MADE SERIES: Delusions

Big bang MADE SERIES

Tittle: Delucition

Author: Deson

Main Casts: Dong Young Bae, Kim Ga Eul

Other Casts: Find By Yourself ^^

Length: One Shot (other sequel Manequinn & A Part(Y))

Genre: Romance

Rating: PG 15

Our memories that I secretly put in my drawer
I take them out and reminisce again by myself

Why didn’t I know
About the weight of sadness that comes with breaking up?

 

Seorang Executif muda yang bertalenta, duduk memimpin rapat. Setelah berjam-jam mencari ide akhirnya ia menemukan yang ia cari. Tidak hanya dirinya tapi seluruh karyawan yang menghadiri rapat menghirup nafas lega karena sang boss tidak hanya perfeksionis tetapi juga teliti. Makanya rapat itu berlangsung alot.

“Senin depan bagaimana?” Dong Young Bae, menatap sekertaris pribadinya Sandara. “Aku ingin draft pertama minggu depan. Setelah berhasil menemukan vendor, segera membuat MOU dan―”

Sajangnim.” Sandara memotong pembicaraan bosnya, ia menatap schedulernya dengan tatapan penuh khawatir, “Ga Eul Agashi meminta anda mengosongkan jadwal selama seminggu, untuk―”

Young Bae melambaikan tangannya meminta rentetan jadwal yang ada ditangan Sandara. Ia ingat ia menyaksikan sendiri tunangannya menuliskan schedul untuk dirinya. Ia juga ingat tunangannya mengomel saat menuliskan itu.

“Kau ingin pernikahan kita ditunda lagi?” Ga Eul mendecak, ini sudah kesekian kalinya pernikahan mereka ditunda. Tentu saja karena Young Bae terlalu sibuk dengan perusahaannya sehingga ia membiarkan Ga Eul mengurus semuanya.

Tentu saja pernikahan harus ada mempelai wanita dan mempelai pria. Sesibuk apapun Young Bae tetap harus menyiapakan pesta pernikahannya juga. Ia bahkan harus merencanakan satu tahun sebelumnya untuk menyiapkan tanggal pernikahan, enam bulan sebelumnya untuk mempersiapkan pesta pernikahan.

“Foto Prewedding, Fitiing baju, cek katering, mengirimkan undangan.” Young Bae memijat keningnya saat membaca jadwal yang ditulis tunangannya. Kenapa menikah itu sangat membutuhkan banyak waktu, saat ia bertunangan dengan Ga Eul, ia hanya mengatakan pada kedua orang tua Ga Eul ia ingin menikahi Ga Eul, lalu hari minggunya ia mengundang teman-teman dan keluarga untuk mengumumkan pertunangannya sekalian memamerkan Ga Eul. Selesai. Bahkan tidak sampai seminggu.

Fitting Baju.” Young Bae mengetuk jadwalnya sesaat, ia mencoret tulisan tunangannya satu persatu, “Kau tahu ukuran tubuhku. Pakai ukuran itu saja. Cek katering, cari yang terenak. Tidak apa-apa jika mahal dan mengirim undangan. Kau tahun semua kolega bisnis dan keluargaku. Katakan permohonan maafku karena tidak bisa mengantarkan undangan secara langsung, dan foto Prewedding…” ia memandang Sandara sejenak, “tidak bisakah difoto secara terpisah? Sekarang sudah banyak orang yang mahir melakukan editing foto.”

Sajangnim… Saya bisa melakukan hal itu tapi Ga Eul Agashi tidak akan setuju.”

Young Bae mengangkat tangannya menyuruh sekertaris dan karyawan lainnya untuk meninggalkan ruang rapat. Begitu semua pergi ia segera memencet tombol 1 di ponselnya. Menelepon Tunangannya.

“Ga Eul-ah―”

Andwae” Potong Ga Eul seolah bisa membaca pikiran Young Bae, “Jika kau membatalkannya. Aku akan membatalkan pernikahan ini, membatalkan pertunangan ini juga.”

Young Bae terdiam sejenak. Ia melakukan hal ini bukan karena tidak menyukai Ga Eul, tetapi ia sangat menyukai Ga Eul. Ia nyaman berada di samping Ga Eul dan Ga Eul tidak pernah merepotkan dan tidak bawel. Kecuali masalah pernikahan mereka ini.

>>deson<<

Di sebuah rumah sakit di pinggiran kota Seoul. Seorang gadis duduk diatas ranjang sambil menangis menatap ponselnya. Ia memangis bukan karena penyakitnya tetapi karena hatinya begitu sakit.

Noona.” Ji Woo berlari ketika melihat kakak perempuannya menangis. Ia memeluk kakak perempuannya, memberikan bahunya untuk tempat kakaknya menangis. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain meminjamkan bahunya, jika pun ada ia ingin kakaknya membagi rasa sakitnya kepadanya. “kenapa kau menangis begitu? Apa sangat sakit?”

Gadis itu Kim Ga Eul menggeleng. Ia kemudian menyeka pipinya. “Aku baik-baik saja.”

“Siapa itu? apakah Young Bae Hyung?

Ga Eul menggeleng, “Ji Woo-ya jangan katakan apapun kepada Oppa tentang hal ini.”

Ji Woo diam tidak menjawab. Kata-kata itu seperti sudah mutlak dikatakan Ga Eul ketika merasa kesakitan atau merasa ingin bertemu dengan Young Bae.

Pria itu, Ji Woo tidak tahu kenapa kakaknya mempertahankan pertunangan ini selama lima tahun. Sudah dua kali mereka membatalkan pernikahan mereka karena kesibukan Young Bae. Bahkan pria yang disebut tunangannya itu tidak tahu jika kakaknya sedang sakit parah.

Noona…” Ji Woo sebenarnya tidak setuju dengan ide kakaknya ini. Ia tidak ingin Young Bae khawatir dan memilih merahasiakan. Tapi ia sudah tahu jawaban dari kakaknya, Aku tidak ingin membuat Oppa khawatir, jika dia mengetahuinya dia akan panik tapi jika nanti aku akan sembuh, lama-lama dia akan melupakanku, dan jika aku matipun dia akan melupakanku dan kembali ke pekerjaannya. Dia orang yang kuat, untuk itu aku juga ingin kuat agar bisa berdiri disampingnya.

Ga Eul memengang tangan adiknya, “Jebal, Ji Woo-ya.”

Ji Woo luluh. Ia tidak bisa menentang keinginan kakaknya itu. “Lalu bagaimana rencanamu?”

“Aku akan menunggu donor. Aku akan mendapatkannya sebelum pesta pernikahan kami. Lalu akan sehat dan seperti sediakala.” Ga Eul tersenyum cerah, tidak ada yang bisa menghalau efek positifnya, bahkan Ji Woo pun luluh.  Namun Efek itu tidak berlaku pada dirinya sendiri. Ia tidak yakin bahwa ia akan mendapatkan donor sesuai waktunya.

“Aku akan menelepon Oppa.” Ga Eul menyuruh Ji Woo pergi. Ia lalu memencet angka 1 dan menelepon balik Young Bae.

Tidak ada jawaban. Young Bae pasti sedang sibuk. Ga Eul memang tidak pernah bisa menelepon Young Bae, sebaliknya ia selalu mengangkat telepon dari Young Bae.

Gadis itu kemudian memutuskan untuk mengirimi pria itu sebuah pesan text.

Oppa jika kau sibuk, tidak apa-apa. Aku akan melakukan foto prewedding sendiri tapi kau harus datang untuk melakukan fotomu, jangan lupa. Dan jangan lupa datang ke pernikahan kita.

Selain mengirimi Young Bae sebuah pesan, Ga Eul juga mengriimkan Sandara sebuah pengingat lainnya. Hanya untuk berjaga-jaga jika Young Bae melupakan janjinya.

>>deson<<

Young Bae tidak pernah lupa janji yang ia berikan pada Ga Eul. Ia selalu mengingatnya.

Saat meminta Ga Eul menikah dengannya lima tahun yang lalu, Young Bae pernah berjanji akan memberikan Ga Eul sebuah rumah sesuai dengan harapan Ga Eul. Sebuah rumah dengan halaman yang luas. Halaman yang bisa mereka gunakan untuk pesta barberque atau sekedar piknik di hari libur.

Young Bae juga berjanji untuk meluang banyak waktu setelah menikah. Untuk itu ia membangun banyak aset, sehingga saat mereka menikah ia bisa pensiun dan hidup dengan Ga Eul. Saat ini sudah 80% dari mimpi mereka berdua terealisasi.

Rumah yang diimpikan Ga Eul sudah tahap Finishing dan Aset yang Young Bae bangun sudah hampir selesai. Sedikit lagi, ia bisa menikmati hari-harinya bersama dengan Ga Eul.

Rumah Foto. Kim Ga Eul. No Resi DSR18101990.

Young Bae menyimpan resi tempat foto Prewedding mereka. Harusnya mereka difoto bersama, tapi apa boleh buat, Young Bae harus terbang ke Jepang selama dua minggu. Setelah itu pergi ke New York untuk bertemu dengan patner bisnisnya. Rapat rutin dengan karyawan dan diam-diam menyeleksi siapa yang akan menjadi penerusnya.

Empat bulan berlalu. Hari pernikahannya semakin dekat. Ia lalu menyuruh Sandara untuk melonggarkan jadwalnya. Ia ingin fokus dengan pernikahannya. Melepas rindu dengan Ga Eul. Membawa Ga Eul ke rumah impiannya.

“Kau yakin ini studio fotonya?” Young Bae bertanya pada Sandara. Ia ragu pada penampilan Studio foto itu.

“Benar, Ga Eul Agashi yang memberikan alamatnya.”

Tanpa banyak basa-basi, Young Bae langsung memasuki studi foto itu. disambut oleh seorang pria paruh baya yang tersenyum cerah.

“Tunanganku beberapa bulan yang lalu melakukan foto prewedding. Kami melakukan foto secara terpisah.” Young Bae memberikan resi pada seorang pria tua.

Pria tua itu mengerutkan keningnya. Ia tampak asing dengan kata prewedding. Tapi begitu ia menerima resi yang diberikan oleh Young Bae, ia langsung tersenyum dan masuk kedalam.

Young Bae melihat kesekeliling Studio. Berbeda dengan bayangan studio foto prewedding yang ada di otaknya, studio itu benar-benar kecil dan suram. Banyak foto potrait untuk pemakaman dan foto keluarga yang menempel di tembok, tidak ada foto prewedding yang ia temukan.

“Ini foto yang anda inginkan.” Pria itu membawa sebuah foto besar.

Young Bae menerimanya dan melihat foto itu. sebuah potrait Ga Eul dengan wajah pucat tanpa riasan.

“Apa ini?”

“Potrait Nona Ga Eul.” Pria itu menunjukan nomor resi dan foto itu. “Dia meminta saya untuk membuatkan foto untuk pemakamannya.”

Young Bae membelakakan matanya, “pemakaman?”

>>deson<<

Oppa…” Ga Eul melingkarkan tangannya ke lengan Young Bae, “Oktober bagaimana? Aku ingin pernikahan kita bulan Oktober.”

Young Bae mematikan ponselnya. Ga Eul satu-satu nya gadis yang bisa membuatnya melepaskan pekerjaannya. Gadis itu selalu mempunyai cara apik untuk mengalihkan perhatiannya.

Ia menatap tunangannya itu dengan cermat. Ada beberapa hal yang tampak berbeda dari sebelumnya, gadis itu tampak lebih cantik. Bukan karena riasan yang di pakainya, tapi senyum gadis itu yang membuatnya lebih tenang.

“Oktober?” Young Bae melihat sebuah sinar dimata Ga Eul. Ia memang tidak bisa bertemu setiap hari atau setiap akhir pekan, tapi ia selalu mengusahakan untuk menelepon atau sekedar memberinya pesan tidak penting, “Tentu saja, aku akan meluangkan waktuku, tidak seperti rencana kita yang berantakan.”

Ga Eul memanyunkan bibirnya, “Kau baru sadar kau menghancurkan rencana pernikahan kita, eo?”

Young Bae melepaskan rangkulan Ga Eul lalu merangkul gadis itu dengan erat, “Mianhae, aku menggagalkan rencana pernikahan kita, tapi aku akan menikahimu. Percayalah.”

“Aku percaya padamu Oppa.” Ga Eul bersandar di dada Young Bae, “Aku akan menunggumu.”

Young Bae menaruh dagunya di ubun-ubun Ga Eul. Ia bisa mencium bau sampoo yang dipakai oleh Ga Eul. Ia bisa mencium wangi tubuh Ga Eul. Kelembutan gadis itu dan juga merasakan hangat tubuh gadis itu. Tidak ada candu yang lebih baik dari Ga Eul.

>>deson<<

Young Bae menatap potrait Ga Eul dengan tatapan kosong. Ia mencoba menghubungi kedua orang tua Ga Eul dan Ji Woo namun semuanya tidak ada yang mengangkat pangilannya. Ia mencoba mencari tahu pada teman-teman Ga Eul, tapi tidak ada yang tahu.

Kenapa Ga Eul melakukan hal itu. Jika pun Ga Eul marah. Ia tidak akan membuat lelucon seperti ini. Ini membuat Young Bae sangat khawatir terlebih sudah dua bulan Ga Eul tidak menghubunginya. Terakhir saat Ga Eul memberikan nomor resi foto.

Sajangnim.” Sandara mulai resah karena Young Bae hanya menatap potrait Ga Eul. “Aku sering melihat tuan Ji Woo di sekitar rumah sakit.”

Mwo? Ji Woo? Kim Ji Woo?”

“Pertama saat aku mengambil hasil tes kesehatanmu sebelum ke Jepang, lalu saat mengambil obat pribadimu. Setiap kali melihatmu dia lari.”

“Dimana? Antarkan aku?” Young Bae membawa potrait Ga Eul bersamanya, “bertahu yang lain rapat batal, sampai waktu yang…” Young Bae melewati karyawannya dengan tatapan bingungm “Entahlah.” Ia lalu pergi ke mobilnya.

>>deson<<

 “Seberapa besar kau mencintaiku?” Ga Eul tanpa melepaskan tatapannya pada Young Bae. “Setiap hari kau hanya sibuk dengan pekerjaanmu, apa kau percaya diri jika ingin melamarku?”

Young Bae menatap Ga Eul sesaat. Butuh waktu berbulan bulan untuk meyakinkan dirinya sendiri untuk melamar gadis itu. Ia berpikir apakah gadis itu yang paling tepat untuk menjadi pendampingnya atau gadis itu bersedia menerima kekuarangannya.

“Janji kau tidak akan meninggalkanku, tidak akan berselingkuh dengan wanita lain, tidak akan mati terlebih dahulu.”

Young menarik kedua ujung bibirnya, “Haruskah?”

“Aku tidak ingin menderita sendirian. Jika kau melanggarnya, aku akan membuat hidupmu kesusahan. Janji.” Ga Eul mengacungkan kelingkingnya.

Semakin ia memikirkannya semakin ia tahu bahwa Ga Eul adalah gadis yang telalu baik untuknya. Dia gadis yang cantik dan juga pintar. Pandai mengambil hatinya dan hati kedua orang tuanya. Hidup dalam lingkungan baik, berbakti pada kedua orang tuanya dan punya sikap yang membuat orang betah di dekatnya.

Dibandingkan dengannya, tipe penyendiri dan gila kerja. Hanya menghabiskan waktunya dengan marah-marah karena pegawainya melakukan kesalahan. Tidak bisa bersikap romantis, tidak punya waktu untuk dihabiskan berdua. Terlebih itu Ga Eul tahu dan memaklumi kekurangannya.

Kemudian disambut oleh Young Bae, “janji.”

>>deson<<

“Jika yang anda maksud Kim Ga Eul, dari Jamsil, dia ada di ruang duka.” Seorang perawat.

Young Bae menyeret kakinya sambil mencengkram bigkai foto yang ia bawa. Jantungnya semakin berdetak kencang, ia bahkan tidak bisa melihat dengan benar.

Banyak orang yang datang memberinya hormat, ada yang bertanya kenapa ia tidak memakai pakaian hitam. Apa dia baik-baik saja dan hal lainnya.

Ia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ia masih menunggu pertanyaan yang belum terjawab. Apa Ga Eul baik-baik saja.

Young Bae mengedarkan pandangannya keseluruh ruang duka. Ibu dan ayah Ga Eul terlihat sedang berbincang dengan tamu. Disisi lain Ji Woo sedang menatapnya dengan penuh kemarahan.

“Siapa yang kau cari?” Ji Woo mendekatinya. Wajahnya sembab dan matanya merah. Ia mencengkram tangannya sendiri mencoba untuk tidak memukul Young Bae.

“Ga Eul?”

Ji Woo menunjuk foto yang dibawa Young Bae, “Bukankah kau yang membawanya.”

Young Bae menggeleng, “Ani… ini sebuah kesalahan.” Semua tamu melirik kearah mereka, “Ga Eul sedang marah, makanya dia membuatku khawatir. Katakan padanya aku … aku…”

Kemanhae Hyung.” Ji Woo mengambil bingkai foto Ga Eul dan membawanya untuk dipajang.

Young Bae melihat semua orang tertawa padanya. Ga Eul juga tertawa dihapannya. Semuanya berputar di kepalanya.

Oppa kau memang jahat.” Ga Eul melemparkan tatapan kesalnya padanya.

Ya, tidak apa-apa jika Ga Eul marah padanya. Itu lebih baik, Ga Eul pantas untuk marah.

>>deson<<

Krrriiing…

Yeobseo.”

“Waaah… apa aku sedang menang lotre?” suara riang disana membuat Young Bae ikut tersenyum, meskipun tidak melihatnya tapi Young Bae bisa merasakannya, “ini pertama kalinya aku meneleponmu dan kau mengangkatnya dalam dering pertama.”

Young Bae tidak bisa menyembunyikan senyumannya. “Ga Eul-ah.”

Ttit….

“Oppa, hari ini aku bertemu dengan Eommoni-mu. Aku sangat deg degan aku bahkan menumpahkan gelasku. Aku pikir dia akan marah, tapi dia malah tersenyum dan bertanya apa aku baik-baik saja. Dia benar-benar baik. Tapi… apakah benar kau itu anaknya. Dia sangat baik berbeda sekali dengan kau yang setiap hari cemberut. Jangan marah-marah lagi, nanti tidak ada yang percaya bahwa kau bisa tersenyum.”

“Senyum?”

jika kau tidak bisa, sini aku ajarkan cara tersenyum, tapi… jangan tersenyum pada sembarangan orang. Apalagi untuk tebar pesona.

“Oppa. Bisakah kau mengatakan Saranghae?” jeda… “Saranghae, Oppa.”

Young Bae menahan nafasnya, telepon ditangannya sudah berhenti berbunyi. Ia menunggu telepon itu berbunyi lagi, tapi pernah terjadi lagi. Telepon itu sunyi, tidak ada pesan masuk, tidak ada suara apapun.

 “Saranghae Ga Eul-ah.”

>>deson<<

Ji Woo melihat rumah yang di tunjukan oleh Sandara. Ia selalu berusaha untuk membayangkan rumah itu, tapi tidak pernah berhasil. Ia pikir Noona-nya hanya seorang yang hanya bisa berkhayal. Tapi setelah melihat rumah itu, ia bisa melihat bayangan Noona-nya sekali lagi.

Apakah Noona-nya sudah pernah melihat rumah itu, apakah Noona-nya akan senang dengan rumah itu, apakah Noona-nya….

“Saya tahu jika anda marah pada presdir.” Sandara menyuruh Ji Woo untuk duduk di salah satu kursi yang didesaign khusus untuk mengobrol sambil melihat pemandangan di halaman, “Kita sama-sama sedang berduka. Tapi kita tidak bisa berlarut-larut.”

Ji Woo tidak tertarik untuk duduk dikursi itu. Ia memandang foto Noona-nya dan Young Bae di pesta pertunangan mereka. Satu-satunya foto yang mereka berdua. Foto yang seharusnya di ganti dengan foto pernikahan mereka.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Ji Woo. Ia tidak ingin terlalu lama berada dirumah ini.

“temui presdir.”

“Menemui dia?? Untuk apa? Kau tidak tahu, dia tidak pernah peduli dengan Noona. Dia hanya pria egois yang hanya membutuhkan Noona sebagai aksesoris hidupnya saja.”

“Kau tidak lihat rumah ini?” Sandara bangkit dari kursinya dan menatap Ji Woo, “Rumah ini adalah impian nona Ga Eul dan presdir yang membuatnya nyata. Jika bukan untuk nona Ga Eul, untuk siapa lagi presdir membangun ini.”

“Aku tidak peduli.”

“Presdir pernah membuatkan mimpi nona Ga Eul menjadi kenyataan, tidak bisakah anda melakukan hal yang sama pada presdir. Membangunkan presdir dari mimpinya.”

>>deson<<

Young Bae melihat foto tunangannya dengan tatapan yang datar. Ia tidak tahu kenapa ia sangat menyukai foto itu. Itu adalah foto pertamanya dengan seorang gadis, tunangannya “Ga Eul-ssi.”

Ssi?” seorang gadis menghampirinya, “bukankah kita setuju tidak tidak mengunakan bahasa formal.”

Young Bae menepuk keningnya, “Aku lupa.”

“Lupa?” Ga Eul menggelengkan kepalanya, “apa kau akan melupakan nama tunanganmu, lalu melupakan wajahnya dan melupakan semuanya?”

Young Bae menyerngit, “Ey… Bagaimana bisa. Aku tidak akan melupakannya lagi dan mulai sekarang aku akan menghapal wajahmu dengan lengkap. Selengkap-lengkapnya.”

Hening…

Young Bae mengalihkan pandangannya dari foto itu ke telepon. Ia meminjit satu tombol.

Apa kau akan pergi kerja lagi? Tugas dinas lagi?” suara Ga Eul bergema diseluruh ruangan. Tidak hanya di otaknya tapi benar-benar nyata. “Aku berharap kau libur, satu minggu, ah tidak satu hari juga cukup.”

“Haruskah aku bolos?”

“Ah tidak selesaikan saja pekerjaanmu. Jika kau bolos juga kau akan terus melihat ponsel dan tabletmu. Tidak menyenangkan.”

Young Bae tersenyum miris, “Aku benar-benar ingin bolos saat ini. Bagaimana jika kita menonton film. Ah tidak… aku tidak ingin melihat layar itu, aku ingin menatapmu saja. Bagaimana jika kita pergi ke Hangang?”

Tidak jawaban.

“Kim Ga Eul. Ga Eul-ah… Ga Eul…”

>>deson<<

Ji Woo menutup mulutnya tidak percaya. Young Bae terlihat sangat sehat, kecuali tubuhnya yang sedikit lebih kurus. Ia lebih banyak tersenyum. Awalnya ia tidak tahu untuk siapa Young Bae tersenyum, kini ia tahu apa sebabbya.

Young Bae menatap foto Ga Eul berkali-kali. Disetiap sudut rumah itu selalu di pasang foto Ga Eul. Mengajak foto-foto itu bicara bahkan sekali-kali, Young Bae menyalan mesin penjawab telepon dan memutar rekaman pesana Ga Eul dan mengobrol dengan Ga Eul.

“Sebulan yang lalu. Jika anda bertanya sejak kapan.” Sandara mencoba menjawab pertanyaan Ji Woo meski pemuda itu tidak bertanya. “Awalnya ia hanya sering bermimpi, tapi sekarang sepertinya ia bermimpi dengan mata terbuka.”

“Aku tidak peduli.”

“Ji Woo-ya.”

Shiro… meski kau juga dekat dengan noona. Aku tidak peduli.”

“Ji Woo-ya.” Sandara menepuk bahu Ji Woo, “Aku bicara bukan sebagai sekertaris pribadi Young Bae. Aku berbicara sebagai teman Ga Eul dan teman masa kecil kalian dulu.”

Ji Wo terdiam.

“Maaf aku karena membuat mereka bertemu dan dekat. Maafkan aku karena menyukai hubungan mereka. Maafkan aku karena sampai detik ini terus berpihak disisi Young Bae. Maafkan aku sampai detik ini, aku terus menyesalinya. Aku tidak pernah memberitahu Young Bae soal Ga Eul. Maafkan aku.”

>>deson<<

“Itu bosmu yang galak itu?” Ga Eul menunjuk Young Bae dengan terang-terangan.

Sandara menurunkan tangan Ga Eul namun terlambat Young Bae sudah menoleh dan menatap mereka berdua.

“Errrghh… sungguh menyebalkan. Eonni apa kau begitu suka berkerja dengan pria dingin dan angkuh seperti dia. Ga Eu datang di saat tidak tepat. Saat Young Bae sedang berada di puncak amarahnya dan kemudian meluapkannya ke orang-orang disekitarnya.

Tentu saja Ga Eul adalah orang yang blak-blakan dan tidak begitu peduli dengan status Young Bae. Ga Eul terus mengoceh tanpa menyadari Young Bae sudah berada didekatnya, “tampan. Tapi lebih tampan jika tersenyum.”

Nugu?”

Dongsaeng.” Sandara menarik ujung rok Ga Eul meminta gadis itu untuk membungkuk hormat. “dia datang untuk membawakan barang saya yang tertinggal.”

“Kim Ga Eul. Jika kau ingin berlatih tersenyum kau bisa menghubungiku.” Ga Eul menyodorkan sebuah kartu nama pada Young Bae.

Young Bae melirik kartu nama Ga Eul. Konsultan anak dan keluarga. Young Bae sama sekali tidak pekerjaan gadis itu. tapi tidak ada salahnya jika ia menerima kartu nama itu. sebagai tanda hormatnya.

“Aku tidak memberikan kartu nama hanya untuk dipajang.” Ga Eul memasukan kartu namanya, tepat sebelum Young Bae meraihnya. Young Bae bahkan sampai spechlees.

“Aku juga mengerti jika kau sibuk. Aku pamit. Eonni bye bye.”

“Dia mengatakan aku dingin dan arogan.” Young Bae melirik Sandara, “lihat, dia bahkan lebih arogan dan tidak sopan.”

Ga Eul menoleh ke belakang dan tersenyum, “Ahjussi, kau tampan jika tersenyum.”

>>deson<<

“Saat kau mengantarkan baju Sandara ke lokasi pembangunan?” Jawab Young Bae ketika Ga Eul bertanya soal kapan mereka pertama kali bertemu. Ga Eul menggeleng.

“Kau sungguh tidak ingat kapan pertama kali kita bertemu?”

Kali ini Young Bae yang menggeleng, clueless. “Untuk apa memikirkan masa lalu. Yang penting sekarang aku ada di sampingmu.”

Ga Eul mendengus, “Oppa benar-benar tidak romantis. Tidak peka. Pantas saja tidak ada wanita yang tertarik padamu.” Gadis itu lalu memberikan sebuah album pada Young Bae. “Kau benar benar tidak ingat?”

Ingatan itu membuat Young Bae kembali membuka album Ga Eul. Sampai sekarang ia tidak ingat kapan mereka pertama kali bertemu. Ia membuka satu persatu album milik Ga Eul mencari foto yang dulu pernah gadis itu tunjukan kepadanya.

Igeo…” Ga Eul menunjukan foto punggung seorang laki laki, “ini Oppa. Oppa benar benar tidak ingat?” saat itu Young Bae menggelengkan kepalanya.

Young Bae menemukan foto yang ia cari juga puluhan foto lainnya. Foto dirinya saat masih kuliah dulu. Mereka bertemu dikampus. Pertama kali. Young Bae benar-benar tidak menyadari.

Ada sebuah note di pinggir foto-fotonya. Tulisan tangan Ga Eul.

Oppa mungkin kau tidak ingat tapi aku selalu ingat senyummu.Hari dimana aku jatuh cinta padamu. Oppa kau tahu, kau sangat tampan ketika tersenyum.

Young Bae mengingat kembali foto itu. Latar dari foto itu jelas bukan kampusnya. Juga bukan kampus Ga Eul. Matanya kemudian tertuju pada spanduk kecil di sudut foto.

Program bakti sosial.

Young Bae menghembuskan nafas kesal. Itu adalah program yang diikuti keluarganya sejak dulu setiap tahun. Satu hari setiap tahun, dimana ia dan keluarganya menghabiskan waktu untuk membantu panti jompo dan panti asuhan.

“tidak mungkin.” Young Bae menepis sebuah pemikiran yang melintas di otaknya. Tapi tangannya lebih gesit mengambil album lain dan memperhatikan dengan seksama. Semua album Ga Eul penuh dengan fotonya. Meskipun Ga Eul adalah objek utamanya tapi selalu ada dirinya yang ikut terfoto. Jadi ia bertemu dengan Ga Eul setiap tahun itu dan ia tidak menyadarinya.

oppa apa kau ingat kapan pertama kali kita bertemu?”

Young Bae memejamkan matanya dan mencoba mengingatnya. Hari pertama kali ia bertemu dengan Ga Eul. Hari yang cerah dimana matahari bersinar tidak panas dan tidak terlalu dingin. Ulang tahun Ga Eul yang sepuluh, dimana gadis itu merajuk karena di hari ulang tahunnya orang tuanya malah mengajaknya ke panti asuhan bukan jalan jalan ke luar negeri.

Saat itulah pertama kali ia bertemu dengan Ga Eul. Tuan putri yang cengeng dan tidak bisa beradapasi dengan lingkungannya.

“Aku punya banyak uang. Kenapa aku harus pergi ke tempat seperti ini?” saat itu Ga Eul menangis karena terjatuh. Ia menginjak tali sepatunya sendiri.

Saat itu Young Bae membantu mengikatkan tali sepatunya, “kenapa menangis? Setelah jatuh kau bisa bangun sendiri. Tapi bukankah lebih bahagia jika saat kau terjatuh ada seseorang yang menolongmu?”

Young Bae meremas kepalanya. Kenangan itu begitu menyiksanya. Young Bae yang dulu adalah yang disukai oleh Ga Eul. Young Bae yang hangat juga baik hati. Bukan Young Bae yang selalu memikirkan pekerjaannya.

“Ga Eul-ah… aku ingat… aku ingat semuanya sekarang.” Young Bae mengingit jarinya, “Aku akan berubah. Aku janji.”

>>deson<<

Hyung.” Ji Woo mendekati Young Bae. Sudah sejam ia mengunjungi Young Bae dan pria itu hanya memandangi foto Ga Eul dengan tatapan kosong, “Noona sudah pergi.”

Aniyaa…” Jawab Young Bae tanpa mengalihkan tatapannya, “sebentar lagi Ga Eul akan menelepon karena merindukanku.

Ji Woo menghembuskan nafas panjang. “Noona tidak akan kembali, Hyung.”

Young Bae tidak mengubris Ji Woo. Pria itu bahkan sudah membolos kerja dan hanya melamun. Setiap hari hanya menelepon ponsel Ga Eul dan memutar voice mail teleponnya. Menatap foto Ga Eul sampai tertidur dan ketika bangun kembali menangis, melamun, menelepon Ga Eul, mengecek teleponnya dan terus begitu.

“Sadarlah Hyung.” Ji Woo sudah kehabisan ide untuk menyadarkan Young Bae. Keluarga Young Bae juga sudah tidak bisa menyakinkan pria itu lagi. Young Bae bersih keras bahwa Ga Eul masih hidup.

Keluarganya sudah putus asa. Mereka akan memasukan Young Bae ke rumah sakit Jiwa. Tapi Ji Woo tidak setuju, tentu saja Noonanya di alam sana juga tidak akan setuju.

“Ini dari Noona.” Ji Woo mengacungkan sebuah Flashdisk kehadapan Young Bae, “jika kau sudah bisa menerima bahwa noona sudah meninggal. Aku akan memberikannya kepadamu. Pesan terakhir Kim Ga Eul.”

>>deson<<

Rumah sakit YG internasional.

“Kim Saem.”

Ji Woo tersenyum saat melihat Sandara melambaikan tangannya. “Yaaa~ aku tidak bisa mengenalimu dengan seragam putihmu ini.”

“Apa aku terlihat tampan?”

Sandara mendekatkan kepala untuk melihat name tag Ji Woo lebih dekat, “Psikiatri, Kim. Ji. Woo. Keren.”

Ji Woo tersipu malu. “Kau mau menjenguk?”

Sandara mengangguk, “meskipun di sini dia adalah pasienmu, tapi di kantor dia tetap bosku.”

Ji Woo mengangguk, “Noona benar.”

“Tapi… apa Flashdisk itu benar? Kau akan memberikannya pada presdir? Apa kau tidak akan melukainya? Membuat dia bertambah parah?”

“Kenapa?”

Sandara diam sesaat. “meskipun sekarang dia tampak normal. Dia hanya menyibukan dirinya dan melupakan kenyataan bahwa Ga Eul sudah meninggal. Apa jika kau memberikan Flash disk itu, presdir akan kembali sembuh. Kembali menjadi manusia normal?”

“Flashdisk itu tidak pernah ada. Aniya. Maksudku rekaman itu tidak pernah ada.”

“Jadi maksudmu kau menipu presdir?”

Ji Woo menggeleng, “Kakakku yang sangat mencintai Dong Young Bae dan merahasiakan penyakitnya. Kau pikir kakakku ingin Young Bae bersedih. Kakakku ingin Young Bae melupakannya.”

Sandara terdiam.

“Awalnya aku tidak setuju karena kakakku hanya cinta bertepuk sebelah tangan tapi kini aku melihatnya, Hyung juga mencintai kakakku. Awalnya aku ragu untuk menolongnya tapi aku ingin mewujudkan impian terakhir kakakku. Menghilangkan ingatan Ga Eul dari Young Bae.”

“jadi kau berhasil?”

Ji Woo menggeleng.

“Kakakku ingin Hyung bahagia. Aku tidak bisa melakukannya. Kebahagiannya sekarang hanya dengan mengingat kakakku. Hanya dengan mengingatnya ia kembali bangkit dari keterpurukan. Apakah aku mampu untuk menghapusnya.”

“jadi kau ingin membiarkannya?”

Ji Woo tersenyum, “Hanya cinta yang mampu mengobati luka karena cinta. Dara NoonaHyung hanya butuh penganti Ga Eul Noona. Aku yakin Ga Eul noona tidak akan keberatan.”

Sandara mengangguk menyetujui rencana Ji Woo. Mungkin akan sedikit lebih susah tapi ia akan berusaha membantu bossnya itu. mengobati hatinya.

END

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: