INTERLUDE

11229902_932685743457678_3020543309444186435_n

Siang itu di paviliun selatan masjid Ukhuwah Islamiyah duduk seorang gadis menatap orang-orang yang melewati Masjid itu. Masjid itu terlihat ramai dari biasanya karena ada acara bedah buku penulis terkenal, beberapa orang yang sengaja bertemu dengan teman-teman dan banyak lagi. Termasuk gadis itu yang sedang menunaikan hutangnya untuk bertemu dengan seseorang.

Sesekali, gadis itu mendengarkan sang penulis tentang novelnya, mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pembaca kepada sang penulis dan hal-lainnya, menatap masjid terbuka itu dengan tatapan sendu. Dilain waktunya, gadis itu terus menatap ponselnya, mengecek pesannya dan memastikan ponselnya tidak error.

Dia menghela nafas panjang ketika acara bedah buku itu berakhir dan adzan ashar bergema. Ia merasa melewatkan banyak hal, dan mulai menyalahi dirinya sendiri. Harusnya ia tidak datang terburu-buru, karena syaitan adalah hawa nafsu. Seharusnya ia membawa Quran dan membacanya ketika menunggu, dan ia malah membuang waktu percuma. Ia mengigit ujung bibirnya dan menatap ke gerbang keluar. Ia tidak boleh menyesalkan sesuatu. Sesuatu pasti ada hikmahnya.

Ia melangkahkan kakinya menuju tempat wudhu perempuan dan membasuh wajahnya dengan air. Menghapus penat yang bercokol selama berjam-jam, menghilangkan amarah yang hampir mengubahnya menjadi rubah berekor sembilan.

Ia ingin berubah. Menjadi wanita yang baik. Bukan untuk topeng mencari laki-laki terbaik tapi untuk dirinya sendiri.

Ia bukan gadis yang jahat tapi bukan juga gadis yang baik. Ia hanya manusia biasa. Perempuan yang mendambakan laki laki yang baik, tampan, kaya, dan bisa menjadi suami yang penyayang. Tentu saja laki laki itu harus dari keluarga baik-baik, pendidikan yang bagus, pekerjaan yang bagus dan juga iman yang sabar. Tapi apakah itu adil, dia menuntut segalanya sedangkan laki laki itu, apakah dia juga akan melakukan hal yang sama. Laki laki itu mungkin juga berdoa, dia menginginkan wanita yang solehah, menginginkan wanita yang cantik dan menjaga kehormatannya, wanita yang penyabar dan wanita yang menatuhi segala perintahnya serta kelak menjadi guru pertama yang hebat bagi anak-anaknya.

Untuk itu ia berubah, untuk dirinya sendiri.

Niatan baik itu disambut oleh temannya dan langsung mengenalkannya pada teman lainnya. Gadis itu menyambut niatan temannya dengan baik.

“Ketemu aja dulu, siapa tau jodoh, kalau gak suka yaudah jadi temennya aja. Gak ada salahnya kan berteman dan menambah tali silahturahmi.”

Setelah berpikir dengan matang, ia akhirnya menyetujuinya dengan syarat harus ada seorang muhrim diantara mereka. Dan pria itupun setuju.

Janji bertemu saat duha, sama-sama berjanji untuk sharing pengalaman dan bercerita tentang diri masing-masing.

Ternyata semua tidak berjalan dengan lancar. Masjid yang menjadi tempat pertemuan, sedang mengadakan acara bedah buku, orang yang dijanjikan akan datang, tidak datang. Gadis itu sangat kesal.

Sepupu yang menemaninya sudah kehabisan kesabaran dan memutuskan untuk mengikuti bedah buku. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan dalam sujudnya pun ia tidak bisa menangis. Ia tidak tahu apa yang harus ia keluhkan pertama kali. Dalam kekesalan, dalam amarah dan dalam keputus-asa-an itu ia hanya bisa memohon ampunan pada yang maha kuasa. Menjadikan biji kesemek yang bercongkol di dadanya menghilang. Sedikit demi sedikit, pikirannya menjernih. Sedikit demi sedikit, ia mulai tersenyum.

Saat mengucapkan salam dua kali, lalu menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong. Hatinya beristigfar memohon ampunan.

“Teteh gak marah?”

Gadis itu menoleh ke sisi kirinya menatap sepupunya, “Untuk apa?”

“Dia yang ngajak ketemuan. Dia sendiri yang gak dateng. Gak ngasih kabar.”

“Untuk apa marah dan kesal. Marah itu perbuatan syaitan.” Ia melipat mukenanya kecil-kecil lalu menghirup nafas panjang kemudian menghembuskannya.  Ya, Allah berilah kami masing-masing pasangan yang baik dimata-Mu. Aamiin. Ia mengusapkan kedua tangannya ke wajah dan tersenyum. “Ayo kita pulang.”

Leave a comment

4 Comments

  1. Halo kak, ini tagnya cerpen tapi ada interlude-nya? Mungkin ini cerber ya kak?
    Anyway, Mimin jadi ikutan sedih. Jadi pengen tau, karakter utama ini umurnya berapa? Kayaknya udahh kepengen banget untuk berumah tangga…
    Tetap menulis ya kak, Mimin dukung dari sini!
    Salam Apresiana🙂

    Like

    Reply
    • Hai… terimakasih sudah menyempatkan membaca ^^ sebenernya ini bagian dr cerber tapi karena beberapa alasan harus d buang… karena dibuang begitu aj a sayang jd dibikin sebagai selingan hehehe… tokoh utamanya berumur sekitar pertengahan 20 hahhaa…
      Terimakasih sudah berkunjung ^^

      Like

      Reply
  2. Ooh gituu, tp bakal kakak lanjutin kan? Soalnya konfliknya belum kelar kan kak, dan Mimin penasaran.. Hihihi ^^
    Salam kenal dan sukses terus dari Mimin, kak!

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: