Made Series: Manequinn

Big bang MADE SERIES

Tittle: Manequinn

Author: Deson

Main Casts: Kwon Ji Yong, Lee Bom Yi

Other Casts: Find By Yourself ^^

Length: One Shot (made Serie)

Genre: Romance

Rating: PG 15

Loser, loner. A coward who pretends to be tough

A mean delinquent. In the mirror, you’re

Just a loser. A loner, a jackass covered in scars

Dirty trash. In the mirror, I’m a

 

Seorang pria memasuki garasi rumahnya menatap puluhan mobil mewah yang berjajar rapih seperti manequinn. Audi, Chevy, Cooper, Ford, Porsche, BMW dan puluhan mobil sport yang biaya perawatannya lebih mahal dari pada biaya pembeliannya.

Mobil-mobil sama sekali tidak diliriknya, tidak ada hasrat untuk menaikinya. Bahkan mobil Ford keluaran terbaru itu saja hanya di taruh begitu saja tanpa pernah disentuh. Laki-laki itu terus berjalan menuju mobil yang paling dekat dengan pintu keluar. Mobil berwana putih yang menjadi kesayangannya, mobil yang hanya di produksi sebanyak 5 buah didunia. Ia seperti menjadi pusat dunia ketika mengunakannya, semua mata seolah melihat padanya. Ia sangat menikmatinya. Pandangan mata iri kepadanya.

“Mobilnya tidak bisa dipakai, tuan.” Tiba-tiba seorang petugas khusus perawatan mobilnya datang setengah berlari dan membuatnya mengerutkan keningnya, “Anda lupa jika kemarin malam anda menabrakan mobil anda ke patung yang di depan.”

Pria itu melihat bagian penyok di kap mobilnya. Ia rasa bahwa ia benar-benar menabrak, meskipun ia tidak ingat kejadian kemarin dengan utuh. Ia hanya ingat bahwa ia datang ke sebuah pesta yang sangat membosankan.

Ia mengurungkan niatnya untuk menaiki mobil kesayangan. Mungkin, ia tidak ingin menaiki mobil itu lagi. Selamanya. Ia mempunyai prinsip yaitu tidak pernah memperbaiki mobil yang rusak. Ia tidak percaya pada montir-montir yang memperbaiki mobilnya. Ia selalu merasa khawatir jika mobilnya sudah masuk bengkel.

Mobil-mobil lain seperti menatapnya meminta dibawa pergi. Tapi tidak ada yang menarik perhatiannya. Moodnya untuk pergi sudah hilang tapi ia tidak bisa tidak pergi.

“Panggil supir.” Perintahnya lalu beranjak ke luar rumah.

>>deson<<

Bom Yi membuka matanya. Melihat ke sekeliling. Ia menyadari bahwa ia tidur bukan dikamarnya. Ia mencoba untuk mengingat apa yang telah terjadi kemarin. Benar, setelah bertahun-tahun tidak pulang akhirnya ia pulang ke Korea tapi di tengah perjalan temannya mengajaknya ke sebuah pesta. Yang saat itu ia rasakan adalah ia sangat capek karena masih jetlag. Tapi temannya memaksa. Akhirnya ia menyerah.

Itu adalah pesta yang sangat menyakitkan baginya. Ia melihat banyak orang-orang itu seperti serigala yang sedang menatap makanannya. Ia takut, banyak sekali yang datang hanya untuk menggodonya. Ia benci hal itu. Untuk pertama kalinya ia ingin kembali ke London.

Neo Mwoya?” Seorang perempuan mendorong bahunya hingga mendekati bibir kolam renang, “Kau mengoda pria orang lain. Aku tahu kau kayak tapi tidak usah belagu.”

“Aku tidak menggodanya.”

“Kau pikir aku buta.”

Keuman, Chae Rin-ah,” Seorang pria menghentikan gerakan agresif perempuan itu. kemudian menyentuh tangan Bom Yi menjalar ke pundak, “Nan Eotte? Apa kau bersedia menghabiskan malam ini denganku.”

Bom Yi menangkas tangan itu kemudian menatap pria itu dengan tajam, “Sorry, kau bukan tipeku.”  Bom Yi merasakan tubuhnya melayang keudara kemudian menghentak ke air. Ia baru menyadari ketika paru-parunya penuh dengan air. Ia tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa bernapas.

“Bom Yi-ssi?” seseorang mengetuk pintu.

Bom Yi membuka pintu dan melihat –dia memperkenalkan dirinya sebagai Asisten Kepala Jang, “Ada apa?”

“Apa kau bisa menyetir? Supir Kim tidak masuk hari ini?”

Bom Yi ingin menolak karena rasa lelahnya belum menghilang tapi ia ingat kejadian semalam. Tentu saja ia ingat setiap kejadian menyakitkan itu. Ia benar-benar benci malam itu.

“tentu.”

>>deson<<

“Mau pergi kemana?”

Pria menoleh ketika mendengar suara perempuan yang asing di telinganya. Seorang perempuan dengan rambut diikat kuda menatapnya dengan tatapan yang sendu. Wajahnya pucat, bajunya hanya selembar kaos dan celana jins juga sendal hotel. Siapa yang mempercayai gadis seperti itu ada dirumahnya.

nugu?” pria itu menatap asisten kepala Jang

“Supir Pengganti.” Ucap Asisten kepala Jang sambil melirik gadis itu sejenak.

Pria itu menatap Asisten Kepala Jang dan menunjuknya dengan tablet yang ia pegang. Jelas sekali jika Asisten Kepala Jang lebih tua darinya, “Apa kau tidak mengerti apa yang aku katakan. Aku bilang panggil supir.”

“Supir Kim tidak masuk karena kemarin anda menabrak.”

Pria mengeram kesal. “Apakah dirumah ini tidak ada orang, eo?”

“Ah, kau benar-benar keterlaluan. Apa kau tidak ingat apa yang kau katakan kemarin malam?”gadis itu memandang pria itu dengan tatapan galak, “Jika kau mengganggap kata-kata yang keluar dari mulutmu adalah sebuah peraturan yang harus diikuti semua orang, harusnya kau belajar mengingat apa saja yang keluar dari mulutmu itu.”

Pria itu terdiam sedangkan Asisten kepala Jang menutup mulutnya yang terkekeh.

“Aku sudah mengeluarkan mobilnya, ini kuncinya nona.” Asisten kepala Jang memberikan sebuah kunci kepada gadis itu.

“Tidak jadi pergi?” gadis itu menatap pria itu dengan galak.

Pria itu naik di kursi belakang lalu diam. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Harusnya ia tidak minum sebanyak itu.

Gadis itu sudah duduk di kursi kemudi tapi ia sama sekali tidak menyalakan mesin mobil dan terdiam.

“Tidak jadi pergi?” ia menirukan gaya bicara gadis itu yang menyebalkan.

“Kemana, tuan?” Jawab gadis itu santai.

Ah… ia lupa bahwa ia belum menyebutkan tempat kemana mereka akan pergi.

>>deson<<

“Kau siapa? Asisten baru, Kwon Ji Yong?” seorang pria menatapnya dari atas ke bawah keatas lagi. Ketika ia berdiri di sebelah pria itu. Pria itu menatapnya dengan tatapan sedikit takjub.

“Lee Bom Yi dan aku bukan asiten pribadianya.” Bom Yi melirik Kwon Ji Yong dengan judes. Kwon Ji Yong menatapnya dengan tatapan dingin. Bom Yi mengerti ia langsung menjawab pria itu langsung, “Sebaiknya kau mengingat apa yang terjadi semalam. Setelah itu aku pergi.”

Kwon Ji Yong membeku. Sedangkan temannya tertawa, “Kwon Ji Yong apa yang kau lakukan bersamanya.”

Kwon Ji Yong tidak menjawab. Ia benar-benar tidak mengingat apa yang terjadi semalam. Dan mengingat membuatnya lelah. Ia meninggalkan gadis itu sendirian. Terserah apa yang akan dilakukan gadis itu. Ia tidak peduli.

>>deson<<

Bom Yi duduk disofa empuk dikantor Ji Yong. Bukan diruangnya. Bom Yi mempunyai firasat bahwa ruangan itu bisa memakan umurnya sewaktu-waktu. Benar saja. Lima menit Ji Yong masuk keruangannya ia sudah mendengar Ji Yong memaki dan berteriak. Setiap orang yang keluar dari ruangan itu kehilangan lima sampai sepuluh bulan umurnya.

“Bukankah sangat keterlaluan.”

“Dia memang sempurna, tidak ada yang bisa menyaingi standarnya.”

“Melihat dia seperti itu, Tuhan benar-benar tidak adil.”

Bom Yi mendengarkan percakapan pegawai Ji Yong. Ia melirik ke Ji Yong. Ji Yong benar-benar sempurna Tampan, kaya, pintar –bisa dilihat bahwa ia menduduki posisi strategis di perusahaan. Kecuali emosinya, bila saja Ji Yong mempunyai sifat yang manis, tentu bakan banyak yang menyukainya.

“Tapi Oppa, apa kau mengingatku?” Bom Yi memandang foto yang terselip di dompetnya. Fotonya besama Ji Yong saat kecil.

>>deson<<

Istirahat makan siang. Seluruh karyawan kantornya pergi keluar. Ji Yong merasa bahwa saat jam istirahat seperti ini adalah jam yang terbaik. Tidak ada seorang yang menganggu hanya ada dirinya sendiri.

Matanya kemudian terpaku pada seseorang. Gadis itu, Bom Yi. Gadis itu tertidur dengan pulas di sofa dengan posisi yang sangat mengkhawatirkan. Majalah yang dipenganya terjatuh, tidak lama lagi tubuh gadis itu akan terjatuh juga.

Ji Yong keluar dari ruangannya. Ingin membangunkan gadis itu sebelum terjatuh. Tapi wajah kelelahan gadis itu membuatnya mengurungkan niatnya. Ia lalu duduk disebelah gadis itu dan menyandarkan kepala gadis itu ke pundaknya.

Ingatan Ji Yong kembali. Ia ingat. Pesta itu. Saat ia melihat bahwa dunia itu benar-benar sangat lucu. Benar, tidak ada yang tertawa kecuali Ji Yong. Ia merasa bahwa pesta itu terlalu membosankan dan ia memutuskan untuk minum.

Oppa? Ji Yong Oppa?” Seorang gadis mendekati Ji Yong.

Ji Yong tersenyum sinis. Hal yang paling lucu bagi Ji Yong adalah gadis gadis itu selalu berteriak dan memanggil namannya kemanapun ia pergi. Ia adalah pusat dunia bagi semua gadis-gadis sedangkan ia sendiri sudah muak dengan semua gadis itu.

Nan Bom Yi-ya… Lee Bom Yi.” Gadis itu tersenyum dengan cerah, “Ah… akhirnya aku mempunyai teman juga disini. Aku sedikit gelisah karena tidak ada seorangpun yang aku kenal. Min Ji yang membawaku kesini malah menghilang.”

“Pergilah.”

Oppa?” gadis itu menatap Ji Yong dengan khawatir.

“Aku tidak mengenalmu. Pergilah.”

Bom Yi. Ya… Ji Yong mengenal nama itu dengan baik. Setidaknya dulu mereka saling mengenal dengan baik. Sampai akhirnya Bom Yi dikirim ke London untuk bersekolah. Ia tidak menyangka bahwa Bom Yi kecil itu kini sudah dewasa. Ia juga tidak menyadari bahwa Bom Yi masih mengenalnya.

Senyum. Ji Yong menyadari bahwa dirinya tersenyum. Tanpa paksaan. Hanya dengan mengingat Bom Yi. Gadis itu… senyum Ji Yong memudar ketika ia menyadari bahwa karyawannya sudah kembali dan melihatnya sedang bersandar dengan Bom Yi yang sedang tertidur.

Ji Yong mengangkat kedua tangannya, satu untuk menutup wajahnya dan satu lagi untuk  mengusir siapa saja yang menggaggu mereka.

>>deson<<

Bom Yi membuka matanya dan melakukan peregangan. Ia melihat kesekeliling sebuah ruangan. Ruang kantor yang elit lengkap dengan kulkas, televisi bahkan ada single bed. Orang yang kerja di ruangan ini benar-benar gila kerja.

Setelah rasa lelahnya hilang. Bom Yi bangun dan melihat ke sekeliling. Kwon Ji Yong. Sebuah papan di atas meja dengan judul CEO. Meja itu sangat rapih dan di tata dengan begitu rapih bahkan tidak ada kertas yang menyembul sendiri keluar.

Ttook… ttook…

Seseorang pria tampan masuk dengan membawakan nampan berisi air dan makanan. Dia tersenyum ketika melihat Bom Yi. Sama seperti semua orang yang melihatnya hari ini. Pria itu juga melihat dari atas kebawah lalu ke atas lagi.

“Bom Yi. Lee Bom Yi.” Ucap Bom Yi yang sudah kebal dengan tatapan seperti itu.

“Song Min Ho.” Pria itu lalu memberikan satu set ayam goreng dan jus strawberi

“Benar-benar Ji Yong Hyung.” Ucap Min Ho sambil tersenyum. Ia lalu menangkap kerutan Bom Yi, “Keahlian Ji Yong Hyung, mendapatkan berlian yang tersembunyi. Kau cantik.” Ucapnya karena Bom Yi tidak juga mengerti.

Bom Yi mengangguk, Ia mangambil chicken drum stick dan menjejalkan kedalam mulutnya, “Tapi…” Bom Yi penasaran, “Siapa yang membawaku kesini. Terakhir aku ingat aku ada di sofa.”

“Ji Yong Hyung yang menggotongmu ke sini. Dia sepertinya tidak sabaran karena kau tidak bangun-bangun.” Min Ho terkekeh.

“Kenapa?”

Pria itu memandang Bom Yi dengan teliti, “Ini pertama kalinya aku melihat Hyung membawa seorang gadis dengan pakaian seperti ini. Biasanya dia tidak suka di ganggu dan menyuruh gadis-gadis itu menunggu di sofa sana,” ia menunjuk sofa tempat Bom Yi menunggu, “termasuk kekasihnya sendiri. Tapi hari ini aku melihat kau tidur di bahunya. Ia bahkan melewatkan brifing kami dan membaca semua laporan sambil menemanimu tidur. Ia bahkan tidak mengizinkan siapapun untuk berisik.”

Bom Yi menatap Min Ho dengan tidak percaya.

“Semua karyawati sangat iri melihatmu. Keundae noona…” Min Ho berhenti sejenak, “Apa aku boleh memanggilmu noona?”

Tentu saja. Bom Yi mengagguk karena mulutnya terlalu sibuk.

“Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau begitu dekat dengan Ji Yong Hyung.”

Bom Yi menghentikan suapannya. “Aku tidak terlalu yakin. Apa aku mengenalnya atau tidak.” Kwon Ji Yong yang ia ingat adalah anak laki laki yang manis, sedangkan Kwon Ji Yong yang ia lihat sekarang adalah laki laki yang penuh arogansi, “oiya, kenapa kau memberikanku ayam dan jus strawberi?”

HyungHyung bilang kau menyukai ayam dan jus strawberi.”

“Ah…” Dia sudah mengingatnya rupanya. “kemana dia?”

“Pulang.”

Mwo??”

>>deson<<

“Bagaimana kau bisa tidak ingat alamat rumahmu?” Min Ho terkekeh setelah Bom yi menceritakan kisah malangnya.

“Aku hanya anak umur 7 tahun. Korea sudah berubah. Seoul berubah. Pembangunan dimana-mana. Aku tidak ingat apapun.” Bom Yi mendecak saat melihat jalanan kota Seoul yang jauh dari ingatan masa kecilnya dulu.

“Tapi bagaimana kau ingat Ji Yong Hyung.”

Bom Yi terdiam, “Sebenarnya aku tidak yakin apakah dia Ji Yong Oppa yang ku kenal dulu atau bukan. Semuanya berbeda.”

“Bukannya setiap orang itu berubah.”

“Tapi dia berubah menjadi mengerikan. Begitu dingin. Galak dan pemarah. Ji Yong Oppa yang ku ingat dulu adalah orang yang ramah, baik, penyanyang dan juga penyabar. Aku ingat saat pertama kali kami bermain dan aku memecahkan vas bunga. Aku ketakutan setengah mati dan dengan beraninya dia berkata bahwa dia yang memecahkannya.”

Min Ho terdiam, “itu sudah lama sekali.”

Ye?”

“Kwon Ji Yong yang ceria dan bersahaja.”

Bom Yi dan Min Ho saling terdiam. Mereka menyusuri jalan Seoul dengan keheninggan.

>>deson<<

Neon waegeurae?” seorang wanita berteriak kearah Ji Yong, ia memaki dan mencaci. Ji Yong hanya terdiam tidak peduli, ia sibuk menyumpit nasinya, makan dengan ekspresi dingin. Tidak ada penyesalan ataupun rasa bersalah. Semua ekspresi yang dikeluarnya hanya ekspresi datar, sehingga membuat wanita itu semakin marah dan kesal.

 “Kau benar-benar Pecundang Kwon Ji Yong. Seorang pria kesepian. Sifatmu benar-benar keterlaluan. Meskipun kau merubah cara berpakaian atau memakai topeng sekalipun, kau tetap seorang pecundang. Si brengsek yang hanya dapat bersembunyi dibalik lukanya sendiri.” Wanita itu berteriak kencang sebelum meninggalkan Ji Yong. Ji Yong menghentikan acara makannya.

Oppa…”

Asisten Kepala Jang memberikan kode untuk diam. Bom Yi tidak tahu apa yang terjadi, memilih untuk diam. Asisten Kepala Jang, Supir Kim, dan beberapa orang lainnya juga terdiam. Ji Yong kembali memakan makannya tanpa basa basi.

Bom Yi melihat Ji Yong sangat menyedihkan. Sangat Menyedihkan.

Bom Yi menarik salah sutu kursi dan duduk di kursi itu. Ia mengambil mangkuk menemani Ji Yong.

“Pergi.” Ucap ji Yong dengan dingin.

“Kenapa harus makan sendiri?”

“PERGIII…” Ji Yong mengeluarkan suara kerasnya.

“Makan bersama bisa memambah rasa makanan itu…”

“YA!!!” Ji Yong bangkit dari duduk dan menatap Bom Yi dengan penuh marah, “Aku hitung sampai tiga. Satu, dua….” praaang… Ji Yong menarik taplak meja dan membuat semua isi meja makan berjatuhan ke lantai, “Pergilah sebelum aku menyeretmu pergi.”

Bom Yi terpaku melihat sikap kasar Ji Yong. Tidak hanya hatinya yang sakit tapi kepalanya juga perih.

“Lap kepalanya.” Ji Yong menunjuk kepala Bom Yi lalu pergi.

Asiten kepala Jang mendekati Bom Yi dan menahan kepalanya yang berdarah. Sedangkan yang lainnya mengambil kotak obat.

Perih. Tapi Bom Yi tidak bisa menangis.

>>deson<<

“Kau masih saja disini?” Ji Yong menunjuk Bom Yi ketika ia masih melihat Bom Yi dirumahnya.

Bom Yi tidak menjawab atau membalas tatapan Ji Yong. Ji Yong pun tidak peduli. Ia meninggalkan Bom Yi sendiri.

“Oh, Bom Yi noona masih disini?” Min Ho berkata dengan riang. Min Ho sekarang yang bertugas menjadi sekertaris dan supir Ji Yong, berhubung Supir Kim masih sakit.

“Kenapa kau tidak mengantarkan gadis itu pulang?”

“Pulang? Dia sendiri tidak ingat rumahnya dimana? Tidak ada seseorang pun yang ia ingat nomor teleponnya. Satu-satunya penghubung dirinya dan orang rumah adalah ponselnya. Kau sendiri yang bilang akan memperbaiki ponselnya.”

“Aku? Memperbaiki ponselnya?”

“Eung…”

Hening.

Ji Yong berusaha mengingat apa yang terlewatkan. Ia benar-benar mabuk berat dan tidak mengingat apapun.

“Min Ho-ya… apa kau ikut ke pesta Yang sajangnim?”

“Iya aku ikut.”

“Kau tau apa yang terjadi disana?”

Min Ho terkekeh, “hyung kau benar-benar tidak ingat.”

>>deson<<

At Party…

Hyung, Nugu? Dia cantik?” Min Ho mencoba mengoda Ji Yong, tapi Ji Yong dalam keadaan mood yang sangat buruk. Dari pada Ji Yong mengamuk, Min Ho menyerah.

“Bom Yi. Lee Bom Yi. Bom Yi. Bom… musim semi. Musim semiku.”

Min Ho tidak berani memandang Ji Yong. Ia hanya mendengarkan Ji Yong.

“Musim semi terakhir bersama Eomma. Musim semi yang indah. Kami semua bertemu. Eomma, Appa, Bom Yi dan orang tuanya, ah… Ji Hyo juga ada. Kami semua bertamasya. Ji Hyo mengatakan bahwa ia ingin melihat laut. Itu adalah pertama kali aku bertemu dengan Bom Yi, dekat dengan anak perempuan lain selain Ji Hyo. Bom Yi…”

Byurrrr…

Sebuah suara menyita perhatian Min Ho, “Hyung, Bom Yi.”

Ji Yong langsung menoleh ia melihat Bom Yi diam tidak bergerak di dalam air, “Andwae… Ji Hyo-ya… Ji Hyo-ya… Kwon Ji Hyo.” Byurrrr… Ji Yong menyelam ke dalam air.

Mobil… Bom Yi dan Min Ho…

“Ji Hyo sedang berdiri di dekat kolam renang dan terpeleset. Ji Hyo tenggelam. Kami semua panik. Oppa saat itu baru berusia sepuluh tahun hanya bisa diam melihat adik perempuannya tenggelam. Ia benar-benar syok.”

“Jadi itu alasannya ia benci kolam renang. Ia tidak bisa berenang. Tapi ia menyelamatkanmu. Dia tidak suka membawa mobil dalam keadaan mabuk. Tapi dia nekat membawa mobil. Hingga mobil menabrak. Dia benar-benar berada diambang sadar dan tidak sadar. Untuk pertama kalinya aku melihat dia seperti manusia, bukan manequinn.”

Bom Yi terdiam.

Hyung tidak pernah memperlakukan seorang wanita seperti itu. Dia memang keras tapi dia sangat baik. Aku senang dia bisa bertemu denganmu lagi.” Min Ho melirik Bom Yi lewat kaca spion, “seperti yang kau katakan, dia hanya anak berumur sepuluh tahun. Banyak hal yang terjadi. Apalagi kalian sudah berpisah selama enambelas tahun.”

 “Sebenarnya aku takut. Pada dia yang dulu atau dia yang sekarang. Dulu dia yang tidak pernah marah dan sekarang dia yang pemarah.”

Noona, kau tahu, Kita mempunyai sifat alam bawah sadar. Sifat yang menempel pada kita. Saat pertama kali kau bertemu dengannya kau dapat mengenalinya dan saat dia bertemu dengannya dia tersenyum. Jangan biarkan pikiran lain mempengaruhi sifatmu. Jadilah dirimu sendiri.

>>deson<<

Ji Yong melihat Bom Yi yang sedang menonton TV tapi matanya tidak fokus. Gadis itu sedang melamun. Melihat keningnya yang masih di perban, timbul rasa menyesal. Ia mendekati Bom Yi perlahan lalu mematikan TV.

Bom Yi bergerak kemudian menoleh ke samping. Ia melihat Ji Yong sedang menatapnya dengan lembut.

“Ini ponselmu.” Ji Yong menyerahkan sebuah ponsel baru kepada Bom Yi, “Ponsel-mu basah dan seluruh isinya tidak dapat diperbaiki. Tenang saja, aku sudah menghubungi ayahmu dan besok dia akan menjemputmu.”

“Besok? Kenapa tidak sekarang?”

Ji Yong terdiam.

Keduanya terdiam sejenak.

“Kenapa kau bisa ceroboh. Begitu lemah hingga mudah didorong ke kolam  renang.” Ji Yong membuka kotak obat yang ia bawa dan membuka perban Bom Yi dengan hati-hati, “Bukannya aku sudah mengajarkan untuk menghapal nomor telepon dan alamat rumah. Kau bukan anak umur tujuh tahun tapi tingkahmu seperti anak umur tujuh tahun.”

Ji Yong memandang perban yang ia pasang di kening Bom Yi lalu tersenyum, “Jangan ceroboh lagi Lee Bom Yi.”

Oppa.” Bom Yi menatap Ji Yong dengan ragu-ragu, “Kau juga bukan anak berumur sepuluh tahun lagi. Kau sudah dewasa.”

“Bom Yi-ya…”

“Kau hanya mengingat apa yang ingin kau ingat. Tapi kebaiknya kau juga mengingat apa itu sakit. Sehingga dengan begitu kau tidak mengulangi rasa sakit itu lagi. Berhentilah menyakiti dirimu sendiri.”

Ji Yong menatap Bom Yi, tidak. Bukan begitu seharusnya. “Aku yang membunuh mereka.”

“Mereka meninggal dunia karena kecelakaan, Oppa.” Bom Yi memengang tangan Ji Yong, “Kedua Orang tuamu.”

“Seharusnya aku tidak memakai mobil mereka untuk latihan mobil … harusnya aku bisa menjaga Ji Hyo… semuanya salahku…”

Oppa…” Bom Yi memeluk Ji Yong dan menepuk punggungnya perlahan, “Gwenchana…tidak ada seorang pun yang sempurna. Kita punya kesalahan tapi bukan tapi bukan berarti hidup dalam bayang-banyangan kesalahan.”

Ji Yong menatap Bom Yi.

“Oppa anak yang baik, pintar, kekayaan dan jabatan adalah bukti bahwa kau orang yang sukses. Tapi jangan menjadi manequinn yang dingin. Oppa kau adalah orang yang hangat. Seperti mentari di musim semi.” Seperti Oppa yang aku sukai dari dulu, hangat dan penuh kasih sayang.

>>deson<<

“Bom Yi-ya…”

Appaaaaa…” Bom Yi segera berlari setelah melihat ayahnya. Ia mengandeng ayahnya dengan lengket seperti tidak terpisahkan.

“Ji Yong-ah, gomawo.” Ayah Bom Yi mengucapkan rasa terimakasihnya pada Ji Yong. Ji Yong hanya mengangguk, tersenyum.

Ji Yong mengantarkan Bom Yi dan ayahnya ke depan rumah. Ia merasa berat melepaskan Bom Yi. Apalagi seletah semalam mereka berbicara berdua. Bebannya, kemarahannnya pada dirinya sendiri sedikit mereda.

Ia ketakutan, ketakutan akan kepergian Bom Yi dan ketakutan bahwa sifat buruknya akan kembali. Tapi melihat senyum Bom Yi dengan ayahnya ia tidak bisa meminta gadis itu untuk tinggal lebih lama. Ia tidak mau menyakiti hati Bom Yi.

>>deson<<

Appa kenapa kau baru datang hari ini. Kenapa tidak kemarin? Aku merindukanmu.” Bom Yi duduk disebelahnya di sedan Camry. Gadis itu memajukan bibirnya pura-pura marah.

Lee Seon Woong tersenyum melihat anak gadisnya itu, “Ji Yong yang memohon agar kau tinggal satu hari lagi bersamanya. Dia bilang dia ingin meminta maaf, karena telah memperlakukanmu dengan buruk.” Seon Woong melirik luka di kening anaknya itu. “Gwenchana?”

Bom Yi tidak menjawab.

Seon Woong menghirup nafas panjang. Ia mengerti apa yang terjadi. Ia menepuk pundak Bom Yi dengan perlahan. “Kau menyukainya dari dulu tapi Ji Yong tidak pernah melihatmu sebagai perempuan. Aku mengerti. Sudahlah.”

Bom Yi menatap Ji Yong dari balik kaca belakang. Ji Yong tidak bergerak sampai Supir menjalankan mobilnya. Bom Yi menyerah, ia menatap lurus kedepan.

Ppuk… ppuuk…

“Ahjussi…” Ji Yong mengetuk pintu mobil dan ikut berlari. Supir menghentikan mobilnya dan Seon Woong menurunkan jendela kacanya.

“Ahjussi…” Ji Yong sedikit ragu. Ia menatap Bom Yi sejenak, “Apakah Bom Yi bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Aku tidak janji tidak akan meninggalkannya, tidak akan menyakitinya.”

Seon Woong menatap Bom Yi. Bom Yi tersenyum lalu keluar dari mobil dan berlari kearah Ji Yong.

Kajima Bom Yi-ya.” Bisik Ji Yong. “Jangan biarkan aku hidup seperti manequinn lagi.”

Seon Woong keluar dari mobil dan menarik anak gadis satu-satunya itu, “Aku belum mengijinkannya.”

Ji Yong dan Bom Yi terdiam, “Kau harus menikahinya, baru bisa membawanya pulang.”

Ji Yong dan Bom Yi tersenyum.

END

Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: