya tidur bersama.” Heechul merogoh sakunya dan mengeluarkan dompetnya. Ia menghitung uang yang ada di kantongnya lalu menghamburkannya di hadapan gadis itu, “Jangan menghubunginya lagi. Jika dia mengaku hamil aku pastikan bahwa itu bukan anakmu. Dia sudah merencanakan sebelumnya.”

Heechul melanggang pergi tampa berdosa sedangkan Ryeowook bingung. Gadis disebelahkan menatap dirinya sendu, ia pasti sakit hati mendengar perkataan Heechul. Ah~ hyung-nya itu benar-benar bermulut tajam.

>>deson<<

“Yak! Kau pikir dirimu apa. Meskipun kiamat datang jika kau belum menikah, kau tidak boleh melakukannya.” Semprot Yeosin ketika Sangmi datang kehadapannya sambil menangis.

“Ya! Kau pikir aku gila?” Sangmi menatap tajam Yeosin, “kami tidak melakukan apapun.” Sangmi menunduk air matanya jatuh tidak terbendung, “Awalnya kami akan melakukan hal itu tapi kemudian kami tersadar dan tidak jadi melakukan apa-apa. Aku lalu menangis di dekapannya hingga tertidur.”

“Yak! Kau pikir tuan Kim itu akan percaya. Ia melihat dengan matanya sendiri, kalian berpelukan tanpa busana dan kau pikir aku juga percaya?” Yeosin mendecak, ia benar-benar tidak setuju dengan pemikiran Sangmi, “Apanya yang menguji kesetian, kau justru menjerumuskan dirimu sendiri.”

“Kau benar.” Sangmi menatap tajam Yeosin, “Aku sudah tau tipe seperti apa Ryeowook Oppa itu. Dia masih mememikirkan kehormatanku dan tidak melakukannya padaku. Aku cukup mempercayaianya sekarang.”

“Kau pikir keluarganya akan percaya padamu.” Tukas Yeosin membuat Sangmi membeku, Yeosin pandai sekali membuat kata-kata yang menyakitkan, “Perempuan apa yang berani tidur dengan pria tanpa ikatan dan tanpa busana? Meski kau tidak melakukan apa-apa dengan Ryeowook. Apa mereka akan percaya kau tidak melakukan hal itu dengan pria lainnya?”

Plaakkk…

Yeosin merasakan pipinya memerah. Sangmi mengeram keras padanya. Ia menatap Yeosin dengan tajam, “aku memang bukan dari keluarga terhormat dan kaya tapi aku punya juga punya prilaku yang baik, nona Han.”

Yeosin menatap kepergian Sangmi. Ia tau jika Sangmi akan marah dan tidak akan menghubunginya lagi. Sangmi bukan tipe pendendam tapi ia tidak mudah untuk memaafkan.

“Tch, gadis bodoh.”

>>deson<<

Yeosin sedang menatap buku yang dihadapannya tidak berniat membacanya sama sekali. Pikirannya melayang kemana-mana, soal perjodohannya dan juga Soal Hyukjae. Ia berpikir untuk melepaskan perjodohannya dan kembali kepada Hyukjae. Ia tidak yakin untuk menikah dengan orang yang akan di jodohkannya tapi setidaknya ia bisa hidup dengan Hyukjae yang sudah dikenalnya dan, hmm setidaknya Hyukjae tidak terlalu jelek.

“Hai…”

Yeosin menoleh dan menatap seseorang melambai padanya. Pria itu memakai kaos putih polos ditutupi kemeja hitam kotak-kotak. Ia menyampirkan tas ranselnya dibahu. Ia terlalu kaku untuk disebut mahasiswa dan terlalu tua untuk belajar di universitas. Gadis itu menyipitkan matanya untuk menatap pria di hadapannya. Ia sama sekali tidak mengenal si pria dan menatap si pria dengan penuh tanda tanya.

“Kau mengingatku?” Pria itu memunjuk dirinya sendiri.

Yeosin mendengus. Ia tau modus-modus pria seperti itu, menyapa, meminta kenalan dan akhirnya menyatakan cinta. Ia sudah bosan dengan hal-hal seperti itu. Yeosin menutup wajahnya dengan buku.

“Aku hanya ingin bertanya. Apa kau kehilangan sebelah sepatumu di pesta kemarin?”

Yeosin menurunkan bukunya dan menatap pria itu tajam, “mana sepatuku?”

Pria itu terkekeh, “jadi benar kau yang datang malam itu. Apa kau tidak mengingatku?”

Yeosin mengangkat tubuhnya agar sejajar dengan pria itu tapi ia tidak bisa menyamai tingginya karena pria itu lebih tinggi darinya, “Tidak penting aku mengenalmu atau tidak. Aku ingin kau kembalikan sepatuku.”

Pria itu menurunkan kepalanya sedikit, “kebetulan aku bertemu denganmu jadi aku tidak membawanya. Sepatumu ada di rumahku.”

Yeosin mendecak heran kenapa tidak ada pria yang to the point pada keinginannya dan malah bertele-tele, itu membuatnya pusing dan eneg, “Simpan saja sepatu itu. Aku tidak butuh.”

Yeosin membereskan barang-barangnya kemudian pergi meninggalkan pria itu.

Heechul menatap gadis itu yang pergi menjauhinya. Gadis itu sama sekali tidak menoleh, ia berjalan lurus kedepan tanpa mempedulikkannya. Gadis itu benar-benar meninggalkannya tidak berpura-pura jual mahal dan pura-pura jutek. Gadis itu benar-benar tidak tau siapa dirinya.

Heechul melorotkan tas ranselnya dan membukanya perlahan. Ia mengeluarkan sebuah sepatu dengan gliter putih disetiap sudutnya. Sepatu milik nona itu, bahkan ia tidak tau namanya.

>>deson<<

Yeosin menatap Sangmi dengan rasa berdosa. Gadis itu melewatinya begitu saja dan menganggapnya tidak ada. Ia bisa memaklumi jika gadis itu marah padanya tapi ia tidak menyangka bahwa Sangmi akan mencuekkannya begitu saja.

“Ssttt… Min Sangmi.” Seluruh kelas menoleh pada Sumber suara.

Kim Ryeowook melambaikan tangannya pada Sangmi. Sangmi yang sedang duduk sendiri langsung berbinar dan menghampiri Ryeowook.

“Oppa~” Sangmi menatap kesekeliling, “kau sendiri?”

“Ayo kabur bersamaku!” Ryewook menggengam tangan Sangmi, “Kita harus segera pergi dari sini sebelum Hyung tau.”

Sangmi menggangguk, “Tunggu sebentar, aku ambil barang-barangku dulu.”

Sangmi membereskan barang-barangnya dan memasukan kedalam tasnya. Ia lalu menghapiri Ryeowook.

Yeosin mendecak. Bagaimana mereka bisa kabur. Ia tau tabiat anak orang kaya seperti Ryeowook, pria itu hanya akan membuat Sangmi menderita. Memangnya hidup itu bisa hanya memakan cinta.

“Min Sangmi!!” Sangmi menoleh saat Yeosin menyebutkan namanya, gadis itu mengerutkan keningnya tidak mengerti, “barangmu ketinggalan.”

Yeosin menghampiri Sangmi. Ia mengambil tangan Sangmi dan menaruh ATM-nya di tangan Sangmi. Gadis itu menatap Yeosin tapi Yeosin berbalik tidak peduli, “Cinta tidak akan membuatmu kenyang.” Ucap Yeosin sambil terkekeh.”

>>deson<<

“Tuan Ryeowook menghilang kemarin siang. Ia bilang ia akan pergi ke kampus dan sampai saat ini dia belum pulang.” Ucap pekayan Seo.

Heechul memainkan bola dunia di hadapannya. Ia tau Ryeowook akan melakukan hal ini. Nekat kabur dengan gadis yang dia cintai. Apa bagusnya gadis itu, gadis itu bukan dari keluarga terpandang dan tidak mempunyai apa-apa. Itu akan menjadi aib bagi keluarga KIM.

“Berapa uang tunai yang dia bawa?”

“Satu juta won tuan.”

“Dia membawa ATM-nya?”

“Dia tidak membawa semuanya, dia hanya membawa salah satu. Dia juga meninggalkan ponselnya di kamar.”

Heechul tersenyum, “tunggu dua atau tiga hari lagi dan lihat dimana dia menggambil uanganya. Jika terlacak segera tangkap dia.”

“Baik tuan.” Pelayan Seo membungkukan badannya dan hendak pamit ketika sesuatu melintas di pikirannya, “Tuan soal pertunangan anda.”

“Katakan pada Abeoji bahwa aku akan menikah dengan perempuan yang dia inginkan tapi aku mempunyai syarat. Bahwa perempuan itu harus memenuhi standarku. Jika kurang satu saja syaratnya. Aku akan menolaknya.”

>>deson<<

“Aku tidak melihatnya sejak satu bulan yang lalu.” Ucap Yeosin pada orang tua Sangmi, “dia pergi dengan kekasihnya hanya itu yang aku tau.”

“Apa dia tidak mengatakan kemana dia akan pergi dan tinggal dimana?” tanya ibunda Sangmi

Yeosin menggeleng, “Aku tidak tau, memberikan ATM-ku padanya jika dia butuh uang dia pasti menghubungiku.”

“Bisakah kau membatu kami mencarikan dia. Aku sangat takut pada keluarga Kim. Kemarin mereka datang dan mengacak-acak isi rumah kami. Aku takut terjadi sesuatu pada Sangmi kami. Kumohon Yeosin-ah, bantu kami mencari Sangmi.”

Yeosin menatap nyonya Min dengan iba. Sebenarnya ia menunggu kabar dari Sangmi tapi sepertinya menunggu saja tidak cukup berarti. Ia harus menelusuri jejak sahabatnya dengan cara manual.

“Aku akan mencoba mencarinya. Hmmm mungkin agak lama.”

>>deson<<

Yeosin yakin bahwa Sangmi tidak akan keluar dari Korea karena gadis itu tidak membawa pasportnya. Ia yakin mereka tidak akan pergi jauh dari Seoul karena akan memakan biaya yang mahal dan akan jauh lebih sulit mencari pekerjaan. Mereka akan di Seoul tapi di tempat yang tidak terlihat.

Yeosin menatap jalan menanjak di hadapannya. Ia menaiki satu persatu tangga hingga mencapai puncaknya. Ia merasa kakinya hampir patah karena perjalanan ini. Ia yakin Ryeowook yang manja tidak akan sanggup bertahan naik tanjakan seperti ini.

Temannya pernah tidak sengaja melihat Sangmi keluar dari sebuah rumah di kawasan padat penduduk ini. Ia langsung pergi dengan cepat ke tempat itu dan hasilnya nihil Sangmi dan Ryeowook sudah pindah 3 hari yang lalu. Ia pun kesal setengah mati karena kehilangan jejak Sangmi lagi.

Yeosin melihat sebuah kedai ttokbokki di ujung jalan. Ia meluruskan kakinya sambil mengisi perutnya yang kosong.

“Ahjumma bisa berikan aku satu porsi.” Teriak Yeosin pada bibi penjual kue beras itu.

“Yak kau??” Yeosin menoleh dan mendapati seorang pria di dekatnya, “gadis cinderella.”

“Mwo??” kini Yeosin mengenali pria itu. Pria itu pria yang menyimpan sepatunya. Sebenarnya sepatu itu tidak terlalu istimewa tapi sepatu itu adalah sepatu favoritnya. Sepatu yang dibelinya dengan keringatnya sendiri.

“Gadis cinderella. Kau pergi meninggalkan pesta tepat jam 12 malam hihiiii…” pria itu tertawa nyaring, “Apa kau juga punya ibu peri?”

Yeosin menghembuskan nafas panjang. lelucon pria itu benar-benar tidak lucu.

“Apa rumahmu disekitar sini?” pria itu mengedarkan matanya, “Apa aku harus mengantar sepatumu kesini?”

Yeosin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Shiroo. Kau itu pria brengsek yang ingin mempermainkanku. Kau sengaja mengambil sepatuku dan berpura-pura baik padaku agar aku terlena dihadapanku.”

Pria itu menatap Yeosin dengan tajam, “Kau pikir aku merencanakan semua ini?”

Yeosin terdiam saat melihat sorotan tajam pria itu. Ia merasa dadanya bergedup dengan kencang dan membuat perutnya berputar-putar.

“Kau sendiri yang mendatangi pesta dan menjatuhkan sepatumu. Apa itu salahku? Aku tidak sengaja bertemu denganmu di kampus. Apa aku terlihat seperti orang bodoh yang sengaja mencarimu dan ah~ aku yang duduk terlebih dahulu disini dan kau yang mengikuti. Apa sebenarnya kau yang mengikutiku dan berpura-pura jual mahal?”

Yeosin mengeritkan keningnya, “babo.”

Pria itu terkekeh, “Lalu apa itu namanya, kebetulan, keajaiban, atau takdir.”

“Kebetulan, keajaiban atau takdir itu sama sekali tidak ada diantara kita. Semua ini hanya ketidaksengajaan.” Yeosin mengambil kue berasnya dan memakannya dengan lahap. Ia bahkan sengaja memperjelek cara makannya agar pria itu ilfeel dengannya.

“Ketidaksengajaan?” pria itu menggangguk, “hmmm tapi kurasa itu bukan kata-kata yang tepat. Jika dalam pertemuan pertama itu kebetulan, pertemuan kedua juga kebetulan maka pertemuan ketiga adalah kejaiban. Jika di pertemuan keempat adalah ketidaksengajaan aku bertaruh di pertemuan ke lima kita telah di takdirkan.”

“Kita tidak akan bertemu lagi tuan.” Yeosin menyampirkan tasnya, “Jangan mencari alasan dengan sepatu bodoh itu karena aku memang tidak mengingkan sepatu itu kembali.”

Yeosin menaruh uang seribu Won kemudian beranjak pergi dari kedai ttokbokki itu. Ia menggelengkan kepalanya frustasi. Frustasi karena mencari Sangmi dan frustasi karena pria bodoh itu.

>>deson<<

Heechul hampir gila karena kehilangan jejak Ryeowook lagi dan ia juga setengah gila menghadapi gadis itu. Gadis Cinderella. Gadis itu membuatnya penasaran dan hampir terkena serangan jantung, gadis itu bahkan menuduhnya mengikutinya, hah dia pikir dia gila??

Gadis itu tidak pernah menatap matanya, bahkan ketika ia menatapnya dengan intens tapi gadis itu mendengarkan semua perkataannya dan menjawabnya dengan terbuka. Ketika semua orang ia benci karena terus menatapnya, ia justru ingin gadis itu menatapnya.

“Heechul-ah ini sudah lima bulan.” Suara Mr Kim membuyarkan lamunannya, “kau belum menemukan adikmu?”

“Aku masih mencarinya. Dia terus berpidah dan menghapus sejaknya. Hah, dia memang ahli dalam urusan kabur.”

“Heechul-ah…” Heechul merasakan ada yang tidak beres dengan nada Suara ayahnya. Ini pasti tentang pesta pertunangannya, “Bagaimana dengan jawabanmu. Aku tidak enak dengan Mr Han.”

Binggo… Heechul menggulum senyumnya.

“Jika gadis itu memiliki semua kriteria yang pernah aku ajukan ke pada ayah. Aku akan setuju. Tapi jika kurang satu maka aku akan menolaknya.” Ucap Heechul menatap ayahnya penuh pertimbangan.

“Jika kau menolak maka kau harus membawa wanita yang akan kau nikahi kehadapanku. Aku juga punya syarat. Dia harus wanita.”

Heechul terkekeh, “Ayah pikir aku ini apa? Aku masih menyukai wanita. Tenang saja. Ayah pasti menyukainya.”

>>deson<<

Heechul melihat deretan nama yang tertulis di daftar tamunya. Ia yakin jika gadis yang di bawa Ryeowook ada di daftar tamunya. Ia menyerngitkan keningnya ketika melihat satu nama yang merasa janggal.

“Han Yeosin?”

“Dia datang bersama temannya tuan, tapi ia tidak menuliskan namanya disana.” Ucap pelayan Seo.

“Apakah, Han Yeosin yang itu?”

Pelayan Seo membungkuk, “iya benar tuan.”

Heechul memegang pelipisnya yang berdenyut. Katanya gadis itu tidak mau datang karena tidak mempunyai urusan dengannya. Gadis itu juga menolak memakai gaun yang ia berikan dan menggembalikan dengan percuma. Gadis yang menolak memberikan fotonya dan berkata, ‘jika kau ingin bertemu denganku, maka temui aku di altar. Aku tidak akan bermain dengan pria yang tidak ingin serius denganku.’

Gadis yang sepertinya tau banyak tentangnya dan tau kelemahan terbesarnya. Bagaimana mungkin ia menikah dengan orang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Itulah kenapa ia menolak gadis itu dan memilih mencari gadis lain. Gadis itu tahu segala tentangnya sementara ia tidak tau. Itu sangat berbahaya, gadis itu bisa saja memanfaatkannya.

“Tuan…” pelayan Seo menyerahkan teleponnya pada Heechul, “dektetif Choi menelepon.”

Heechul menyambar telepon pelayan Seo dengan sigap, “Ne?”

Aku baru melihat Tuan Ryeowook berada apartermen teman gadisnya di kawasan gangnam, tuan.”

“Berikan aku alamatnya. Aku yang akan menyeretnya pulang.”

>>deson<<

Tting… ttong…

Yeosin menghentikan gerakan jarinya di keyboard dan menatap pintu flatnya. Ia sedang mensearching beberapa rumah yang disewakan di sekitar Seoul. Ia berjaga-jaga untuk mencari Ryeowook dan Sangmi. Ia memencet layar interkomnya dan kaget melihat Sangmi dan Ryeowook didepan rumahnya. Ia langsung membuka pintu dan menyeret keduanya masuk.

“Apa yang kalian lakukan disini?” Yeosin langsung membawa mereka keruang tamunya, “kalian bisa menghubungi aku dan aku akan ketempat kalian.”

“Yeosin-ah.” Sangmi terlihat sembab. Wajahnya pucat sementara matanya cekung. Terlihat sekali ia kekurangan makan dan tidur.

“Orangtua Namja bodoh ini selalu mencari kalian. Ia bahkan ia mengawasi rumahmu. Apa kau tidak tau mereka bahkan mengacak-acak rumahmu dan membuat ibumu menangis seharian.”

“Yeosin-ah.” Ucap Sangmi penuh harap ia menjelurkan ATM yang pernah diberikan Yeosin padanya dulu, “Aku tidak punya tempat selain kepadamu.”

Yeosin menghembuskan nafas panjangnya. Ia meris melihat penampilan Sangmi dan Ryeowook, “cepatlah katakan, aku yakin orang suruhan orangtua namja bodoh ini akan kemari.”

“Mianhae, Yeosin-ah. Aku telah berkata kasar padamu waktu itu.” Sangmi mengenggam tangan Ryeowook dengan erat, “dan… aku ingin meminta bantuanmu.”

“Apa?”

“Kami tidak mungkin tinggal di Seoul lebih lama lagi. Terlalu sulit bagi kami. Kami ingin tinggal di Ullsan dan… aku tau kau punya rumah dan tanah disana. Bisakah kami tinggal disana dan berkerja disana. Kami akan membayar semua kebaikanmu setelah aku melahirkan nanti.”

“Mwo??” Yeosin menatap Sangmi tajan, “melahirkan?”

Sangmi dan Ryeowook tidak membalas ucapan Yeosin dan membuat gadis itu semakin panik, “bagaimana bisa. Ya! Sangmi-ah kenapa kau mau melakukan hal itu bersama pria bodoh itu? siapa yang akan bertanggung jawab padamu dan bayimu kelak, huh?”

“Kami sudah menikah.” Ucap Ryeowook tanpa menyelesaikan kepanikan di otak Yeosin, “Dan Sangmi dan bayi kami akan menjadi tanggung jawabku.”

“Kau bahkan tidak bisa bertanggung jawab atas dirimu sendiri, bagiamana bisa kau bertanggung jawab pada Sangmi dan bayinya dan….”

Tting ttong…

Yeosin merasakan lututnya lemas. Ia tau bahwa para bodyguard ayah Ryeowook akan menemukan mereka disini dengan cepat, “kalian tidak punya pilihan. Kau buka pintunya.” Yeosin mengayunkan dagunya pada Ryeowook.

Ryeowook berjalan dengan ragu kearah pintu. Ia berpaling sesaat setelah melihat interkom.

“Tidak ada jalan keluar. Kalian tidak bisa loncat dari lantai 5, bukan.” Ucap Yeosin enteng membuat Ryeowook membukakan pintu.

>>deson<<

Heechul terdiam terpaku melihat Ryeowook dengan penampilan yang sangat jauh berbeda dengan Ryeowook yang dikenalnya dulu. Ia melihat Ryeowook mundur perlahan dan membuatnya masuk.

Heechul melihat dua orang gadis duduk berhadapan. Gadis yang penampilannya tidak jauh dari Ryeowook, gadis yang pernah dilihatnya berduaan dengan Ryeowook dan satu lagi gadis cinderellanya.

Gadis itu terlihat kaget melihat dirinya. Ia melemparkan tatapan kesal pada Ryeowook untuk menyembunyikan ekspresi kagetnya pada gadis itu, “Ayahmu masuk rumah sakit.”

“Shiroo.” Tentang Ryeowook, “Aku tidak akan pulang jika tidak dengannya.”

“Yak! Kau ini buta hah?” bentak Heechul membuat semua orang kaget, “lihat gadis itu! ia sama sekali tidak cocok untukmu. Kau bisa mendapatkan ribuan gadis yang lebih layak darinya. Katakan saja padaku kau ingin gadis seperti apa. Aku akan mencarikannya untumu.”

“Maaf,” intrupsi Yeosin, “Tau apa kau soal sahabatku? Mengerti apa kau tentang dia? Kenapa kau seenaknya mengatakan dia yang tidak baik. Justru Ryeowooklah yang tidak cocok untuk Sangmi. Sangmi jauh lebih pantas mendapatkan pria yang lebih terhormat.”

“Temanmu itu menggoda adikku, nona. Perempuan mana yang menggoda anak laki-laki orang dan membawanya kabur.”

“Adik?” Yeosin mengerutkan keningnya dan menatap Sangmi. Sangmi menggeleng. Seingatnya Ryeowook adalah anak tunggal. Makanya ia manja dan kekanakkan, “Kau mengaku dirimu sebagai kakaknya? Lalu apa bedanya kau dengan Sangmi yang mengaku sebagai istrinya.”

Heechul memicingkan matanya, “Kau!!”

“hah benar saja. Kau juga mengaku-ngaku sebagai pria terhormat. Tch, Kau tidak bisa menilai seseorang dari keluarga mana dia berasal dan seberapa besar harta yang dimilikinya. Karena kau tidak bisa memilih keluargamu sendiri dan apakah harta bisa menjamin kebahagiaan?”

“Sangmi memang tidak berasal dari keluarga kaya dan harta berlimpah tapi Sangmi mempunyai attitute dan perkataan yang menyenangkan. Apakah kau bisa membayar orang untuk membuat Ryeowook nyaman dan bahagia sama seperti ketika ia dengan Sangmi?” Yeosin menatap Heechul dengan tajam, “Bukan kau saja yang tidak setuju dengan mereka. Aku juga. Aku tidak suka melihat sahabatku menahan air matanya hanya untuk menutupi keegoisan orang yang dicintainya.”

“Kau!” Heechul mengepalkan tangannya kearah Yeosin.

“Apakah pria terhormat itu adalah pria yang berdiam diri melihat perempuannya menahan sakit?” Yeosin menunjuk Sangmi, “Dia datang kemari meminta pekerjaan untuk hidup bersama pria yang hanya bisa bermanja-manja. Apa itu yang namanya pria terhormat?”

Yeosin meredakan nada bicaranya tanpa mengubah cara tatapannya pada Heechul, “Silahkan ambil pria bodoh itu dari hadapanku. Aku memang tidak bisa mencarikan pria terhormat pada Sangmi, tapi aku bisa mencarikan pria yang menghormati Sangmi seumur hidupnya.”

Heechul menganggkat tangannya menyuruh anak buahnya menyeret Ryeowook. Ia menutup telinganya ketika Ryeowook menjerit meminta dilepaskan dan menutup matanya ketika melihat Sangmi menangis sambil memengang perutnya.

“Satu hal lagi.” Ucap Yeosin membuat Heechul terhenti.

“Katakan pada ‘adik’mu itu agar jangan menemui Sangmi lagi jika masih memakai nama keluarganya.”

Heechul menggulum senyumnya, memang apa yang di berikan Ryeowook untuk menikmati tubuh gadis itu selama 4 bulan. Itu sama sekali tidak membuatnya rugi. Ryeowook jauh lebih berharga dari semua uang yang dimilikinya.

>>deson<<

Yeosin menatap dirinya dicermin sambil memperhatikan gaun pengantin yang ia pakai. Ia tidak tau apa jika pria yang ditunangkan dengannya akan menyetujui perjodohan itu dan langsung mencetak undangan sebanyak mungkin dan langsung menyebarkannya tanpa pemberitahuan. Ia kira pria itu akan menolak karena ia tidak pernah mau menunjukan bagaimana wajahnya dan identitasnya kecuali dia adalah putri Mr Han.

Yeosin memicingkan senyumnya, Ia bahkan tidak tau apapun tentang pria yang akan jadi suaminya kecuali namanya, Kim Heechul dari keluarga Kim dan ia sama sekali tidak berniat untuk mencari informasi tentang pria itu. Pria itu pasti sudah menyewa beberapa agen dan membututinya selama setengah tahun terakhir. Ah bodoh mana ada pria yang akan menikah dengan gadis yang tidak tau wajahnya.

Sejak awal ia tidak menolak perjodohan itu dan mengajukan persyaratan bodoh. Ia yakin bahwa pria itu akan menolak perjodohan ini. Kini ia menyesal terlah bermain-main dengan perjodohan. Seharusnya ia bersama Hyukjae sekarang.

“Yeosin-ah~”

Yeosin membalikkan tubuhnya dan mendapati Sangmi dengan perut buncitnya mendatangi Yeosin sambil tersenyum. Ia mengerutkan keningnya tidak percaya. Satu minggu yang lalu Sangmi masih marah padanya karena ia tega memisahkan gadis itu dengan Ryeowook, tapi sekarang gadis itu menghampirinya sambil tersenyum.

“Kau datang?”

Sangmi menggangguk, “calon suamimu memintaku untuk menjadi pengiring pengantin. Hah? Dia benar-benar gila menyuruh perempuan yang sedang hamil menjadi pengiring pengantin.”

Yeosin mengerutkan keningnya, Sangmi mengenal calon suaminya?

“Kenapa kau tidak mengatakan dari awal jika kau ditunangkan dengan salah satu keluarga Kim.”

Yeosin menatap Sangmi, “aku tidak tau apapun tentang suamiku kecuali dia adalah pengusaha Kim, bernama Kim Heechul.”

Sangmi menggangguk, “Kau tau Ryeowook adalah salah satu anggota Kim yang merupakan pengusaha minyak. Selain itu keluarga Kim juga mempunyai beberapa usaha yang sukses dan salah satunya sepupu Ryeowook ini. Ah~ aku iri padamu yang bisa menikah dengan gaun sebagus ini.”

“Sangmi-ah….” Yeosin menatap Sangmi dengan lekat. Ribuan pertanyaan menghampirinya tapi ia tidak bisa mengeluarkan walau satu kalimat.

“Dia orang yang sangat baik.” Sangmi seolah bisa membaca pikiran Yeosin, “Dia banyak membantu Ryeowook dan membuat seluruh keluarganya menerimaku. Dia bilang bahwa Ryeowook bisa mandiri itu karena aku dan dia membantu Ryeowook meski berkali kali Ryeowook gagal.”

“Ayo bersiap-siap…” Sangmi menarik tangan Yeosin, “Kau tau akan ada banyak keluarga Kim disana, ada Kim Jongwoon, Kim Youngwoon, Kim Ryeowook, Kim Kibum, Kim Taeyon, Kim Hyoyeon, Kim Jay, Kim jaejoong, Kim Junsu dan calon suamimu Kim Heechul.”

Sangmi menarik ekor gaun Yeosin dan membawanya ke aula. Ia merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Ayahnya menunggu di depan pintu dan mengambil tangannya. Ratusan tamu undangan menatapnya ketika pintu di buka. Ia bisa melihat Ryeowook bersama saudara-saudaranya di depan dan seorang pria yang memakai tuksedo putih-putih membelakanginya.

Ia hampir membelakakan mata ketika melihat pria itu berbalik dan menatapnya dengan lembut serta senyuman yang manis. Pria itu. Pria yang menemukan sepatunya. Pria yang menuduhnya membuntutinya. Pria yang membentaknya.

>>deson<<

Jika dalam pertemuan pertama itu kebetulan, pertemuan kedua juga kebetulan maka pertemuan ketiga adalah kejaiban. Jika di pertemuan keempat adalah ketidaksengajaan aku bertaruh di pertemuan ke lima kita telah di takdirkan.

Heechul tersenyum sendiri mengingat ucapannya. Ia mengingat kembali pertemuan dengan gadis itu yang tidak sengaja kemudian berbuntut ketidak sengajaan lainnya hingga perang mulut keduanya. Ia kesal setengah mati kepada gadis itu yang menganggap pria terhormat itu adalah omong kosong tapi ia tersadar jika perkataan gadis itu benar. Buat apa menjadi pria terhormat jika tidak bisa menghormati seorang wanita.

Dia ingin menjadi pria yang di bicarakan oleh gadis itu, menjadi pria yang menghormati wantanya seumur hidupnya. Dia ingin mendengar gagasan lain dari mulut gadis itu tapi ia tidak ingin membuat gadis itu kabur. Jadi ia rancang pertemuan mereka menjadi sebuah takdir. Pernikahan.

“Silahkan pasang cincin pernikahan kalian.”

Heechul mengambil sebuah cincin bermata berlian lalu menyelipkan di jari manis gadis itu. pas. Bahkan Heechul tidak pernah tau ukuran jari gadis itu. Ia hanya mengira-ngira. Gadis itu melakukan hal yang sama menautkan cincinya di jari manis Heechul.

“Silahkan cium pasanganmu.”

Heechul menyunggingkan senyumnya. Ia meraih leher Yeosin dan mendakatkan wajahnya dengan wajah gadis itu. Gadis itu menjadi menegang membuat Heechul mengurungkan niatnya untuk mencium bibir gadis itu, “aku tidak akan memaksa, aku tunggu sampai kau mencintaiku.” Heechul menghembuskan nafas kemudia mengalihkan bibirnya ke kening gadis itu.

Heechul ragu untuk mendaratkan bibirnya di kening gadis itu. Ia menarik dagu gadis itu kemudian mencium bibirnya dengan lembut. Gadis itu kaget tapi membiarkan Heechul terus mengecup dan menyedot bibirnya.

“Tak peduli kau mencintaiku atau tidak. Kau adalah istriku.” Ucap Heechul setelah menyelesaikan ciumannya.

>>deson<<

Yeosin mengedarkan pandangannya memperhatikan kamar Heechul yang sama luasnya dengan flat pribadi miliknya. Kamarnya yang megah menjadi sangat sepi ketika hanya ada ia dan Heechul dikamar itu. Ia menjadi canggung dan kikuk.

Ia memandangi lingering yang dibungkus oleh handuk tidur, merasa sedikit -entahlah- dingin. Ia tidak membawa apapun ke kediaman Kim. Heechul sudah menyediakan semua kebutuhannya disini dan ia harus menerima ketika hanya ada puluhan lingering di lemarinya. Heechul benar-benar berniat menjadikannya istrinya.

“Kau tidak suka dengan baju yang ku berikan?” tanya Heechul ketika melihat Yeosin agak tidak nyaman dengan bajunya.

“Ani. Aku hanya tidak pernah memakai ini.” Yeosin mengeratkan handuk yang dipakainya.

Heechul mengambil tempat disebelahnya membuatnya menjadi sedikit panik.

“Kau masih tidak mengenaliku?” tanya Heechul lagi.

Yeosin menatap Heechul tidak mengerti. Heechul sedang mengetesnya atau mengajaknya berbicara mengenai pesta waktu itu, “Kau suamiku.” Ucapnya ragu.

Heechul menggeleng, “Aku yang menemukan sepatumu. Kau seperti Cinderella malam itu yang pergi setelah mendnegar jam berdentang dan kupikir aku bisa memilikimu setelah mengembalikan sepatumu. Nyatanya tidak.”

Yeosin tertawa mendengar ucapan Heechul. Jika ia cerita ia kabur dari pesta karena tidak kuat meminum wine, ia pasti menjadi sumber lelucon Heechul seumur hidupnya.

“Tadinya aku ingin seperti di novel-novel atau drama yang akan menunggu kau mencintaiku dulu, tapi kurasa aku tidak mempunyai kesabaran sebanyak itu. aku terlalu menginginkanmu.” Heechul menarik pinggang Yeosin dan membawanya lebih dekat dengannya.

Yeosin terkesima mendengar kejujuran Heechul. Pria itu sangat apa adanya. Ia tidak tau kenapa dulu ia menjudge Heechul sebagai pria angkuh yang bersembunyi dibalik kekayaannya. Pria bodoh yang hanya mengerti grafik saham dari pada cinta. Justru yang ia lihat sekarang adalah anak kecil yang polos yang sangat haus akan kasih sayang dan menatapnya dengan bodoh meminta perhatian.

Yeosin membalas ciuman Heechul dan membiarkan lidah pria itu masuk kedalam mulutnya dan bermain dengan lidahnya. Pria itu menyibakkan baju luarnya dan mencoba untuk membuka tali behanya dengan satu tangan sementara tangannya yang lain mencoba menarik celananya.

“Hyung… hyung….”

Yeosin melepaskan ciumannya membuat protes kecil Heechul. Heechul kemudian mengalihakan ciumannya ke leher Yeosin.

“Hyung…” Suara Ryeowook sambil mengetuk-ngetuk pintu.

Heechul menarik nafasnya panjang kemudian melepaskan diri dari Yeosin, “Apa anak itu tidak tau sekarang adalah malam pertama kita.”

Heechul mengeratkan baju tidurnya dan berjalan ke pintu.

“Hyung tolong Sangmi, hyung…” Ryeowook memandang Heechul penuh dengan harap.

Yeosin mendekati Heechul dan terkesikap oleh Ryeowook yang hanya memakai kain untuk menutupi separuh bagian tubuh bawahnya. Firasatnya menjadi tidak enak, Yeosin mengeratkan baju tidurnya lalu berlari ke kamar Ryeowook dan melihat Sangmi setengah telanjang mengeram kesakitan. Cairan bening mengalir di kedua pahanya membuat semua orang yang melihatnya panik.

“Yak! Bukannya dokter sudah bilang bahwa dia sedang hamil tua dan tidak bisa diganggu.” Ucap Heechul panik.

“Dia yang meminta Hyung, ku pikir aku bisa main dengan perlahan tapi…”

“Apa yang kalian lakukan cepat bawa dia ke mobil.” Teriak Yeosin menghentikan berdebatan kosong itu.

Finn~

 

 

 

Previous Post
Leave a comment

7 Comments

  1. utit

     /  October 19, 2012

    kya…itu kenapa sceme terakhir nanggung buanget
    *cubit deson*

    seneng banget ama kalimAt yeosin wktu berdebat ama heechul di aparteken dia.
    kaTa2nya dingin menusuk jantung..

    makin jAtuh cintrong ama yeosin
    *nah lho*

    Like

    Reply
  2. nisha

     /  November 6, 2012

    aq mau protes, knp wookie disini terkesan manja n tolol bgt c??😥

    Like

    Reply
  3. sagittaliez

     /  May 17, 2013

    kyaaa ini ff agak ence ya scene akhirnya o.O twa nhakak pas bgian wookienya😄 knpa jdi gtu????
    Heechul ssi ku suka gaya mu (?) 😄

    Like

    Reply
  4. jaena_

     /  June 8, 2013

    I like this word : ” Jika dalam pertemuan pertama itu kebetulan, pertemuan kedua juga kebetulan maka pertemuan ketiga adalah kejaiban. Jika di pertemuan keempat adalah ketidaksengajaan aku bertaruh di pertemuan ke lima kita telah di takdirkan.”
    ^.^

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: