Sillent

1

SILENT

By: Deson Horvejkull

 

Jika kau belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai dia dengan diam. Karena diammu adalah bukti cintamu padanya. Dengan begitu kau memuliakan dirinya, karena kau tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang dan tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya. Dari diammu sungguh telah memuliakan dirinya dan dirimu juga terjaga. Sebagaimana Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib yang diam namun akhirnya menikah juga. Bersabarlah dalam diammu. Karena tulang rusuk tak akan tertukar. -Nn-

“Bersabarlah, karena tulang rusuk tak akan tertukar.” Ulang Kiki dalam hati. Ia menatap wajahnya dalam cermin dan menggumamkan kata kata keramatnya, bersabarlah, karena tulang rusuk tak akan tertukar.

Ia tidak pernah mengerti kenapa Allah menciptakan perempuan dari tulang rusuk pria. Kenapa harus tulang rusuk, kenapa tidak tulang-tulang yang lain.

Kiki menepuk pipinya dua kali. Wajahnya sudah tidak sembab lagi. Dua jam ia menangis. Sakit hati dan lelah raga.

Bagiamana tidak sakit jika pria yang selama ini dekat dengannya. Pria yang menaruh perhatian lebih padanya, pria yang diam-diam di taksirnya. Malah menyatakan cinta pada sahabatnya. Teman terbaiknya.

Kiki menutup laptopnya. Seharusnya ia memang tidak bergentayangan di dunia maya itu. Dia seharusnya tidak membuka account pribadi milik pria itu dan dia seharusnya tidak sakit hati.

Huffft… Kiki menghembuskan nafas panjang. Mungkin begini lebih baik. Dari pada harus terus memendam.

Kiki memasukan laptopnya ke tas kemudian keluar dari perpustakaan, ia tidak mungkin menghabiskan seluruh harinya di perpustakan. Ia juga masih mempunyai beberapa jadwal kuliah.

Kiki mendengus kesal saat melihat Hujan. Ia mendongkah wajahnya ke langit dan sepertinya hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Ia tidak membawa payung, karena ia tau ini musim kemarau.

“Hei… kenapa nangis?”

“Siapa? Tidak.” Kiki tersentak kemudian menoleh, Geo teman satu jurusannya berdiri tepat disampingnya sambil memandang langit luas. Ia yakin Geo bertanya kenapa ia menangis, tapi bagaimana pria itu tau jika ia sudah menangis. Ia hanya menangis dalam diam. Ia sendiri bahkan tidak sadar jika menangis.

“Kenapa hujan datang di saat kemarau, huh?”

Kiki mendengus kesal, hatinya sedang tidak enak untuk diajak bercanda, “Hujan itu berkah. Jadi harus di syukuri.”

“Apa menangis juga merupakan suatu nikmat?”

Kiki menoleh tapi pria itu sepertinya pria itu tidak berniat menatapnya. Pria itu malah melemparkan tatapan terjauhnya di antara buih-buih hujan.

“Kita tidak mungkin tertawa jika bersedih, tapi orang menangis bisa karena sedih atau bahagia.” Lanjutnya.

Kiki mendengus. Suasana hatinya benar-benar kacau. Ia mengambil headset dari dalam tasnya kemudian memasangkan dikedua telinganya. Lagu Tearsdrop in The Rain dari C.N.Blue mampu mengalihkan dunianya untuk sementara waktu.

 

>>deson<<

 

“Kenapa Playlistnya semuanya lagu mellow dan patah hati?” tanya Geo yang kali ini benar-benar membuat Kiki kesal. Mereka berdua ditugaskan untuk membuat sebuah analisis data keuangan. Satu kelompok yang terdiri dua orang dan karena mereka berdua sama-sama bolos tidak sengaja tempo hari akhirnya mereka di tempatkan di kelompok yang sama.

Merasa di acuhkan oleh Kiki, Geo mulai serius melakukan perkerjaannya.

Kiki tidak berani memandang wajah Geo.Ia takut. Ia takut semakin terbawa oleh perasaannya. Ia takut jika perasaan itu semakin berkembang dan akhirnya membunuhnya sendiri.

Dulu ia ingin selalu sekelompok dengan Geo. Tapi kesempatan itu tidak pernah datang dan sekarang saat semuanya terjadi, Geo dan sahabatnya sendiri menjalin hubungan. Ia bahkan selalu mendapat kelompok yang sama.

“Jaga Geo ya Ki… awasin Geo ya Ki… dan bla… bla… blaaa…”

Kiki ingin sekali membanting pintu dan membunyikan musik sekencang-kencangnya. Ia benci saat mendapati Arini sedang berduaan dengan Geo.

Tuhan, kenapa mencintai itu terasa menyakitkan?

“Hmmm kenapa Ki?” Ucap Geo membuyarkan lamunan Kiki

“Hah? Apa?”

Geo mengalihkan tatapannya dari layar laptopnya, “Kenapa mencintai itu terasa menyakitkan?”

Kiki membekap mulutnya tidak percaya. Ia bahkan tidak sadar jika ia menggumamkan isi hatinya, “Tidak aku sedang menyanyikan lagu.” Kiki menunjukan Playlist yang sedang di pengangnya.

Kiki bernafas lega saat Geo melanjutkan perkerjannya.

 

>>deson<<

 

“Ki, besok mamanya Geo ulang tahun. Aku ngasih kado apa yah?” tanya Arini saat mereka sedang menghabiskan waktu bersama.

“Hmmm… gak tau.” Jawab Kiki singkat.

“Kok gak tau sih, Ki. Ayo dong bantuin cari kado yang bagus…” rajuk Arini

Kiki mendengus. Kenapa ia harus ikut mencari kado, sebenarnya siapa yang pacaran dengan anak siapa dan ia juga tidak pernah bertemu dan tau seperti apa ibunya Geo. Dan ia memang tidak tau.

“Gimana kalo baju?” usul Kiki asal-asalan.

“Yah kok baju sih Ki, ntar klo aku putus sama Geo gimana?”

Kiki mengerutkan keninnya, “Kan ngasih bajunya bukan ke Geo.”

Arini menepuk keningnya kemudia tersenyum memamerkan deretan giginya.

Kiki menatap Arini lekat-lekat. Seperti inikah gadis yang disukai oleh Geo. Cantik, ceriwis, blak-blakan dan polos. Bukan polos juga sih tapi kadang-kadang suka gak nyambung. Tipe perempuan yang rapuh dan cocok untuk selalu di jaga. Cocok untuk Geo yang tampan, gagah seperti pangeran berkuda putih dalam dongeng-dongeng.

“Aku suka cewek yang lembut, biar aku bisa jadi satu-satunya cowok yang ngejagain dia.” Kata-kata Geo tempo dulu masih terdengar jelas dalam bayangannya.

Lalu seperti apa dia. Kiki bukan tipe orang yang suka bermanja-manja, ia mandiri. Dan tidak menyukai hal-hal yang berbau kekanak-kanankan. Ia selalu memikirkan segala sesuatu secara matang kemudian mengungkapakan intinya secara tegas.

“Gimana kalo aku ngasih tas aja?” tanya Arini

Kiki memutar otaknya sesaat, “lebih baik kamu bikin kue tart bikinan sendiri.”

Arini terdiam, “Tapi aku ga bisa bikin kue. Kamu mau kan bantu aku?”

Arini memandang Kiki dengan mata berkaca-kaca dan membuat Kiki tidak bisa menolak keinginan Arini. Untuk kesekian kalinya Kiki mengalah untuk Arini.

 

>>deson<<

 

“Kenapa akhir-akhir ini kamu ngejauh?” Pertanyaan Geo berhasil membuat Kiki tersentak. Kiki memang menjauhi Geo, bukan tanpa alasan. Karena dia ingin melupakan rasa sukanya pada Geo.

“Aku harus nyusun Laporan Hasil Akhir Kuliah. Dan aku cepet-cepet pengen Wisuda.”

“Laporan, Sidang, wisuda trus apa lagi?” tanya Geo dengan nada ketus.

Kiki mengerutkan keningnya, “maksud kamu?”

“Kenapa kamu ngehindari aku terus? Padahal sebelum jadian sama Arini kita bisa jadi temen baik.”

Kiki menatap Geo tajam, sorot matanya yang teduh berubah menjadi dingin dan dalam. Geo tidak pernah tau bahwa Kiki menyimpan sejuta rahasia tentangnya dan lewat sorot mata Kiki sekarang ia tau segalanya. Gadis itu menyukainya dan ia senang mendapati itu terjadi.

“Kamu tau, kenapa kamu masih berharap aku bisa jalan lagi sama kamu.”

Kiki meninggalkan Geo dan membuat Geo menatapnya dari kejauhan. Kiki bukan seorang yang mudah mengungkapkan perasaannya. Ia tau itu. Kiki adalah gadis yang akan menunjukan sikap yang sewajarnya. Dan dia adalah pria penakut yang tidak berani menyelami isi hati gadisnya. Dan Ketika Arini datang padanya dan mengungkapkan ketertarikannya. Bodoh kenapa menyanggupinya.

Kiki yang selalu bersamanya, Kiki yang selalu mengerti keadaannya, Kiki yang mampu menjadi sahabat terbaik, tapi Arini yang di kencaninya. Bodoh.

Kini ia kehilangan teman terbaiknya, dan perasaannya menjadi gamblang.

 

>>deson<<

 

3 Tahun kemudian.

“Auuu…” Kiki meringis saat Luna mengobati luka di ujung bibirnya.

Luna mendecak kesal, “Masih pacaran aja udah berani pukul-pukulan apalagi klo ntar nikah?”

Kiki menatap wajahnya yang penuh dengan lebam. Luka tamparan yang didapatnya dari kekasihnya masih terasa. Ini bukan pertama kali ia mendapat hadiah seperti itu. Kekasihnya kerap memukulya jika Kiki melakukan satu kesalahan.

“Namanya juga cinta.” Jawab Kiki datar

“Ini bukan Cinta.” Luna menatap Kiki intens, “ini namanya pelarian.”

Kiki menghembuskan nafas panjang.

“Kamu gak cinta sama dia. Karena masih ada orang lain di hati kamu dan dia. Dia hanya memanfatkan kamu aja buat menuhin emosi dia. Dia itu psyco Ki.”ucap Luna yang tau semua isi hati Kiki.

Setelah kejadian 3 tahun lalu. Kiki tidak pernah bicara lagi pada Geo, ia pun hanya sesekali menyanggupi permintaan Airin untuk sekedar hangout. Setelah wisuda Kiki memilih untuk kembali ke Kota kelahirannya. Ia menutup semua akun jejaring Sosialnya dan menutup informasi tentang Geo.

Sepertinya Geo melakukan hal yang sama. Pria itu hilang seperti ditelan bumi bahkan Arini dan teman-temannya tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Kiki sendiri penasaran dengan keberadaan Geo tapi ia tau jika ia masih behubungan dengan Geo, hanya akan menambah beban hidupnya. Ia hanya berdoa semoga ia cepat menemukan sang pemilik tulang rusuk dan segera melupakan Geo.

Dan satu tahun setelah itu ia menemukan, Wira. Pria yang sebut Luna sebagai Psyco. Pria itu sangat baik dimata Kiki meski ia kerap berbuat sesuatu yang diluar naluri kemanusiaan. Wira bahkan pernah menyilet kulit Kiki saat Kiki tidak sengaja di antar pulang oleh teman sekantornya.

“Kamu bukan seorang super hero yang bisa Soulmate-nya bajingan kayak Wira.”

Kiki menatap Luna, “Kenapa mencintai itu terasa menyakitkan? Dulu sakit Hati dan sekarang sakit badan.”

Luna membereskan peralatan obatnya, “Karena kamu belum bertemu dengan sang pemilik tulang rusuk.”

Kiki tersenyum, lalu mengumamkan kalimat andalannya “Bersabarlah, karena tulang rusuk tak akan tertukar.”

 

>>deson<<

 

“Lama banget.” Ucap Wira sambil berkali-kali melirik ke arah jam tangannya.

Kiki tersenyum, “Aku harus ngerayu Luna dulu buat nge-Make Up-in aku.”

Wira mendecis, “Tumben kamu pake Make Up, kenapa? Kamu mau terbar pesona sama temen-temen aku.”

Kiki dan Wira memang sudah janjian bahwa mereka akan pergi ke pernikahan teman Wira. Dan karena insiden tamparan tadi pagi karena Kiki tidak sengaja menumpakahkan kopi ke kemeja Wira, Kiki harus menyamarkan luka di ujung bibirnya itu.

“Emang kamu ga seneng ngeliat aku tampil cantik.” Goda Kiki berusahan untuk menghilangkan ketegangan diantara mereka.

“Jadi kamu seneng tampil cantik dan dapet pujian dari temen-temen aku. atau kamu emang udah bosen sama aku dan nyari pengganti aku?” Jawaban Wira membuat Kiki Syok.

“Kita pergi atau kita bakal berantem semaleman disini.” ancam Kiki dengan nada dingin.

Wira mencibir lalu membuka kan pintu mobilnya untuk Kiki.

 

>>deson<<

 

Kiki tidak percaya saat melihat Geo berdiri diantara para tamu undangan. Ia mengenekan kemeja hitam semiformal dengan kemeja yang sengaja di keluarkan. Rambutnya yang agak gondrong tampak berantakan dan tatapan matanya terlihat sayu,

Rasa capek yang melanda Geo seolah hilang saat melihat Kiki. Gadis itu berjalan dengan anggunnya dengan merangkut lengan seorang pria. Gadis itu memakai kebaya berwarna merah dengan bedak tipis namun terliahat elegan. Bibirnya yang mungil di lapisi Lipstik berwarna terang. Secara keseluruhan Kiki tetep sama kecuali aura wajahnya yang semakin dewasa.

Long time no see, Ki.” Sapa Geo.

Kiki menatap Geo dengan kikuk, “yeah… long time no see.”

“Kamu cantik pake kebaya.” Puji Geo jujur yang malah mendapatkan tatapan tajam dari Wira.

Tanpa basa basi lagi Wira langsung mengajak Kiki ke pelaminan dan menyalami kedua pengantin.

“Kita gak makan dulu?” tanya Kiki saat Wira menyeretnya keluar gedung pernikahan.

“Kita makan diluar aja.”

“Tapi kita belum ketemu sama yang lainnya.” Kiki melepaskan genggaman tangannya dan menatap Wira marah.

“Kamu pengen ketemu temen-temen atau ketemu sama cowo yang tadi?”

“Apa maksud kamu???”

“Kamu tuh pura-pura bego atau apa? Udah jelas cowo itu suka sama kamu.” Wira mendorong bahu Kiki membuat gadis itu mundur beberapa langkah.

“Tch… apa maksud kamu? Kamu cemburu gitu?” tantang Kiki yang semakin menyulut emosi Wira.

Wira menganggkat tangannya hendak memukul Kiki. Tapi gerakan tangannya terhenti oleh seseorang.

“Gak baik memukul gadis cantik mas.” Ucap Geo datar.

“Jangan urusin urasan kami.” Wira menepis tangan Geo lalu menyeret Kiki kedalam mobilnya.

 

>>deson<<

 

Kiki merengangkan badannya yang terasa pengal. Untung saja ini hari minggu dan dia bisa bangun agak siang. Ia juga sudah mematikan ponselnya untuk menghindari panggilan Wira. Ia ingin bebas di hari minggu ini.

Kiki melangkakan kakinya keluar ketika ia mendengar suara yang sangat familiar di otaknya.

Kiki melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dan mendapatkan Geo sedang berbicara pada orang tuanya.

“Kiki…” Ucap ibundanya, “Apa benar Wira suka mukulin kamu?”

Kiki memandang Geo yang sedang menunduk. Apa yang diceritakan Geo pada ibu dan ayahnya. Kenapa Geo mencampuri urusan pribadinya.

“Itu benar, Ki?” tanya sang Ayah.

“Geovani~… apa hak kamu buat nyampurin urusan aku?” ucap Kiki ketus, “Kita bahkan udah lama gak ketemu”

“Temen-temen kamu di Wedding cerita. Aku hanya menyampaikan apa yang aku denger.”

Kiki mendengus, “Mereka itu biang gosip dan kamu gak tau apapun tentang aku.”

“Tapi aku ngeliat dia mukul kamu.”

“Itu gak seperti apa yang kamu liat.”

“Udah cukup.” Relai ayah Kiki, “Ayah udah ngerti, ayah juga gak suka sama pacar kamu. Klo kamu gak putus sama dia. Biar ayah yang bilang sama dia.”

Kiki menatap ayahnya tidak percaya. Ia menatap Geo dengan penuh amarah lalu kembali ke kamarnya.

 

>>deson<<

 

Kiki tidak bisa bertemu dengan Wira. Ayahnya yang meminta Wira untuk memutuskan hubungan mereka, alasannya karena Kiki sudah dijodohkan sejak kecil oleh kedua orang tuanya. Wira marah tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Kiki juga tidak pernah bertemu dengan Geo lagi. Pria itu menghilang setelah merusak hubungannya dengan Wira.

“Bagaimana cinta itu?” Tanya Kiki pada Luna yang sedang merias wajahnya.

“Cinta adalah satu pria dan satu wanita.” Ucap Luna singkat, “Dimana satu pria dan wanita ini terikat oleh rasa yang sama dan mempunyai tujuan yang sama.”

Kiki menatap bayangannya dicermin. Cantik. Luna bisa membuat wajahnya semakin cantik. Ia tidak tau untuk apa ia berdandan secantik ini. Untuk orang yang bahkan ia belum pernah mengenalnya.

“Seorang pria dan wanita yang sering berada di spot yang sama. Cinta datang karena seringnya bertemu. Seperti orang yang saling menyukai atau bahkan saling membenci. Seringnya bertemu membuat sebuah tempat dihati mereka dan mereka katakan itu cinta.”

Luna menatap Kiki. Ia tau gadis itu sedang bimbang. Perjodohan yang mendadak ini membuatnya semakin bingung. Ia tau jika Kiki adalah gadis yang kuat tapi ia juga seorang wanita yang mudah rapuh.

“Tulang rusuk tak akan tertukar.” Luna menggenggam tangan Kiki, “Tuhan telah menuliskan jodoh kita dan bahkan Adam dan Hawa yang terpisahkan mampu melewati cobaan itu dan akhirnya bersama.”

Kiki menatap Luna.

“Bersabarlah… mungkin dengan cara ini, Tuhan memberi tahumu, siapa pemilik tulang rusuk.”

 

>>deson<<

 

Kiki tidak percaya saat melihat pria dihadapannya. Pria yang dulu ia cintai dalam diam. Pria yang ia cintai dalam keraguan dan pria yang ia cintai dalam sakit hatinya. Pria yang telah lama ia lupakan.

Geovani.

Geo mengulurkan tangannya meminta tangan Kiki. Dengan ragu-ragu kiki mengulurkan tangannya. Geo mengajak Kiki ke suatu tempat. Mereka butuh waktu untuk berdua dan jawabannya adalah taman belakang.

“Aku gak tau kalo kita udah di jodohin sejak kecil.” Ucap Kiki agak canggung.

“Aku juga.” Jawab Geo, “aku baru tau saat aku disuruh mengantarkan surat oleh orang tuaku ke sini dan saat itu kamu marah karena aku memberitahu perbuatan bejat Wira.”

“Kenapa kamu ngelakuin itu? ngerusak hubungan aku dan Wira?”

“Hubungan kalian sudah rusak. Ada atau tidak adanya perjodohan ini. Aku akan tetap merusaknya.”

Kiki menatap Geo, “kenapa?”

“Karena aku gak mau ngeliat tulang rusuk aku disakitin sama pria lain.”

Kiki terdiam.

“Waktu aku bilang, Aku suka cewek yang lembut, biar aku bisa jadi satu-satunya cowok yang ngejagain dia, itu benar. Aku akan ngejagain dia. Aku ingin selalu ngelindungin kamu.” Geo menggenggam tangan Kiki erat, “Aku salah saat beranggapan bahwa Cinta datang karena terbiasa. Cinta butuh waktu. Dan sekarang aku tau bahwa cinta itu butuh perempuan dan perempuan itu gak butuh waktu, mereka butuh kepastian.”

“Aku gak bisa ngerubah perasaan aku ke Arini dan semuanya akan tetap sama jika terus di paksakan. Aku ga bisa ngelupain kamu dan aku terus berusaha nyari kamu.”

“Perempuan satu-satunya yang melengkapi hidup dan kehidupanku.”

Kiki menatap mata Geo. Pria itu tidak berbohong. Ia sungguh-sungguh mengatakan hal itu. dari hatinya.

Kiki tersenyum ia membalas genggaman erat tangan Geo.Ia kini mengerti kenapa wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Karena wanita diciptakan sejajar dengan pria tidak untuk dilebihi dan tidak direndahi dan yang paling penting untuk merasakan kekosongan yang ada didada. Meresakan debaran tiap sang tulang rusuk dan untuk merasakan hal yang sama.

Mencintai dalam diam? Kenapa itu terasa sangat Indah. Tuhan selalu bekerja dalam cara yang berbeda. Dan dia akan menunjukan kasih sayangnya dengan cara yang tidak terduga dan di waktu yang tidak terduga.

Bersabarlah, karena tulang rusuk tak akan tertukar.

 

FIN~~~~

 

Spesial untuk Rizki Septiana Pratama….

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: