EXO FANTASI: ANOTHER PARTING

EXO Fantasi

Tittle: Another Parting

Author: Deson

Art Poster: –

Main Casts: Baek Hyun, Yoo Jung

Other Casts:  Tae Yeon, Kyung Soo

(Find By Yourself ^^)

Length: One Shot

Genre: Fantasy, Mistery, Romance

Rating: PG-15

 

Sore itu, angin bertiup perlahan. Saat matahari kemerahan di ujung timur hampir menyentuh horizon, saat pertama kali aku melihatnya. Dia terduduk di pinggir danau diantara butiran-butiran salju yang mencair. Kesendirian, kesedihan  dan putus asa terpancar jelas di kedua matanya. Tanpa sadar menarikku mendekatinya, duduk dengan posisi yang sangat dekat dengannya.

Aku menandang. Mengamati garis-garis rahangnya, lengkung hidungnya hingga menatap dalamnya pandangannya. Aroma tubuhnya mengoda dan rintihan pelan seperti senandung itu membuatku tidak bergerak. Untuk beberapa saat aku hanya terpukau pada karya Tuhan yang begitu indah dan manis.

“Sampai kapan kau akan memandangku seperti itu?” Ia menyeka ujung matanya kemudian berbalik arah padaku.

Aku melihat wajahnya dengan jelas, demi dewi bulan, ia lebih indah daripada ketika memandangnya dari pinggir. Seperti pualam yang di ukir oleh Dewi Pelangi, sangat mempesona. Aku bahkan tidak bisa mendeskripsikan dengan tepat. Saat ia menarik kedua ujung bibirnya, saat itu aku merasa jantungku tidak berdetak.

Aku memang tidak mempunyai jantung tapi kadang aku merasakannya.

“Apa kau salah satu korban juga?” Dia menatapku dengan tatapan lembut sehingga aku mengaggguk, “Siapa namamu?”

“Mereka menyebutku Yoo Jung.” *Dalam bahasa Korea, Yoo Jung berarti Peri*

“Apa mereka sudah menemukan keluargamu?” Dia menunjuk ke arah lain, di pinggir jalan dimana banyak orang sedang menyemprotkan air ke dalam bus yang terbakar. Banyak orang yang sedang berkerumun, menangis, dan merintih. Menahan sakit. Membuatku merinding

Aku menggeleng. Aku berbeda dengan mereka. Aku tidak pernah merasakan kesedihan. Dan jikapun aku memilikinya, aku tidak mempunyai sesuatu untuk di tangisi.

“Kau tidak menangis?” Tanyaku penasaran. Dia juga berbeda. Dia tidak menangis seperti kebanyakan orang-orang itu. Dia hanya duduk sendirian meski aku tau dia sedang bersedih.

“Aku berharap bahwa dia baik-baik saja.” Dia berdeham, sekali lagi aku bisa melihat kesedihan itu, tapi kenapa dia tidak menangis. “Kami bertengkar. Dia lalu meninggalkan aku dan naik bis. Saat aku menoleh bis itu sudah terguling dan meledak. Aku tak sanggup melihatnya. Makanya aku menunggunya disini.”

Gadis itu tidak akan kembali. Aku tidak merasakan kehadiran gadis itu dimana pun.  Aku yakin gadis itu sudah di bawa kedunia lain yang tidak mungkin kita datangi tanpa melewati kematian, “Apa kau percaya pada takdir?”

Pria itu menggeleng sekaligus mengagguk, “Entahlah.”

“Aku mempercayainya.” Jawabku. Dia kembali melemparkan tatapannya ke tengah danau, “Tidak ada seorangpun terlahir dengan nasib buruk, jika pun demikian kelahirannya adalah anugrah terbesar dan sesuatu yang baik akan akan datang mengikuti. Hanya saja, sebuah batu berkilau di ujung pulau terasa lebih indah dari pada kerang jelek yang menyimpan sejuta mutiara. Kadang-kadang aku bertanya apa mereka tentang takdir mereka.”

Dia menarik ujung bibirnya dan tersenyum. Aku melihat sinar di matanya. Melihat lebih dalam kedalam takdirnya, berbanding terbalik dengan parasnya yang begitu sempurna, takdirnya sangat kelam.

“Kau ingin bertukar?” Aku memberikan tawaran padanya, tentu saja tidak semua peri akan melakukan hal yang sama sepertiku tapi kadang-kadang kami melakukannya tentu semua itu tidak gratis. “Aku akan memberikan waktu.”

Dia menoleh dan tersenyum mencibir. “Terima kasih.”

Aku bangkit dari dari duduk dan menatapnya, “Tentu saja kau tidak akan percaya. Gadis itu sedang memengang kalung pemberianmu. Kau bisa melihatnya tapi dia tidak melihatmu dan disatu sisi dia akan menangis tapi kau tidak bisa mendengarnya. Ada sebuah pembatas antara dunia manusia dan duniaku, kau hanya memerlukan keberanian untuk memanggilku. Saat butir salju terakhir mencair, saat itu tawaranku akan hangus.”

Dia menoleh, tapi waktu telah habis. Aku tidak boleh terlalu lama berdekatan dengan manusia. Itu adalah aturan dan hukum kuno yang harus ditaati oleh kaum kami. Tapi aku tetap terus mengawasinya, dari kejauhan.

>>deson<<

Hujan menguyur bumi, pertama kalinya sebagai pertanda musim dingin akan berlalu. Aku melihatnya, Pria itu mondar mandir di tengah keramaian mengumpulkan keberanian yang ia punya. Saat gadis yang dicarinya ia temukan. Ia hanya tergolek lemas.

Gadis itu hampir tidak dikenali, kecuali kalung berbentuk hati yang sengaja ia genggam agar tidak terbakar.

Aku sudah mengatakannya tapi kau tidak percaya. Seakan mendengar ucapanku, pria itu menatap ke arahku, tentu saja dia tidak bisa melihatku, Juga tidak bisa mendengar suaraku.

Lagi-lagi pria itu tidak menangis. Ia kembali melayangkan pandangannya ke arah danau. Bodoh, kau tahu gadis itu sudah meninggal, apa yang membuatmu harus menahan air mata, oh?

Pria itu kemudian beranjak, kembali ke pinggir danau dan duduk sambil memandangi langit. Apa yang dipikirkan oleh pria itu?

“Kami datang kemari untuk berpisah. Menikmati hari terakhir kami sebagai pasangan.”  Pria itu berkata seolah aku disampingnya. Aku memang disampingnya, tapi bagaimana dia bisa tahu. Aku sudah tidak menampakan dirinya lagi. “Aku tidak menyangka bahwa ini menjadi akhir untuk selama-lama-nya.”

Tik…

Aku menjentikan jariku untuk membuka sebuah gerbang cahaya. Dia menoleh dan melihatnya. Aku berbisik padanya, “Aku akan menukar waktumu, apa yang akan kau berikan padaku?”

“Hidupku.” ucapnya tanpa ragu.

Huaa~ aku tidak pernah sesenang ini mendengarnya, “Apa kau yakin?” tanyaku sekali lagi.

“Apapun yang kau mau.” Ucapnya tanpa ragu sekali lagi.

Aku mengijinkannya untuk melihatku. Tidak seperti sebelumnya, kali ini dia tampak kaget ketika melihat perwujudanku.

“Apa wujud peri seperti ini?” tanyanya.

Aku menggeleng, “Tentu saja berbeda. Hanya ada sedikit perbedaan, tapi aku tidak akan memberitahumu.”

“Aku juga tidak ingin tahu.” jawabnya cepat.

“…”

“Katanya kau bersedia melakukan pertukaran.”

Aku menilik ke arah matanya, kilatan kilatan muncul saling beradu. Emosi. Satu hal yang tidak dimiliki oleh kaum peri.

“Kau sangat cerewet.” Aku mengangkat tanganku ke atas. Apa yang seharusnya kulakukan membalikan kematian adalah hal yang terlarang. Mengubah takdir manusia adalah adalah kejahatan luar biasa, “tutup matamu.”

Tapi aku ingin mencari jawaban yang tidak pernah aku dapatkan di dunia peri.

>>deson<<

Pria itu membuka matanya. Ia menatapku dengan tatapan aneh. “Kita tidak berubah?” katanya dengan polos, “Ah…” Ia terkejut ketika melihat jalanan yang sepi. Tidak ada mobil pemadam kebakaran, tidak ada ambulans dan tidak ada kecelakaan.

Ia merogoh ponselnya dan melihat jam serta tanggal.

“Dua hari yang lalu.” Ucapku dengan santai, “waktumu hanya 48 jam dari sekarang.”

Dia langsung berdiri kemudian menatapku, “Aku harus menyelamatkannya, bukan?”

Aku tidak menjawab.  Itu bukan pertanyaan yang aku inginkan, karena pertanyaan yang aku inginkan hanya dia yang bisa menjawabnya. Pertanyaan yang selalu membuatku penasaran.

Dia berlari, berteriak. Memecahkan keheningan malam dan menerobos angin dingin. Danau tempat kami bertemu menjadi saksi perjanjian yang tidak masuk akal. Menukar gadis itu dengan jawaban yang pertanyaannya tidak pernah terlontarkan.

>>deson<<

Tiga jam setelah perjanjian itu atau tepat tengah malam, pria itu berteriak-teriak di depan rumah seorang gadis. Para tetangga yang merasa tertanggu melemparinya dengan kaleng bekas, tapi ia tidak peduli. Ia berteriak meminta maaf.

“Kenapa kau meminta maaf?”

“Aku telah menyakitinya. Aku mengajaknya kencan tapi yang kulakukan adalah mengacuhkannya. Aku terlalu egois dan hanya memikirkan diriku sendiri.” Dia tersenyum ketika lampu kamar menyala dan pria itu tersenyum, “Aku ingin menebus kesalahan-kesalahanku.”

“Menebus?” tanyaku, “Kau bahkan tidak menyukainya.”

Pria itu terdiam dan menatapku dengan tatapan heran, “Ah! Aku lupa jika kau seorang peri. Kau bisa melihat semuanya.”

Aku menggeleng, “tidak semuanya. Aku juga mahluk hidup yang mempunyai batasan. Tapi kenapa kau ingin menebus kesalahanmu. Kalian bisa berpisah secara damai.”

Pria itu menunduk , “Pada awalnya.” lalu tersenyum, “Tapi aku semakin merasa bersalah. Untuk lima tahun yang ia habiskan denganku, jika berpisah begitu saja. Aku akan merasa terbebani. Melihat kecelakaan itu dihadapanku. Aku sadar bahwa harusnya dia memiliki kebahagian yang lebih.”

Tentu saja gadis itu memiliki kehidupan yang bahagia. Nasibnya yang baik. Jika saja ia mengalami kecelakaan itu, itu hanya karena sudah waktunya gadis itu meninggal.

“… Harusnya aku lebih mencintainya lagi.”

Aku menarik sebuah senyuman, “Saat kecelakaan itu, kenapa kau tidak menangis? Apa karena kau tidak mencintainya?”

Dia tidak menjawab. Matanya begitu gelap. Aku tidak tahu apakah pria itu sangat tampil menyembunyikan perasaannya atau tidak punya perasaan sama sekali.

>>deson<<

Apa karena kehilangan dan tidak bisa menemukan sesuatu yang dicintainya, manusia menangis atau karena menemukan sesuatu yang akan sebelumnya tidak ada dan akan hilang, manusia menangis. Apakah hanya saat ada kehilangan manusia menangis?

Kenapa mereka menangis? Jika mereka bisa melihat takdir mereka, mereka tidak perlu membuang emosi demi mempertahankan sesuatu yang tidak lebih baik. Hanya saja manusia mempunyai banyak emosi.

“Apa yang kau lakukan?”

Aku melihat pria itu mondar mandir tidak karuan. Ia sibuk menekan ponselnya kemudian mendecak kesal.

“Kemarin kami bertengkar dan seharian ini kami tidak akan bertemu. Besok kami akan bertemu di dekat danau dan setelah itu dia akan marah dan kemudian…” Dia mengembuskan nafas panjang, “Aku harus meminta maaf. Aku harus menebusnya.”

Pria itu lalu mengambil jaketnya dan pergi keluar.

Aku menjentikan jariku tapi aku tidak menghasilkan apa-apa. Aku sudah mengeluarkan banyak tenaga dan aku tidak bisa melakukan sesuatu yang lebih atau aku tidak bisa pulang ke tempat para peri.

“Tunggu.” Aku mengejarnya. Dengan kedua kakiku. Ah sial~

>>deson<<

Aku mengikutinya. Mengikuti pria itu.

Pria itu berhenti di sebuah toko pernak-pernik. Membeli berbagai pernik yang hanya biasa di beli oleh seorang perempuan.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku penasaran

“Tae Yeon menyukai kejutan dan aku akan memberinya kejutan yang paling indah.” Pria itu memilih balon dan beberapa lilin. “Aku ingin dia bisa mengenang hal ini dengan baik. Aku pernah melakukan yang terbaik untuknya.”

Aku mengagguk, pura-pura memperhatikan pernak-pernik itu. Pria itu melakukannya bukan karena ia menyukainya. Ia hanya bertahan lima menit di toko itu mengambil asal kemudian pergi.

>>deson<<

Aku berdiri memegang balon warna-warni agak jauh dari pria itu sesuai perintah pria itu. Melihat pria itu dari belakang, aku tidak tahu raut wajahnya.

Gadis itu datang, dengan tatapan yang berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya gadis itu tampak sedih, kali ini gadis itu tampak terkejut. Menatap halte biasa yang mereka kunjungi tiba-tiba dihiasi oleh bunga dan lilin yang indah.

Pria itu mendekati gadis itu dengan senyum yang lebar, gadis-gadis lain yang ikut menyaksikan pertunjukan itu saling bersorak merasa iri dengan perlakuan pria itu sedangkan pria lain, mulai panik takut pacar mereka menginginkan yang sama kemudian ia berlutut. Meraih tangan itu kemudian menciumnya.

“Apa yang kau lakukan?”

Pria itu mengedikan tangannya dan menarik gadis itu ke dekat piano.

Drrtt… drttt…

“tunggu sebentar.” Gadis itu mencari ponselnya

De Javu. Pria itu ingat ketika gadis itu mengangkat telepon dan mengucapkan beberapa kata-kata lalu menutup teleponnya, gadis itu meminta maaf, mereka bertengkar hebat kemudian gadis itu meninggalkannya selamanya.

“Bisa kah kau tidak menggangkat telepon itu?” ucap pria itu dengan pengharapan.

Gadis itu menggeleng. Sambil mencari ponselnya.

“Tae Yeon-ah, ku mohon.”

Yeobseo.” Gadis itu mengangkat tangannya menyuruh pria itu berhenti bicara. Ia menggangguk dan mengucapkan ia dan tidak kemudian menutup teleponnya.

“Aku…” gadis itu menatap sekelilingnya dengan ragu-ragu.

“Tidak!! Aku melakukan ini untukmu. Agar kau merasa senang.”

“Tapi…”

“Kau tidak suka?”

“Bukannya tidak suka, bisakah kau mendengar penjelasanku terlebih dahulu?”

“Bisakah kau melihat kejutanku terlebih dahulu?”

“Tentu,” Gadis itu mengagguk dengan cepat wajahnya tampak gelisah, “Bisakah kau memberikanku segera.”

Pria itu sama sekali tidak bisa membaca raut wajah gadis itu.

“Aku sudah membuat ini dengan susah payah tidak bisakah kita melewati hari tanpa harus bertengkar. Aku sudah mengibarkan bendera putih. Bisa kah kau melakukan hal yang sama. Satu hari tanpa bertengkar.”

“Tidak.” Ucap gadis itu kemudian berbalik. Menyetop bus yang lewat di hadapannya.

Pria itu memandang gadis itu Clueless. Dia benar-benar pria yang bodoh. Ia hanya terdiam saat gadis itu naik bus dan meninggalkannya.

Tepat 500 meter dari tempatnya berdiri. Bus itu meledak dan dia hanya tertunduk sekali lagi tanpa bisa menangis.

Sekali lagi, gadis itu meninggalkanya. Dihadapannya.

>>deson<<

Pria itu kembali terduduk di pinggir danau sambil menatap langit. Ia kembali dengan ekspresi itu, eskpresi yang tidak bisa aku rasakan.

Aku mendekatinya dan duduk disebelahnya. Dia sama sekali tidak kaget seperti pertama kali. Ia terus menatap lurus ke depan.

“Aku sudah memberikan kau waktu, sekarang waktunya balasanmu.”

Pria itu menyungingkan senyuman itu. mengejek. “Lakukan apa yang ingin kau lakukan, aku sudah tidak peduli.”

“Kau tidak menyukainya, kau juga tidak membencinya. Kenapa kau melakukannya?” tanyaku penasaran.

Pria itu berpikir sejenak, “enatahlah. Aku tidak mencintainya, aku juga tidak membencinya. Hanya saja jika tidak ada dia aku merasa kosong.” Dia tertawa, “benar, harus ada objek untuk di cintai dan dibenci. Dia adalah objek.  Objek yang ada di ruangan hatiku. Tanpanya hatiku menjadi kosong.”

Jadi itulakah arti tatapanmu. Kosong. Tanpa seseorang yang menguatkan tanpa seseorang yang melemahkan. Manusia menjad tidak berarti. Dia tidak bisa memberikan nilai pada dirinya. Sesuatu yang tidak kami punya. Kami kuat dengan sendirinya tapi manusia tidak.

“Kau tidak ingin bertenya kenapa kau gagal?”

Dia menatapku dengan tatapan, bercahaya. Harapan. Aku bisa mengartikan itu sebagai harapan. Dari cahaya itu aku bisa melihat ruang kosong di hatinya menyala. Terang.

“Untuk mencintai kau juga harus mendengar, melihat dan merasakan. Bukan untukmu sendiri tapi objek itu juga. Mencintai dan membenci bukan hanya dilakukan oleh satu pihak saja. Tapi yang lain juga harus tahu. Meskipun perasaanmu tidak akan sema dengan perasaan si objek.”

Dia mengerutkan keningnya tidak mengerti. Aku tertawa.

“Ahh… apa yang harus ku lakukan. Kau telah menjual jiwamu padaku.” Aku tersenyum sangar. Dia terlihat gelisah, perlahan harapan itu memudar tapi tidak sampai hilang. “Jika kau mendengarkan dia, kau akan tahu apakah dia masih mencintamu atau perasaan kalian sama. Sama-sama tidak saling mencintai. Jika kau melihat dia seharusnya kau tidak disini. Ini adalah tempat yang salah. Jika kau merasakan, kau akan mengerti.”

Ttiik… aku menjetikkan jariku sebelum ia membuka mulutnya. Sebelum aku merubah pikiranku lagi. Dia telah menjual jiwanya padaku dan aku ingin dia bisa hidup kembali, dengan baik. Dengan pilihan yang ia pilih.

>>deson<<

“Baek Hyun-ah… ada apa?” Kyung Soo menepuk pundak temannya, khawatir karena temannya dari tadi hanya melamun.

Baek Hyun mengerjapkan matanya tampak kebingungan. Ia berada di danau memancing bersama Kyung Soo.

“Kau bilang kau ingin putus dengan Tae Yeon.”

“Tae… Yeon…?” iya. Ia ingin mengatakan hal itu pada Kyung Soo tapi ada sesuatu yang menganjal pikirannya. Kenapa? Ia seperti pernah mengalami kejadian yang lain. “Sekarang tanggal berapa?”

Kyung Soo menatap Baek Hyun dengan tatapan mengejek, “Kau ini kenapa? Aneh sekali dari tadi?”

“Apa Kau tahu dimana Tae Yeon?” kemarin mereka bertengkar hebat dan, mereka tidak akan bertemu besok. Baek Hyun menimang-nimang apakah ia harus bertemu dengan Tae Yeon lusa?

Kyung Soo mengerutkan keningnya, “Apa kau benar-benar tidak tahu? Nenek Tae Yeon masuk rumah sakit.”

“Apa?”

“Kau benar-benar tidak peka.”

 >>deson<<

Jika kau mendengar, melihat dan merasakan… kau akan mengetahuinya

Baek Hyun melihat Tae Yeon sedang menjaga neneknya yang sakit. Ia bahkan lupa mencharge ponselnya hingga mati. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali melihat Tae Yeon dari kejauhan.

Baek Hyun kemudian mengetikan sebuah pesan singkat kepada Tae Yeon, “Yeon-ah, bisa kah kita bertemu di kafe tempat pertama kali kita bertemu?”

>>deson<<

Tidak ada amarah, kejutan atau hal istimewa lainnya. Meraka hanya duduk berdua dalam keheningan sampai akhirnya Tae Yeon berbicara.

Oppa…”

“Yoon Tae Yeon, Mianhae…” Baek Hyun segera memotong ucapan Tae Yeon, “Telah membuang waktu berhargamu bersamaku selama lima tahun ini. Aku menyadari bahwa aku sangat egois. Maafkan aku.”

Tae Yeon tersenyum, “Kau tidak usah meminta maaf. Aku senang. Selama lima tahun ini. Meskipun hubungan kita tidak bisa berlanjut.”

“Tae Yeon-ah.” Baek Hyun sedikit khawatir dengan gadis itu tapi gadis itu tersenyum, “Gwenchana…”

Baek Hyun menatap Tae Yeon, setidaknya ia memberikan kenangan indah pada Tae Yeon, dan Tae Yeon melepaskannya dengan senyuman. Senyuman Tae Yeon yang akhirnya mengisi kekosongan hati Baek Hyun hingga nanti pada waktunya akan di isi oleh orang lain. Begitu juga dengan Tae Yeon, ia bisa melepaskan Baek Hyun dengan penuh kegembiraan.

Apa yang lebih menakutkan dari membenci? Yaitu kekeosongan. Dimana tidak ada kenangan yang bisa membuat kita lebih hidup.

End

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: