얼음달 (ICE MOON) Part 1

Jjong GirlFriend

얼음달 (ICE MOON)

BAGIAN I

White Lies

 

Hmmm… harus ku ceritakan dari mana kisah kami? Terlalu jauh jika aku harus menceritakan hal itu dari awal. Lagi pula aku sudah lupa tepatnya bagaimana kami bertemu. Yang ku ingat saat itu adalah musim dingin, dan aku tidak bisa masuk sekolah, teman sebangkuku memberitahu jika ada tugas kelompok dan aku satu kelompok dengan Jong Hyun.

Aku lalu mengetikan sebuah pesan singkat dan menyuruhnya datang ke rumahku, ketika aku melihat nomor diponselku. Disana ada tiga nama Jong Hyun. Aku menghubungi ketiga nomor itu dan menyuruhnya untuk datang. Aku lupa jika ada tiga Jonghyun di dalam kelas. Kim Jong Hyun, Hong Jong Hyun dan Lee Jong Hyun.

Ketiganya datang di selang waktu yang tidak jauh. Awalnya aku kaget tapi kemudian aku menyadari kebodohanku.

Kami mengerjakan tugas itu bersama-sama dan akhirnya kami menjadi dekat. Kami sering bersama dan menjadi teman baik.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa tidak ada persahabatan yang murni antara laki laki dan perempuan dan yang menjadi penyebab retaknya hubungan itu adalah karena cinta dan ego.

Saat itu aku tidak menyadarinya tapi kemudian… aku menyadari bahwa aku jatuh cinta pada Jong Hyun. Tidak pada ketiganya tapi pada salah satu Jong Hyun. Saat iu, aku tahu bahwa ini bukan murni lagi persahabatan.

Perasaan itu kemudian hancur ketika Jong Hyun yang aku sukai mempunyai kekasih. Aku benar-benar diambang kehancuran. Aku bahkan tidak bisa mengatakan bahwa aku menyukainya. Aku bahkan tidak bisa menunjukan sikap yang berbeda.

Joo In Hyun April 2015

얼음달

Drrtt… drrrtt…

In Hyun meraba-raba mencoba mencari ponsel yang sejak tadi bergetar berbunyi nyaring. Ia kenal suara ringtone itu. Tanda bahwa orang-orang di grup salah satu aplikasi chat-nya sedang eksis di dunia maya. Gadis itu mengeram, ia ingin mengutuk ketiga pria itu yang tidak bisa membiarkan dirinya tidurnya lebih lama lagi.

Kepalanya terasa berat sehingga ia membiarkan jari-jarinya menari mencari mencari ponselnya dan menajamkan telinga untuk mendengar posisi ponselnya. Ujung jari gadis itu berhasil mengenail ponselnya lalu dengan cepat mengambilnya dan menyalakannya. 134 messages. Kepalanya masih pusing mencoba memfokuskan matanya, benar 134 dan pesan itu terus bertambah dan membuat kepalanya tambah pusing.

Awalnya ia mengira bahwa itu pesan spam tetapi benar. Pesan itu semua berasal dari grupnya. Grup yang berisi 4 orang dengan nama yang hampir sama. Yang membuat ia kesala adalah ketiga pria itu bukan pria yang senang Chit Chat. Kadang ia hanya merasa bahwa hanya ada dirinya seorang di dalam grup itu. Hanya ada puluhan pesan dalam grup itu sedangkan ketiga pria itu hanya menjawab, iya, tidak, baiklah. Tapi kondisi sekarang? Saat ia butuh tidur yang panjang, mereka malah sibuk bergosip.

In Hyun membuka pesannya dan melihat deretan chat yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Lee Jjong: Dia datang

Kim Jjong: Aku bertaruh lima menit

Hong Jjong: Lima menit untuk panjang teriakannya

In Hyun mengerutkan pandangannya. Mereka bertiga mengobrol? Tanpa dirinya? Apa yang mereka obrolkan.

Gadis itu mencoba untuk mengingat apa ia pernah mengetikan sesuatu di grup tapi semakin ia mencoba mengingat kepalanya berdenyut kencang seperti terkena godam. Hal yang dia ingat adalah ia putus dengan Sung Joon dan minum banyak Soju. Ia lalu meminta Jong Hyun untuk menjemputnya. Jong Hyun manapun. Ia masuk ke grup yang bernama Jong Hyun dan meminta salah satunya untuk menjemput.

Itu adalah cara ringkas In Hyun ketika meminta bantuan. Ketika semakin besar, ketiga Jong Hyun itu semakin sibuk dan sulit di temukan dan untuk meringkas waktu, In Hyun selalu masuk kedalam grup dan meminta apa yang ia inginkan. Jika salah seorang yang punya waktu luang maka orang itu akan menjawab dan menemui In Hyun.

In Hyun men-scroll chat-nya dan menemukan bahwa ketiga Jong Hyun itu sedang bersenang-senang. Apa yang mereka bicarakan sehingga membuat In Hyun merasa khawatir.

Kim Jjong: Dia benar-benar mabuk

Hong Jjong: Aku berharap dia sadar saat melakukan itu

Lee Jjong: Aku ingin lihat eskpresinya ketika dia sadar nanti

Kerutan di kening In Hyun semakin banyak. Apa yang terjadi ketika ia mabuk. In Hyun benar-benar tidak mengingat apa yang terjadi kemarin malam.

Joo In Hyun: Jong Hyun-ah, jemput Aku.

Lee Jjong: Mianhae, In Hyun-ah

Hong Jjong: Aku harus masuk ruang Operasi, Mian

Kim Jjong: Aku benar-benar sibuk, Hyun-ah

Joo In Hyun: Jong Hyun-ah

Joo In Hyun: Jong Hyun

Joo In Hyun: Jjong~

Joo In Hyun: Datanglah ketika aku memanggilmu. Berteriaklah kepada semua orang ketika aku menyuruhmu. Kenapa harus bersembunyi. Sekarang aku bukan milik siapa-siapa lagi. Kau tau kenapa karena aku menyukaimu. Aku marah padamu karena kau lebih dulu mempunyai kekasih. Sekarang kau dan aku sama-sama tidak mempunyai kekasih.

Joo In Hyun: Jadi… aku ingin kau tahu…. bahwa… aku menyukaimu, Jong Hyun.

Joo In Hyun menutup mulutnya tidak percaya. Apa yang sudah ia lakukan. Ia benar-benar tidak ingat telah melakukan hal kotor semacam itu. Ia kadang mengutuki kebiasaanya ketika mabuk yaitu sering bicara semaunya dan kali ini kebiasaannya bertambah menjadi mengirim pesan semaunya.

In Hyun segera mengambil posisi yoga dan mengirup nafas panang dan mengeluarkannya pelan-pelan. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Kenapa ia bisa mengirimkan pesan seperti itu. Tidak mungkin jika tidak ada penyebabnya

Satu Hari sebelumnya

In Hyun mematut dirinya di cermin, memastikan bahwa ia sudah berdandan dengan selayaknya. Tidak terlalu menor dan tidak terlalu kusam. Setelah merasa puas, gadis itu mengambil tasnya kemudian berlari menuruni tangga dengan riang.

Eoddiya?”

Langkah In Hyun ketika mendengar suara berat dibelakangnya. Ia meloleh dan mendapati Sahabat sekaligus bosnya sedang menatapnya dari atas tangga. Kim Jong Hyun.

In Hyun mengedikan tangannya kemudian berjalan ke arah meja kasir tanpa rasa berdosa. “Aku tidak kemana-mana?”

“Kau tidak sedang mencoba mengusir pelangan kita dengan topeng wajah seperti itu kan?”

In Hyun mendecak.

“Tingkahmu benar-benar aneh.” Jong Hyun menuruni tangga tanpa melepaskan tatapannya dari In Hyun. “Kau tidak menyembunyikan sesuatu bukan?”

In Hyun menghela nafas.

Kim Jong Hyun adalah orang yang paling perasa di antara ke empatnya. Meskipun tingkahnya aneh dan kadang menyebalkan tapi Kim Jong Hyun adalah orang yang sangat pengertian dan pandai membaca persaan orang lain.

“Jjong-ah, apa kau tidak bisa untuk mencapuri urusanku, eo?”

“Kau benar-benar aneh.” Jawab Jong Hyun dengan penuh intensitas.

Kim Jong Hyun benar, In Hyun sedang menyembunyikan sesuatu. Ia menyembunyikan hal yang sangat besar. Sebenarnya tidak terlalu besar jika pria itu tidak selalu mencampuri urusannya. Ketika sahabat-sahabatnya mencampuri urusannya, kotoran yang ia injak saja bisa menjadi aib yang sangat tidak pantas.

Untuk itulah ia diam. Ia tidak mau sabahat-sahabatnya mengetahuinya.

“Ah!” In Hyun menunjuk jam yang menunjukan pukul 5, “Waktunya pulang kerja. Annyeong Jjong-ah.

In Hyun segera berlari ke pintu tanpa mempedulikan teriakan Kim Jong Hyun yang memanggilnya.

Kali ini saja, pertama kalinya sejak mereka bersama. Ia ingin menjalaninya sendiri. Tanpa campur tangan siapapun. Bukannya ia tidak suka pada sahabatnya tapi ia ingin bahwa ia bisa hidup mandiri tanpa bantuan orang lain.

Ia bukan anak kecil lagi.

 

얼음달

In Hyun menatap pria yang sedang berjalan ke arahnya. Bang Sung Joon. Pria tampan, tinggi, pintar dan mapan. Pria yang ia percaya bahwa ia sanggup menjalani indahnya dunia antara laki laki dan perempuan. Setidaknya ia bisa mencoba.

Pria tersenyum cerah lalu mengulurkan tangannya pada In Hyun. In Hyun langsung menyambut tangan Sung Joon dengan canggung.

“Mau kemana kitaaa?” tanya In Hyun dengan nada sedikit manja agar kecanggungan mereka sedikit mereda. Jika saja Kim Jong Hyun atau Lee Jong Hyun mendengarnya, ia sudah di lempari sepatu. Satu-satunya ekspresi yang pantang di keluarkan saat bersama dengan sahabatnya.

“Aku menemukan tempat yang enak untuk makan.” Sung Joon lalu menuntun In Hyun.

Ddrttt… drttt…

Ponsel In Hyun berbunyi. In Hyun mengutuki penelepon itu.

Lee Jong Hyun.

In Hyun menatap Sung Joon. Ia tidak bisa mengabaikan panggilan ini. Kim Jong Hyun pasti sudah menyebarkan tingkah lakunya pada semua orang. Jika ia menghindar, ini akan jadi liang kuburnya sendiri.

“Sung Joon-ssi.” In Hyun menatap Sung Joon dengan tatapan penuh penyesalan, “Ku mohon jangan bersuara.”

Sung Joon mengangguk.

Ne,”

“Dimana?”

“Jalan.”

“Sendiri?”

“Sendiri.” In Hyun menggenggam tangan Sung Joon dengan keras. Ciri Khasnya ketika sedang berbohong.

“Bohong”

“Yak!” In Hyun segera menggigit bibirnya ketika merasakan Sung Joon ikut terkejut dengan teriakannya.

“Aku ada acara jam kosong, apa kau mau makan malam denganku?”

“Kau akan meninggalkanku ketika mendapatkan telepon dari kantor polisi.”

“Tidak akan.”

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Emmm…” In Hyun mengigit bibirnya. Apa yang harus ia katakan. Sejak dulu Ketiga sahabatnya selalu jahil, mereka selalu punya cara untuk membuat In Hyun berkata jujur. Sekarang, ketika semuanya menjadi orang sibuk dengan pekerjaan yang berbeda-beda, In Hyun merasa bahwa mereka biasa di mana saja.

In Hyun pernah berbohong sakit dan mengatakan akan tidur padahal ia pergi ke Club bersama teman lainnya, saat itu ia bertemu dengan Lee Jong Hyun. Pernah juga ketika In Hyun berbohong ketika pergi hikking bersama teman prianya. Diatas gunung, In Hyun bertemu dengan Hong Jong Hyun, tempat dimana ia tidak bisa berkutik sedikitpun. Kemudian masalah kecil itu berubah menjadi besar.

Sejak saat itu, ia merasa bahwa sahabatnya selalu ada dimana-mana. Meskipun dengan demikian tidak selamanya ia bisa berkata jujur. Kadang ia harus berbohong dan berbohong untuk menutupi kebohongannya.

“Kau tidak bohong kan?”

In Hyun mengigit bibirnya. Ia lalu menutup sambungan teleponnya.

Wae?” Suara lembut dan sentuhan Sung Joon membuat In Hyun kembali menatapnya.

Bukan hanya ketiga sahabatnya tapi Pria yang disampingnya juga akan mendapatkan kebohongan besar darinya. Ia merasa tidak percaya diri lagi.

 

얼음달

“Apa tempatnya kurang nyaman?” tanya Sung Joon melihat ekspresi murung In Hyun.

Gadis itu menggeleng.

“Apa kau mau ketempat lain?”

Gadis itu menggeleng lagi.

“In Hyun-ssi?”

In Hyun menatap kedua mata Sung Joon yang menatap penuh cemas. Setelah mendapat telepon dari Lee Jong Hyun In Hyun menjadi merasa bersalah. Apakah tidak apa-apa jika dia berbohong? Tapi semakin ia meneruskan hal ini, ia semakin gusar.

Tentu saja tidak apa. Ini demi persahabatan mereka. Ia kemudian menarik ujung bibirnya dan tersenyum. “Aku tidak apa-apa.”

Percakapan demi percakapan berlangsung dengan sangat pelan. Untuk kesekian kalinya In Hyun melirik ke arah Jam. Tentu saja ini bukan kencan pertamanya tapi ini sangat melelahkan. Ia ingin kencan ini berakhir dengan cepat. Bukan karena Sung Joon orang yang monoton. Sepanjang obrolan mereka Sung Joon selalu mencoba membuat In Hyun tertawa, tapi lagi-lagi In Hyun merasa sangat bersalah. Rasa bersalah ini yang kemudian membuat Moodnya berantakan.

“Hyun-ah!”

Senyum di bibir In Hyun membantu. In Hyun mengenal suara itu. In Hyun tidak ingin berbalik dan menatap Sung Joon dengan tatapan agar pria itu tidak menoleh ke sumber suara.

Terlambat, Sung Joon menoleh dan tersenyum, “Dokter Hong.”

“In Hyun-ah!”

In Hyun menoleh. Hong Jong Hyun. Kenapa pria itu ada disini?

“Restoran ini dekat dengan rumah sakit.” Ucap Hong Jong Hyun seolah bisa membaca pikiran In Hyun.

In Hyun menegguk ludah. Ia sudah menggali liang kuburnya sendiri.

“Kau yang merekomendasikan restoran ini padaku bukan?”

“Kau berkencan dengannya?” Kali ini Hong Jong Hyun bertanya pada Sung Joon

Ne,” Jawab In Hyun dengan cepat. Kemudian disusul dengan ribuan penyesalan. Kebohongan lain yang akhirnya akan menjadi racun bagi dirinya sendiri.

Keudae?” Hong Jong Hyun melambai kan tangannya ke arah Sung Joon dan pergi. Hong Jong Hyun bahkan tidak melihat tatapannya. Hong Jong Hyun bahkan tidak menoleh saat keluar dari restoran.

Rasa yang bercokol di dada In Hyun semakin membesar. Ia kecewa. Ia sedih. Ia marah. Untuk pertama kalinya sahabatnya meninggalkannya dengan kesan dingin seperti itu.

“In Hyun-ah.”

In Hyun menatap Sung Joon dengan perasaan bingung. “Maaf.” Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibirnya.

“Kau mau ku antar pulang atau?”

“Aku ingin minum.”

“Soju?”

In Hyun menggaguk. Ia tidak tahu cara mengekspresikan dirinya. Ia terlalu takut, mungkin dengan sedikit meminum Soju. Ia bisa menjelaskan apa yang terjadi pada Sung Joon dan meminta maaf pada sahabat-sahabatnya.

Ya, Kebohongan yang ia ciptakan adalah perasaannya. Ia menyukainya salah satu sahabatnya, tapi ia tidak ingin mereka tahu. Ia tidak ingin persahabatan itu retak karena cinta. Untuk itu ia berharap bahwa Sung Joon bisa menghilangkan rasa cinta pada sahabatnya itu, berharap bahwa Sung Joon adalah orang uang tepat di hatinya.

Ia berharap tapi kenyataannya tidak begitu. Hatinya menolak.

Flashback End

In Hyun memengang kepalanya, ingatan semalam masih belum jelas. Ada sesuatu yang ia lewatkan bersama Sung Joon. Apa yang terjadi padanya dan Sung Joon. Kenapa dirinya mabuk. Kenapa ia tidak mengingat kejadian semalam. Kenapa ia menulis pesan kepada Jong Hyun.

Yang jelas ketiga Jong Hyun itu sudah mengetahui semua rahasianya.

Arrggghhh…” In Hyun mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia menendang selimutnya kemudian jalan ke kamar mandi.

Ia menatap wajahnya yang seperti hantu di cermin. Ia tidak ingat apa yang di katakan Sung Joon. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa pulang ke rumah dan ia tidak tahu kenapa wajahnya bisa semengerikan ini.

In Hyun membasahi tangannya dan mengusapkan pada rambut dan wajahnya. Meskipun sudah di basuh air ia masih mengerikan. In Hyun menyerah. Ia tidak akan keluar rumah dan bertemu dengan ketiga sahabatnya. Ia tidak akan menampakan wajah mengerikannya. Ia tidak akan menjelaskan apapun. Biarkan saja mereka penasaran.

Setelah berhasil menenangkan pikirannya, dan memilih sikap apa yang harus ia lakukan. Selanjutnya In Hyun harus menenangkan perutnya. Ia lapar dan sebelum mengurung dirinya ia harus memastikan ia bisa hidup sampai esok hari.

In Hyun membuka pintunya dan berjalan menuruni tangga. Ia mencium sup rumput laut dan juga pancake kesukaannya. Perutnya semakin berbunyi,cacing-cacing di perutnya semakin menggila.

Ibunya-ah bukan, seseorang pria dengan celemek sedang berdiri di dapur. Ia mengenal orang itu, sahabat dan juga pemilik kafe tempat ia berkerja, Kim Jong Hyun.

Annyeong.” Sebuah suara berat membuat In Hyun menoleh ke sebrang ruang. Lee Jong Hyun tersenyum cerah di sofa berhadapan dengan Hong Jong Hyun yang sibuk dengan tabletnya.

Mwo~ya?” In Hyun terduduk lemas di tangga. Ketiga pria yang sedang ia hindari sedang duduk bersama-sama. Apa yang harus ia lakukan? Kakinya terlalu lemas untuk kabur. Ia juga tidak punya keberanian untuk menghadapi ketiganya.

=====================================================================================================

Saengil Chukhae Kim Jjong-ah…

yah… meskipun ulangtahunnya kemaren tapi gak papa kan hahahaaa…

Kamu adalah member SHINee pertama yang jadi tokoh utama di blog ini hahaaa…

Sebelumnya Taemin cuma jadi Piguran apalagi dek Minho…

Onew ajah cuma numpang lewat, beneran lewat doangg~~

Previous Post
Leave a comment

1 Comment

  1. annyeong, lama ga mampir kesini.
    kirain nulis2nya vakum.
    eh ternyata ada yg baru.
    ceritanya bagus, persahabatan wanita dan pria emg ga bisa bener2 murni.
    saya ngepans ma lee jonghyun!! >_<

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: