MADE SERIES: EXPIRATION DATE

Big bang MADE SERIES

Tittle: Expiration Date

Author: Deson

Main Casts: Kang Dae Sung, Park Gyeo Wool

Other Casts: Find By Yourself ^^

Length: One Shot (other sequel Manequinn, a Part(Y) and Delucions)

Genre: Romance

Rating: PG 17

A mistake with the mask of love
All the feelings are the same now
But in this moment, I want you to stay

“Menikah?” Kang Dae Sung sama sekali tidak melepaskan fokusnya kepada layar TV 40 incinya sedangkan tangannya dengan licah menari diatas tombol stik. Ia tidak memperhatikan gadis disebelahnya yang menatapnya dengan wajah kesal dan sebal. “Menikah hanya untuk orang yang melakukan kesalahan. Selama kita tidak melakukan kesalahan, kenapa kita harus menikah. Kita sudah bahagia hidup seperti ini.”

“Kesalahan?”

“Kesalahan, kita selalu berhubungan memakai pengaman, kau tidak mungkin hamil. Jadi tenang. Kau tidak usah khawatir.”

“Baiklah kau benar.”

Tidak ada percakapan lainnya. Suara yang terdengar hanya dari TV dan tombol stik. Si pria sibuk dengan dunianya dan sang gadis sibuk dengan pikirannya.

Park Gyeo Wool tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Kang Dae Sung. Ia menatap pria itu dengan tatapan sendunya, tapi Kang Dae Sung sama sekali tidak peduli.

Setiap hari, Pria itu hanya sibuk memanggil namanya. Ketika bangun tidur menanyakan jam. Padahal jam dinding sudah ada dikamarnya, di ruang tengah dan setiap sudut lainnya. Ketika pria itu tidak menemukan bajunya, laptopnya, file di laptopnya dan hal lainnya.

 Daripada seorang kekasih, ia merasa, ia lebih mirip seorang ibu untuk pria itu.

Ini bukan pertama kalinya. Sudah ratusan kali ketika berlaku lebih girly dan ingin diperhatikan sebagai perempuan, tapi pria itu hanya tertawa dan mengatakan bahwa dirinya tidak usah bertindak seperti perempuan lain. Cukup menjadi dirinya sendiri, tidak usah memakai make up karena sudah cantik. Ucapan pria itu membuatnya lebih mirip seperti seorang kakak dari pada kekasih.

Untuk kesekian kali juga, ia berpikir untuk meninggalkan pria itu. Rasa sayangnya untuk pria itu sudah memudar setiap hari, selama setahun ini ia tidak punya alasan untuk tinggal bersama pria itu lagi. Ia tinggal karena ia tidak punya pilihan. Diam-diam ia mengumpulkankan uang dan berencana untuk pindah.

Tapi rencananya itu gagal, karena tadi pagi ia merasa aneh dengan perutnya. Ia melihat kalender dan merasakan hal yang aneh. Ia mengambil testpack dan kaget melihat hasilnya.

“Aku hamil.” Ucapnya perlahan sambil melempar testpack itu ke arah Kang Dae Sung.

Tidak ada jawaban, juga tidak ada bunyi stik. Ia melirik Kang Dae Sung. Pria itu terdiam sambil melihat testpack yang jatuh di pangkuannya. Dengan tatapan yang tidak ia bisa prediksi.

>>deson<<

Noona, kau tidak lucu. Sama sekali tidak lucu.” Komentar pertama Kang Dae Sung membuat Gyeo Wool kesal. Ia mencoba untuk tertawa tetapi tidak bisa.

“Aku tidak memintamu untuk percaya. Ini hanya pemberitahuan.” Gyeo Wool bangkit dari duduknya lalu pergi ke kamarnya dan mengunci pintunya.

Dae Sung menatap pintu kamar itu dengan tatapan bingung. Ia tahu ia melakukan hal yang bodoh. Sangat bodoh. Ia menyakiti gadis itu dan sekarang Gyeo Wool marah padanya. Tidak ada yang bisa ia lakukan ketika Gyeo Wool marah. Ia hanya berharap kemarahan Gyeo Wool segera mereda dan mereka bisa berbicara.

Sialnya setelah hari itu Gyeo Wool tidak keluar dari kamarnya. Ada banyak makanan di kamar Gyeo Wool dan kamar mandi. Sehingga gadis itu tidak perlu ke luar untuk makan atau ke kamar kecil. Ia hanya menunggu hal yang sia-sia.

Sambil menunggu Gyeo Wool ia memandang testpack yang diberikan gadis itu. Ia ragu tapi setengah hatinya terketuk. Ini anaknya, tapi ia bukan siapa-siapa untuk Gyeo Wool. Seperti yang dikatannya kemarin. Ia tidak ingin menikah. Ia masih ingin melakukan banyak hal dan menikah hanya akan menghalanginya.

Noona… noona…” Dae Sung mengetuk pintu kamar Gyeo Wool.

Gyeo Wool membuka pintunya. Wajahnya tampak lebab karena memangis.

Uljima…” Dae Sung mencoba menarik Gyeo Wool ke pelukannya tetapi Gyeo Wool menolaknya, “Apa ini sungguhan? Kau benar-benar?” sambil mengacungkan testpack-nya.

Gyeo Wool memandang Dae Sung dengan tatapan sangat marah, “Setelah satu hari berlalu, kau hanya datang untuk menanyakan ini? Bukankah kau sudah melihatnya.”

Aniya… maksudku. Apakah itu… benar-benar, milikku?”

“YA!!!!” Gyeo Wool berteriak keras. “Kau benar-benar sudah lupa? Ini bukan pertama kalinya, kau paham. Kau juga tahu. Aku tidak pernah melakukannya dengan yang lain― ”

Noona…” Kang Dae Sung tahu apa yang dibicarakannya, ia juga bukan tidak mengakuinya hanya saja, “Kau tahukan aku masih muda. Banyak sekali yang ingin aku lakukan tapi jika―”

“Apa aku minta kau untuk bertangung jawab?” mata Gyeo Wool sudah merah dan menitikan air mata. Dae Sung tahu bahwa gadis itu sama sekali tidak ingin mengucapakan hal itu. Ia tahu, gadis itu tahu kalau ia tidak ingin menikah.

>>deson<<

Kang Dae Sung pergi meninggalkan Park Gyeo Wool sendirian. Pertengkaran hebat yang akhirnya membuat keduanya semakin menjauh. Gyeo Wool merasa dikhianati. Ia ditinggalkan begitu saja, padahal banyak sekali hal yang ia ingin diskusikan dengan Dae Sung. Tentang masa depan mereka.

Ia sudah tahu bahwa tidak mudah untuk Dae Sung menerima anak mereka. Dae Sung yang senang hidup bebas tanpa dikekang. Dae Sung yang menyukai masa muda dan Dae Sung yang sama sekali tidak peduli dengan masa depannya. Baginya hidup adalah hari ini.

Dulu, hal itu yang membuat Gyeo Wool jatuh hati pada Dae Sung. Sifat yang tidak pernah ia miliki. Ia tidak pernah menyesal telah bertemu dengan Dae Sung. Baginya Dae Sung adalah dunia yang baru. Yang tidak pernah ia jumpai sebelumnya.

Pertengkaran kecil mereka setiap hari. Perang dingin mereka selama berhari-hari. Ia tidak pernah membenci Dae Sung, lebih tepatnya Dae Sung selalu berhasil membuatnya jatuh cinta lagi.

Tapi cinta itu menguap sekarang. Dengan perginya pria itu meninggalkannya sendirian. Gyeo Wool tidak menemukan alasan kenapa ia harus menyukai pria itu. Tidak ada satupun.

>>deson<<

Dae Sung masih memegang testpack ditangannya. Ia tidak tahu kenapa tapi ia benar-benar masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Baginya Gyeo Wool adalah segalanya. Ia paham benar bahwa Gyeo Wool tidak akan berbohong atau menghianatinya.

Yang masih ia pertanyakan adalah dirinya sendiri. Ia hidup dengan caranya sendiri. Keluar dari rumah karena tidak mau mendengarkan orang tuanya. Hidup sebagai freelance, yang hanya berkerja jika uangnya sudah habis. Apa bedanya ia dengan pengagguran? Ia hanya seorang pengundang yang lebih suka mengurung dirinya sambil bermain PS.

Satu-satunya orang yang peduli dengan dirinya dan mendukung hidupnya adalah Gyeo Wool. Gadis itu selalu ada disisinya, tidak pernah memaksa dirinya meski kadang kadang ia meminta Dae Sung untuk serius dalam hidupnya. Gyeo Wool pun tidak pernah meminta macam-macam padanya, dia gadis yang mandiri yang mempunyai karir yang cemerlang. Cantik dan memiliki banyak uang. Pria mana yang akan menolak Gyeo Wool, hanya saja gadis itu lebih memilih dirinya.

Ia tidak pernah tahu, atau serius untuk meninggalkan dunianya. Ia cukup nyaman dengan dunia yang dibuatnya dan mungkin akan bertahan seperti itu sampai duapuluh tahun yang akan datang. Atau menunggu kedua orangtuanya datang dan menyeretnya untuk menikah dan menjadi pewaris perusahaan mereka.

Pokoknya sampai saat itu ia hanya ingin bersantai.

Lalu apa yang akan dia lakukan sekarang? Ia benar-benar tidak bisa berpikir dengan tenang. Hanya testpack itu yang menemaninya mencari udara untuk berpikir. Membuat pilihan, kembali menjadi pecundang atau mengambil tangung jawab sebagai seorang ayah.

Kang Dae Sung benar-benar membenci membuat pilihan dan memilih.

>>deson<<

Gyeo Wool masuk kedalam kamar Dae Sung dan membereskannya. Dae Sung tidak pernah menyuruhnya untuk membereskan rumah atau kamarnya tapi Gyeo Wool tidak suka dengan rumah yang berantakan. Setiap hari ia berteriak kepada Dae Sung untuk minimal tidak mengacak-acak rumah jika tidak ingin membereskannya. Saat itu Dae Sung hanya tersenyum kemudian menciumnya.

Setelah membereskan kamar Dae Sung, ia kemudian pergi ke dapur untuk mencuci dan membuat masakan untuk Dae Sung. Ia tidak suka Dae Sung memakan makanan instan. Makanya ia dengan suka rela memasakan makanan untuk Dae Sung.

Sambil membereskan rumah ia berpikir. Semua ia lakukan sendirian. Tidak ada ucapan terima kasih atau maaf dari Dae Sung. Semuanya ia lakukan sendiri. Mungkin cintanya untuk Dae Sung juga hanya dirasakan sendiri. Ia tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran dan hati Dae Sung.

Pernah ia bertanya kepada Dae Sung apa yang ingin dia lakukan dimasa depan. Pria itu menggeleng, lalu berkata, aku tidak tahu, apa yang aku lakukan hari ini saja aku tidak yakin. Itu juga salah satu alasan kenapa ia lebih mirip alaram dari pada kekasih bagi Dae Sung. Seminggu sebelum uang Dae Sung habis ia kan mengingatkan Dae Sung untuk berkerja dan ketika Dae Sung mendapatkan uang ia akan kembali ke aktifitas malas-malasannya lagi.

Gyeo Wool melihat banyak sekali sampah yang berhasil ia kumpulkan. Ia lalu mengumpulkannya dan membuangnya. Sama seperti pikiran-pikiran yang tidak berguna di otaknya. Harapan-harapan yang ingin sekali ia lihat pada Dae Sung.

Setelah membuang Sampah di luar. Ia melihat aparteren yang ditinggali bersama Dae Sung dari luar. Melihatnya dari sudut itu. Apartermen itu terlihat menyedihkan.

Setelah pikiran-pikiran lain berhasil ia buang, sebuah pikiran lain datang menghampirinya. Apakah Dae Sung tanpa dirinya akan baik-baik saja atau baik-baik sajakah dirinya tanpa Dae Sung?

Tiba-tiba saja langitnya menjadi gelap.

>>deson<<

Dae Sung duduk dikereta disebelah seorang ibu yang sedang mengendong anaknya. Anak itu terus tersenyum pada Dae Sung. Membuat Dae Sung membalas senyuman anak itu.

Mwot Salliya?” tanya Dae Sung kepada sang ibu.

“Duapuluh tiga bulan.”  Jawab si ibu yang memudian mengantarkan tangan anaknya ke Dae Sung. “Kau mau menggendongnya?”

Dae Sung sedikit tersentak tapi kemudian menyambut uluran tangan ibu itu lalu menempatkan anak laki-laki itu dipangkuannya. Anak itu tampak senang dipangkuan Dae Sung dan tertawa.

Sasileun…” Dae Sung terlihat ragu-ragu, “Aku akan menjadi seorang ayah. Tapi aku tidak yakin dengan itu.”

Ibu itu tertawa, “Aku mengerti perasaan itu. Suamiku dulu juga begitu. Dia tampak tidak yakin. Pria butuh waktu untuk berpikir dengan tenang. Oleh sebab itu aku membiarkannya pergi.”

“Lalu dia kembali?” tanya Dae Sung penasaran.

“Tentu saja.” Ucap ibu itu dengan senyum yang lebar, “Bagaimanapun dia akan menjadi seorang ayah. Dan setelah itu dia berubah, padahal selama bertahun-tahun aku menyuruhnya untuk berubah dia tidak peduli. Saat aku tanya kenapa. Dia bilang karena dia adalah seorang ayah.”

Dae Sung memandang anak dalam gendongannya. Ia menatap anak yang lucu itu membayangkan bagaimana wajah anaknya nanti. Ia berharap wajah dan sifatnya harus menurun dari Gyeo Wool, kepintarannya juga.

“Hanya saja perempuan berbeda dengan laki-laki.” Ucap ibu itu, “Jika laki-laki membutuhkan waktu, perempuan membutuhkan kepastian. Pergilah sebelum ibu dari anakmu memikirkan hal yang lain.”

Dae Sung tersenyum kemudian ia memberikan anak dipangkuannya kepada ibunya. “Kamsahamnida.”

Ia mengegengam testpack ditangannya dan turun dari kereta. Ia berharap bahwa wajah, sikap dan kepintaran anak itu mirip seperti Gyeo Wool, lalu dia sebagai ayah bagaimana? Tentu saja, ia tidak ingin anaknya nanti kelaparan dan kesusahan. Untuk pertama kalinya ia merencanakan sesuatu, ia ingin anaknya mewarisi bakatnya dalam menggambar. Menjadi katunis terkenal.

>>deson<<

Gyeo Wool membuka matanya dan menyadari dirinya sudah berada di rumah sakit. Seorang suster mengatakan kepadanya bahwa tetangganya mengantarkannya ke rumah sakit setelah menemukannya pingsan di jalan.

Ia mencoba untuk menghubungi Dae Sung tapi ia takut. Akhirnya ia mengurungkan niatnya dan kembali tidur. Perasaan buruk menghantuinya, ia takut sangat ketakutan.

>>deson<<

Lima tahun lalu, pertama kali Dae Sung bertemu dengan Gyeo Wool adalah di apartermen mereka. Ketika itu Gyeo Wool kaget ternyata roomatesnya adalah seorang pria. Gyeo Wool awalnya menolah tapi Dae Sung berhasil menyakinkan dirinya bahwa ia pria baik-baik.

Dari teman, hubungan mereka menjadi lebih.

Dae Sung memang tidak pernah mengutarakan perasaannya karena itu adalah hal yang memalukan untuk pria seperti dirinya. Gyeo Wool pun tidak terlalu menuntut. Mereka hidup selama tiga tahun lebih dari sepasang kekasih.

Banyak kejadian yang mereka alami. Tapi ia tidak pernah menyangka bahwa Gyeo Wool akan mengubah hidupnya.

Untuk pertama kalinya, Boss-nya menatapnya dengan heran. “Apa uangmu sudah habis?”

Dae Sung menggeleng.

“Apa kau sedang sakit parah.”

Dae Sung kembali menggeleng.

“Kau tidak akan mengambil project jika kau masih memiliki uang. Dan sekarang kau ingin mengambil project jangka panjang.”

“Tidak bisakah kau berhenti mengoceh dan memberikan aku banyak perkerjaan, juga banyak uang.”

Bossnya memandangnya dengan tapapan penuh pertanyaan tapi yang keluar hanyalah, “kenapa?”

“Aku ingin serius di dunia ini. Bukan sebagai freelance tapi benar-benar menjadi profesional. Bukan sesorang yang digaji karena tidak punya uang tapi seseorang yang benar-benar berbakat dan menjadikan design sebagai pekerjaan utamanya. Aku ingin melakukan itu.”

“Tentu saja tapi kau tidak boleh berhenti ditengah jalan atau tiba-tiba memutuskan kontrak.”

“Aku berjanji.”

Dae Sung tersenyum ketika membayangkan seorang anak kecil berteriak kepada teman-temannya, “uri Appa.” Sambil menunjuk dirinya dengan bangga.

>>deson<<

“Tetap semangat Park Gyeo Wool-ssi.” Dokter memberika ucapan semangat, tapi Gyeo Wool merasa dunianya runtuh. Bahkan ia tidak bisa menangis. Ia mencoba untuk tersenyum meskipun senyum itu terlihat palsu.

“Jangan lupa untuk meminum obatnya.” Tambah Dokter itu. Gyeo Wool menerima obat itu dengan tangan bergetar.

Kamsahamnida.” Ucapnya sangat pelan.

“Jika kau merasakan sakit lagi, atau kau butuh saran atau bantuan. Kau bisa menemuiku.”

Gyeo Wool mengangguk sangat berterimakasih kepada Dokter muda itu tapi bukan Dokter itu yang ia inginkan saat ini. Bukan orang lain yang ia butuhkan.

>>deson<<

“Istrimu dilarikan kerumah sakit setelah pingsan di jalan.” Ucap satpam penjaga.

Dilingkungan apartemen Dae Sung dan Gyeo Wool, mereka sudah dicap sebagai suami-istri mereka tidak pernah mengatakan kepada siapa pun, para tetangga-nya sendiri yang memberikan gelar itu.

Tapi bukan itu yang membuat Dae Sung lari terbirit-birit. Mendengar Gyeo Wool dibawa ke rumah sakit. Hatinya tidak tenang.

Di rumah sakit ia melihat Gyeo Wool sedang duduk termenung. Ia mendekati Gyeo Wool dengan ragu. Ia bisa melihat itu. Ia bisa merasakan itu, dia sudah tidak ada.

>>deson<<

Gyeo Wool melihat Dae Sung datang mendekatinya. Dengan sebuah buklet bunga mawar dan sepasang sepatu bayi yang mungil.

Pria itu berubah.

Dae Sung menatapnya dengan tatapan lembut kemudian datang memeluknya. Ia menangis hingga membuat Gyeo Wool ikut menangis. Sekali lagi Gyeo Wool tidak bisa membenci pria itu.

Mianhae… mianhae…” ucap Dae Sung berkali-kali.

Gyeo Wool tidak bisa menjawab ucapan Dae Sung ia sudah menangis. Air mata yang tadi tidak bisa keluar, keluar dengan sangat deras. Kesedihan, kepedihan yang ada di dadanya kini berangsur pergi.

Nega jalmotteseo.” Ucap Dae Sung lagi.

>>deson<<

“… Saranghae.

Bagi Dae Sung kata cinta tidak perlu diucapkan tapi dilakukan, tapi sekarang ia sadar bahwa cinta juga perlu diucapkan. Kenapa? Karena orang yang kita cintai belum tentu bisa membaca pikirian atau hati kita. Makanya perlu ucapan untuk memberitahu mereka bahwa kita mencintainya agar mereka tidak ragu dan mereka tenang.

Gyeo Wool memandang kotak yang berisi sepasang sepatu mungil dan foto USG bertuliskan bayi pertama Kang Dae Sung dan Park Gyeo Wool.

Noona…” Dae Sung menyuruh Dae Sung untuk menaruk kotak itu didalam lubang yang telah ia buat. Dengan berat hati Gyeo Wool menaruh kotak itu dan membiarkan Dae Sung menguburnya.

Setelah selesai menguburnya Dae Sung menamcapkan sebuah pohon kecil dan memberikan nama pada pohon itu.

Kajja.” Dae Sung mengajak Gyeo Wool untuk pulang. Ia mengengam tangan Gyeo Wool dengan erat.

“Kita lanjutkan hidup kita. Jangan bersedih karena dia hanya datang sebentar. Kita akan menemuinya nanti.―”

Gyeo Wool hanya tersenyum mendengar ucapan Dae Sung.

Dae Sung menayadari perubah sikap Gyeo Wool, tentu saja. Ia juga sedih karena kehilangan bayi mereka. Meskipun mungkin Gyeo Wool yang paling sedih.

“… Tapi sebelumnya… kita harus menikah, agar tidak malu jika bertemu dengannya lagi.”

Ucapan Dae Sung membuat Gyeo Wool berhenti. Dae Sung mengerti ia lalu menatap Gyeo Wool dengan lembut. Sedikit terlambat memang tapi ia tidak akan menyesalinya. Baginya Gyeo Wool adalah segalanya dan ia tidak ingin kehilangan gadis itu.

“Kau tahu… aku selalu mencintaimu, sekarang aku ingin kau mengetahuinya bahwa aku mencintaimu. Sedikit terlambat memang tapi aku akan membuktikannya, jadi maukah kau menikah denganku?”

“Kau bilang menikah untuk orang yang melakukan kesalahan?” ucap Gyeo Wool membuat Dae Sung tersentak. Ia ingat pernah mengatakan hal itu kepada Gyeo Wool.

Dae Sung mengangguk, membuat Gyeo Wool kaget, “Aku membuat kesalahan. Banyak kesalahan. Yang pertama, aku jatuh cinta padamu, yang kedua aku membuat bayi kita pergi, yang ketiga aku membuatmu sedih dan yang terakhir aku aku tidak yakin apakah aku bisa membahagiakanmu atau tidak, tapi aku bersedia menerima hukumannya. Seumur hidupku.”

“Seumur hidup?”

Dae Sung meraih tubuh Gyeo Wool dan memeluknya, “Aku bersedia untuk hidup bersamamu seumur hidupku, memberikan penghasilanku kepadamu, memberimu makan, memberimu tempat untuk berteduh. Menjadikanmu satu-satunya wanita dalam hidupku dan mencintaimu, selamanya.” Ia berbisik di telinga Gyeo Wool.

Gyeo Wool tersenyum di dada bidang Dae Sung. Ia tahu bahwa Dae Sung tidak akan melihat senyumnya tapi ia yakin Dae Sung mengetahuinya

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: