FOOL MOON CHAP 1

fool moon cover HHH

Chapter 1:

Sarangiran…  Cinta itu…

“Bergandeng tangan.” Ucap Danny asal. Matanya sibuk menatap cermin dan tangannya yang cekatan menorekan tinta hitam sepanjang ujung kelopak matanya. Pandangannya teralihkan ke sudut cermin ketika  5 pasang mata lainnya yang menatapnya penuh kekecewaan.

Ia membalikkan badannya dan menatap lima sahabatnya satu persatu.

Danny menatap mata itu satu persatu sambil berpikir kata yang mungkin salah ia ucapkan, tapi ia tidak menemukan sesuatu yang salah hingga akhirnya ia menatap kelimanya dengan tatapan penuh tanya.

“Wae?” kenapa?

 “Danny-ah, jika aku tidak mengenalmu aku akan jatuh cinta padamu, tapi bagaimana kau bisa bertingkah seperti ini, kau benar-benar tidak terlihat seperti seorang gadis. Sedikitpun.” Ucap Yeohee sambil menatap Danny penuh ke kecewaan.

Danny, gadis berambut panjang yang di ikat ekor kuda asal-asalan membiarkan anak-anak rambutnya berkeliaran di sekitar wajahnya, poninya yang panjang di jepit ke atas membiarkan keningnya terekpose memberikan kesan maskulin, matanya yang tidak pernah lepas dari eyeliner tebal, selalu membuat sorot matanya tampak tegas dan tajam.

“Kau terlalu sempurna untuk menjadi pria idaman wanita, dan itu hal yang paling di benci oleh para pria.” Timpal Yonghoon menimpali ucapan Yeohee.

Danny menaruh pensil eyelinernya kemudian menatap teman-temannya, “Lalu harus bagaimana? Bukankah orang-orang yang berpacaran itu saling bergandeng tangan, kemanapun, dimanapun selalu bergandeng tangan setelah cinta mereka berkurang mereka mulai melepaskan tangan mereka dan saat cinta hilang mereka mulai bertengkar. Matchi?” benarkan?

Keudae. Kau benar Danny-ah.” Ucap Saeyoon melerai mereka sebelum percikan pertengkaran itu semakin membesar, “tapi mereka bergandengan tangan karena mereka saling mencintai, lalu bagaimana dengan orang yang tidak saling mencintai, tidak mungkin membuat mereka bergandengan tangan tiba-tiba kemudian keduanya jatuh cinta.”

Danny mengerucutkan bibirnya sambil berpikir, matanya memandang sahabatnya satu-persatu, membuat hatinya gembira dan juga sedih. Ia tidak pernah menyadari bahwa ia akan membicarakan topik seperti ini dengan teman-temannya. Topik tentang cinta membuatnya sadar bahwa teman-temannya sudah dewasa dengan pemikiran yang bermacam-macam dan semakin dalam topik ini membuatnya semakin sadar bahwa mereka semakin dewasa dan semakin dekat dengan pernikahan. Satu-satunya hal yang bisa membuat mereka terpisahkan.

Dalam ingatan Danny teman-temannya adalah anak-anak biasanya lebih suka mengurung diri di dalam restoran tua dari pada pergi hangout dan menghamburkan uang. Baginya Cho Yonghoon adalah sosok yang tidak pernah kehabisan solusi untuk masalah yang dihadapi. Ia tidak tau bahwa anak yang selalu bersemangat di pelajaran matematika itu kini sudah berubah menjadi pria dewasa yang selalu memikirkan apapun yang resiko dan keuntungan yang akan dia hadapi. Persis seorang bankir tanpa bank. Kini pria itu duduk di paling pojok dengan menatapnya dengan tenang seolah sudah tahu apa yang di pikirkan oleh seorang Danny.

Disebalahnya Lee Saeyoon, tampak tidak peduli dengan apa yang terjadi tapi sesungguhnya gadis itu adalah yang paling paham dengan situasu-situasi seperti ini. Gadis kecil cengenggeng yang di ingat oleh Danny kini berubah menjadi gadis yang sangat ramah dan penuh perhatian. apa kau baik-baik saja, apa kau lapar, apa tidurmu nyenyak, kata-kata itu seolah menjadi keahliannya. Dia seperti air yang akan memadamkan api-api yang meluncur di luar kendali.

Dihadapan Saeyoon duduk orang yang paling mencolok. Tatanan rambut yang rapih, baju dengan merek terkenal sampai parfum yang harumnya hanya ada satu di dunia. Park Junni, seseorang yang paling berbeda, dari keluarga berada, terpandang, kaya. Satu hal yang tidak semua orang ketahui adalah kenapa Junni mau bermain bersama kumpulan anak yang berbeda darinya. Kenapa Junni rela menukar kamarnya yang yang nyaman dengan sebuah ruang yang berisi tikar tanpa selimut yang hangat.

Lalu ada Kim Namhee. Si Kembar yang tidak pernah terlihat tersenyum. Mereka seakan lupa kapan Namhee tersenyum, meskipun kepada sang adik kembar Yeohee. Meskipun ia dingin pada sang adik, Namhee tidak sengan untuk menghajar orang-orang yang mengganggu adiknya tanpa mengatakan hal itu pada adiknya terlebih dahulu. Mendengar Namhee mengutarakan pendapat pribadinya, membuat Danny yakin bahwa Namhee juga pernah merasakan jatuh cinta meski tidak mengatakannya.

Dan Kim Yeohee, magnae yang percaya pada keajaiban dan fantasi. Baginya Korea adalah Neverland dan jika ada kapen Hook yang menyebalkan ia percaya bahwa selalu ada Peterpan yang selalu melindunginya. Mengikuti kemanapun Oppa-nya pergi meskipun sekarang gadis kecil itu tidak lagi menurut pada oppa-nya, gadis kecil itu sudah berubah menjadi gadis dewasa dan melihat pria-pria tampan disekitarnya, bukan lagi menunggu pangeran tampan dengan kuda putihnya.

Mereka semua sudah berubah kecuali dirinya sendiri. Ia masih Danny yang dulu. Masih bermain dengan boneka piglet usangnya dan masih menyukai film kartun dan masih meminum susu rasa pisang.

Samchoon itu terlalu kolot dan pasti tidak mau untuk kita jodohkan.” Ucap Junni membuat sahabat-sahabatnya mengingat masalah utama mereka, yaitu menjodohkan paman Saeyoon dengan seorang gadis.

Keunyang… cari saja perempuan yang samchoon sukai dengan begitu samchoon akan tertarik dan mulai mendekatinya.” Yeohee menatap sahabat-sahabatnya sambil tersenyum tersipu.

“Aigoo, kau pikir samchoon sedang masa pubertas?” timpal Namhee menyahuti adiknya.

Tidak ada yang menyangka jia Namhee dan Yeohee itu kembar. Yeohee hidup berkecukupan dengan berbagai brand terkenal diseluruh tubuhnya. Jika saja Namhee tidak menyuruh adiknya untuk mengontrol uang di berikan sang ayah mungkin, Yeohee tidak akan menghabiskan waktunya bersama teman-temannya sekarang tapi mulai menjelajahi butik-butik terkenal. Di satu sisi, Yeohee tidak ingin tampak berbeda dengan Namhee. Hidup terpisah dengan saudara satu-satunya, membuatnya kesepian.

Eotteon yeoja? wanita seperti apa?” Junni menatap Saeyoon perlahan, “yang disukai oleh samchoon?”

Saeyoon mengaruk keningnya, “wanita seperti apa?”

tteokbeoki ahjuma? Kimbab halmeoni? Sambab Eomoni? Atau…” Junni mengelurkan semua wanita yang dekat dengan paman Saeyoon.

Saeyeoon membayangkan satu persatu wanita yang ditawarkan oleh Junni. Benar, pamannya memang ramah pada semua orang. Semua orang menyukainya dan itu adalah masalahnya. Pamannya terlalu baik pada mereka sedangkan wanita-wanita itu hanya sekedar baik pada pamannya, “molla… aku tidak tahu….”

>>Deson<<

 

Is hurt?” Seorang gadis bertanya padanya dengan bahasa yang belum pernah didengarnya tapi lewat tatapan penuh kekhawatirannya, ia bisa tahu bahwa gadis itu menanyakan tentang lukannya. Gadis itu menangis, meskipun tidak ada bagian tubuhnya yang terluka.

“Gwenchanayo…” ucapnya mencoba menenangkan gadis itu.

Gadis itu menggeleng sambil menunjukan darah di tubuhnya.

“Gwencahana.” Sekali lagi ia menyakinkan gadis itu untuk tenang.

Gadis itu mengucapkan dalam bahasa asing sambil terus menangis, kata-kata yang tidak bisa ditanggapnya dengan jelas. Ia meronta pada anak laki-laki lain di antara mereka tapi anak itu malah tidak bergeming.

Ia menarik tanyannya untuk bisa mengapai tangan gadis kecil itu. dengan menahan sakit, ia membisikan sesuatu pada gadis itu, “apa kau mau tau sebuah rahasia?”

Gadis itu menatapnya tidak mengerti, meskipun demikian gadis itu tetap mengikuti instruksinya mendekatakan bibirnya pada bibirnya.

Naneun Syupemen.. .aku adalah seorang supermen… jadi tidak merasa kesakitan.”

Gadis itu membulatkan matanya, titik-titik air di ujung matanya sudah berhenti. Matanya yang berwarna hazzel melengkung sempurna seperti bulan sabit.

Perlahan bayangan gadis itu menjauh. Ia mengulurkan tangannya untuk mengapai gadis itu tapi gadis itu sudah pudar di hadapannya. Bumi tempatnya berpijak berputar membuatnya pusing hingga ia terjatuh dilantai.

Huhfttt… huh..huuuh…

Lee Sungha menutup telinganya mengusir dengungan yang membuat kepalanya yang terasa sakit, keringat dingin mengalir disekitar pelipisnya. Ia menyibakan selimutnya yang melilitnya dan menyebabkannya terjatuh.

02.57 AM

Sungha mendecak kesal. Ia tidak bisa tidur kembali, mimpi itu sudah menyingkirkan keinginannya untuk kembali tidur. Meskipun ia tidak bisa mengingat dengan jelas mimpi itu tapi ia tidak mau mimpi itu kembali datang. Ia menarik tubuhnya ke dekat jendela, lalu menyibakkan jendela dan memandangi kota Seoul yang terlihat lebih senyap.

“Why I come here?”

Sungha menarik nafasnya lagi, sambil memikirkan jawaban atas pertanyaannya. Kenapa dia ada disini, di Seoul. Sementara hidupnya di California sudah cukup nyaman. Seperti ada yang menariknya untuk datang, seperti ada yang menunggunya datang.

Ia menimbang-nimbang sesaat sebelum akhirnya meraih ponsel yang tergeletak di meja. Ia menekan angka 5 hingga terhubung, tidak perlu menunggu lama karena sambungannya terangkat pada nada kedua.

 “Wae?”

Nuna…” ucap Sungha senang sekaligus kaget, “bukannya di sana hampir jam 3 pagi? anchaseo?”

Waeyo?”

Ani…” Sungha menggeleng, ia tidak boleh menceritakan kedatangannya atau kakak perempuannya akan menyeretnya kembali ke California, “kau tidak merindukan aku?”

“Hahaaa…” Sungha mendengar tawa renyah dari ujung sambungan, “kau ingin bertemu? Aku akan ke California di akhir pekan.”

Andwae…” potong Sungha cepat.

Wae…

“Hmmm… jika kau terus mengunjungiku di akhir pekan, kapan waktumu untuk mencari kekasih. Bukankah sudah waktunya kau menikah? Jika kau sudah menemukan calon yang tepat aku akan datang ke sana untuk menghadiri pernikahan kalian.”

Andwae… jangan datang…”

Wae?”

“Aku akan menikah di California, jadi kau tidak usah repot-repot ke Korea, arachi?”

Sungha bergumam pelan kemudian menutup sambungan. Ia tidak pernah mengerti kenapa keluarganya tidak pernah memperbolehkanya menginjakan kakinya di Korea. Padahal kedua orang tuanya dan ia sendiri adalah keturunan Korea asli.

Semakin ditentang semakin menentang, itulah Sungha. Ia kabur dari rumahnya di california dan kembali ke Seoul. Ia berencana untuk bermain kucing-kucingan dengan sang ayah. Mungkin ayahnya butuh sesuatu yang hebat agar hidupnya tidak membosankan.

>>Deson<<

Sungha mendecak kesal saat menyadari bahwa ia tidak turun di tempat yang benar. Ia sudah melewati halte yang seharusnya dan untuk ke kembali ke halte itu dia harus berputar dan memakan waktu yang lama hingga akhirnya ia mutuskan untuk jalan sambil menghapal jalanan Seoul yang sangat asing dimatanya.

Ia memperhatikan orang-orang di sekitarnya, mereka mengobrol, saling berbagi cerita tentang apa yang mereka alami, apa yang mereka sukai dan orang-orang yang mereka kenal. Semuanya begitu menarik di matanya, apa yang membuat mereka terlihat begitu hidup. Tersenyum?

Sungha menghentikan langkahnya lalu menatap wajahnya di depan kaca besar. Ia menarik ujung bibirnya membentuk senyuman yang sempurna tapi di dalam matanya senyum itu terasa mengganjal dan aneh. Ia menggeleng menghapus asumsi yang dibuatnya beberapa detik yang lalu.

“Ini pasti hari pertamamu melamar pekerjaan?”

Sungha menoleh dan menadapati seorang gadis menatapnya sambil tersenyum lebar. Bibirnya melengkung dengan sempurna dan garis mata yang yang dipenuhi oleh eyeliner, membentuk eye smile yang sempurna, seolah-olah seluruh wajah gadis itu ikut tersenyum.

Dandanan gothic yang mencolok di pagi yang cerah membuah Sungha mundur satu langkah dari gadis itu. Sikapnya membuat senyum di wajah gadis itu mengendur, ia tau ia salah. Gadis itu tidak seperti yang ada di pikirannya, bukan gadis yang baru pulang dari bar dengan mata merah dan bau alkohol yang menusuk. Gadis itu malah terlihat segar dan memiliki bau seperti Chrysant dan daun mints.

Gadis itu merogoh kantongnya kemudian mengeluarkan botol kecil, “Aku juga selalu gugup saat menghadapi wawancara tapi aku punya satu cara jitu.” Ia mengacungkan botol itu pada Sungha.

Sungha mengambil botol itu dari gadis itu dengan ragu.

“Susu akan menambah energi dan coklat untuk menurunkan stress.” Gadis itu mengembangkan senyumannya, “Semoga berhasil, fighting!” gadis itu mengepalkan tangannya kemudian berjalan mundur beberapa langkah sebelum berbalik dan meninggalkan Sungha sendirian.

Memori.

Sungha menggenggam susu coklat itu sambil meneruskan perjalanannya. Seseorang pernah berkata padanya bahwa hidup tanpa kenangan itu seperti mumi. Meskipun tidak semua kenangan itu indah tapi setidaknya mereka mempunyai sesuatu untuk dikenang, untuk dibagi dan untuk disimpan di hati, sehingga hidup menjadi tidak membosankan.

Masalahnya ia hanya merasa pernah mengalaminya atau ia terlalu banyak membaca novel sehingga kejadia-kejadian itu hanya imajinasinya. Benar atau tidaknya tapi satu yang ia tahu bahwa ia tidak bisa mengingat masa kecilnya.

Gadis itu mengingatkannya pada sesuatu. Seperti gambaran gadis gothic atau gadis-gadis gipsi tapi bau chrysant dan mint mengingatkannya pada  musim semi yang indah. Gadis itu mengingatkannya pada satu hal-satu hal yang tidak bisa diingatnya.

>>Deson<<

Seluruh mahasiswi yang ada di kafetaria saling berbisik. Isi dari pembicaraan mereka sama yaitu pria dengan kemeja polos dan jins yang duduk sambil menatap susu coklat yang entah mengapa terlihat sangat menggoda. Berita itu lebih panas dari pada kasus pembunuhan berantai yang sedang terjadi atau isu tentang mundurnya presiden terpilih sebelum pelantikan.

Nugunya?” tanya seorang mahasiswa yang baru datang  lalu duduk di meja yang hanya diisi oleh seorang gadis yang hanya mengaduk aduk tteokbokkinya dengan tidak bernafsu. Dari sekian banyak mahasiswa perempuan hanya gadis itu yang duduk sendiri dan tidak memperhatikan pria berkemeja biru itu.

Molla, dari tampangnya tidak mungkin dia seorang dosen dan tidak memungkin kan juga dia mahasiswa. Tidak ada yang tahu dan aku tidak mau tahu. Mereka semua membicarakannya, dasar menyebalkan.”

“Yoksi, Kau adalah Kim Yeohee.”

“Aku sudah tau pria macam apa dia dan itu cukup membosankan. Tidak menarik. Park Junni?” Yeohee mengakat kepalanya dan menatap Junni dengan penuh aegyo, “Hoon-i Eoddiya?”

“Jika tidak ada di Cafe, di kelas, atau di perpustakaan mungkin dia ada di toilet.”

Yeohee mengembungkan pipinya, matanya tiba-tiba tertarik ke jalan setapak yang menghubungkan taman dan cafetaria dimana seorang pria yang ditunggunya berdiri sambil tersenyum dengan gadis lain yang lebih tua.

“Ah itu Hoon.” Junni melambaikan tangannya menyuruh Yonghoon ikut bergabung dengannya tanpa meminta persetujuan daru Yeohee. Yeohee menatap Junni dengan tajam terutama saat senyum di bibir pria itu mengembang dengan sempurna, membuatnya ingin menyiramkan saus tteokbeoki ke wajahnya.

Junni tahu kelemahan Yeohee, ia tahu bahwa gadis itu sangat rentan terhadap Yonghoon. Jika saja Yeohee juga bisa tahu kelemahan Junni. Yeohee selalu berdoa untuk mendapatkannya.

>>Deson<<

“Lee Sungha-ssi?”

Sungha mengalihkan pandangannya dari botol susu coklat untuk pertama kalinya. Seorang wanita yang figurnya ia kenal lewat foto kini tersenyum dihadapannya. Ia berdiri dengan seorang pria muda yang tidak jauh berbeda dengan dirinya. Ia mengembangkan senyumnya dan menjabat wanita itu dan menatap pria disebelahnya.

“Ini dia orang yang kau cari Cho Yonghoon.”

Sungha tersenyum bahagia lalu memeluk Yonghoon refleks. Yonghoon yang tidak tahu apa-apa hanya pasrah.

“Hoon-ah, ini aku Sungha.” Ucap Sungha setelah melepaskan pelukannya, “kau tidak ingat?”

Yonghoon menatap Sungha tidak percaya. Ia menatap sahabat kecilnya dari ujung kepala ke ujung kaki kemudian kembali lagi ke kepalanya, “Apakah ini benar-benar kau Sungha-ya?” Ia lalu memeluk Sungha erat, tapi pandangannya bertemu dengan Junni.

Wae?” Sungha melihat gelagat aneh Yonghoon. Ia lalu melihat arah pandangan Yonghoon.

“Mereka temanku.” Yonghoon cepat-cepat menjelaskan.

“Terimakasih Mrs Kim atas bantuannya.” Sungha menjabat tangan wanita yang berhubungan dengannya selama beberapa tahun belakangan, “kuharap kau merahasiakan hal ini dari ayahku.”

Yonghoon mengerutkan keningnya, “ku kira kau di California.”

Sungha lalu menyuruh Yonghoon untuk duduk, “tentu saja aku disana.” Sungha memerkan senyum jahilnya, “bagi ayahku.”

Yonghoon tersenyum hambar matanya terus menatap Junni dengan gelisah sementara di ujung sana Junni sibuk menggoda Yeohee.

“Kau tahu, ayahku lebih protektif saat kecelakaan itu.”

“Ku kira kau kehilangan ingatan.”

Sungha menggeleng, “Bukan kehilangan tapi ingatanku di hapus oleh ayahku. Aku ke Korea untuk mengambil ingatan itu.”

Yonghoon membuang pandangannya dan menyunggingkan senyumannya.

Sungha melihat gelagat aneh Yonghoon dan melihat ke sekeliling. Ia melihat ke arah teman yang disebeutkan Yonghoon sebelumnya, seorang perempuan yang menatapnya dengan tatapan tajam. Sementara laki-laki disebelahnya tidak berhenti mengoceh.

“Orang-orang yang kau sebut teman itu.” Sungha tidak melepaskan tatapannya dari perempuan itu, “apakah cinta segitiga?”

Yonghoon langsung menoleh dan menatap Yeohee dan Sungha bergantian. “Apa maksudmu?”

“Dari tadi kau terus menghindari aku dan menatap ke sana. Aku pastikan kau bukan melihat perempuan itu dan sepertinya perempuan itu terus menatap kearahmu. Jadi intinya dia menyukaimu tapi kau malah menyukai pria disebelahnya.”

Yonghoon menatap Sungha beberapa saat sebelum tawanya meledak.

TBC

Oraenmariaaa~~~~~~

lama tidak menulis, lama tidak bercuap-cuap, lama sudah cerita ini membuluk di laptop… sebenernya cerita ini cast awalnya adalah member Shinhwa dan untuk kesekian kalinya member shinhwa ini harus teralihkan oleh yang lain. Cast Utamanya ada sang magnae, Lee Sunho alias Andy tapi~~~~~ hahahaaa

i hope, and always hope…. selalu bisa nulis disini walaupun hanya beberapa kata *Hug*

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: