EXO FANTASI: Horologium

EXO Fantasi

Tittle: Horologium

Author: Deson

Art Poster: –

Main Casts: Tao, Danica

Other Casts: Kris (Find By Yourself ^^)

Length: One Shot

Genre: Fantasy, Mistery, Romance

Rating: PG-15

Nama Horologium diambil dari bahasa latin yang berarti jam. Horologium adalah rasi bintang yang redup, terletak di belahan langit selatan dengan deklinasi sekitar -60 derajat bla… blaa… blaa… terlalu melelahkan untuk membahas tentang horologium. Ada banyak mitos tentang bintang itu dan beberapa fakta yang di di jabarkan oleh NASA tapi satu hal yang pasti adalah horologium ini benar-benar nyata.

Dia memperkenalkan diri sebagai horologium, tapi bukan sejenis homo sapiens dan tidak terlihat seperti manusia purba. Ia mempunyai dua bola mata yang hitam, rambut panjang yang bergelombang, hidung, bibir kecil yang nyaris sempurna. Cantik. Kecuali kenyataan bahwa dia datang dari langit dan jatuh tersungkur tepat di kedua kaki  Hwang Zi Tao. Manusia normal tidak melakukan hal itu.

Setelah datang dengan cara yang tidak normal, Gadis itu —Tao menyimpulkan karena dia mempunyai buah dada yang lumayan menonjol di gaun putihnya, langsung membuka mulutnya dan menjabarkan tentang horologium. Dia adalah horologium. Mahluk dari rasi bintang yang berbeda.

“Aku lapar.” Satu-satunya kalimat yang bisa Tao pahami dengan cepat. Tao juga merasakan hal yang sama. Sangat lapar sehingga tidak bisa mencerna apa yang pria itu katakan sebelumnya.

Gadis itu lalu menarik Tao ke salah satu snack bar terdekat. Memesan ini dan itu lalu meminta Tao membayarnya. Dengan sadisnya gadis itu melahap semua makanannya tanpa menawari Tao sedikitpun. Rasa lapar Tao menghilang, tergantikan dengan kekesalan yang sangat.

Gadis itu tidak terlihat seperti mahluk luar angkasa. Tidak seperti ET yang sering di ceritakan oleh film-film barat. Dia memliki postur tubuh mungil dengan guratan dagu yang tajam dan bibir tipis. Dengan balutan gaun putih selutut dan wajah yang pucat. Gadis itu terlihat normal.

Tao menyandarkan tubuhnya ke kursi, sambil terus memandangi pria itu. Banyak pertanyaan menghampirinya tapi mulutnya malah mengeluarkan kata-kata lain, “Jika kau memiliki kantung ajaib seperti dia akan lebih menyenangkan.”

“Kau bermimpi?” dengan cepat dia beralih dari sisi kanan Tao ke sisi kiri. Gerakannya begitu cepat dan halus, bahkan Tao tidak menyadari bahwa gadis itu sudah berpindah. Gadis itu berbisik di telinga Tao hingga Tao berbalik menatapnya. Kata-kata yang tidak ia mengerti.

>>deson<<

 

Ini sudah kesekian kalinya sehingga Tao sudah biasa dengan kedatangannya. Wangi chery dan pinus, suara kekehan yang halus dan sebuah gerakan yang mirip dengan tarian. Gadis itu sebuah misteri baginya. Jika saya gadis itu tidak terjatuh dihadapannya, atau gadis itu mengeluarkan sayap mungkin ia akan mengira bahwa gadis itu adalah seorang malaikat.

“Kau jangan jatuh cinta padaku.” Ucap gadis itu tiba-tiba membuat Tao mengerutkan keningnya.

Tao menyunggingkan bibirnya dan membalas perkataan gadis itu dengan kasar, “Apakah ada pria normal yang mau menikah dengan alien?”

“Tidak.” Ucap gadis itu langsung tanpa ekspresi membuat menurunkan garis bibirnya menjadi senyum hambar, “tapi aku juga tidak berharap tidak.”

Dua ujung bibir Tao melengkung ke bawah, dahinya mengerut dan matanya menatap gadis itu dengan lekat penuh dengan ledekan, “Maksudmu? Kau menyukaiku? Hahhaaa…” Tao menutup mulutnya. Perutnya terasa melilit karena menahan tawa.

“Aku sudah katakan, jangan jatuh cinta padaku.” Gadis itu tidak peduli dengan tawa membahana Tao. Rambutnya yang panjang tertiup oleh angin membuat Tao berhenti tertawa.

Melihat sosok gadis itu dari samping, melihat bulu mata gadis itu yang lentik dan senyum separuh yang begitu indah. Tao menyadari bahwa mungkin gadis itu benar, dirinya bisa jatuh cinta pada gadis itu. Mungkin besok ah tidak sekarang pun ia merasa ia telah jatuh cinta pada gadis itu.

Tao menarik nafas panjang dan menatap gadis itu dengan seksama. Gadis itu tidak bercanda, tatapannya serius, meskipun ia yakin bahwa ia tidak pernah melihat gadis itu bercanda sebelumnya tapi kali-ini dia benar-benar serius, “dengar―”

“Tidak pada aku yang ini.” Potong gadis itu cepat, “Kau akan menyakiti dirimu sendiri, menyakiti aku dan menghancurkan hidup seseorang. Aku adalah horologium, aku datang karena seseorang mengirimku. Jadi―”

“Siapa?”

Gadis itu menoleh pada Tao. Menarik kedua ujung bibirnya menjadi senyuman yang sangat indah. Wajahnya yang pucat menjadi bingkai yang sempurna untuk Kedua mata yang sedang menatap mata Tao dengan lembut. Dari matanya Tao bisa melihat wajahnya dengan sempurna. “Jangan jatuh cinta padaku!”

Gadis itu mencoba menggapai wajah Tao tapi Tao tidak bisa merasakan apapun. Wajahnya yang pucat semakin pucat, ah tidak itu bukan pucat tapi Transparan. Gadis itu menjadi transparan kemudian menghilang. Tepat menghilang sebelum Tao mengatakan jangan pergi.

Meskipun sudah sering menerima kedatangan tiba-tiba dan kepergian tiba-tiba tapi kali ini Tao merasa ada yang berbeda. Gadis itu tidak berbicara panjang lebar, gadis itu tidak tertawa. Gadis itu selalu membual tentang mahluk galaxy, teman-temannya di belahan semesta sana tanpa ditanya tapi gadis itu tidak pernah mau memberitahu namanya. Dia hanya mengatakan bahwa dia seorang horologium, untuk kesekian juta kalinya.

Tao merasakan sesuatu di dalam genggamannya. Entah kapan gadis itu menyelipkan selembar kertas di tangannya. Ia menatap kertas itu dan membacanya perlahan. Ia tidak mengerti maksud gadis itu tapi ia menyimpan kertas itu dengan sangat rapih. Ia merasa bahwa itu adalah pesan perpisahan dari gadis itu. Gadis dari belahan semesta lain.

>>deson<<

Lima tahun berlalu, Tao tidak pernah melupakan gadis itu. Ia mencoba untuk mencari horologium tapi yang ia dapat hanya sebuah jam yang diikat dengan rantai silver. Jam yang dibelinya dari seorang cenayang dengan harga tidak bisa ia maafkan.

Selain Jam itu, Ia juga bertemu dengan gadis lain, jatuh cinta putus, bertemu dengan gadis lainnya, melupakan gadis itu tapi ia tidak pernah melupakan gadis horologium itu. Hingga akhirnya ia mengerti ucapan terakhir gadis itu.

Jangan jatuh cinta padaku.

Ia hanya menyakiti dirinya sendiri, menyakiti orang lain karena dia terus berharap gadis horologium itu akan kembali datang. Ia menyakiti dirinya sendiri karena masih bisa mengingat suara, wangi dan wajah gadis itu dengan seksama. Semua yang mereka lakukan bersama. Bahkan menginga tatapan gadis itu saat menatapnya.

Tao merindukan gadis itu. Gadis yang hanya di temuinya dengan cara yang aneh dan hanya dalam beberapa jam saja. Ia merasa bahwa ia hampir gila karena tidak bisa menemukan gadis itu.

Karena ingin menemukan gadis itu, Tao mengubah Jurusan kuliahnya menjadi astreologi dan mempelajari tenang bintang dan sejenisnya. Ia ingin percaya bahwa gadis itu tinggal di planet Orion dan tapi ia tidak bisa percaya bahwa ia menyukai gadis itu. Gadis dari belahan semesta lain.

Jangan jatuh cinta padaku.

Tao tidak pernah tahu apakah ucapan gadis itu perintah, kutukan atau sebuah permohonan tapi yang ia tahu bahwa ia tidak bisa mengabulkan permintaan itu.

“Danica, memakai rok seperti itu kau terlihat cantik.”

“Aku memang cantik, tapi kau… Jangan jatuh cinta padaku, mengerti?”

Tao menghentikan langkahnya. Ia mengedarkan pandangannya untuk mengetahui dimana dirinya. Ia yakin ia masih di sekitar rumahnya. Di jalan yang setiap hari ia lalui dan tempat pertama kali ia bertemu dengan gadis itu.

Tao merasa dirinya sudah gila karena bisa mencium aroma gadis itu. Bahkan mendengar kekehan gadis itu.

Tidak.

Tao melihat gadis itu sedang tersenyum lebar. Dihadapannya. Melewatinya.

Gadis itu berlari kecil, membuat ujung roknya berayun. Melewati Tao seperti dirinya tidak pernah ada disitu lalu membelakanginya.

“Kris, kenapa wajahku terlihat sangat bulat.” Gadis itu menunjuk salah satu gambar. Gambar seorang gadis yang berada di balkon menatap seorang pria yang sedang bermain gitar di bawah. Gadis itu menghentakan kakinya kesal lalu berbalik kembali ke toko kecil berwarna putih itu, sekali lagi tanpa mempedulikan kehadiran Tao.

Tao menatap toko kecil itu, toko yang menjual puluhan alat lukis. Apakah gadis itu telah jatuh di tempat yang lain. Tidak jatuh di hadapannya lagi. Apa gadis itu tidak ingat padanya. Apa gadis itu sudah melupakannya.

Tao menarik dirinya lagi kemudian meninggalkan tempat itu. Gadis itu bukan dia.

>>deson<<

Tao tidak bisa mengalahkan rasa penasarannya. Ia menarik pintu berwarna putih itu dan mencium aroma kayu dan cat. Ada puluhan alat lukis dari kayu dan ribuan cat warna yang berjajar rapih sesuai dengan warna dan ukuran. Semakin ia masuk semakin terasa bau thinner dan bau bahan kimia yang tidak ia tahu.

“Ada yang bisa saya bantu?” Gadis itu keluar dengan senyuman yang lebar. Rambutnya di ikat ke atas. Ia tidak memakai rok melainkan sebuah kaos dan celana pendek.

Tao mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengedarkan pandangannya mencoba mencari sesuatu tapi ia sama sekali tidak mengerti tentang alat lukis. “hmmm…  aku tidak tahu tentang peralatan lukis.”

“Oh…  kau ingin membelikan hadiah untuk seseorang?”

Tao bisa merasakan aroma Cherry dan pinus diantara bau thiner dan cat warna  yang membuatnya pusing, “Iya.”

“Dia seorang pemula atau ahli?”

Tao menggeleng, ia menatap jari gadis itu sesaat. Terlihat beberapa cat menempel di jari-jarinya. Di wajahnya juga terdapat beberapa noda, “mungkin sedikit ahli. Apa kau bisa membedakan orang yang ahli melukis atau tidak?”

Gadis itu mengerutkan keningnya, “aku tidak begitu yakin, tapi kurasa seorang ahli adalah orang yang tersenyum ketika dia melukis. Apakah dia senang ketika melukis?”

“Aku tidak pernah melihat dia melukis. Aku baru tahu jika dia bisa melukis.”

“Lalu apa yang dia sukai?”

“Langit. Dia suka menatap langit. Dia juga menyukai Tteokbeoki. Dia makan Teokbeoki sambil bicara. Dia pandai bicara dan membicarakan hal yang aneh-aneh. Sangat imajinatif dan pandai mengarang. Dia juga bergerak dengan lincah. Rambutnya panjang sebahu dan tertiup ketika ada angin berhem―” Tao menghentikan ucapannya kemudian mengaruk kepalanya, “Aku terlalu banyak bicara ya?”

Gadis itu menggeleng, “Kau mendeskripsikannya dengan baik. Berapa umurnya? Mungkin aku bisa merekomedasikan sesuatu untukmu?”

Tao menatap gadis itu sesesaat, “lebih tua darimu, sedikit. Atau terlihat dewasa.”

“Oh…” Tao mendengar suara putus asa dari gadis itu. Kenapa? Gadis itu kembali bicara dengan cepat, “mungkin dia sudah sangat ahli, jadi bagaimana dengan paket no 3, paket potrait. Isinya kanvas, cat, kuas…”

“Baiklah. Aku membeli paket no 3.” Tao langsung mengeluarkan dompetnya dan mengerluarkan sejumlah uang yang disebutkan oleh gadis itu.

Sampai berjumpa lagi. Tao menutup pintu toko itu dan berlalu.

>>deson<<

“Kau bisa melukis?” Tanya Tao suatu hari. Ia ingin mengobrol lebih lama dengan gadis itu. “Apa kau bisa melihat Potraitku?”

“Tentu saja.” Gadis itu mengganguk. Ia menyuruh Tao menunggu sebentar dan setelah siap gadis itu menyuruh Tao masuk kedalam.

Gadis itu menunjuk sebuah kursi membelakangi jendela yang besar. Ada bermacam pot dengan warna bunga berbeda di dekat jendela. Sebuah jam besar dan ribuan kanvas tertutup oleh kain memenuhi setiap sudut.

Tao mengambil posisi yang paling nyaman untuk memandangi gadis itu. ia bersandar pada kursi dengan memasukan kedua tanggannya ke saku celana. Jantungnya berdetak dengan kencang hingga ia tidak bisa tidak tersenyum. Untung saja di saku celananya terdapat Jam horologium sehingga ia bisa mengontrol wajahnya.

Ketia gadis itu dengan seksma. Gadis itu terlihat sama seperti gadis horologiumnya tapi di satu sisi ia merasa bahwa gadis itu bukan. Gadis itu tidak banyak bicara. Disatu sisi, ia mempercayai bahwa gadis yang ada di hadapannya bukan gadis yang ia cari dan ia mulai meragukan dirinya sendiri. Disisi lain ia mulai mempertanyakan apakah Gadis itu yang berbeda atau dirinya yang telah berubah.

“Kenapa gambar-gambar itu ditutup?”

“Karena aku malu memperlihatkannya padamu.”

“Kenapa?”

Gadis itu tidak menjawab, ia sibuk menggores kuas di atas kanvas. Tao bisa merasakan tatapan gadis itu padanya. Sementara di dalam hatinya terus bergejolak. Berperang tentang apa yang salah dan apa yang benar.

“Apa semua itu lukisanmu?”

“Iya.”

“Lukisan seseorang?” terka Tao

Gadis itu tidak menjawab tapi rasa penasaran Tao semakin meningkat

“Apa kau melukis tanpa sepengetahuannya? Cinta sepihak? Apa kau sudah pernah mengatakan jika kau menyukainya?”

“Sudah.”

Jawaban gadis itu membuatnya tertegun. Ia ingin menarik kembali ucapan yang telah ia lontarkan itu. Bagaimana ia bisa mengatakan hal yang jawabannya tidak ingin ia dengar. Setidaknya ia belum siap untuk itu. “Maaf.”

“Rasa suka itu bukan kesalahan, tidak perlu meminta maaf.”

“Tapi aku merasa bersalah telah…”

“Sebaiknya kau menyukai orang lain. Jangan diriku.”

Tao mengerutkan keningnya. Apakah dia bisa membaca pikiranku? Selama ini? Tapi bibir gadis itu tertutup rapat. Bukan gadis itu yang berbicara.

“Selesai. Semoga dia menyukai gambarnya.” Gadis itu menatap hasil karyanya, “Kenapa kau begitu narsis, harusnya kau memberinya potraitnya bukan potrait dirimu sendiri.”

“Karena aku tidak tahu bagaimana wajahnya sekarang.”

“Ooh… jadi kau membina hubungan jarak jauh, uh?” Gadis itu menyerahkan hasil gambarnya pada Tao, Tao memandang gambarnya sendiri dan berakhir pada sudut kanan dimana nama gadis itu tertera. Danica.

“Danica? bintang timur?” Guman Tao.

“Kau benar sekali. Kali ini kau tidak perlu membayar. Service.” Gadis itu tertawa dengan lebar.

>>deson<<

“Danica?” Tao menatap ibunya saat menyebutkan nama gadis itu.

Mom kenal dengannya? Dia gadis yang membuka toko alat lukis dua blok dari sini?”

“Tentu saja mom kenal dia. Dia gadis yang ingin mom kenalkan padamu dulu tapi kau menolaknya.”

“Apa?” Tao membelakakan matanya tidak percaya.

“Ada gadis yang menyukaimu, Mom sangat senang. Dia baik, pintar dan cantik. Mom sedih melihatmu terus memikirkan mahluk ruang angkasa. Apa jadinya bila kau tidak menikah, mom bisa gila.”

Tao menatap ibunya tidak percaya. Ia ingat ibunya berkali-kali menawarkan kencan buta. Ia menolak ia masih menunggu gadis itu, gadis dari belahan semesta lain. “Lalu apa jawabanku?”

“Memangnya kau pernah menyebutkan iya, kau langsung menolak mentah-mentah.”

Jinjja?”

“Tapi bagus,” Tao melihat ibunya sedikit menerawang, bibirnya mengembangkan senyuman tapi  ujung matanya memancarkan rasa bersalah, “setelah itu aku mendengar dia sering masuk kerumah sakit. Ku dengar dia menderita penyakit yang sangat parah.”

“Apa?”

“Entahlah.”

Mom~~” Tao menangkap sesuatu yang mencurigakan, ibunya adalah seorang yang blak-blakan, bukan seseorang yang berbicara hanya sepatah dua patah kata, “Bagaimana jika aku menyukainya.”

>>deson<<

“Dia telah mendonorkan hatinya pada orang lain. Kau tahu bahwa manusia hanya mempunyai satu hati, dan dia telah memberikannya pada orang lain. Aku tidak tahu apa penyakitnya tapi jika dia sudah mendonorkan hatinya, artinya dia tahu hidupnya tidak akan panjang lagi.”

 “Aku melihatnya sehat-sehatnya saja. Apanya yang sakit?”

“Aku tidak tahu. Dia sendiri yang mengajukan dirinya.”

“Kenapa?”

“Aku juga tidak tahu.”

“Apa itu karena aku? Karena aku menolaknya?”

“Jangan terlalu berbesar hati.”

Tao memandang toko kecil itu dengan seksama. Sebuah pintu kecil dan jendela-jendela besar. Di sebelah kanan terdapat ruangan besar dengan kaca putih. Ia bisa melihat puluhan kanvas yang tertutup kain putih. Tempat gadis itu biasa melukis. Tao tidak tahu seberapa sering ia melewati jalan itu. Ia benar-benar melewatkan banyak hal.

Ia masuk kedalam toko di sambut oleh gadis itu, menerobos masuk kedalam ruang pribadi gadis itu. Ia menyibakan kain yang menutupi kanvas. Tao terkejut melihat kanvas itu.

Potrait dirinya sedang berjalan sendirian, potrait dirinya ketika tersenyum, ketika bermain gitar, bermain basket, ketika sekolah dasar sampai mahasiswa. Ia tidak tahu seberapa banyak hal yang ia tahu tentang gadis itu, kenyataannya gadis itu mengetahui lebih banyak dari dirinya.

“Maaf…” sebuah suara membuatnya tersadar. Gadis itu dibelakangnya.

Tao menyeka ujung matanya. Ia menghela nafas panjang agar suaranya tidak bergetar “Aku yang harusnya minta maaf. Aku hanya penasaran.”

“Aku menggenggambarmu tanpa izin.” Lajut gadis itu tanpa mempedulikan ucapan Tao. “Kau berhak untuk marah.”

Tao mengepalkan tangannya kuat. Ia menoleh pada gadis itu. “Kau tau aku menyukai gadis lain?”

 Tao meningigit ujung bibirnya. Ia melihat mata gadis itu berlinang. “Kau tau aku telah menyakiti hatimu?”

Gadis itu menggaguk kemudian membalikkan badannya membelakangi Tao.

“Lalu kenapa kau masih mau bertemu denganku. Aku hanya akan membuatmu menderita.”

“Aku tidak pernah menyesal.” Sebuah benda berkilau jatuh ke bawah. Air matanya.

“Ku harap kita tidak bertemu lagi.”

>>deson<<

Satu bulan berlalu sejak pertemuan terakhir mereka. Tao tidak menggunakan jalan yang sama. Ia memilih memutar atau memilih jam saat toko itu tutup. Ia tidak pernah melihat gadis itu lagi. Ia juga menyimpan semua alat lukisnya di basement rumahnya.

Tapi hari itu ia merasakan tidak tenang. Jantungnya terus berdegup dengan kencang. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi.

Ia membuka surat yang diberikan gadis horogoium itu padanya lima tahun yang lalu. Meskipun ia tidak mengerti artinya tapi ia menyimpannya sebagai satu-satunya kenangan dari gadis itu.

“Tao,” ibunya muncul tanpa mengetuk pintu. Tao ingin berteriak karena kaget tapi wajah ibunya yang serius membuatnya mengurungkan niat, “Gadis pemilik toko lukis itu, meninggal dunia.”

Tao merasa dunianya berputar ke arah yang berlawanan. Kepalanya terasa berdenyut kencang.

Jangan jatuh cinta padaku. Kau akan menyakiti dirimu sendiri, menyakiti aku dan menghancurkan hidup seseorang.

Pertemuan pertama dengan gadis itu kembali terulang di kepalanya. Gadis itu tersenyum, gadis itu tertawa dan menceritakan apa yang tidak pernah ia sampaikan. Tao mengerti bahwa itu bukan pertemuan pertama mereka, itu adalah perpisahan gadis itu untuknya.

Tao mengambil jaketnya dan segera pergi menemui gadis itu.

>>deson<<

Gadis itu dengan gaun putih selutut, rambutnya yang terurai dan wangi Cherry dan pinus. Ia tahu kenapa gadis itu berbau pinus, gadis itu menghabiskan berhari-hari dengan mengambar dan membuat kanvas. Bau pinus seolah melekat padanya dan cherry adalah cat kuku yang dapat menyamarkan bau cat lukis.

Gadis itu memakai pakaian yang sama, senyum yang sama dengan apa yang bisa di lihat oleh Tao. Gadis itu telah memperingatkannya sebelumnya. Jangan pernah menyukainya. Tapi telat, Tao sudah menyukai gadis itu.

Tao memengang tangan dingin gadis itu. Ia tidak tahu berapa banyak luka yang gadis itu dapatkan. Tangannya penuh dengan goresan kecil. Ujung kukunya terselip cat dan satu kapalan di tangannya bekas memengang kuas.

Tao menahan nafasnya. Ia tidak menyukai gadis itu. Tidak. Semakin ia mengatakan tida, semakin tidak bisa menahan air matanya. Ia hanya bisa duduk di depan toko lukis gadis itu dan menatap tembok besar yang bersisi lukisan gadis itu. Lukisan yang sedang di lukisnya saat ia menyadari kehadiran gadis itu.

Kini ia mengerti cerita lukisan itu. Lukisan dimana diam-diam seorang gadis melihat pria yang disukainya.

Tao menutup matanya menutup air mata yang menetes dari kedua matanya. Ia tersungkur menatap lukisan-lukisannya. Kenapa ia tidak pernah menyadari ada seorang gadis yang menyukainya. Kenapa ia tidak bisa membuka matanya, melihat realita dan menghapus khayalannya.

>>deson<<

Angin berhembus kencang hingga membuat pipi Tao yang basah, kering seketika. Ia tidak tahu apakah karena angin atau matanya yang lelah karena menangis selama beberapa jam, tapi ia ingin mempercayainya, khayalan yang ia lihat. Ingin mempercayai kebohongannya.

Lukisan-lukisan itu berterbangan di atas kepalanya. Berputar-putar.  Tidak hanya itu kuas, dan cat lukis semuanya ikut mengapung. Seakan ruangan itu adalah ruang kedap udara.

Sesuatu bergerak di kantong celananya. Horologium merangkak keluar dari kantong celana Tao. Dengan cepat ia meraih rantai jam kuno itu dan membukanya. Ia tersenyum ketika melihat jarum jam berlarian melawan arah.

Semuanya bergerak dengan cepat. Kemudian berhenti. Jatuh.

Ahjussi, nuguseyo?” seorang gadis. Gadis itu. Menatapnya dengan tatapan bingung. Apronnya penuh dengan cat berwarna warni. Rambutnya berantakan. Dan gadis itu hidup.

Tao tersenyum. “lukisanmu bagus.”

“Maafkan aku, aku terlalu fokus melukis sehingga tidak tahu jika ada orang yang datang.”  Gadis itu menatap Tao dengan penuh penyesalan. Ia lalu melepaskan alat lukisnya. Lalu mengedarkan pandangnya. “Appa dan Oppa pasti sedang keluar. Apa yang ingin kau beli? Aku tidak terlalu tahu harga jualnya tapi aku bisa menelepon Ayah dan Oppa. Mereka sebenatar lagi akan kembali.”

Tao menatap gadis itu dengan seksama. Mereka gadis yang sama tapi banyak sekali perbedaan dipandangan mata mereka. “Sekarang tanggal berapa?”

Gadis itu melihat Tao dengan bingung lalu mengalihkan pandangannya ke kalender “1 Oktober.”

“Tahun?”

“2009.”

Tao menggukkan kepalanya. “Neo Yeppeuda.”

Wajah gadis itu memerah.

“Sangat cantik.” Ucap Tao lagi.

“Kau memang seorang playboy.”

Tao menarik senyumnya.

“Anggap saja aku sedang kerasukan atau sedang kehilangan akal sehat. Tapi kau benar-benar cantik. Kau tidak perlu kwatir, hanya orang bodoh yang mencapakan dirimu. Jangan sia-siakan dirimu hanya untuk orang yang tidak berguna.”

“Orang yang tidak berguna.”

“Aku contohnya.”

Gadis itu memajukan bibirnya, “kau benar-benar seorang playboy.”

“Aku memang seorang playboy.” Tao menarik ujung bibirnya tersenyum getir. “Jika nanti kau bertemu dengan aku. Ingat aku pernah mengatakan kau sangat cantik. Dengan atau tidak memakai make up. Kau sangat cantik….” Tao manarik nafas panjangnya, “Ingatlah jika aku melukai hatimu, hiduplah satu hari lebih dari aku. Lihat aku mati dengan penuh penyesalan.”

Gadis itu memandang Tao dengan tidak mengerti.

>>deson<<

Danica kembali melukis. Awalnya ia ingin melukis bunga, patung dan benda mati lainnya. Sesuai keahliannya. Tapi matanya hanya tertuju pada pria itu. Pria asing yang terus menatapnya dan membuat tangannya bergerak dengan dengan leluasa.

Akhirnya untuk pertama kali, ia melukis seseorang. Seorang pria yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak ia mengerti. Begitu menyeramkan tapi disisi lain ia merasa lembut.

“Tatapan apa itu?” tanya Kris ketika ia memandangi hasil lukisannya dengan ragu, “aku merindukanmu, berbahagialah.”

Danica menatap Kris, “Maksudnya?”

“Tatapan pria itu.” Kris menunjuk hasil lukisan Danica. “Dia menunjukan bahwa dia tersiksa, seperti seseorang yang merindukan kekasihnya sedangkan disisi lain dia terlihat bahagia dengan alasan yang sama, bahagia melihat kekasihnya.”

Danica memandang lukisannya dengan seksama.

Hari berikutnya pria itu datang ketika tidak ada seseorangpun di gerai lukisnya. Pria itu tidak mengatakan apapun, ia hanya duduk sambil menatap Danica yang sedang melukis.

“Apakah aku mirip dengan kekasihmu?”

“Eumm…” Jawaban Pria itu membuat Danica membeku, “Tapi kalian berbeda.”

Pria itu sedikit menerawang, “Aku bertemu dengan tiga gadis. Gadis pertama, dia mempunyai sorotan mata yang sedu, segala tingkahnya menyebalkan seperti seorang anak kecil yang meminta perhatian orang tuanya setelah ditinggal pergi berkerja. Gadis kedua memiliki tatapan seperti bulan, begitu dingin padahal ia memacarkan cahaya yang hangat. Lalu gadis ketiga…” Pria itu menatap Danica… “Bagaimana aku bisa menjelaskannya.

Danica melirik lukisannya, ia melukis pria itu lagi dengan tatapan yang sama dengan sebelumnya. “Gadis ketiga kau tidak bisa menatapnya karena kau melihat bayangan gadis pertama dan kedua.”

Pria itu menggeleng.

“Gadis ketiga tatapannya begitu polos sehingga membuatku berfikir bahwa aku tidak boleh merusaknya. Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa meskipun aku telah bertemu dengan gadis pertama dan kedua, gadis ketiga adalah gadis terakhir yang paling aku cintai. Jangan pernah lupa. Kau akan mengerti nanti. Kaulah yang paling indah dari semuanya.”

Danica meneguk ludahnya. Mereka menjadi canggung seketika.

“Apa kau mau minum?”

>>deson<<

Tao merasakan kepalanya sangat pening ketika membuka mata. Ia lalu putuskan untuk menutup matanya kembali. Hal terakhir yang ia ingat adalah ia meminum bersama Danica hingga ia tidak sadarkan diri.

“Keadaannya sangat parah.”

“Parah?” suara Danica.

“Dia terlalu banyak minum alkohol hingga ginjal dan hatinya rusak. Untung kau segera membawanya kemari. Jika tidak mungkin dia akan meninggal dunia.”

Tao merasakan dadanya menjadi sesak. Kejadian lima tahun yang lalu membuatnya menjadi pencandu alkohol. Ia sudah mendapatkan peringatan dari dokternya tapi ia tidak pernah peduli. Harusnya ia mati sebelum gadis itu.

“Apa dia akan sembuh, dok?”

“Ginjal satunya masih berfungsi dengan baik, sedangkan hatinya tidak. Ia harus mendapatkan donor hati jika ingin hidup.”

Sepi. Semua orang sudah pergi kecuali Dania. Tao ingin membuka matanya tapi ia tidak sanggup untuk melihat wajah sedih itu lagi. Selama berjam-jam Danica terus ada disampingnya. Membuat Tao semakin bersalah.

Pergilah keluar sebentar, Dani-ya… agar aku bisa kabur dan mati dengan tenang. Pergilah agar kau tidak perlu merasa bersalah nanti.

Seseorang menusukan jarum ke dalam tangan Tao. Hal itu tidak sesakit apa yang ada pikirannya ketika mulut Danica mengucapkan hal yang membuatnya membeku.

“Apakah aku bisa melakukan tes untuk donor?”

Dani-ya… tidak…

“Tentu saja. Jika organ tubuhmu cocok. Tapi apa yang ingin kau donorkan?”

“Hati-ku.”

Dani-ya… Jangan…

“Hati? Manusia Cuma punya satu hati, jika kau ingin mendonorkan, kau akan mati.”

Dani-ya… Jangan, kumohon jangan lakukan itu.

“Aku tahu… aku akan mati, setidaknya aku akan mati duluan sehingga aku bisa membiarkannya hidup.”

“Baiklah, kau bisa melakukan cek di laboratorium.”

Tao membuka matanya, ia melihat Danica melangkah keluar ruangan. Ia berteriak memanggil nama gadis itu tapi teriakkan itu justru mengaung dalam pikirannya sendiri. Semua bergerak, berputar seperti dalam ruang hampa udara.

Ketika ia membuka mata ia sudah kembali. Keluar lukis Danica. Ia kembali.

>>deson<<

“Dia telah mendonorkan hatinya pada orang lain. Kau tahu bahwa manusia hanya mempunyai satu hati, dan dia telah memberikannya pada orang lain. Aku tidak tahu apa penyakitnya tapi jika dia sudah mendonorkan hatinya, artinya dia tahu hidupnya tidak akan panjang lagi.”

Tao tertunduk ketika ia mengingat perkataan ibunya dulu. Awalnya ia tidak percaya dan menganggap bahwa ibunya adalah pembohong besar.

“Aku ingin mendonorkan hatiku.”

Tapi kini ia menyadari bahwa kebohongan itu adalah dirinya. Ia yang membuat Danica seperti itu. Ia menyakiti Danica. Menyakiti dirinya sendiri.

Ia tidak tahan dengan rasa sakit ini dan memukul-mukul dadanya sendiri. Ia berhenti ketika ia merasakan sebuah benda. Sebuah kertas. Kertas yang lima tahun lalu diberikan Danica padanya.

Aku tidak tahu siapa yang aku sukai. Apakah seseorang yang ingin aku lukis wajahnya atau seseorang yang selalu aku lukis wajahnya. Tapi sekarang pertanyaan itu tidak penting lagi. Terimakasih sudah memberikan aku kesempatan untuk melihat wajah itu lagi. Aku tidak pernah menyesal.

Ps: Jangan jatuh cinta padaku. Kau akan menyakiti dirimu sendiri, menyakiti aku dan menghancurkan hidup seseorang.

Tao menarik ujung bibirnya memaksa untuk tersenyum. Pada akhirnya ia hanya hanya menyukai satu gadis tapi gadis itu memberikan hidupnya untuk Tao karena ia berpikir bahwa Tao menyukai gadis lain. Gadis pertama.

END

Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: