[Chap 1] Phantom Of The Palace

[Chap 1] Phantom Of The Palace

Seorang gadis melangkahkan kakinya dengan riang menyusuri jalan setapak menuju singgasana. Ia mengayunkan hanbok barunya dan tersenyum lebar begitu bahagia. Ia melihat orang-orang menatapnya dengan tatapan kagum. Ia menyeret kakinya dan duduk di singgasananya menuggu seseorang datang padanya.

“May I take a picture?” tanya seorang pria asing.

Gadis itu menggangguk membiarkan turis-turis asing itu duduk disebelahnya dan berbagi foto dengannya. Ia memamerkan senyum simplenya dan berbagi pose uniknya.

“Sepertinya ada yang menyukai akting menjadi ratu.”

Gadis itu baru saja melepas tamunya ketika seseorang muncul dihadapannya begitu saja, “sanjangnim?” gadis itu menunduk hormat.

“Kau tidak lelah setiap hari memakai rambut palsu sebanyak itu dan tersenyum dihadapan orang-orang?” pria itu duduk di samping gadis itu.

“Jika ditanya lelah, aku juga lelah tapi aku senang menjalaninya?” gadis itu tersenyum lebar.

“Kenapa kau harus memakai pakaian ratu kenapa tidak pakaia putri yang jauh lebih sederhana? Kau tidak terlihat tua untuk menjadi ratu.”

Gadis itu ikut bersandar di singgasana yang disediakan untuk umum, “Jika ingin bermimpi, bermimpilah setinggi-tingginya dan jangan pernah menyerah.”

“Tch, bahasa apa itu?”

“Neoga ara??” kau tidak tau siapa aku, tantang gadis itu pada pria disampingnya, “aku adalah ratu In Hyun. Ratu sepanjang masa.” Gadis itu tertawa sambil menutup mulutnya.

Pria itu tertawa terbahak-bahak, “Keurom, kau harus berhati-hati pada selir Jang.” Pria itu menunjuk gadis-gadis yang sedang berfoto memakai hanbok sewaan.

“Apa yang membawa Tuan kemari?” gadis itu menatap pria disebelahnya, “kau ingin berfoto denganku juga?”

“Sudahku katakan panggil aku Oppa.”

Gadis itu menyerngitkan keningnya, “kau terlalu tua untuk dipanggil Oppa.”

Pria itu tertawa, “aku membutuhkan seseorang untuk berkerja di istana musim dingin. Tidak perlu berkerja Full kau hanya akan hadir saat jamuan penting dan mengatur makanan.”

Gadis itu mengoyangkan kakinya menimang-nimang tawaran yang diberikan pria itu. Bukannya ia tidak percaya pada pria itu tapi pria itu sudah berbuat banyak padanya. Pria sudah menginjinkannya untuk melakukan pekerjaannya sekarang dan…

“Bayarannya lumayan dan kau masih bisa melanjutkan kuliahmu.”

Gadis itu menatap pria itu lekat, dan tidak ada salahnya mengambil kesempatan yang ada di hadapan mata, “Aku setuju jika begitu.” Gadis itu mengulurkan tangannya dan tersenyum lebar.

>>deson<<

“Siapa gadis itu? Siapa pria itu?”

Aku menatapnya dengan kesal, “Diamlah biar aku bacakan cerita selanjutnya, nanti kau akan mengetahui siapa mereka.”

“Apa kau tidak bisa langsung menjawab pertanyaanku saja biar cerita ini cepat selelsai.”

“Ya! Kau harus menyimak ceritanya jika kau ingin merasakan feel dari cerita ini.”

“Hyo-ah…”

“Cho Kyuhyun-nim, bisa tidak kau mendengarkan saja jika kau tidak suka mendengarkannya biar aku saja yang membaca sampai habis.”

“Kau sudah membacanya berkali-kali, Shin Hyori-nim. Apa lagi yang mau baca, meskipun kau baca berkali-kali tulisan disana tidak akan berubah dan tetap seperti itu.”

Aku menunduk, “Justru karena tulisan didalam buku ini tidak akan berubah, seperti aku yang tidak ingin berubah dan tetap disampingmu saat ini. Jadi ketika aku kehilanganmu kelak. Aku akan membaca buku ini sambil mengingatmu.”

>>deson<<

Ini pertama bagi Sungmin untuk membuka topengnya dan memperlihatkan wajahnya didepan orang yang bukan anggota keluarnya. Rasanya canggung dan terlebih saat melihat gadis disebelahnya menjadi semakin gugup. Ia bisa merasakan kegugupan yang melanda gadis itu. Mereka benar-benar dalam posisi tidak nyaman.

Ia melihat Hyukaje dan Yeosin mengobrol dengan nyaman, mereka bisa menemukan ribuan topik pembicaraan yang sangat bagus. Mereka berdua tidak terlihat canggung bahkan bisa tertawa dengan lepas seperti sudah saling mengenal bertahun-tahun.

“Kau di tahun akhir SNU, pasti sekarang sedang sibuk menulis skipsi.” Taehu mama menatap Haneul dengan tatapan banga. *Taehu mama: Ibu suri.

Sungmin diam seribu bahasa dan lebih menyimak pertanyaan dari Taehu mama yang ditujukan pada Haneul tanpa ikut bertanya sama sekali. Ia sendiri tidak tau apa yang harus ditanyakan. Ia sudah melihat profil gadis itu dan… gadis itu memang cocok menjadi seorang putri mahkota.

“Apa tidak apa-apa kau menikah dulu baru menyelesaikan skripsimu lagi.” Ucap Taehu mama membuat Haneul dan Sungmin membeku, “Ketika kau masuk kedalam istana kau hanya akan fokus pada pangeran dan aturan keluarga kerajaan.”

Halma mama.” Panggil Sungmin penuh hormat.

Taehu mama tertawa sambil menutup mulutnya, “Cheonha kau tidak usah malu. Seiring dengan berjalannya waktu kau akan terbiasa dengan Haneul-nim.” Taehu mama mendeham kecil lalu bangkit dari kursinya, “kurasa kalian perlu waktu untuk berdua.”

Taehu mama menepuk tangan Sungmin perlahan ia kemudian beranjak pergi meninggalkan Sungmin dan Haneul, membuat keduanya semakin duduk canggung.

“Kau ingin aku membuatkanmu teh?” tawar Haneul memecah kecangungan.

“Kita akhiri saja, mumpung kita baru memulainya.” Ucap Sungmin untuk pertama kalinya menatap Haneul, gadis itu menghentikan aktivitasnya dan menatap Sungmin penuh keheranan, “aku tidak berniat melanjutkan pernikahan ini.”

Sungmin melihat perubahan aura dari Haneul, sorot mata gadis itu berubah menjadi dingin berbeda dengan 15 menit yang lalu ketika gadis itu datang ke ruangan ini. Gadis itu tidak terlihat percaya diri bahkan terlihat rapuh.

 “Bagaimana jika aku tidak ingin.” Ucap Haneul membuat Sungmin terbelak. Haneul menaruh cangkir yang di pegangnya, dan menatapa Sungmin lekat, “aku suka tinggal di Istana.”

>>deson<<

“Pangeran Lee Hyukjae adalah pangeran yang paling nakal tapi sesungguhnya dia adalah pangeran yang baik.” Ucap Hwang hung mama sambil menepuk tangan Hyukjae perlahan.

Eomma mama tidak pernah menyebutku nakal meski aku memanjat tembok istana dan kabur keluar istana di tengah malam dan pergi tampa memakai topeng.” Ucap Hyukjae sambil memerkan deretan gigi putihnya.

“Kau pernah melakukan hal itu.” ucap Yeosin tabjub.

“Tentu saja tidak.” Ucap Hyukjae dengan cengiran yang lebih besar dan membuat Yeosin mendecak dengan kesal.

Yeosin merasa lega ketika mendapat perlakuan hangat dari keluarga kerajaan dan mendapatkan sikap terbuka dari Hyukjae Hwangja. Ia merasa seperti berhadapan dengan Oppanya sediri. Bisa tertawa degan lepas dan berbagi cerita.

“Ku dengar kau mempunyai lisensi menyelam Internasional?”

Yeosin menggangguk, “Ne, aku suka menyelam dan melihat pemandangan dasar laut. Cheonha, johahae?”

“Tidak mudah menyelam dengan mengunakan topeng, sangat tidak praktis. Hmm… atau kita bisa pergi keluar negeri dan menyelam disana. Kau bisa mengajariku.”

“Dengan senang hati, Cheonha.” Yeosin tersenyum, “Mungkin kau harus berhati-hati karena mungkin nanti akan ada putri duyung yang jatuh hati pada anda dan mengejar anda.”

Hyukjae tertawa lebar mendengar candaan Yeosin, ia merasa bersama Ji-Eun yang selalu bisa membalas ucapannya tanpa rasa cangung. Meski Yeosin masih sedikit menyisipkan rasa hormat yang berlebihan seperti yang dilakukan oleh teman-temannya dan seluruh abdi kerajaan.

Hyukjae menggengam tangan Yeosin. Ia menginginkan seseorang yang lebih. Seseorang yang bisa melihatnya sebagai manusia biasa yang mempunyai banyak kekurangan dan melengkapi kekurangan itu. Seseorang yang bisa membuat jantungnya berdebar dan nyaman disisinya. Bukan sebagai seorang kakak atau teman, tapi seorang yang sangat spesial.

“Mungkin nanti aku menyakiti hatimu.” Ucap Hyukjae sambil menahan ringisannya, “Kau tau aku paling ahli dalam membuat wanita menangis.”

>>deson<<

Chaesun melirik jam tangannya. Sudah satu jam sejak Raja dan ratu meninggalakan tempat ini dan ia hanya duduk berhadapan dengan Donghae yang mendiamkannya terus menerus. Pria itu malah menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.

Chaesun menatap Donghae dengan lekat, wajah yang selalu membuatnya penasaran dan ini pria itu membuka topengnya. Ia melihat Donghae seumur hidupnya menyaksikan tingkah laku semaunya Donghae, tipikal seorang pangeran manja tapi kini yang ia lihat adalah pria dewasa yang kesepian. Tidak ada teman tidak tau cara berkomunikasi dengan baik.

“Sudah puas melihat wajahku.” Donghae membuka matanya dan membuat Chaesun memalingkan wajahnya.

“Joseonghamnida Cheonha.” Maaafkan saya yang mulia, ucap Chaesun sambil menunduk menyembunyikan wajahnya

“Kurasa kita sudah cukup. Aku akan pergi.” Donghae mengambil topengnya kemudian beranjak pergi meninggalakan Chaesun.

Chaesun menatap kepergian Donghae dengan sendu. Ia menghembuskan nafas kesal. Sekarang ia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Seharusnya ia tau bahwa Donghae akan memperlakukan dia seperti ini. Menyebalkan.

“Dia meninggalkanmu?” Tanya Hyukjae membuat Chaesun menoleh, “Kemarilah kita bermain bersama sama.” Hyukjae melambaikan tangannya menyuruh Chaesun mendekat.

Chaesun menatap Yeosin sesaat kemudian gadis itu tersenyum, “Ayo bermain bersama.”

Chaesun mendekati Yeosin dengan ragu. Ia terbalak ketika melihat kartu yang berserakan di meja. Mereka sedang memainkan permainan kartu belum lagi wajah pangeran Hyukjae dan Yeosin penuh dengan coretan.

“Kau bisa memainkannyakan?” tantang Yeosin dengan senyuman misterius, “Kau harus hati-hati, dia pandai bermain curang.”

“Ya!!” seru Hyukjae disusul suara tawanya dan Yeosin.

>>deson<<

“Mama… Donghae hwangja menghadap.”

Raja melihat Donghae masuk kedalam ruangannya dan duduk dihadapannya begitu saja. Raja menyuruh sekertaris Kim untuk keluar dari ruangannya dan menatap anak bungsunya dengan tatapan halusnya.

“Kenapa appa melakukan hal ini padaku?”

Raja tersenyum. Ia memperbolehkan Donghae untuk memanggilnya appa tanpa ada embel-embel ‘mama’ di belakangnya ketika tidak ada orang di sekitar mereka. Ia membiarkan Donghae keluar masuk ruangannya jika ada sesuatu yang tidak disukainya atau untuk sekedar menceritakan hal-hal yang tidak penting atau untuk sekedar menemani raja.

“Aku tidak ingin dijodohkan dengan dia.” Donghae langsung menunjuk ke point paling penting.

“Wae? Dia memenuhi syarat untuk menjadi bingung mama.” *bingung mama: putri mahkota

“Tapi kenapa harus dengan aku? kenapa aku tidak dipasangkan dengan Yeosin atau Haneul? Yeosin mungkin bisa membuat kami tidak canggung atau Haneul yang bisa membuatku nyaman. Kenapa harus dia. Aku tidak ingin bersama dia.”

“Lee Donghae hwangja-nim, hal yang paling tidak aku sukai adalah ketika ada seseorang yang membandingkan pilihanku.”

“Appa ini tidak adil.”

“Baiklah…” Raja menekan interkomnya, menyuruh sekertaris Kim masuk kedalam ruangan, “Lee Donghae hwangja-nim, ingin membuat satu penawaran. Dia tidak ingin menikah dengan gadis yang dijodohkan dengannya, aku akan mengabulkannya setelah melihat tidak ada perbaikan dalam hubungan mereka setelah satu minggu tinggal di istana musim dingin bersama pangeran dan calon putri lainnya.”

“Appa!!”

“Bagaimana dengan Sungmin Hwangja dan nona Jung?” tanya Raja tanpa mempedulikan Donghae yang hendak protes.

“Sungmin Hwangja-nim tidak memberikan jawaban apapun sementara nona Jung dan keluarganya menerima lamaran ini dengan senang hati, mama.”

“Hyukjae Hwangja  dan Nona Han?”

“Keduanya meminta waktu untuk menetapkan hati, mama.

Raja mengangguk mengerti ia kemudian menatap sekertaris Kim dengan seksama, “Kirim Hyukjae Hwangja dan Donghae Hwangja ke istana musim dingin selama satu minggu bersama dengan calon putri dan siapkan pesta pernikahan Sungmin Hwangja dan nona Jung. Upacara pernikahan akan diadakan satu minggu lagi. Kuharap kau bisa memberikan jawabanmu setelah satu minggu.” Raja menatap Donghae dengan lekat.

Donghae menatap ayahnya tidak percaya, ia mendecak kemudian pergi dengan perasaan gusar.

>>deson<<

“Apa Donghae hwangja menyukai calon kakak iparnya?” Kyuhyun menyandarkan kepalanya di pundakku. Ia mendengarkan satu persatu cerita yang keluar dari bibirku.

“Seperti yang raja bilang, rumput tetangga selalu terlihat lebih indah.” Aku ikut bersandar di puncak kepalanya.

“Raja tidak ingin membuat Donghae Hwangja menyesal kelak. Makanya ia memberikan satu kesempatan untuk Donghae Hwangja. Raja tau bahwa Donghae Hwangja bukan orang yang jahat, ia hanya seorang pangeran yang tidak tau harus berbuat apa.

Hidup sebagai pangeran dengan status belum tentu dia seorang pangeran membuat ketiganya menjadi pribadi yang sensitif dan cenderung melampiaskannya ke hal-hal yang aneh. Mereka hanya mencari ketenangan dan jati diri mereka sendiri, mereka ingin melihat siapa diri mereka sendiri tapi mereka juga takut untuk melihat kenyataan.”

“Apakah kehilangan gelar pangeran begitu menyakitkan?”

“Yang lebih menyakitkan adalah ketika semua yang kau dapatkan itu hanyalah semu. Ditinggalakan adalah hal yang paling menyakitkan, itulah yang ditakutkan oleh para pangeran, dari pada seluruh rakyat dan keluarganya meninggalkannya kelak, mereka lebih memilih menjadi rakyat biasa.”

>>deson<<

Sungmin melipat tangannya di depan Kang Han Jeon menunggu Hyukjae dan Donghae melakukan penghormatan sebelum pergi menuju istana musim dingin. Ia diberitahu untuk menghadap raja untuk melakukan persiapan pernikahan yang tentu saja membuatnya geram setengah mati. Ia bahkan belum memberikan jawaban apapun pada raja, ketika sekertaris Kim bertanya padanya. ia tidak pernah mengira bahwa jawabannya itu telah disalah artikan oleh raja.

Sungmin menoleh saat Haneul datang menghampirinya, gadis itu menunduk hormat.

Keun Oppa…” Ji-Eun berlari riang melewati Haneul kemudian menghampiri Sungmin. Gadis itu kemudian menyisipkan lengan Sungmin di bahunya, “Aku senang.”

Sungmin mengerutkan keningnya, “Kenapa kau begitu senang.”

“Aku mendapatkan seorang Eonni, akhirnya aku mendapatkan sauda perempuan. Aku tidak perlu bermain denganmu lagi atau dengan Hyuk Oppa atau dengan Jogeun oppa, hihihiii…” Ji-Eun memamerkan deretan gigi putihnya, “Aku akan pergi berbelanja dan ke salon dengannya juga membicaran pria yang kusukai padanya.”

Sungmin menurunkan senyumnya saat melihat wajah Ji-Eun memerah, “Kau juga tidak bisa bermain dengannya.”

Mata Ji-Eun membulat, senyumnya memudar, “wae?”

Sungmin menempelkan telunjuknya ke kening Ji-Eun, “Dia milikku.”

“Oppa!!” Ji-Eun mengembungkan pipinya kesal.

“Yak!!” Hyukjae membuka pintu dan melihat Ji-Eun menempel pada Sungmin, “Kenapa kau masih menggangu calon pengantin? Kau tidak boleh melakukan hal itu. Kau tidak lihat wajah Hyungnim sudah memerah?”

 Hyukjae menarik tangan Ji-Eun tanpa mempedulikan tatapan mencegah Sungmin dan kemudian menyeret gadis itu pergi, “Kau harus ikut bersama kami.”

“Mwo? Kemana?”

Sungmin melihat Ji-Eun diapit oleh Donghae dan Hyukjae yang semakin menjauh. Ia menghembuskan nafas panjang ketika melihat gadis itu menghilang di ujung koridor. Ia berbalik masuk kedalam Kang Han Jeon tanpa melihat Haneul yang dari tadi memperhatikannya.

>>deson<<

“Mereka ke Istana musim dingin? Mereka akan bertemu dengan gadis yang kau ceritakan di awal bab tadi?”

“Mereka pergi untuk menjalankan perintah raja. Tapi disinilah takdir sang pangeran dan gadis itu.”

“Takdir?”

“Mana yang tepat menurutmu? Cinta itu takdir, nasib atau usaha?”

“Huh? Pertanyaan bodoh macam apa itu. Cinta itu ya cinta. Memangnya apa lagi.  Ada takdir tapi tidak ada usaha, atau usaha tanpa ada takdir? Bahkan nasib pun tidak bisa mengubah takdir.”

Jadi menurutmu, cinta itu apa Oppa, aku ingin tau. Apa aku boleh mempertahanmu dan egois berdiri disampingmu terus, atau aku akan membiarkan kau pergi begitu saja. Aku tidak tau mana yang lebih menyakitkan dari keduanya. Aku hanya ingin saat aku jatuh nanti aku bisa memilih mana dulu yang akan terjatuh lebih dulu, apakah hatiku atau airmataku.

“Kenapa kau menangis?”

Aku buru-buru menghapus pipiku, “aku lanjukan membaca.”

>>deson<<

“Heechul-ah kau ada dimana?”

“Aku baru saja tiba di Seoul.” Pria itu melepaskan kacamata hitamnya dan mengemudikan mobilnya membelah jalan kota Seoul, “Kau ingin aku kesana?”

“Ne, Pangeran Sungmin mencarimu, aku juga ingin berbicara denganmu tentang beberapa hal?”

“Tentang kerajaan?”

“Kemarilah dulu, nanti kita akan bicara.”

Pria itu mematikan sambungannya dan melajukan mobilnya menuju istana. Tempat yang paling tidak ia sukai, setelah rumahnya sendiri.

>>deson<<

Haneul mengerakan tubuhnya sesuai permintaan dari Yoon Sanni perancang busananya. Ia sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sanni yang akan menjahitkan baju untuk pernikahannya kelak. Pikirannya sangat kacau dan ia tidak tau bagaimana merespon ucapan Sanni.

“Ini adalah kesempatan bagus, raja sudah memiliki 3 calon putri dan karena salah satunya mengundurkan diri karena lebih tertarik dengan karir-nya, maka aku mengajukanmu sebagai pengganti. Beruntungnya dirimu, raja tidak menolak sama sekali.”

“Apakah menjadi mertua raja adalah impian Abeoji?”

“Apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku melakukannya untukmu, kau akan hidup bahagia.”

Haneul menggerakan tubuhnya kedepan cermin dan melihat wajahnya yang terlihat muram. Ia menarik ujung bibirnya membentuk senyuman, tapi tidak berhasil. Ia tetap tidak bisa tersenyum dengan benar.

“Kau pasti sedang gugup.” Ucap Yoon

Haneul menoleh dan melihat seluruh pelayan yang ada di kamarnya tertawa perlahan.

“Aniyo…” ucap Haneul cepat, membuat dirinya semakin salah tingkah.

“Apakah Sungmin Wangjanim sangat tampan? Seperti apa dia?” tanya Sanni sambil mencatat seluruh ukuran tubuhnya.

“Dia seperti… boneka beruang.” Haneul menigigit ujung bibirnya

Sanni tertawa, “Kau pasti sangat menyukainya dan Hwangja juga pasti menyukaimu.”

Haneul kembali terdiam. Suka?? Ia ingat saat Sungmin menghadap raja dan menetang keinginan raja. Ia tidak seperti pangeran tapi seorang anak yang meminta perhatian dari ayahnya.

“Appa mama, apa aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang aku kenal?”

“Siapa yang kau kenal? Seumur hidupmu kau habiskan belajar di dalam istana. Jarang keluar, jarang bersosialisi dengan orang-orang. Siapa yang mau kau nikahi, huh?”

Sanni menyentuh pundak Haneul dengan lembut dan menatap Haneul di cermin, “Sungmin hwangja-nim adalah orang yang sangat ramah dan baik hati meski ia sedikit dingin pada wanita, tapi jika kau bisa membuatnya nyaman bersamamu, maka kau akan menjadi orang pertama yang akan ada dihatinya.”

>>deson<<

“Hyung…” Sungmin melambaikan tangannya pada Heechul yang baru keluar dari Kang Han Jeon, “Aku langsung kemari saat tau kau ada disini.”

“Aku tidak percaya kau mendahului, huh?” Heechul membalas pelukan Sungmin, “pasti gadis itu sangat cantik?”

Sungmin tidak membalas perkataan Heechul malah memukul dada Heechul perlahan, “Kau akan disini bukan, menemaniku?”

Heechul menggeleng, “Aku harus ke Istana musim dingin menemani Hyukjae Hwangja dan Donghae Hwangja serta mengatur jadwal mereka.”

Heechul melihat guratan sedih Sungmin, ia menepuk bahu Sungmi perlahan, “Aku tidak ingin mengganggu, calon pengantin. Lebih baik aku pergi sebelum calon pengantin perempuan jatuh cinta padaku.”

Sungmin tersenyum, “Hyung~”

“Aku sudah melihatnya, dia cantik dan pintar. Dia sangat serasi denganmu dan setidaknya jika kalian saling mencintai, kalian tidak akan melanggar peraturan apapun. Aku yakin kau bisa menyukainya.”

Sungmin tersenyum getir, ia tau apa yang diucapkan oleh Heechul atau Heechul tau seluruh seluk beluk kehidupannya tapi ia tidak yakin apakah ia bisa melakukan apa yang dikatakan oleh Heechul.

“Hyung bagaimana jika kau kekamarku, sebelum kau pergi. Sudah lama sekali kau tidak melihat hasil jepretanku bukan? Sepertinya aku sudah bisa mengalahkanmu dalam hal fotografi”

>>deson<<

Lee Hwangja-Nim

“Ah kau melakukan hal yang sia-sia, Lee Donghae Hwangja-nim.” Ucap Hyukjae dalam perjalan menuju istana musim dingin, ia duduk di depan stir sementara Donghae di sebelahnya dan Ji-Eun duduk manis di belakangnya. Ia meminta untuk membawa mobil sendiri dan tanpa ada pengawal yang mengikuti mereka.,“Kau ingin mengakhiri semua ini tapi kau malah membuat jalan tambahan.”

“Aku akan mengakhirinya dengan memanfaatkan kelemahan perempuan itu. Kau tau apa kelemahan perempuan??” Tanya Donghae membuat Hyukjae mengerutkan keningnya, “Cinta. Aku ingin membuat dia bertekuk lutut dihadapanku kemudian, huss… aku mengusirnya. Membuatnya tidak bisa melupakan aku dan aku akan melupakannya begitu saja.”

Oppa neon?” ucap Ji-Eun dengan tatapan tidak mengerti sedangkan Hyukjae hanya menggeleng lemah.

“Kau tau betapa aku membenci gadis itu? Jika kau berada diposisiku kau pasti akan merasakannya. Ini adalah kesempatan terbaikku dan aku akan mengunakannya dengan sebaik-baiknya.” Donghae mengeluarkan smiriknya.

“Itu keterlaluan, oppa.” Ucap Ji-Eun perlahan, “Sebagai wanita aku juga bisa merasakannya tapi aku juga merasakan hal yang kau rasakan. Bersekolah di Akademi kerajaan dimana banyak anak berpengaruh didalam negeri dimana bisa menjadi baik di depan kita dan jahat di belakang kita, tapi tidak dari semua anak di akademi kerajaan seperti itu kan?”

“Aku akan melihatmu dengan baik.”Ucap Hyukjae memotong ucapan Donghae, “Aku juga akan menyiapkan tisu sebanyak-banyaknya.”

“Yak kau tidak mendukungku?” Teriak Donghae.

Hyukjae menghentikan mobilnya dan menatap Donghae, “Aku akan mendukungmu dan mempersiapakan tisu sebanyak-banyaknya untuk meminimalisir resiko hahhaa…”

Donghae mendengus kesal, ia memakai topengnya kemudian membuka pintu. Hyukjae menggeleng perlahan saat Donghae dan Ji-Eun sudah turun dari mobilnya. Ia meminggirkan mobilnya dan menempatkan di tempat parkirnya sendiir.

“Chogiyo… apa para pangeran sudah datang?”

Hyukjae membelakan matanya, saat melihat seorang gadis dengan tergesa-gesa memakai sepatunya. Ia menyentuh wajahnya dan… ia tidak memakai apapun saat itu. Ia tersenyum melihat gadis itu, “Sepertinya mereka sudah menunggu di ruang tamu.”

“Ah aku terlambat. Bisa kau pegang ini?” gadis itu menarik tangan Hyukjae dan menyerahkan sepasang sarung tangan hitam, gadis itu membetulkan sepatunya dan membereskan bajunya, “huuftt…. Eottokhae? Apa aku sudah rapih?”

Hyukjae menggangguk.

Gadis itu mengambil sarung tangannya, “Gomawoyo…” gadis itu melambaikan tangannya kemudian melangkahkan kakinya menjauhi Hyukjae.

Hyukjae menatap gadis itu sejenak. Ia tertawa kemudian merogoh tasnya dan mengambil topengnya dan dengan berat hati memakai topeng itu kembali. Entah sejak kapan ia harus menjalankan peran sebagai pangeran yang baik, ia ingin segera mengakhiri permainan ini. Segera.

>>deson<<

“Ya! Hyung…”

Hyukjae langsung melompat pada punggung seorang pria, pria itu seketika runtuh dan terjatuh ke lantai. Donghae yang tadi sedang duduk ikutan menarik kaki pria itu. Hyukjae dengan cepat bangun dan menarik tangan pria itu.

“Ya!… hajima…” pria itu melawan tapi masih bisa tertawa.

“Aichorom… aishh kalian seperti anak kecil.” Ucap Ji-Eun mencibir kakaknya yang tertawa dilantai.

Donghae dan Hyukjae melepaskan pria itu dan duduk dilantai disebelah pria itu sambil mengatur nafas mereka. Keduanya menyandarkan kepalanya ke pundak pria itu sambil terus tersenyum.

“Gongju-nim… kau sudah besar sekarang?”

“Oppa yang tidak pernah beranjak dewasa.” Cibir Ji-Eun, “Apa kalian tidak melihat mereka memperhatikan kalian.”

“Aigo tuan putri sudah mulai dewasa dan mulai berkomentar ini dan itu.” Hyukjae beranjak dari duduknya dan duduk sofa di hadapan Ji-Eun, “Kau akan cepat tua jika begitu terus.”

“Kau tidak merindukanku?” Pria itu merentangkan tangannya.

“Jungsoo Oppa.” Ji-Eun beranjak dan memeluk Jungsoo dengan hangat.

“Jadi kalian akan disini selama satu minggu?” tanya Jungsoo duduk di sebelah Hyukjae dan Donghae.

“Sebenarnya aku ingin tinggal di sini selamanya. Awww…” Hyukjae meringis saat Ji-Eun mencubit lengannya.

“Lihat dia sudah seperti buku peraturan keluarga kerajaan.” Ledek Donghae

“Dia mirip sekali dengan Eomma.” Tambah Hyukjae

“Oppa!!”

“Ini bukan istana.”

“Kau tetap tidak boleh Eomma mama dengan sebutan Eomma.”

“Kenapa? Eomma, eomma, eomma, eomma, eom aaaaw… Yak!”

“Kalian mau menikah tapi masih seperti anak kecil.” Jungsoo mengelengkan kepalanya penuh frustasi.

Donghae hendak membuka mulutnya ketika ia melihat Chaesun dan Yeosin masuk kedalam ruang tamu istana. Ia memiringkan kepalanya sambil melihat Chaesun, gadis itu tidak terlalu jelek bahkan mempunyai bentuk tubuh yang bagus.

“Hyung kau sudah lihat calon istriku?” Donghae berdiri dan menghampiri Chaesun. Ia menarik bahu Chaesun dan menghadapkannya ke Jungsoo, “Namanya Shim Chaesun, cantikkan?” Donghae menarik bahu Chaesun menenghadapnya kemudian mendekatkan bibirnya ke Chaesun.

>>deson<<

“Hyukjae hwangja bilang dia sudah menunggu di ruang tamu. Sebaiknya kita segera ke sana.” Ucap Yeosin membuat Chaesun mengagguk perlahan.

Dijodohkan dengan salah satu calon penguasa negeri ini yang sangat menentang keras perjodohan ini sangat sulit bagi Chaesun. Donghae yang merupakan Sunbaenya di akademi kerajaan yang terkenal blak-blakan dalam menampilkan emosinya.

Chaesun tidak perlu seorang peramal untuk mengatahui perasaan Donghae yang setengah mati membencinya. Ia bahkan tidak percaya ketika pengawal istana datang ke rumahnya dan membawa surat perintah raja. Ia rasa dunianya berhenti berputar saat itu.

“Sepertinya mereka sedang bermain.” Ucap Yeosin saat mendengar suara tawa yang tak asing di telinga mereka.

Seorang pelayan membukan pintu dan semua pandangan tertuju pada mereka berdua. Yeosin dan Chaesun menundukan kepalanya hormat.

“Hyung kau sudah melihat calon istriku?” Chaesun melihat seorang pangeran berdiri dari duduknya kemudian menarik Chaesun menghadap seorang pria yang terasa asing di matanya, ia yakin pria itu adalah Donghae, tubuhnya yang lebih berisi dari Hyukjae dan suaranya yang lebih berat, tapi tidak yakin yang menyentuhnya ini adalah Donghae, “Namanya Shim Chaesun, cantikkan?”

Chaesun hendak membungkuk tapi tangan Donghae menahannya, pria itu menghadapkan wajahnya ke wajah Chaesun. Ia bisa merasakan wajah Donghae semakin mendekati wajahnya. Chaesun meremas tas jinjing yang dibawanya, lehernya menjadi kaku dan tubuhnya menjadi dingin. ia memejamkan matanya ketika nafas Donghae menyentuh wajahnya.

Cengkraman tangan Donghae mengendur membuat Chaesun sadar bahwa Donghae tidak mungkin menyentuhnya. Ia membuka mata dan melihat cengiran kemenangan Donghae. Ia merasakan jantungnya berdetak dengan kencang.

>>deson<<

“Aku pikir Donghae hwangja akan mencium Chaesun.”

“Nado…” Aku menggeleng perlahan, “Tapi sepertinya tidak mungkin, Akan sakit sekali Chaesun bila tau dia hanya dijadikan permainan oleh Donghae Hwangja-nim??”

“Lalu bagaimana dengan Haneul dan Sungmin Hwangja-nim?”

Aku menggeleng lemah.

“Sudah malam kau sebaiknya tidur, aku akan pergi.”

Aku menarik tubuhnya, “Aku masih mau membaca, temanin aku dulu. Setelah itu kau boleh pergi.”

Dia kembali duduk disampingku dan aku mulai membaca halaman berikutnya.

Oppa kau tau stenografi?? Yaitu ilmu menyembunyikan pesan rahasia, seperti yang dilakukan leonardo da vici pada lukisan monalisa dan juga Shin Hyo Jung yang menyembukan video pembunuhan di dalam videonya. Aku ingin melakukan hal yang sama. Aku ingin menyimpan kenangan kita. Ketika nanti aku membuka buku ini… aku akan merasa kau ada disampingku menemaniku hingga aku selesai membacanya.

TBC…

Mulai agak ribet yah hahahaaa… udah mencium bau-bau biang kerusuhan… yupsss… setiap couple ga ada yang mulus hahahahaaaa /ketawa pipiot/ berpikir memunculkan pipiot di beberapa bagian *loh*

Ini adalah karya kolosal kedua dan yang pertama dalam setting Korea… jangan nanya yang pertama itu apa dan kayak gimana, karna saya aja suka ketawa bacanya, sumpah itu adalah cerita pertama yg saya buat dan bakal di musiumkan hahahhaaa…

Leave a comment

10 Comments

  1. the first lagi?? hhehehee *nyengir lebar*
    oowh, jadi sanni jadi itu…
    arrata..
    itu sungmin sm haneul udah langsung di nikahin aja?
    gw dukung hae disini.. kkkkk^^ *suka liat sun menderita* *plaaak*😀
    ahh, yoo suka sm jungsoo tah? atau sebaliknya?

    Like

    Reply
  2. makin seru euyyy….\
    dan itu TBC knapa ada disitu?? hahahahahaha

    belum ada neh penampakan cinta pada pandangan pertama hahahaha

    lanjut!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Like

    Reply
  3. sagittaliez

     /  May 17, 2013

    tuhkan full nya bner” cetar😀 kyaaa ff nya bgus bgt >.< rumit bgt kisah cintanya tp saya sukaa😀
    ooh iya itu cwe nya kyukyu agak aneh*ditendang* berasa dia bkal mati gitu ato kyukyu nya yg mati??? wkwkwk*author asah samurai*😀
    ini blum ada lanjutannya kan???

    Like

    Reply
  4. ipump

     /  May 31, 2013

    hello. am new reader. ..
    oh,this is cool story. . . yay!,my hae be a bad boy.. excited to wait the next part.
    um, may i request somethng. could u type with other colour. that blue make me difficult to read. i cant read it clearly..🙂

    fighting😉

    Like

    Reply
    • hello… did u see my blog via mobilephone?? ah~ my blog theme is dark so i used bright colour for the text, it’s different from mobilephone’s layout…
      i’ll find the solusion…
      thankyu :*

      Like

      Reply
  5. yesungwife

     /  February 8, 2014

    Makin seru ceritanya. .konflik mulai bermnculan. .
    Ming jatuh cinta sama adeknya, hyuk belum jatuh cinta sma yeosin. .donghae benci chaesun. .heenim, leeteuk muncul YESSSS

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: