CoffeeMilk: Sad, Fade Away

heechul-yeosin3.jpg

“Apakah Dramanya begitu sedih?” Kening Heechul berkerut melihat Yeosin selama lebih dari 4 jam menangis tersedu-sedu saat menonton Drama favoritnya secara maraton.

Heechul hanya tertawa ketika melihat foto dirinya terpampang sebagai wallpaper salah satu pemain, tapi Yeosin tidak. Entah apa yang membuat Yeosin menangis saat melihat drama itu. Drama itu bergendre Romance, Fantasy, Comedy… tidak ada sedih-sedihnya, meskipun ada beberapa bagian yang sedih, tapi secara keseluruhan tidak.

“Drama itu tidak sedih sama sekali!” Heechul mulai mengerti kemana pikiran gadis itu.

Gadis itu tidak akan menangis karena sebuah drama. Drama itu hanya sebuah alasan. Alasan agar air matanya terjatuh. Air mata yang entah sudah berapa lama ditahannya dan sekarang menjadi sebuah bencana.

Heechul mendekati gadis itu dan membelai kepalanya perlahan, “Why?”

Gadis itu terus mengacuhkan Heechul dan terus menatap layar laptopnya sambil terus mengelap air matanya. Hingga akhirnya ia terlelap dengan mata yang lembab.

“Han Yeosin, apa yang salah?”

Heechul mulai penasaran dengan apa yang terjadi. Ia lalu mengambil ponsel Yeosin yang tergeletak di samping Yeosin. Yeosin bukan orang selalu memegang ponselnya, ia bukan gadis yang selalu on di media sosial, bagi nya fungsi ponsel tidak jauh berbeda dari alarm. Hanya akan mengambil ponselnya ketika berbunyi.

Heechul melihat sebuah aplikasi chat yang terbuka, ribuan chat yang masuk. Yeosin memang type pemalas untuk menghapus semua pesan pesan itu. Bakan spam-spam di dalam pesan pribadinya banyak yang belum di buka. Kadang ia juga merasa frustasi jika menghubungi Yeosin atau keluarganya mengeluh karena Yeosin tidak memengang ponselnya.

Mata Heechul kemudian melihat sebuah chat dari… teman sekolah menengah Yeosin dulu. Yeosin tidak mempunyai banyak teman tapi teman-teman Yeosin sampai sekarang masih berhubungan baik. Selalu berakhir dengan berhubungan baik, meskipun dulu mereka musuh, tidak dekat tapi mereka tetap berkomunikasi dengan baik.

Berkomunikasi baik menurut Yeosin. Masih menanyakan kabar, masih bertemu baik dalam chat atau dunia nyata, masih melemparkan joke-joke aneh. Yah… Karena Yeosin memang mahluk malas meggunakan jempolnya, ia lebih suka bertemu langsung dan mengobrol sampai bosan.

Yeosin adalah tipe yang melihat dan mendengarkan, ia akan bersikap seperti apa yang dilakukan oleh temannya.

Tapi Yeosin bukan gadis yang sempurna. Dia mempunyai banyak kekurangan. Banyak sekali.

Salah satunya dia tidak bisa menyembunyikan ekspresinya, tapi itu yang paling disukai Heechul. Ia bisa tau kapan Yeosin suka, tidak menyukai, jujur atau berbohong, Yeosin terlalu gampang di tebak. Kadang-kadang juga tidak. Seperti saat ini. DIa menangis yang jelas bukan karena drama menyebalkan itu tapi karena yang lainnya.

Heechul membuka Chat itu dan membacanya dari awal, cukup melelahkan sampai akhirnya ia mengetahui apa yang terjadi.

Gadis itu menangis karena satu orang pria bernama Kikwang. Kikwang? Lee Kikwang? Heechul seperti tidak asing dengan nama itu.

Kikwang, satu sekolah dengan Yeosin. Lee Kikwang? Kikwang Beast?? Heechul membelaka kan matanya tidak percaya. Jadi dulu Yeosin pernah menyukai Kikwang. Dan akhirnya menjadi akhirnya yang menyedihkan, bukannya Yeosin sangat dekat dengan anggota Beast?

Heechul menggangukan kepalanya, Yeosin dan Jang Hyunseung dekat selama masa trainee mereka. Jika dulu Yeosin begitu sakit hati kenapa dia masih mau berteman dengan anggota beast yang lain. Apa Hyungseung tau?

Dengan cepat Heechul mengambil ponselnya.

>>deson<<

Heechul meneguk tehnya perlahan.

Hyungseung menatap Heechul dengan penuh pertanyaan. Tidak pernah di ragukan lagi bahwa Hyung yang satu ini benar-benar nyentrik. Tanpa basa-basi dia menyuruhnya untuk bertemu dan mengutarakan maksud kedatangannya langsung.

“Jadi dulu Yeosin pernah menyukai Kikwang?”

“Dulu… Sebelum Yeosin memutuskan untuk menjadi Miss Korea.” Hyungseung menyerahkan ponselnya kepada Heechul.

Heechul melihat foto Yeosin dengan Kikwang yang masih berseragam sekolah. Yeosin masih berambut panjang hampir menyentuh pinggang dan Kikwang masih berantakan. Mereka berfoto bersebelahan dengan mengacungkan tanda V.

“Dulu Yeosin sangat menyukai pria yang bisa memainkan alat musik terutama gitar akustik dan drum. Baginya pria yang seperti itu adalah seorang dewa.”

Heechul menyunggingkan senyum separonya, “kekanakan sekali.”

“Saat itu mereka hanya berteman, suatu hari Kikwang memainkan gitarnya dan menyanyi dengan lembut. Saat itu dia menyukai Kikwang. Dia tidak pernah menyukai Kikwang sedikitpun hanya karena itu.”

“Hanya karena itu.” Heechul ikut ber-echo

“Hyung… memangnya kenapa dia menyukaimu?” Hyunseung mulai kesal karena komentar Heechul.

“Tidak ada perempuan yang tidak menyukaiku,” Heechul menyeruput tehnya dengan kesal, “Yeosin beruntung karena aku yang memilihnya.”

Hyunseung menghembuskan nafas panjang, “Yeosin mempunyai teman dekat, ia menceritakan semua itu pada temannya.”

“Temannya itu lalu pacaran dengan Kikwang dan akhirnya putus.”

Hyungseung menatap Heechul dengan kesal. Ia lalu menghirup nafas panjang kemudian berkata, “Jika aku tau kenapa kau bertanya kepadaku?”

Heechul tidak memberikan komentara apapun sehingga membuat Hyungseung harus meluruskan keadaannya, “Yeosin awalnya marah, ah tidak lebih tepatnya kecewa. Orang yang sangat dia percaya tapi menusuknya dari belakang. Sifatnya sampai kini terbawa. Ia jadi tidak mudah percaya dengan orang lain.

“Kejadian itu sudah lama sekali, sebelum debut kami. Pada akhirnya Kikwang memilih untuk meninggalkan dia. Saat gadis itu benar-benar menyukai Kikwang. Kikwang benar-benar tidak mempunyai alasan yang masuk akal itu menendang gadis itu. Hingga akhirnya gadis itu membenci Kikwang.

“Yeosin tidak tau cerita itu, ia hanya tau cerita itu dari teman-temannya, tapi Yeosin pura-pura diam. Ia tidak ingin tau, meskipun dalam hatinya ingin tau. Ia penasaran bagaimana dengan sahabatnya, apakah mereka baik-baik saja dan lain-lain. Hingga akhirnya gadis itu menceritakan semuanya pada Yeosin. Mungkin.

“Yeosin selalu datang kerumahnya, saat ibunya sakit atau saat ada kesempatan tapi gadis itu sepertinya salah membaca keadaan. Ia mengira bahwa Yeosin membencinya.”

“Bukankah itu kekanakan. Dia tidak bisa membenci Kikwang tapi malah membenci Yeosin.” Heechul merasa kasian pada Yeosin. Pantas saja gadis itu menangis selama 4 jam berturut-turut. “Yeosin yang malang.”

“Yeosin selalu menjaga komunikasi walaupun setahun sekali, tapi sepertinya kata-kata Yeosin di anggap sebagai pedang. Yeosin memberikan nasihat agar, perbeda pendapat soal drama atau Kpop, dan… tapi gadis itu tidak bisa menerima dan akhirnya malah, dia bilang bahwa dia dimata Yeosin selalu salah dan membawa Kikwang.

“Yeosin sudah melupakan Kikwang, ia sudah lupa. Jika ia disalahkan atas Kikwang dia menjadi sangat sensitif. Dia kecewa dan hal itu sudah 7 tahun berlalu dan masih terus saja di sebut.” Hyunseung mengehela nafas panjang, “Aku saja yang mendengar ini sangat capek, Hyung. Apalagi Yeosin yang merasakannya.”

“Apa masalahnya hanya seperti itu?” Tanya Heechul semakin khawatir. Ia yakin bawa Yeosin benar-benar tidak seperti itu.

“Seingatku, Yeosin hanya pernah memperingatkan dia soal foto di akun medsos-nya dan itu tidak hanya untuk dia, semua teman-temannya yang menurutnya berpakaian tidak sopan di medsos mendapatkan hal itu. Apa itu salah? Bukankah sesama manusia harus saling mengingatkan. Yeosin juga tidak akan berkata demikian jika mereka tidak dekat. Tapi gadis itu menaruh dendam.

“Yeosin tidak suka mendapatkan pesan broadcast. Menurutnya itu menyebalkan. Yeosin memberitahu untuk tidak memberika Broadcast cukup privat chat, tapi gadis itu malah marah-marah.”

“Apa bukan karena bahasa Yeosin?”

“Hyung, benar kadang bahasa Yeosin sulit di mengerti dan terkesan marah. Tapi sepertinya tidak. Kalimat Yeosin memang pendek tapi itu bukan membesar-besarkan suatu perkara. Jika Yeosin marah atau kesal Kalimatnya akan semakin panjang.”

Ah, Heechul ingat itu. Jika kalimat Yeosin panjang itu artinya ia sedang marah dan jika tidak membalas artinya ia sangat marah sekali dan menunggu kepalanya dingin. Kadang juga menunggu untuk menangis. Yeosin akan menangis jika ia sangat marah atau kecewa.

“Ini sudah lebih dari 7 tahun.” Seru Hyungseung, “kenapa para gadis itu masih mempersalahkan yang sama?”

“Mereka hanya merebutkan kantong angin. Mereka sudah sama sama lelah tapi mereka sama-sama tidak bisa melupakan. Kebaikan mereka adalah tidak menyakiti orang lain tapi malah menyakiti diri sendiri hingga mereka sudah tidak kuat lagi menahannya dan melampiaskannya kepada yang lain. Meskipun salah satu dari mereka berhasil move on dan melupakannya mereka tidak akan pernah bisa keluar dari lingkaran hitam itu. Tidak sampai keduanya berpelukan dan meminta maaf, mengeluarkan biji persik yang mengganjal di dada mereka dan membuangnya jauh. Mereka harus menurunkan ego masing-masing dan mengakui kesalahan masing-masing. Keduanya salah, tapi keduanya bisa jadi pemenang. Keduanya disatukan mencari solusi agar tidak hanya bisa menyakiti lewat emosi.”

Hyunseung menatap Heechul dengan tatapan tidak percaya, “Hyung, apa kau yakin, kau tidak tahu kenapa Yeosin menyukaimu?

Heechul menggeleng, “Why? Dia mengatakan sesuatu.”

“Kupikir Yeosin hanya membual.”

“Kenapa?”

Hyunseung menatap Heechul ragu, tapi akhirnya ia mengurungkan niatannya dan tersenyum, “biar Yeosin saja yang menjawab pertanyaan itu.”

“Kenapa?”

>>deson<<

“Oppaaaa~~~” Yeosin berteriak tujuh Oktaf hingga membuat Heechul terkejut.

“Kenapa endingnya begini?” Yeosin menunjuk layar laptopnya dan menatap Heechul dengan kesal

Heechul mengehela nafas panjang kemudian kembali ke ponselnya.

Dia yang berbanding terbalik dengan aku.

END

=================================================================================================================================================================================================================================================================

Dear someone, aku terlalu sibuk hanya untuk memikirkan masa lalu. Masa lalu bukan untuk di ungkit tapi sebagai rambu-rambu dalam melangkah ke depan. Kenapa harus menyakiti diri sendiri dengan hal yang sama. Bukan semakin membaik tapi itu malah semakin menjauhkan. Diantara berbagai persahabatan, Laki-laki dan perempuanlah yang tidak bisa bersahabat. Diantara banyak persahabatan kenapa harus mencari luka. Kita tidak tidak harus mencari yang salah, hanya perlu dada yang lapang, kerendahan hati dan pikiran yang jernih. Manusia pasti berubah tapi kita harus berubah ke arah yang baik. Semoga kita masih bisa dalam hidayah, Indayah dan Rahmat Allah SWT.

Salam Cinta, Dewi.

 

Leave a comment

12 Comments

  1. udah lama ga baca ff kegalauan lu, hahhahahahaha😀

    Like

    Reply
  2. Neng, ahahahahaha… seneng bisa baca coffee milk lagi :3

    Ninggalin jejak cinta ahhh❤

    Like

    Reply
  3. halo halo, tuh kan, lama ga mampir ksni
    jadi ga tau ada apa aja dsni yg blm sempet dibaca.
    huffff….
    hyunseung!!!!!!!!!!!! aq juga ngepans ma dia.
    >__<

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: