Love Cell

cute-korea-korean-pretty-Favim.com-988856

LOVE CELL

 

Jika aku bertemu dengammu lagi, aku akan mengenalimu terlebih dahulu. Jika aku bertemu lagi denganmu, aku akan mencintaimu terlebih dahulu.

Yeo Reum duduk dengan santai menunggu gilirannya. Tidak seperti peserta lain yang duduk dengan gelisah bahkan ada yang sampai harus meminum obat penenang. Ia cukup percaya diri dan yakin ia bisa di terima di perusahaan ini.

Saat tiba gilirannya, ia berhasil menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh pewawancara. Tidak hanya itu, ia bahkan bisa mendeskripsikan dirinya lebih dari yang diminta. Tentu saja, semua pewawancara yang melakukan wawancara dengannya hari ini tampak puas. Kecuali satu orang.

“Kau mendonorkan love cell-mu ke Bank Cell?” seorang pria yang duduk dengan malas-malasan bahkan tidak menyentuh CV-nya sama sekali. Ia hanya duduk dan terus memperhatikan Yeo Reum.

Ye?” Yeo Reum menatap pria itu tidak mengerti. Ia sama sekali tidak pernah menyebutkan bahwa ia pernah memberikan selnya. Lagi pula tidak ada hubungannya antara mendonorkan sel cinta dengan wawancara pekerjaan.

“Apa aku boleh tahu alasan kenapa kau ingin melamar ke perusahaan kami?”

Yeo Reum menarik kedua ujung bibirnya, “karena perusahaan ini adalah yang terbaik di bidang farm―”

“Bukan itu.” Potong pria itu, “Alasan yang menjadi dasar, kenapa kau ingin bekerja di perusahaan ini. Jawaban dari hatimu.”

Yeo Reum menatap pria itu dengan tatapan bingung, “Karena…” Ia berpikir dengan keras. Apa yang harus ia katakan?

“Kau tidak memiliki hormon oksitosin atau yang sering disebut Hormon cinta. Hormon yang mengeluarkan cinta, suka dan perasaan lainnya. Kau seperti robot.” Pria itu menunjuk Yeo Reum dari kepala hingga kaki lalu kembali ke kepala, membuat Yeo Reum sedikit tertegun, “itu alasannya kau tidak bisa bekerja disini.”

Ye?” Yeo Reum membelakakan matanya, “Kenapa? Aku mendonorkan sel cintaku, agar aku bisa fokus belajar dan tidak terpuruk karena cinta. Aku ingin nilaiku sempurna dan masuk perusahaan. Saat bekerja pun anda tidak perlu khawatir karena―” Yeo Reum terdiam. Apakah ia mendonorkan sel cintanya agar diterima di perusahaan ini atau alasan ia ingin diterima di perusahaan ini karena…

“Kau bahkan tidak bisa menjawabnya.” Pria itu kemudian mengacungkan tangannya menyuruhnya untuk pergi.

Yeo Reum menatap pria itu dengan kesal. Pria itu tampak lebih muda dari semua orang yang memwawancarainya, tapi gayanya seperti sudah senior. Ia tidak ingin berdebat lagi dengan pria itu. tidak masalah satu orang memberikan nilai yang jelek padanya. Ia merasa sudah bisa menyakinkan yang lain bahwa ia layak diterima diperusahaan ini.

>>deson<<

   “Navi-ya~” Yeo Reum mendekati kucing kesayanganya lalu mengendongnya ke depan laptop, “Aku pasti berhasil.” Ia membuka homepage, perusahaan yang dilamarnya. Hanya satu perusahaan yang diinginkannya. Ia tidak tahu kenapa, tapi hatinya mengatakan bahwa ia harus pergi ke perusahaan itu.

“Ah… ini pria sombong yang memawancaraiku.” Matanya melihat ke sebuah foto yang berada di sudut kanan atas, di bawah foto itu terdapat tulisan, ‘karyawan terbaik bulan ini. Selamat atas di pilihnya Oh Se Hoon sebagai Gangnam Head Branch Officer.’

“Navi-ya, dia kepala cabang Gangnam. Gangnam. Waaah… dia pasti sangat hebat.” Tanpa sadar Yeo Reum memencet profil Oh Se Hoon, “Daebak, dia lulusan Harvard, menguasai empat bahasa secara aktif. Navi-yaa… kurasa aku tidak akan diterima hiks… hiks…”

Navi menatap Yeo Reum dengan serius, sementara kakinya sibuk memainkan kalung dilehernya. Meminta perhatian.

>>deson<<

Se Hoon menatap sebuah foto usang. Foto dirinya dan Yeo Reum saat masih di SMA dulu. Ingatan kembali ke masa pahit itu. Tidak seperti Yeo Reum yang memilih melupakan pengkhianatannya, ia memilih untuk terus mengingatnya. Rasa sakit itu.

“Apakah tidak apa-apa kita tidak belajar seperti ini?” Yeo Reum menatap Se Hoon dengan tatapan takut. Se Hoon adalah murid yang sangat populer, banyak siswi yang menyukainya, ada yang langsung mengatakannya dan ada yang diam-diam memberikan kado. Tapi Se Hoon selalu mengatakannya dengan jelas, bahwa ia tidak menyukainya. Hanya ada satu orang yang ia sukai dan ia yakin bahwa gadis itu juga menyukainya.

“Tentu saja.” Se Hoon menarik tangan Yeo Reum ketempat yang lebih sepi. Diantara tumpukan buku yang sudah usang, buku tua yang sudah ada sejak SMA ini didirikan. Se Hoon duduk di pinggir jendela, lalu menyuruh Yeo Reum duduk didekatnya.

“SM medical center?” Yeo Reum mengerutkan keningnya ketika Se Hoon mengacungkan sebuah brosur. Kaget.

“Ayo kita masuk ke SM Medical Center.” Se Hoon menyerahkan brosur itu kepada Yeo Reum, “Kita masuk kesana dan membuka cabang di Gangnam.”

Brosur tentang sebuah perusahaan farmasi terkemuka. Banyak sekali orang yang ingin berkerja di perusahaan itu tapi yang membuat Yeo Reum kaget adalah Se Hoon yang populer itu juga menginginkan masa depannya di perusahaan itu. “Wae?”

Se Hoon mengalihkan pandanggannya dari Yeo Reum, wajahnya tampak memerah, “Keunyang… aku hanya ingin membuat obat yang tidak pernah dibuat sebelumnya. Aku ingin menyembuhkan penyakit yang langka.”

“Wae?” tanya Yeo Reum lagi. Bukan itu jawaban yang ia dengar, “Kenapa kau menceritakan ini kepadaku?”

Se Hoon tersenyum malu-malu, bukannya menjawab, ia malah menyordorkan kepalanya lalu mendaratkan bibirnya di pipi gadis itu, “aku hanya ingin kau tahu, satu rahasia yang tidak di ketahui orang-orang.”

“Apa?” tanya Yeo Reum yang merasakan pipinya memerah. Yeo Reum benar-benar cantik.

“Aku menyukaimu.”

Yeo Reum tidak menjawab apapun, gadis itu hanya tersenyum. Saat itu, Se Hoon yakin bahwa Yeo Reum merasakan hal yang sama dengannya. Saat itu, ia merasa bahwa ia dan Yeo Reum bagaikan sepasang sayap yang memiliki tujuan yang sama.

Itu hanya pendapatnya sendiri. Sekarang melihat Han Yeo Reum masih secantik yang dulu, ah tidak semakin cantik. Hatinya terasa sakit. Cantik yang mengingatkannya kepada pengkhianatan gadis itu.

>>deson<<

Yeo Reum memandang name tag-nya. Ia berhasil masuk ke SM medical Center sebagai tim marketing. Namun ada sesuatu yang menganjal hatinya. Ia merasa tidak tenang dan bukan hal ini yang diinginkannya.

“Kau berhasil?” sebuah suara membuat Yeo Reum menoleh. Orang itu. Oh Se Hoon, “Masuk perusahan ini bukan hal yang susah. Pertanyaanku sekarang, berapa lama kau akan bertahan di perusahaan ini, Han Yeo Reum-ssi?”

Yeo Reum menatap Oh Se Hoon dengan tatapan bingung. “Maafkan aku jika aku menyingung perasaanmu ketika wanwancara. Aku tidak bermaksud atau sengaja. Maafkan aku.” Yeo Reum membungkuk kemudian pergi dari hadapan Se Hoon. Ia merasakan firasat buruk ketika berada di dekat orang itu.

Se Hoon melihat Yeo Reum pergi meninggalkan dirinya. Yeo Reum benar-benar telah melupakannya. Bahkan gadis itu tidak mengingat siapa dirinya. Satu-satunya orang yang paling mengerti tenang dirinya.

***

“Kau lebih menyukai baseball dari pada sepak bola. Tim kesayanganmu adalah tim LG. Satu-satunya drama yang nonton adalah Dae Jang Geum. Lee Young Ae adalah tipe ideal-mu. Kau suka gadis yang pintar memasak. Kau tidak pilih-pilih makanan tapi kau selalu menyingkirkan wortel dan kubis dari piringmu.”

“Waaah… kau benar-benar tahu semua tentangku.” Se Hoon takjub mendengar penjelasan detail dari Yeo Reum. “Bahkan lebih baik dari diriku sendiri.”

Sudut perpustakan itu tenang seperti biasa, hanya ada mereka berdua mengobrol dengan leluasa. Membicarakan apapun. Menghabiskan waktu bersama.

***

“Han Yeo Reum… apakah dengan melupakanku kau bisa hidup dengan tenang, oh?” Se Hoon menatap Yeo Reum dengan tatapan dinginnya, “Aku akan membuatmu mengingatnya kembali.”

>>deson<<

Pesta pertama bergambung dengan tim marketing, Yeo Reum tampak senang kecuali setelah kepala kantor cabang Gangnam ikut bergabung. Pria itu terus menerus menatap Yeo Reum. Membuat gadis itu tidak leluasa.

“Jadi kau menyukai tim LG juga?” salah satu rekan Yeo Reum berkomentar. “Tidak banyak perempuan yang menyukai baseball. Kau benar-benar perempuan tangguh Yeo Reum-ssi.”

“Jangan terlalu senang. Kita tidak tahu sampai kapan ia akan bertahan.” Komentar Se Hoon membuat suasana meriah menjadi hening. Suasana menjadi kikuk. Se Hoon kemudian tertawa, “bagaimana jika ronde kedua?” tanyanya dijawab dengan sorakan antusias. Tapi Yeo Reum tidak terlihat senang.

>>deson<<

Se Hoon mengajukan diri untuk mengantar Yeo Reum pulang. Awalnya Yeo Reum menolak, selain karena Se Hoon adalah atasannya, kesan pertama yang di tunjukan Se Hoon padanya tidak terlalu bagus dan sering membuatnya takut.

Ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika Se Hoon memaksanya. Ia hanya menurut.

“Kau tidak mengenalku?”

Yeo Reum menggeleng, “Aku membaca profilmu di homepage perusahaan. Kau cukup terkenal rupanya.”

Se Hoon tersenyum getir, “Ah~ kau benar-benar sudah melupakanku.”

Yeo Reum menatap Se Hoon dengan penuh tanda tanya, “Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Apa kita saling mengenal?”

Meowww…

Navi tiba-tiba melompat ke arah Se Hoon. Se Hoon langsung mengenali Navi lalu mengendongnya dan mengelusnya dengan lembut. Navi yang senang bertemu dengan Se Hoon bergeliat manja “Navi-ya…”

“Bagaimana kau tahu kucing itu bernama navi?”

Se Hoon tidak menjawab ia malah menyerahkan Navi ke pangkuan Yeo Reum. “kau tidak ingin mempersilahkan aku masuk ke rumahmu?” tanpa mendengar jawaban Yeo Reum, Se Hoon melangkah masuk.

>>deson<<

“Ah aku kehabisan air.” Yeo Reum tidak tahu bahwa persediaan air minum di rumahnya habis, “Sajangnim, maafkan aku, aku akan ke mini mart dulu. Mohon tunggu sebentar.”

Se Hoon mengangguk, ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Menunggu Yeo Reum menjauhi rumahnya, ini adalah kesempatan yang sangat langka yang di ciptakan Tuhan khusus untuk balas dendamnya.”

Jika kau ingin balas dendam, hentikanlah, oppa.

Se Hoon terdiam. Navi. Kucing itu meregangkan tubuhnya dan kemudian membesar menjelma menjadi seorang gadis cantik. Kedua telinga Navi tidak berubah tetap panjang dan menyembul dari rambut panjangnya.

“Navi?” Se Hoon tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengucek matanya, jelas sekali jika itu bukan halusinasinya.

“Ini aku. Kucing yang kau pelihara tujuh tahun yang lalu.” Kucing itu. Navi. Menatap Se Hoon dengan tatapan dingin, “melihatmu seperti ini aku merasa kasihan oppa.”

“Kau seekor kucing?”

Jelmaan kucing itu menggeleng, “tadinya aku hanya kucing peliharanmu, sekarang bukan lagi. Kau tidak penasaran siapa aku, oh?”

Se Hoon tersenyum kecut.

“Jika kau ingin balas dendam hentikanlah. Kau akan semakin menyakiti dirimu sendiri.”

“Jadi kau membelanya?” Se Hoon tidak percaya bahwa kucing yang ia rawat berubah menjadi menentangnya, “Setelah aku besarkan kau, sekarang kau mengkhianatiku?

Kucing itu Navi, menyunggingkan senyumnya, “tolong hentikan Oppa.”

Se Hoon tidak mendengarkan kata-kata Navi. Ia bergerak mencari laptop dan komputer Yeo Reum. Menyebarkan virus kedalamnya dan pergi sebelum gadis itu datang.

“Kenapa kau melakukan hal ini, Oppa?” Navi mengejarnya. Membuat Se Hoon menoleh. Pertanyaan Navi kembali teringat dikepala Se Hoon. Hal yang paling menyakitkan yang pernah di alaminya. Pengkhianatan Yeo Reum.

***

Sttt… Se Hoon menaruh jarinya di atas bibirnya menyuruh Yeo Reum untuk diam. Mereka lalu mengikuti sumber suara dan melihat anak-anak iljin (tukang bully) sedang berkumpul. Se Hoon menyuruh Yeo Reum untuk pergi diam-diam.

Setelah memastikan Yeo Reum pergi, Se Hoon mendekati teman-temanya, “Apa yang sedang kalian―” ucapan Se Hoon terhenti ketika melihat butiran bungkusan berisi butiran putih. Narkoba. Se Hoon menyadari hal itu kemudian lari dari tempat itu. Ia tahu harinya akan sulit jika mengetahui rahasia terbesar mereka.

Benar saja, sehari setelah kejadian itu Joon Myeon dan teman-temannya menghampirinya dan mengancamnya, “Tutup mulutmu atau kau dan pacarmu akan menderita.”

“Kim Joon Myeon, Kim Jong In, Kim Jong Dae, Oh Se Hoon, Kepala sekolah mencarimu.”

Joon Myeon menatap Se Hoon dengan dingin, “Awas jika kau berbicara.” ancamnya

Se Hoon yang bisa mengangguk, ia tidak ingin Yeo Reum dalam masalah. Ia tidak ingin Yeo Reum di ganggu apalagi sampai disakiti oleh Joon Myeon Cs.

Se Hoon merasa firasatnya tidak enak. Tapi ia tidak bisa menghindar. Ia masuk ke ruang kepala sekolah. Di ruangan itu sudah ada Yeo Reum. Se Hoon tidak mengerti apa yang terjadi sampai ketika bertanya kepada Yeo Reum.

“Han Yeo Reum, apakah kau melihat Oh Se Hoon yang memberikan narkoba itu kepada Joon Myeon?”

Se Hoon menatap Kepala sekolah dengan tidak percaya. Ia menggelengkan kepalanya. Ia lalu menatap Yeo Reum. Gadis itu sama sekali tidak membalas tatapannya. Ia ingin membantah tapi tangan Joon Myeon menyenggolnya dan berbisik untuk diam.

“Ne.”

Se Hoon tidak percaya apa yang di dengarnya. Yeo Reum tidak membantah. Yeo Reum menuduhnya sebagai bandar narkoba. Yeo Reum, satu-satunya gadis yang dipercaya olehnya.

“Baiklah.” Ekspresi Kepala Sekolah berubah menjadi datar, “Oh Se Hoon, kau di keluarkan dari sekolah.”

***

“Navi-ya… Seberapa besar kau memikirkannya. Kau tidak bisa merasakan sakit yang aku rasakan.” Se Hoon menatap Kucing itu dengan tatapan dingin.

Tidak hanya kehilangan orang yang sangat di percaya dan dikeluarkan dari sekolah, luar itu ia dicap sebagai bandar narkoba. Tidak ada sekolah yang mau menerimanya. Ia harus pergi keluar negeri. Sendiri dan jauh dari keluarga.

“Dia tidak pernah tahu apa yang aku rasakan.”

>>deson<<

“Han Yeo Reum-ssi, kau tahu data itu sangat penting. Kenapa kau malah menghilangkannya. Ini adalah minggu pertamamu disini, tapi kenapa kau bertindak sangat bodoh, oh?”

Semua file yang ada di komputer maupun tabletnya hilang. Virus itu kemudian menyebar ke komputernya di kantor. Ia tidak tahu virus itu datang dari mana. Seingatnya ia tidak pernah membuka sembarang situs. Jika saja Yeo Reum tidak mendonorkan Love Cell-nya pasti ia akan merasa gugup gemetar. Tapi sekarang ia malah bisa berpikir dengan jernih, seakan semuanya baik-baik saja. Ia kembali mengingat-ingat apa yang terjadi. Dan satu-satu orang yang dicurigainy adalah Oh Se Hoon.

Se Hoon masih tidak puas melihat melihat manager marketing murka terhadap Yeo Reum. Wajah gadis itu terlihat tenang. Satu-satu hal yang sangat dibenci oleh Se Hoon. Ia ingin melihat gadis itu sengsara. Ia ingin melihat gadis itu menderita. Sama seperti dia waktu itu.

>>deson<<

“Kau menyukainya?” Yeo Reum menatap sinis pada Se Hoon. Bukannya mengelak, pria itu malah mengakuinya terang-terangan. “Kenapa kau begitu membenciku? Apa aku pernah berbuat salah padamu?”

Se Hoon diam tidak menjawab.

Yeo Reum mengerti, “itukah sebebnya kau begitu sinis pada saat interview?” Yeo Reum mendengus kesal, “kau benar-benar tidak gentle.”

Se Hoon tersenyum sinis, ia seneng melihat Yeo Reum jengkel.

>>deson<<

Yeo Reum mendapatkan hukuman yaitu harus membuat semua dokumen yang dihilangkannya dalam waktu dua hari. Ia tidak mempunyai pilihan lain, ia harus menyelesaikannya.

Akibatnya, ia harus bergadang siang dan malam, makan seadanya dan juga tanpa istirahat. Puncaknya adalah kita tubuhnya tidak bisa mentorelir lagi.

Ia merasa dunia berputar dengan cepat dan membuatnya pusing. Ia merasakan tubuhnya terhempas kelantai. Ia melihat Oh Se Hoon menatapnya dengan dingin. Pria itu mendekatinya dan menatapnya dengan jijik.

Pria itu mengacungkan sebuah botol kecil. Potasium. Pria itu menginginkan dia mati. Kenapa?

>>deson<<

Hajima. Jangan lakukan.” Navi berusaha mencegah Se Hoon. Ia mencoba untuk menerjang Se Hoon, tapi pria itu lebih tangkas dan mendorongnya, “Setelah lama tidak berjumpa kenapa kau tidak bertanya kenapa aku bisa berubah menjadi manusia.”

“Kau bukan manusia.” Sanggah Se Hoon cepat, “Kau bukan manusia.”

“Aku memang bukan. Tapi aku bagian dari manusia.” Navi mencoba menatap Se Hoon, mencoba meluluhkan hati pria itu agar tidak melakukan hal yang bisa menyakiti dirinya, “Aku adalah love cell milik Yeo Reum. Kau pikir kenapa Yeo Reum memberikannya kepadaku? Karena aku adalah milik Oh Se Hoon. Meskipun sekarang dia melupakannya.”

Navi melemparkan kalungnya ke hadapan Se Hoon, “Dia tidak bermaksud untuk melupakanmu. Dia menghapus ingatan tentang dirinya sendiri.”

Se Hoon menggeleng, ia masih tidak mau mendengar penjelasan dari navi.

“Kau pikir kenapa dia masuk SM Medical Center? Karena Oh Se Hoon menginginkannya. Kenapa Yeo Reum menonton baseball? Karena Oh Se Hoon menyukainya. Kenapa dia memeliharaku? Karena Oh Se Hoon adalah majikanku. Dia tidak menghapus ingatan tentangmu, tapi ia merubah dirinya menjadi dirimu.”

“Kenapa?” kali ini dia yang berteriak.

“Karena dia menyesal. Dia melakukannya untuk melindungimu, tapi kau malah meninggalkannya. Dia tidak bisa melupakanmu, sehingga ia akhirnya menyerah dan menyerahkan sell nya padaku. Dia menyesal, makanya dia hidup seperti bayangan Oh Se Hoon. Tanpa aku, dia tidak akan merasakan cinta, nyaman atau bahagia. Kau pikir hidupnya akan mudah. Dia juga menderita.”

Se Hoon menggeleng. Ia kekeuh pada pendiriannya, meminumkan potasium itu pada Yeo Reum.

“tidak.” Navi beringut. Ia menatap Se Hoon dengan tidak percaya.

>>deson<<

Yeo Reum merasakan hangat. Meski kesekelilingnya hitam. Ia duduk merangkul lututnya menunggu. Ia tidak tahu akan menunggu apa aatau siapa. Ia hanya menunggu.

Satu persatu, orang datang dan pergi. Masuk dari kegelapan dan keluar dari kegelapan. Yeo Reum mencoba untuk mengingat wajah-wajah itu, tapi ia tidak berhasil.

“Yeo Reum-ah, apa kau gila? Kenapa kau melakukan itu?” sebuah suara menarik perhatian Yeo Reum. Seorang anak SMA dengan seragam lusuh dan sudut bibir berdarah. Ia menarik tangan Yeo Reum dan mencengkramnya dengan keras.

Yeo Reum menghempaskan tangan anak itu, bukan dia, tapi seseolah-olah tubuhnya di kontrol oleh seseorang. “Pergilah. Pergi kesekolah lain.”

Wae?” anak itu kembali bertanya.

Yeo Reum menandang anak itu. Oh Se Hoon. Anak itu adalah Oh Se Hoon ketika SMA. Tidak ada yang berubah pada wajah anak itu, hanya saja wajah kecil Oh Se hoon terlihat lebih bersahaja.

“Kau pengedar narkoba. Pergilah. Kau merusak masa depanku.” Kata-kata itu muncul dari mulutnya. Seseorang pasti sedang mengontrol tubuhnya. Ia bahkan tidak bisa menggerakan tubuhnya dengan leluasa

“Tidak.”

Yeo Reum membalikkan badannya. Matanya memanas, tidak kuasa menahan air mata itu. Sakit. Ia sakit harus mengkhianati seseorang yang dicintainya. Ribuan recaan ia dengar dibelakangnya tapi ia tidak menoleh. Ia tidak ingin Se Hoon terluka.

Tidak hanya dari Se Hoon, tapi dari teman-temannya juga banyak yang mencelanya. Ia tetap memasang wajah polosnya. Ia menjalaninya seakan tidak terjadi apa-apa.

“Kau benar-benar kuat.” Joon Myeon memuji ketulusan hati Yeo Reum, “Hanya aku yang tahu kisah cinta kalian. Saling melindungi tapi malah terberai.”

Yeo Reum menatap Joon Myeon dengan tajam. “Aku membuatnya pergi. Kau puas. Sekarang tepati janjimu.”

Joon Myeon menggaguk, “Tentu saja, sebentar lagi aku akan lulus, sedangkan kau harus menunggu dua tahun lagi. apa kau benar-benar sanggup menahannya?”

Yeo Reum terdiam.

Joon Myeon lalu menyodorkan sebuah brosur pada Yeo Reum, “Aku akan merasa bersalah jika kau sampai bunuh diri gara-gara Si brengsek itu tidak bisa diterima di sekolah manapun di Korea. Lupakan dia.”

Yeo Reum menatap brosur itu. Donor Love Cell, donor yang sedang populer belakangan ini.

Yeo Reum merasakan pipinya basah. Ia menangis. Bukan dirinya yang dikendalikan oleh orang lain. Tapi ia benar-benar menangis. Air matanya dan perasaannya.

Mianhae, Se Hoon-ah.”

>>deson<<

“Bagaimana ini bisa terjadi?” Marketing manager bertanya pada Yeo Reum, “kau dan Kepala cabang Oh ditemukan pingsan di kantor dan dalam tubuh kalian ditemukan racun.”

Yeo Reum menggeleng, ia tidak tahu kenapa. Hal terakhir yang dia ingat adalah dia harus menyelesaikan semua dokumen itu, ia bahkan tidak tahu jika ada Oh Se Hoon didekatnya. Ia mencoba berpikir dengan keras tapi apapun tidak bisa di ingatnya.

Ia lalu mengambil ponselnya dan mengetikan sesuatu

Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian itu walau pun aku merasa aku mengingatnya?

“Lalu apakah kepala cabang Oh sudah sadar?”

Manager Marketing menggeleng, “belum… Terlalu banyak racun yang ada didalam tubuhnya.”

“Tapi bagaimana bisa?”

“Aku tidak tahu.”

Tidak lama berselang sebuah pesan masuk

Joon Myeon: kau tidak bisa mengingat hal yang menyangkut dengan perasaan. Karena kau telah mendorokan sel cintamu.

Yeo Reum terdiam.

“Kami melihat CCTV. Di CCTV pak Oh mencoba meminumkan cairan kepadamu. Tapi selang beberapa detik ia langsung menyedot racun itu dari mulutmu. Persis kisah romeo dan juliet.”

Yeo Reum tidak merespon. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan atau merasakan apa-apa. Ia seperti robot. Robot yang dikendalikan oleh orang-orang. Karena ia manusia tidak berhati.

Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

GEENIES

국민 꼬마 요정 || National's ELF

Rainbows Romance

My EverlastingLove

chaaanycha

It's all bout Teuki

Pumpkin & Orange

MinNeul's Home

More than words

Keep the memories through the harmony of words—♪

Strawberry Room

Get the berry!

%d bloggers like this: