CoffeeMilk: They is our LOVE

Namhee n Yeohee

They Love is Our

“Eomma…”

Yeosin menoleh pada putranya yang sedang merengek di menja makan. Namhee duduk di kursinya sambil mengaduk-aduk buburnya tidak bernafsu. Anak itu tidak masuk sekolah karena badannya panas setelah bermain hujan-hujanan dengan teman-temannya. Heechul bahkan harus menyeretnya pulang dan mengurungnya di kamar agar tidak keluar rumah lagi.

“Kenapa Eomma mau menikah dengan Appa yang galak?”

Yeosin menempelkan tangannya di kening putranya memastikan bahwa suhu tubuh Namhee masih wajar. Suhu tubuh Namhee sudah turun tapi anak itu tidak mau makan makanannya.

“Makan makananmu sebelum Appa-mu datang dan memarahimu lagi. Kau tidak ingin kena marah lagi bukan?”

Tadi pagi Heechul marah besar karena mendapati Namhee demam. Ia tidak bisa melakukan hal apapun dengan benar karena mulutnya terus berbicara, mengomelkan hal yang tidak perlu sampai membuat Yeosin ingin meledak. Ia berhenti mengomel setelah pergi bersama Yeohee.

“Appa bukannya kejam atau jahat tapi dia sayang padamu. Lihat sekarang, badanmu panas, tidak enak makan. Tidak enak tidur. Tidak bisa sekolah, tidak bisa bermain. Jika kau menurut pada Appa, kau tidak mungkin jatuh sakit. Appa tidak akan mengomel dan tidak akan membuat eomma sakit kepala.”

“Tapikan aku sakit, harusnya Appa tidak memarahiku.”

“Appa marah karena, Appa sayang padamu.”

Namhee memanyunkan bibirnya, “Shiroo…”

“Kim Namhee…” seru Yeosin perlahan, “Appa berbuat seperti itu karena dia sayang padamu. Dia tidak ingin kau terluka. Dia ingin kau sehat. Dia ingin kau menjadi anak yang baik.”

“Shiroo… aku tidak ingin punya Appa seperti itu. Aku ingin punya Appa seperti Siwon Samchon.” Namhee melipat kedua tangannya dan memajukan bibirnya sama seperti Heechul ketika marah.

Yeosin menggeleng perlahan lalu memeluk putranya, “Jangan berkata seperti itu. Jika ayahmu mendengarnya dia pasti merasa sedih.”

“Dia ayah yang kejam.” Tutur Namhee sambil mengigit bibirnya, “Eomma harusnya tidak menikah dengannya.”

>>deson<<

Heechul menemukan Yeohee sedang duduk di bangku sekolahnya. Anak itu duduk di tempat yang bisa langsung terlihat oleh Heechul, jauh dari teman-temannya yang lain.

Yeohee mengembungkan pipinya sesekali kebosanan. Anak itu pasti sudah lama keluar dari kelasnya dan menunggu dirinya. Biasanya Yeosin yang menjemput anak-anaknya dan pastinya Yeosin tidak pernah terlambat menjemput mereka.

Heechul menyunggingkan senyumnya ketika melihat ekspresi Yeohee yang mirip dengan Yeosin ketika sedang bosan.

“Appa!!” Yeohee berlari menghampiri Heechul merentangkan tangannya meminta di gedong. Heechul menarik putrinya dan mengendongnya dengan mudah.

“Uri dall, sudah lama menunggu?”

Yeohee mengganguk, “Appa kenapa kau lama sekali, aku bosan menunggumu.”

“Kau tidak bermain dengan teman-temanmu? Selagi kau menunggu jemputanmu?” Heechul menunjuk kearah teman-teman Yeohee yang sedang bermain bersama.

Yeohee menggeleng, “Eomma akan marah jika baju dan tanganku kotor. Dia akan mengomel jika aku berantakan.”

Heechul menyunggingkan senyum separohnya kemudian membawa putrinya ke dalam mobil. Ia memasangkan sitbelt dengan telaten sebelum menjalankan mobilnya.

“Kau sudah makan?”

“Sudah.” Jawab Yeohee cepat.

“Kapan?”

“Eomma memberikanku bekal.”

“Aaah Eomma-mu itu.” Heechul menggeleng, “Selalu saja membuat bekal. Apa dia tidak bosan memasak terus. Bilang pada Eommamu, jangan terlalu pelit. Kita sekali-kali perlu makan makanan lain.”

Yeohee terkekeh, “Kata Eomma makanan buatan sendiri itu lebih terjamin kebersihannya. Lebih sehat dan tentu lebih hbaik.”

Heechul mengerutkan keningnya, “aigooo… lama-lama kau mirip sekali dengan Eommamu.”

“Waeyo? Bukannya Appa menikah dengan Eomma karena Appa mencintainya?”

>>deson<<

“Jika Eomma tidak menikah dengan Appa. Maka kau dan Yeohee tidak akan ada di dunia ini.” Yeosin merapatkan dirinya pada Namhee dan menyandarkan putranya itu di dadanya.

“Kenapa Eomma memilih Appa? Kenapa Eomma tidak pacaran saja dengan Siwon Samchon atau Sungmin Samchon. Mereka lebih tampan dan kaya.”

“Hushh…,” Yeosin menarik ujung bibirnya sambil tersipu malu, “Mungkin Karena Appa yang meminta Eomma menjadi istrinya terlebih dahulu.”

“Kenapa Eomma tidak menolaknya?”

“Karena Eomma lebih menyukai Siwon samchon sebagai seorang kakak dan Sungmin Samchon sebagai seorang sahabat. Appamu berbeda dengan yang lainnya, dia bisa melindungi Eomma sekaligus menjadi teman yang baik.”

“Tapi Appa-kan galak dan cewet.”

“Dia hanya tidak tau bagaimana cara untuk tidak khawatir padamu. Dia adalah orang yang paling khawatir didunia saat Eomma mengandungmu. Kau tau? Dia menelepon Eomma setiap jam untuk memastikan Eomma baik-baik saja. Eomma bahkan pusing menghadapi sikapnya. Dia akan marah saat Eomma terluka, dia tidak menyalakan Eomma tapi menyalahkan dirinya sendirinya sendiri, dan menangis. Saat itu Eomma tau bahwa dia sangat mencintai kita.

“Waktu kandungan Eomma menginjak 8 bulan dia bahkan tidak tidur. Dia selalu ada saat Eomma membutuhkan bantuan. Dia ada di dekat Eomma saat kalian lahir. Dia orang yang pertama tersenyum saat mendengar kau menangis untuk pertama kalinya. Dia menangis karena Bahagia.

“Dia merawatmu dengan sangat hati-hati. Tidak membiarkan seorangpun menyakiti kalian. Dia akan mengamuk atau marah jika kalian terluka. Itu karena kalian adalah buah hatinya.”

“Eomma kadang iri pada kalian yang begitu banyak perhatian darinya.” Yeosin mengecup puncak kepala Namhee.

“Eomma…” Namhee melepaskan pelukan Yeosin dan menatap ibunya dengan lembut, “Aku sudah besar. Aku bukan bayi lagi yang harus di jaga. Mulai sekarang aku yang akan menjaga Eomma.” Namhee menepuk bahu Yeosin perlahan.

Yeosin terkekeh, “Kalau begitu kau harus makan yang banyak agar kuat.” Yeosin menyerahkan makanan Namhee dan menatap anak itu makan dengan lahap.

>>deson<<

“Appa menikahinya karena dia satu-satunya gadis yang bisa bertahan hidup dengan Appa. Dia gadis yang bisa menerima Appa apa adanya. Dia gadis yang bisa mengerti keadaan Appa. Dia gadis yang paling cantik di mata Appa dan Satu-satunya gadis yang bisa memberikan seorang putra yang tampan dan putri yang cantik.”

“Memangnya gadis lain tidak bisa?”

Heechul menerawang, “bukannya tidak bisa… tapi, nanti jika kau sudah besar kau akan mengerti sendiri.”

“Aku juga sudah besar.” Yeohee melipat tanganya didepan dada kemudian menatap Heechul tajam.

“Hmmm….” Heechul berpikir keras, “Karena Eomma cantik.”

“Jessica Imo, Taeyeon Imo, Seohyun Imo, Sooyoung Imo juga cantik.”

Heechul melirik ke putrinya, “hmmm karena takdir.”

“Takdir itu apa?”

“Takdir itu pekerjaan Tuhan, dia yang menentukan kita akan menikah dengan siapa dan kapan.”

“Kalau begitu aku akan menikah dengan siapa?”

“Nanti kau akan tau.”

“Aku mau tau sekarang.” Ucap Yeohee tidak mau mengalah

Han Yeosin, apa yang kau ajarkan pada anak-anak. Kenapa semuanya sangat bawel seperti dirimu. Heechul melirik kea rah Yeohee yang masih menantikan jawaban dari Heechul dengan tatapan berbinar.

“Kau tau siapa pasangan tangan?” tanya Heechul diikuti gelengan Yeohee, “yaitu mata.”

“Wae?”

“Karena saat tangan terluka, mata menangis dan ketika mata menangis tangan akan mengusap air matanya. Begitulah cinta.”

Heechul meminggirkan mobilnya kemudian merogoh ponselnya. Ia membuka gallery dan menunjukan foto-fotonya bersama dengan Yeosin saat masih berdua dulu.

“Eomma cantik bukan? Dia kalau tersenyum sangat cantik. Dia juga pandai memasak. Dia dulu pernah ikut ajang Miss Korea. Meskipun tidak menang tapi bagi Appa dia tetap yang paling cantik. Dia juga pintar dan sangat penyabar. Dia tidak akan marah jika Appa telat. Dia tidak akan marah jika Appa sibuk. Dia akan memberikan nasihat pada Appa jika Appa sedang susah.”

“Dia sangat memperhatikan kita, bahkan diatas dirinya sendiri. Dia bangun lebih pagi untuk membuatkan kita sarapan dan bekal. Dia makan setelah kita kenyang dan tidur setelah kita terlelap.”

“Appa… aku juga ingin seperti Eomma…” ucap Yeohee sambil memamerkan deretan gigi putihnya.

Heechul tersenyum, “Iya.. asal jangan sifat cerewetnya kau ikuti hhaahahaaa…”

Yeohee mengagguk polos

“Kau mau makan es krim?”

>>deson<<

“Eomma Yeohee makan Es krim.” Teriak Namhee saat adiknya pulang dengan belepotan coklat di baju seragamnya.

Yeosin langsung menatap dingin kearah Heechul. Ia menarik Yeohee dan mengelap mulut Yeohee dengan tangannya, “Eomma sudah bilang jangan makan belepotan.”

“Eommaa…” rengek Namhee diatas sofa

“kenapa kau membelikannya eskrim?” bisik Yeosin diikuti tatapan tidak peduli dari Heechul. Ia kemudian menggendong Yeohee kekamarnya dan mengelap wajahnya dan menganti bajunya.

Heechul mengangkat bahunya kemudian menghampiri Namhee. Ia menempelkan tangannya ke kening Namhee kemudian ke keningnya, “kau sudah minum obat?”

“Aku mau eskrim.”

“Nanti Appa belikan.”

“Andwae….” Teriak Yeosin. Ia menatap Heechul dengan sinis kemudian menggendong Namhee ke kamarnya, ia mengecup kening putranya kemudian pergi kedapur.

Heechul memajukan bibirnya kemudian meraih Namhee dan membawanya ke kamar anaknya. Ia menempatkan putranya di kasur berbentuk mobil bersebelahan dengan Yeohee yang memakai kasur seperti kasur barbie.

Heechul mencium kening Namhee kemudian Yeohee sebelum pergi dan meninggalkan keduanya untuk tidur siang.

“Appa jahat padaku tapi baik padamu.” Ucap Namhee lirih.

“Eomma tidak pernah memarahimu tapi selalu marah padaku.” Sahut Yeohee

“Itu karena kau selalu berantakan.”

“Itu karena kau tidak pernah menurut.”

“Kau juga sering berantakan.”

“Kau yang selalu baik didepan meraka.”

“Kau jahat.”

“Kau juga jahat.”

>>deson<<

“Kenapa kau membiarkan Namhee tidur bersama Yeohee. Yeohee bisa saja terturalar deman Namhee.” Ucap Yeosin saat menyadari putranya sudah lenyap dari kamarnya.

“Namhee sudah tidak demam lagi.” Jawab Heechul enteng lalu mengambil posisinya di sisi kanan kasur.

“Dan kenapa kau memberikan Yeohee eskrim padahal dia tidak bisa makan eskrim?”

“Han Yeosin-ssi, aku hanya memberikan anakku makanan kesukaannya saja. Itupun tidak setiap hari.”

“Tapi Yeohee kita alergi susu sapi. Kau ingat?”

“Aku sangat mengingatnya, kau tidak perlu khawatir. Aku membeli susu kedelai bukan susu sapi.” Heechul melambaikan tangannya menyuruh Yeosin untuk naik keatas ranjang.

Yeosin menuruti keinginan Heechul lalu naik ke sisi kiri ranjang, “Kau bilang jangan khawatir tapi jika anakmu kenapa-kenapa kau akan mengomel sepanjang hari dan menyalahkan aku.”

“Aku tidak menyalahkanmu.” Potong Heechul cepat.

“Lalu tadi pagi itu apa? Namhee seharian menangis, kau marah-marah, Yeohee ikutan menangis. Kau pikir aku tidak stress.”

Heechul mendekatkan dirinya pada Yeosin, lalu merangkul istrinya perlahan, “Aku hanya panik, hanya….”

“tch, alasan.” Yeosin menghindari Heechul

Heechul menghembuskan nafas panjang, “Mianhae.” Ia kemudian menarik Yeosin kepelukannya, “Aku hanya panik. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”

“Jangan membuat anak-anak takut…”

Heechul memotong ucapan yeosin dengan kecupan singkatnya, “Kau selalu mengurus anak-anak dan tidak ada waktu denganku.”

Yeosin membalas ciuman Heechul. Heechul melingkarkan tanganya di pinggang Yeosin dan tangan satunya melepas kaos luar yang dipakai Yeosin. Heechul mengangkat tubuh Yeosin dan menjatuhkannya di kasur.

Yeosin menurun kan tangannya ke celana Heechul…

“Eommaaa….”

“Appaa….”

Heechul mengehentikan gerakannya. Yeosin segera menarik selimut menyelimuti dirinya.

“Ada apa kenapa kalian tidak tidur?” Tanya Yeosin sambil menyuruh Heechul mengambilkan bajunya yang tergeletak di lantai.

Namhee dan Yeohee berlari ke atas kasur lalu memeluk ibu mereka dengan erat.

“Namhee jahat.”

“Yeohee jahat.”

Yeosin mengusap kepala Namhee dan Yeohee dengan lembut, “ssstt,,, jangan berkata seperti itu kepada saudara kalian.”

“Yeohee yang mulai duluan.”

“Anni… Namhee yang mengejekku duluan.”

“Keumanhae… Kalian harus tidur tidur.” Yeosin menidurkan anak-anaknya di tengah kasur.

“Aku ingin dekat Eomma….” Namhee bergulung ke sebelah Yeohee namun Yeohee tidak mau menyerahkan posisinya.

Yeosin kemudian mengeser tubuhnya dan tidur diantara kedua anaknya.

Heechul mendecak frustasi lalu berbaring bersama anak-anaknya, “Namhee-ya, Yeohee-ya… kalian tidak ingin mempunyai adik lagi?”

“Shirooo…” jawab Namhee dan Yeohee bersama-sama.

Heechul membulatkan matanya, “Yak! Appa juga butuh Eomma.” Heechul merentangkan tanganya memeluk anak-anaknya dan juga Yeosin.

Bugg… Heechul merasakan sebuah tendangan di tubuhnya, membuatnya kesadaranya meningkat.

“Oeee… oeee…”

“Heechul-ssi… bisakah kau mendiamkannya sebentar.” Heechul merasakan dorongan yang lebih kuat.

Heechul membuka matanya dengan malas, ia melirik jam yang masih menunjukan tengah malam, lalu berjalan ke box yang tidak jauh dari ranjangnya. Ia mengambil salah satu bayi yang sedang menangis kemudian menimangnya.

Ia menimang putrinya yang sudah terlelap, ia baru saja merasakan mimpi yang aneh. Melihat anak-anaknya tumbuh menjadi gadis dan pria yang pintar dan menggemaskan.

“Oeee… Oeeee…”

Heechul menghela nafas saat putra merengek, “Ya! Han Yeosin… ireonaseyo…”

Yeosin bergelung kesisi lain kasur sebelum bangun dan menghampiri Heechul. Ia mengendong putranya dengan telaten lalu menimang-nimangnya dengan mata yang masih tertutup.

Rumahnya sangat ramai sebulan terakhir karena ada keluarga Yeosin dan keluarganya yang membantunya merawat bayi kembar yang baru saja lahir ke dunia. Seminggu yang lalu ibunya dan Hejin pulang ke rumah mereka sementara ibu mertuanya pulang tadi pagi.

Wajah Yeosin masih pucat pasca melahirkan dan harus bangun setiap jam setiap salah satu anaknya menangis. Ia tidak tau bagaimana letihnya Yeosin, tapi istrinya itu masih tersenyum dengan manisnya.

“Eotteokhae?” tanya Heechul dijawab dengan gumaman Yeosin, “Menjadi seorang ibu, bagaimana rasanya.”

Yeosin membuka matanya lalu menatap Heechul, “Bagaimana rasanya menjadi seorang ayah.”

Heechul menarik ujung bibirnya membentuk sebuah lekukan yang sempurna, “Rasanya baru kemarin aku melamarmu dan hidup sebagai orang biasa, tidak terasa hampir 2 tahun dan sekarang kita punya 2 bayi.”

Yeosin menyimak ucapan Heechul dengan susah payah.

“Sebentar lagi aku akan kembali ke Superjunior dengan latihan, album dan konser, aku tidak akan mempunyai banyak waktu untukmu dan anak-anak dan kau akan menjalaninya sendiri seperti dulu. Menyembunyikan identitas dan bersembunyi dari sesaeng fans dan juga wartawan.”

Yeosin menyunggingkan senyumnya, “Aku sudah ahli dalam hal itu.”

Heechul tersenyum puas mendengar jawaban Heechul. Ia lalu menaruh putri yang sudah tertidur nya kedalam box diikuti oleh Yeosin.

“Kau tau apa mimpiku tadi?” Heechul menarik Yeosin mendekatinya.

Yeosin mendongkah, “tidak tau.”

Heechul memeluk Yeosin dengan erat sambil mencium aroma tubuh gadis itu dengan sebaik-baiknya. Ia tidak bisa menyentuh gadis itu dan membuatnya tersiksa. Ia hanya bisa bersabar hingga tubuh Yeosin fit.

“Namhee dan Yeohee tumbuh menjadi anak yang pintar dan sehat.” Ucap Heechul setengah berbisik, “dan mereka juga tidak keberatan untuk diberi adik aahhhh…”

Heechul meringis saat tangan mungil Yeosin mencubit kulit perutnya.

“Aku mengantuk.” Yeosin mengacuhkan Heechul sambil berlalu ke kasur.

Heechul meraih sisi ranjangnya sambil terus menatap Yeosin, “mana yang kau suka, Yeonhee, Hyuhhee, Sohee, Junghee, Sonhee, Taehee, Sanhee.”

Yeosin menutup telinganya dengan bantal.

“Ya! Han Yeosin…”

 ======================================================================================================================

why i write this stupid story… bukan kayak gini awalnya kenapa malah jadi horor gini ya hahahaaa… oke welcome to home our baby Kim Namhee dan Kim Yeohee…

hmmm… sebenernya agak ragu memberi nama kalian Namhee n Yeohee… tapi karena Heechul Appa bersikeras member kalian nama  Kim Jal Saenggin Namja Heechuli Adeul  dan Kim Areumdawoon Yeoja Heechuli Ddal sangat panjang, aneh dan terdengar tidak familiar maka Eomma  disingkat Jadi Namhee dan Yeohee hehee…

Next Post
Leave a comment

8 Comments

  1. Nia KyuEun

     /  June 7, 2013

    Sempet bingung sih awal’a, knpa mreka udh gede aja? Tapi trnyata mimpi
    lucu bgt dh kayak’a kalau punya keluarga yg kayak bgitu, tiap hari’a pasti ga ngebosenin hehe

    Like

    Reply
  2. Gemes bgt liat mereka berdua. Aku suka Namhee hahaha. Polos nya Yeonhee juga keliatan bgt xD, aku pikir mereka emg udah langsung gede. Ternyata mimpi nya Heechul haha. Next aku tunggu yaa ^^

    Like

    Reply
  3. Udah lama ga baca CoffeMilk… FF ini berhasil mengobati kerinduanku pada Heechul yang ga lama lagi kelar dengan wamil-nya. Yippie! ^^

    Like

    Reply
  4. Setelah sekian lama,,, akhirnya muncul juga part lanjutannya… Dtunggu part selanjutnya ya..

    Like

    Reply
  5. utit

     /  June 12, 2013

    eits dah cuma mimpi…
    pdhl waktu si kembar gangguin appa-eomma di ranjang seru banget tuh..

    g nyangka namhee terobsesi pingin punya appa kayak siwon atau sungmin…

    dan bisa2nya heechul nasehatin anaknya spy g cerewet pdhl dia bawelnya melebihi nenek-nenek

    hua,miss u so much dear
    tp bentar lg abang kluar wamil khan🙂
    siap siap meluncur kesini nunggu lanjutan coffemilk
    annyeong
    *lambai cantik*

    Like

    Reply
  6. monkeye

     /  June 30, 2013

    kkkkkk ngakak ngebayanginnya. eoh aq g inget pernah komen pa kgak. lma nyri lg ni blog kk. its good story Yeosin sii. btw bangapta…

    Like

    Reply
  7. song yoo jin

     /  July 19, 2013

    Terharu ma kata2 mereka ttg masing2 pasangannya.. :p

    Like

    Reply
  8. baru ingat mampir ke blognya dek deson hehehehehe..mian
    nyampe dimari langsung disuguhi coffeemilk, asekkk..kangen ama kluarga ini hohoho..

    woallah, kirain beneran ternyata mimpi hahahahah..

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: